Rabu, 30 November 2011

,

[Fan Fiction] "PAPER BIRDS" Part 2

Back again^^
Maaf kalo ada yang bosen sama aku ._.v
Gag ada maksud, cuma mau ngepost FF iseng - isengku kok^^V
Yang nyempetin baca makasih ajah :)
Ah, iyah.. please don't copy paste my FF
Walau jelek tapi ini kerja kerasku :D
Let's check this out -->


Cast :
Park Hyun RaJeon JihwanPark HyunchulJin Hyunjindsb^^






Fiuuuhhhhh………
Desiran semilir angin membelai rambut Hyun Ra perlahan, dia menatap hampa pemandangan rerumputan di luar dari tepi  jendela yang didudukinya dengan pandangan kosong. Hyun Ra memejamkan matanya, kemudian dia menatap langit biru yang terlihat jelas di atas sana. Ada sunggingan senyum tipis yang menghiasi wajah pucatnya.
‘Apakah di dunia sana jauh lebih indah dari pada disini? Apakah disana aku bisa bahagia tanpa harus memikul beban berat ini?’
Hyun Ra bergumam tak jelas. Tanpa sadar, cairan bening itu menetes perlahan.. Dia lalu menatap kebawah dari lantai enam kamarnya dan melihat rerumputan hijau dan pepohonan bergoyang – goyang tertiup angin.
“Eomma.. Appa.. Oppa…. Mianhamnida~”
 Hyun Ra berbisik dengan suara bergetar. Dia kemudian mencoba untuk berdiri, lalu memegang erat tepi pinggir jendela. Ditatapnya lagi pemandangan dibawah sana dengan senyum samar. Jarinya yang bergetar dan memegang tepi jendela tiba – tiba terlepas satu persatu. Hyun Ra memejaman matanya, membiarkan tubuh rapuhnya itu meluncur dan terhempas ke bawah. Mungkin setelah itu jiwanya sudah terangkat ke atas langit. Namun ternyata tubuh Hyun Ra  tertahan oleh sesuatu.
Hyun Ra membuka matanya dan mendongakkan kepalanya keatas. Dilihatnya seorang Namja dengan memakai kupluk berwarna merah sedang menahan tubuhnya dengan cara memegangi pergelangan tangannya kuat sembari berusaha untuk menarik tubuh Hyun Ra masuk ke dalam kamar.
“Ka.. kau… siapa?” Tanya Hyun Ra dengan nada suara terbata – bata.
“Apa di saat seperti ini begitu penting menjawab pertanyaanmu? Diamlah, aku akan menarikmu kedalam.” Ucap Namja itu pada Hyun Ra.
Hyun Ra diam sesaat lalu dia memberontak dan berusaha untuk melepaskan pegangan tangan dari namja itu dengan cara menggoyangkan tubuhnya dengan sekuat tenaga.
“Lepaskan aku… lepaskan aku… aku ingin mati..”
“JANGAN BERCANDA, AKU TAK AKAN PERNAH MEMBIARKANMU MATI KONYOL SEPERTI INI.”
“APA YANG AKU LAKUKAN BUKAN URUSANMU, LEPASKAN AKU DAN BIARKAN AKU MATI !!”
Namja itu sama sekali tidak mengindahkan teriakan Hyun Ra. Dia masih berusaha mengangkat Hyun Ra masuk kembali ke kamarnya.
“JANGAN KERAS KEPALA. KALAU MASALAH NYAWA ITU JUGA MENJADI URUSANKU. AKU TAK AKAN MELEPASKANMU SEBELUM AKU BERHASIL MENYELAMATKANMU DARI SITU.”
 Mendengar teriakan namja misterius itu Hyun Ra kemudian terlihat begitu tenang, dia tidak kembali memberontak. Dia juga membiarkan Namja itu menarik tubuhnya kedalam kamarnya kembali. Setelah beberapa menit akhirnya perjuangan Namja itu menarik Hyun Ra berhasil. Dia memegang kedua lengan Hyun Ra erat mengingat dia sadar jika kaki Kiri Hyun Ra sedang di Gips.
“Gwenchana?” Tanya namja itu pada Hyun Ra yang masih menunduk. Dia mengguncang – guncangkan kedua lengan Hyun Ra pelan. “Aku akan membawamu ke tempat tidurmu.”
Hyun Ra tak menjawab, dia tetap menundukkan kepalanya. Berakhir sudah keinginannya untuk mengakhiri hidupnya sendiri dengan cara melompat dari kamarnya yang terletak di lantai. Berakhir..
“Kenapa? Kenapa? Kenapa kau malah menolongku dan membiarkan aku hidup? KENAPA??”
Sang namja yang mendengar itu hanya diam, dia menatap sosok gadis dihadapannya miris. Miris kenapa dia sampai berani melakukan hal konyol seperti tadi. Miris karena baginya gadis dihadapannya terlihat begitu rapuh dan putus asa.
 “KAU TIDAK TAU BETAPA MENDERITANYA AKU MENGHADAPI SEMUA INI. KAU TIDAK TAU BETAPA TERSIKSANYA AKU. KAU TIDAK TAU BETAPA AKU BENC I MEMIKUL BEBAN SIALAN INI. AKU KEHILANGAN SESUATU YANG BERHARGA DALAM HIDUPKU……. DAN KAU TIDAK TAU BAGAIMANA RASANYA…” Hyun Ra mulai terisak, dia menarik baju namja di hadapannya itu erat dan spontan membenamkan kepalanya di dada namja yang belum dikenalnya. Dia menangis dengan sangat hebat.
Sedangkan namja itu tak bereaksi apapun saat Hyun Ra menangis dipelukannya. Dia hanya diam dan membiarkannya mengeluarkan sedikit demi sedikit beban yang memikul pundaknya. Dia memang tak tau seperti apa beban yang dipikul gadis itu, dia memang tidak tau dan tidak mengerti. Namun mengakhiri hidup tanpa campur tangan tuhan itu sama sekali tidak bisa dia biarkan.

