Tampilkan postingan dengan label FanFiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FanFiction. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Mei 2012

,

[FanFiction] Paper Birds "Epilog"

5 Tahun Kemudian…

“Dear Park Hyun Ra,
Mungkin saat kau menerima ini aku sudah tak berada disisimu lagi.
Maafkan aku karena tak bisa menepati janjiku untuk memberikan 1000 burung kertas kepadamu.
Maafkan aku karena tak bisa menemanimu melihat bulan yang indah lagi.
Maaf.  Rupanya Tuhan telah memintaku untuk menemani Eomma di langit sana.
Burung kertas itu walaupun harapannya tak terbalas,
Namun keikhlasan dan kasih sayangmu tersampaikan untukku
Kumohon jika aku sudah tak ada disini tetaplah melangkah dengan senyummu sampai kapanpun
Terima kasih untuk semua kenangan yang kau berikan untukku. Itu sangat berharga bagiku.
Good bye Park Hyun Ra :”) ”

“Ps: Hyun Ra Park, Saranghamnida”

                Air mata Hyun Ra menitik untuk kesekian kali saat membaca pesan itu. Yah, itulah pesan terakhir yang Jihwan berikan padanya. Burung kertas yang dulu diberikannya pada Jihwan rupanya dia kembalikan lagi padanya dalam bentuk pesan yang tersembunyi dalam lipatannya. Yang membuat hati Hyun Ra sakit adalah kata terakhir yang Jihwan tulis dalam pesannya.
                “Hyun Ra Park, Saranghamnida
                Hyun Ra tertawa kaku begitu membacanya, namun air matanya masih belum berhenti mengaliri wajahnya. Tubuhnya mendadak bergetar. Bahkan meskipun dia sudah membacanya berkali – kali sekalipun tapi entah kenapa rasa sakit itu masih belum hilang dari hatinya.  Yah, kata terakhir yang sangat ingin Jihwan ungkapkan padanya jikalau nanti operasinya berhasil.
Kata terakhir yang secara tidak langsung merupakan sebuah janji Jihwan kepadanya jika dia mampu menjalani operasinya dulu. Kata terakhir yang mungkin merupakan awal dari sebuah harapan. Namun ternyata semua itu hanya berupa kata yang tertulis kaku dan tersembunyi dalam kertas yang berbentuk burung itu. Tanpa pernah bisa Jihwan ucapkan langsung pada Hyun Ra. Tanpa pernah bisa Jihwan ungkapkan semuanya pada Hyun Ra. Tapi bagi Hyun Ra itu sudah cukup. Dia tidak ingin apapun lagi.
Hyun Ra memejamkan matanya.  Berusaha menenangkan hatinya itu. Walau lima tahun itu sudah berlalu namun semua kenangan itu terasa masih begitu hangat di hati Hyun Ra. Hyun Ra menghembuskan nafas perlahan, wajahnya mendongak keatas. Dia lalu membuka matanya. Di saat yang bersamaan sebuah burung kertas mendarat di atas wajahnya.
Hyun Ra terkejut, dia lalu mengambil burung kertas itu dan menatapnya dengan seksama. Dirabanya burung kertas yang asal usulnyapun bahkan tak Hyun Ra ketahui. Entah karena alasan apa Hyun Ra secara tiba – tiba membuka lipatan burung kertas itu hingga berbentuk kertas persegi. Mata Hyun Ra membulat dan mulutnya setengah menganga begitu melihat sesuatu yang tertulis di dalamnya. Kemudian selang beberapa detik kemudian dia tersenyum getir.

“Hwaiting !! J

‘Apa kau memperhatikanku dari sana, Jihwan? Apa kau selalu melihat selama lima tahun ini?’
Hyun Ra menatap keatas, matanya menerawang namun senyumnya tak berhenti merekah. Hyun Ra lalu melipat kembali kertas itu menjadi berbentuk burung kembali dan memasukkannya kedalam tasnya. Diambilnya kertas persegi dari dalam tasnya, dia lalu menuliskan sesuatu didalamnya.

Always. I miss you.”

 Kemudian setelah selesai Hyun Ra melipatnya menjadi bentuk Burung Kertas. Di letakkannya burung kertas itu di pinggir lapangan. Hyun Ra melangkahkan kakinya meninggalkan lapangan basket indoor itu dengan langkah percaya diri. Sayup – sayup bisa Hyun Ra rasakan sebuah angin lembut menerpa wajahnya. Yah, dia memang tak bisa berada disisinya lagi. Dia telah pergi menemani Tuhan dan akhirnya bisa bertemu kembali dengan Eommanya di sana. Namun dia tak pernah benar – benar pergi, karena bagaimanapun keadaannya dia masih tetap hidup di hatinya. Untuk selamanya.
               



--FIN--
Continue reading [FanFiction] Paper Birds "Epilog"
,

[FanFiction] Paper Birds "Last Part"


Finallllyyyy~ udah episode terakhir ajah xD
Hahaha~
Padahal dulu males banget buat ngelanjutin. Akhirnya setelah dipaksa nih FF selesai juga^^
Happy reading... 
Mian kalo jelek^^