@@@@@

“Hyun Ra-ah, sudah bangun?” Suara lembut itu begitu Hyun Ra hafal, dia membuka matanya dan kemudian wajah sosok Eommanya muncul di depan matanya.
“Eomma….”
“Iyah sayang, kau tidak apa – apa? Bagaimana keadaanmu?” Tanya Eomma sambil membelai  rambut Hyun Ra lembut.
“Hyun Ra ada dimana?” Tanya Hyun Ra dengan kepala sedikit pening. Dia mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan.
“Kau ada di rumah sakit sayang. Kau ada di kamar inap.” Jawab Eommanya lembut.
“Dimana? Dimana namja itu?” Tanya Hyun Ra tiba – tiba begitu kesadarannya mulai pulih benar. Kejadian itu mendadak memenuhi pikirannya.
“Namja siapa? Oppamu? Dia semalam menungguimu yang terlelap tidur. Kau tidur lama sekali. Dari Eomma menjengukmu kemarin sore sampai sekarang baru bangun. Apa kau lelah?” Tanya Eomma pada Hyun Ra.
“Ahh… anni Eomma.” Hyun Ra mengelak. Sebenarnya buka Hyun Chul Oppa yang dia maksud. Tapi namja berkupluk merah yang kemarin telah menghentikan rencana bunuh diri. Namja yang sudah membiarkan Hyun Ra menangis di pelukannya walaupun dia tidak mengenal siapa Hyun Ra. Hyun Ra berusaha untuk mengingat semua yang terjadi. Namun hanya sedikit yang diingatnya.
‘Apa mungkin hanya mimpi?’
“Makanlah Nak.. Eomma mohon padamu..” Kata Eomma yang membuat lamunan Hyun Ra tentang namja misterius itu buyar. Hyun Ra lalu menatap Eommanya itu. Tatapan memohon dari seorang ibu kepada anaknya. Hyun Ra akhirnya mengalah, keegoisannya ternyata sudah membuat orang – orang yang disayanginya malah tambah mengkhawatirkan dirinya. Dia makan bubur itu walaupun dia sama sekali tidak berminat. Setelah selesai memakan buburnya dia melihat Eommanya sudah bangkit dari tempat duduknya.
“Eomma pamit pulang dulu, eomma senang akhirnya kau makan. Nanti Eomma bakal datang bersama Hyun Chul dan juga Appa. Eomma sayang Hyun Ra.” Eomma membelai Hyun Ra lembut kemudian mengecup kening Hyun Ra. Setelah itu beliau keluar dari kamar inap Hyun Ra.
Setelah Eomma pergi, Hyun Ra menatap ke sekeliling kamar yang terlihat begitu menoton baginya. Sepertinya rasa bosan mulai menyelimutinya. Tak ada yang dilakukannya saat ini. bahkan acara TVpun sama sekali tak ada yang menarik perhatiannya. Karena kebosanan itu kemudian dia bangkit dari tempat tidurnya, mengambil skruk dan berjalan keluar untuk berkeliling rumah sakit hanya sekedar penghilang rasa bosan.
Hyun Ra berjalan tertatih di sepanjang koridor rumah sakit. Matanya diedarkan keseluruh penjuru rumah sakit. Sambil berjalan – jalan dia juga ingin mencari namja misterius itu. Namja yang sudah menolongnya. Saat dia sampai di sebuah ruang instalasi khusus anak – anak, dilihatnya sebuah kupluk berwarna merah yang sangat khas baginya. Hyun Ra berhenti dan menajamkan penglihatannya kea rah suatu objek itu. Seorang namja sedang melakukan poppin dance di hadapan para pasien anak – anak tersebut. Anak – anak itu menatapnya kagum dan memberikan applause yang meriah kepadanya.
“Dia…..”
 “Euhmm.. suster.” Panggil Hyun Ra saat melihat seorang suster melewatinya.
“Iya, ada yang bisa saya bantu?”
“Itu.. namja yang berada di dalam ruang instalasi khusus anak – anak itu siapa? Itu lho, yang memakai kupluk berwarna merah itu.” Hyun Ra menunjuk kea rah namja yang dimaksudnya untuk memperjelas pertanyaannya.
“Ouh itu, dia itu anak dari kepala rumah sakit disini. Namanya Jeon Jihwan. Dia juga pasien di rumah sakit ini. Anaknya baik sekali seperti direktur dan sangat terkenal di kalangan penghuni rumah sakit ini. Setiap pagi rutinitas yang dilakukannya adalah pergi ke ruang instalasi anak – anak untuk menghibur mereka. Bahkan terkadang dia membawakan makanan atau hadiah untuk mereka.” Jelas suster itu sambil menatap kagum namja yang bernama Jihwan itu dengan sebuah senyuman.
“Tunggu, anda bilang dia pasien di rumah sakit ini khan? Apa dia sakit? Kalau boleh tau dia sakit apa yah??”
Begitu pertanyaan runtut  itu muncul dari bibir Hyun Ra, entah kenapa raut wajah suster itu mendadak berubah.
“Eh? Untuk itu… Maaf, saya tidak bisa mengatakannya karena masalah mengenai itu adalah privasi dari pasien. Dan kami tak berhak mengatakan apapun tanpa seizin pasien itu sendiri. Maafkan saya.” Ucapnya dengan suara terbata - bata sambil membungkukkan badan dan kemudian pergi berlalu.
Hyun Ra menatap punggung suster itu dengan wajah bingung. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan mengenai sosok seorang Jeon Jihwan. Dan rasa penasaran Hyun Ra terhadap namja itu semakin bertambah. Hyun Ra memperhatikan namja itu lekat, setelah melakukan poppin dance itu dia malah membacakan cerita untuk mereka semua dengan mimik muka yang menghibur. Hyun Ra menatap Jeon Jihwan lama. Lalu entah kenapa sebuah sunggingan senyum meluncur dari bibirnya.
‘ Dia terlihat seperti seorang malaikat….’

@@@@@

Hyun Ra kembali berjalan – jalan mengelilingi rumah sakit. Tadinya saat dia melihat namja berkupluk merah bernama Jihwan itu, Hyun Ra ingin sekali menemuinya. Namun niat itu urung dilakukan karena melihat Jihwan sedang asyik menghibur anak – anak di instalasi itu. Jadilah dia tidak tega mengganggunya. Awalnya dia ingin kembali ke kamarnya untuk istirahat. Memakai skruk ternyata sungguh merepotkan baginya. Hanya berjalan sebentar saja dia sudah merasa lelah. Tapi sebelum itu dia ingin minum sesuatu yang menyegarkan, makanya dia mampir sebentar ke tempat mesin minuman otomatis.
Saat hendak memasukkan koin ke dalam mesin minuman otomatis, tiba – tiba sesuatu yang dingin menyentuh pipinya. Hyun Ra menoleh. Dilihatnya namja berkupluk merah itu menyodorkan minuman kaleng kepada Hyun Ra sambil tersenyum.
“Ini untukmu, kau tidak perlu memasukkan koin itu di mesin minuman otomatis. Percuma. Minumannya tidak bisa keluar. Mesinnya sedang dalam keadaan rusak.” Jelas namja itu sambil tersenyum lagi dengan mengerlingkan sebelah matanya.
“Eh? Go, gomawo~” Hyun Ra mengambil minuman kaleng itu dari Jihwan. Dia membukanya kemudian meneguknya setengah.
“Sama – sama.” Ucapnya singkat sambil tersenyum. “Duduklah. Kau pasti sangat lelah” Katanya sambil menepuk – nepuk bangku yang terletak di samping mesin minuman otomatis.
Hyun Ra menurut, dia duduk di samping Jihwan dengan susah payah karena masih belum terbiasa dengan kakinya sekarang.
“Kau tadi melihatku di ruang instalasi anak – anak khan?” Kata Jihwan sambil menoleh kea rah Hyun Ra dengan wajah tersenyum.
Hyun Ra yang dilihat seperti itu kontan langsung menunduk. Wajahnya tiba – tiba memerah.
‘Kenapa namja itu malah melihatku dengan wajah malaikat seperti itu?’
 “Aku menyadari kau melihatku tadi. Tapi aku pura – pura saja tak melihatmu. Hehehe.” Ucapnya seolah bisa menebak apa yang Hyun Ra pikirkan. “Bagaimana keadaanmu sekarang? Sudah jauh lebih baik kah dari kemarin?” tanyanya dengan suara lembut.
“Euhm.. lumayan.” Kata Hyun Ra dengan wajah menunduk sambil meminum minuman kalengnya. “Mengenai kemarin, aku minta maaf sudah membentakmu dan sudah merepotkanmu.”
“Gwenchana. Aku juga merasa tak direpotkan kok.”
“Gomawo.”
Jihwan hanya membalasnya dengan senyuman, dia lalu mendongakkan kepalanya keatas. Matanya menerawang.
“Kalau saja waktu itu aku tak lewat di depan kamarmu dan melihatmu dengan pintu kamarmu yang sedikit terbuka itu mungkin aku tak bisa bertemu kembali denganmu seperti saat ini.”
Matanya beralih menatap Hyun Ra, Jihwan kembali tersenyum kepadanya. Sedangkan Hyun Ra selalu saja berusaha untuk menghindari kontak mata dengan Jihwan. Jihwan tertawa kecil begitu melihat tingkah Hyun Ra.
 “Hidup itu.. memang tak selamanya sesuai dengan apa yang kita rencanakan. Sering kali apa yang kita inginkan membuat Tuhan tergelitik untuk mengujimu dengan cara tak membiarkanmu mewujudkan apa yang kamu inginkan. Tuhan bukan tak mencintaimu, tapi Tuhan hanya  ingin mengetahui seberapa jauh tingkat kepercayaanmu kepadaNya. Dan sebenarnya apa yang Tuhan lakukan untukmu itu untuk kebaikanmu sekarang. Akan ada sesuatu yang jauh lebih indah yang akan Tuhan berikan untukmu nantinya. Percayalah.”
Hyun Ra memandang Jihwan tanpa berkedip sedikitpun, perkataan yang Jihwan lontarkan barusan terasa begitu menenangkan hatinya. Seperti sebuah magic  baginya. Bahkan saat kemarin Hyun Ra berusaha untuk memberontak saja, Jihwan mampu membuatnya diam. Hyun Ra menyandarkan tubuhnya di dinding. Pikirannya berusaha untuk mencerna semuanya.
 “Apa Tuhan itu benar – benar akan memberikan yang terindah untukku?” Tanya Hyun Ra mencoba merenungkannya.
“Tentu saja.” Jawab Jihwan mantap.
“Tapi… Impianku itu.. Kenapa harus impianku itu yang Tuhan renggut dariku? Kenapa? Kenapa harus Tuhan ambil impianku yang ingin menjadi pebasket nasional? Kenapa? Kenapa saat itu juga dia harus menjegal kakiku yang membuatku harus seperti ini? Kenapa?”
Jihwan diam, sepertinya rasa sesak yang Hyun Ra keluarkan kemarin masih belum semuanya dia keluarkan.
“Kau tau, ada seorang pasien dari instalasi anak – anak. Dia mengalami kecelakaan bersama orang tuanya. Tuhan memanggil kedua orang tuanya untuk bersamanya. Sedangkan anak itu Tuhan biarkan untuk tetap hidup di dunia dengan memberikannya sebuah ujian. Setelah kehilangan kedua orang tuanya dia juga kehilangan kedua kakinya karena terhimpit badan mobil. Kakinya terpaksa diamputasi. Namun kehilang kedua kakinya beserta kedua orang tuanya ternyata tak membuat hatinya terus berada dalam perasaan menyesal. Dia berusaha untuk bangkit dan terbangun dari mimpi buruknya. Sekarang dia kini meraih juara umum dalam kompetisi lomba marathon untuk orang cacat.”
Jihwan mengakhiri ceritanya. Cerita Jihwan barusan membuat Hyun Ra serasa ditempleng keras. Ternyata ada yang jauh lebih menderita dengannya. Namun Hyun Ra menutup mata dan menganggap bahwa dialah yang paling menderita di dunia ini. Tapi ternyata tidak. Bahkan dia dikalahkan dengan tekad dari seorang anak yang sekarang mampu terbangun dari mimpi buruknya.
“Ulurkan tanganmu!” Pinta Jihwan pada Hyun Ra
“Hah? Buat apa?”
“Udah, lakukan saja. Ulurkan tanganmu.”
Hyun Ra mengikuti keinginan Jihwan, dia mengulurkan tangannya.
“Ini untukmu.” Ucap Jihwan sambil meletakkan sesuatu di atas telapak tangan Hyun Ra yang terulur.
“Apa ini? untuk apa kau berikan ini untukku?” Hyun Ra menatap lekat sesuatu benda  yang berada di atas telapak tangannya itu.
“Kau bisa melihatnya khan? Itu Paper Bird.. burung kertas.. Pernahkah kau mendengar mitos burung kertas dari Jepang? Jika kau membuat 1000 burung kertas maka do’a dan impianmu akan terkabul. Setiap satu burung kertas tercipta, maka berharaplah dan terus berharap. Dan saat berjumlah 1000 burung kertas, maka ia akan memberimu kebahagiaan atau keajaiban.”
“Hah? Menggelikan sekali.” Kata Hyun Ra yang memang sudah dasarnya tidak mempercayai sama mitos – mitos konyol seperti itu.
“Memang terlihat begitu menggelikan. Namun anggap saja aku memberikannya padamu sebagai lambang penyemangatmu. Sayap burung kertas sangat kaku dan tak bisa mengepak. Tapi, tidak dengan harapan yang dibawanya dia akan melesat masuk ke dalam hidupmu dan memberimu keajaiban.”
"Lambang penyemangat hidupku.... dapat memberiku keajaiban?" Hyun Ra kemudian mengalihkan lagi pandangannya kepada burung kertas yang masih berada di telapak tangannya itu. Pikirannya berusaha untuk mencerna semua perkataan Jihwan barusan. Perkataan yang sepertinya konyol namun mampu membuat Hyun Ra berpikit ulang mengenai mitos Burung Kertas itu sendiri.
"Dengarkan aku, saat kau akan mengawali hari - harimu nanti.. aku akan datang kepadamu dan memberimu semangat juga harapan baru setiap harinya dengan ini." Jihwan mengangkat burung kertas itu perlahan dan menghadapkannya tepat di depan wajah Hyun Ra. "Jadi bersemangatlah Park Hyun Ra." Jihwan kemudian meletakkan kembali burung kertas itu diatas telapak tangan Hyun Ra sambil tersenyum.
 Hyun Ra yang awalnya masih berusaha mencerna perkataan Jihwan tiba - tiba langsung menatap Jihwan yang sedang berdiri dihadapnya dengan wajah yang masih tak lepas dengan senyumnya. 
"Kau tau namaku? Padahal aku belum sempat memberitahukanmu siapa namaku.." Kata Hyun Ra dengan raut wajah setengah terkejut menatap Jihwan.
"Jinjja? Kau belum memberitahukan namamu yah? Hahaha.." Jihwan tertawa kaku sambil menggaruk - garukkan tengkuknya. "Haruskah kita berkenalan? Bukankah kau juga sudah tau namaku?"
"Ne. Itu harus. Tau nama khan tetap saja masih belum ada perkenalan sama sekali" Kata Hyun Ra polos sambil menganggukkan kepalanya pelan.
"Oke, Jeon Jihwan imnida. Kau boleh memanggilku Jay atau terserah kau mau memanggilku seperti apa." Jay mengulurkan tangannya kepada Hyun Ra, dan tentu saja Jay tak pernah lupa dengan senyumannya.
"Park Hyun Ra imnida. Cukup panggil aku Hyun Ra saja. Bangapseumnida." Hyun Ra menyambut uluran tangan Jay, mereka saling tatap untuk beberapa lalu kemudian saling tersenyum satu sama lain.
"Nado." Ucapnya singkat tanpa melepaskan tatapannya pada Hyun Ra
Dan sepertinya, kehidupan Hyun Ra di rumah sakit  ini merupakan awal dari kehidupan yang akan merubah hidupnya. Bersama dengan Jihwan dan juga burung kertas ini hidupnya dimulai dari sini. 

--To be continued--

0 comments:

Posting Komentar