“Jihwan.”
Jihwan menoleh, dilihatnya sosok itu sudah berdiri di depan pintu kamarnya sambil tersenyum. Hyun Ra berdiri tanpa skruk dan juga kursi rodanya lagi. Dia tersenyum melihatnya. Hyun Ra mendekati Jihwan perlahan walau kakinya masih terlihat bergetar, tapi dia sudah berusaha keras untuk berjalan.
“Kau lihat? Perlahan aku mulai bisa menggunakan kakiku.”
“Yah.” Jawab Jihwan singkat. Dia tersenyum dan membelai rambut Hyun Ra lama. Entah apa yang ada dipikirannya. Rasa takut mulai menyelimuti hatinya lagi. Takut jika perpisahan dengan raga dan jiwanya terjadi. Dia sungguh takut.
“Jihwan.”
Tak ada sahutan dari sang pemilik nama. Pikirannya malah melayang entah kemana sambil membelai rambut Hyun Ra.
“Jeon Jihwan!!” Hyun Ra sedikit meninggikan suaranya.
“Eh?” Pikiran Jihwan tiba – tiba menghilang. Dia menatap Hyun Ra yang memakai raut wajah bingung. “Mianhae.” Ucapnya pelan.
“Ulurkan tanganmu.” Pinta Hyun Ra kemudian yang disambut dengan  wajah bingung Jay.
“Mwo?”
“Ulurkan tanganmu sekarang!”
Jihwan menurut. Dia mengulurkan tangannya kepada Hyun Ra.
            “Pejamkan matamu.”
            “Hah? Baiklah.” Jihwan lalu memejamkan matanya. Entah apa yang ada di pikiran Hyun Ra. Entah apa yang ingin Hyun Ra lakukan padanya. Dia bahkan tak bisa memahaminya.
            “Buka matamu.”
             Jihwan membuka matanya, hal pertama yang dilihatnya adalah Hyun Ra yang tersenyum lalu pandangannya mengarah kepada sesuatu yang berada di telapak tangannya. Burung Kertas.
             “Setiap hari kau selalu memberikan itu kepadaku bahkan tanpa sedikitpun terlupa. Sekarang izinkan aku memberikannya juga padamu hari ini sebagai penyemangatmu yang sebentar lagi akan berjuang menghadapi meja operasi.  Mungkin jika burung kertas itu bisa membawa keajaiban untukmu. Kau ingat khan tentang semalam? Aku masih ingin lihat supermoon – supermoon lainnya bersamamu.”
                Jihwan sedikit bengong namun kemudian dia tersenyum menatap Hyun Ra dan juga burung kertas diatasnya telapak tangannya itu. Entah kenapa rasa takut itu menghilang tanpa dia sadari. Mungkin ini adalah awal dari sebuah keajaiban.
                “Gomawo Hyun Ra-ya.”
                “Ne. Kau harus berjuang. Percaya saja kalau nanti kita masih bisa bertemu lagi.”
                “Tentu, ini bukanlah sebuah akhir.”
                Jay tersenyum, wajahnya yang tampak sangat pucat dengan pipi yang tirus itu masih terlihat begitu tampan di mata Hyun Ra.
                “Jihwan, sudah waktunya.”
                Dokter Jeon dan beberapa perawat memasuki kamar instalasinya dan memasangkan beberapa alat medis kepada Jihwan. Jihwan terbaring dengan selang pernafasan yang menutupi mukanya. Sebelum dia akan dipindahkan ke ruang operasi Jihwan menatap wajah Hyun Ra sebentar.
                “Nanti saat operasiku berhasil aku ingin mengungkapkan sesuatu padamu.”
                Suara yang begitu samar, namun Hyun Ra masih mampu mendengarnya. Dia mengangguk pelan. Perlahan air mata Hyun Ra jatuh saat melihat wajah pucat Jihwan yang sudah menghilang dan dibawa ke ruang operasi.
                “Jihwannie, berjuanglah.”

@@@@@

                Hyun Ra, Hyun Chul dan Eommanya duduk cemas di depan ruangan operasi yang sedari tadi masih belum menunjukkan tanda – tanda akan terbukanya pintu yang tertutup kaku itu. Bahkan lampu peringatan yang berada di atas pintu ruang operasi masih berwarna merah. Ini sudah tiga jam lebih. Wajah Hyun Ra sedari tadi terlihat begitu cemas, pikirannya bahkan tidak menentu. Bahkan Eomma dan Hyun Chul Oppanya yang tidak begitu mengenal sosok seorang Jeon Jihwan saja juga sampai ikutan cemas mengenai kondisi Jay di dalam sana. Mereka berdua mungkin merasa berutang budi pada sosok Jihwan yang selama ini sudah membantu Hyun Ra untuk berubah sedikit demi sedikit itu.
                Lampu peringatan yang berwarna merah itu mendadak berubah menjadi hijau. Hyun Ra yang menyadarinya secara spontan langsung bangkit. Matanya lalu terpusat pada pintu ruang operasi yang terbuka itu. Dilihatnya Dokter Jeon atau Aboejinya Jihwan keluar pertama dari ruang operasi.  Wajahnya yang ditutupi dengan masker  berwarna putih pucat itu mendekati kami bertiga.
                “Dokter bagaimana operasinya? Berhasilkah?” Tanya Hyun Ra tanpa basa – basi. Jantungnya berdegup sangat kencang saat ini. Menunggu Dokter itu berbicara.
                Dokter Jeon mendesah pelan, dia membuka maskernya. Wajahnya terlihat jelas begitu murung. Dan melihat itu perasaan Hyun Ra mendadak mulai tidak enak. Tidak mungkin.
                “Park Hyun Ra…”
                Dokter Jeon mengulurkan tangannya yang diatasnya terdapat sebuah burung kertas yang Hyun Ra berikan kepada Jay sebelum operasi berlangsung.
                “Jihwan menitipkan ini padaku.”

-- END--

Ending jelasnya silahkan baca di Epilog :D
Hehe~
Continue reading [FanFiction] Paper Birds "Last Part"
,

[Fan Fiction] "PAPER BIRDS" Part 6

Hay~
Anyone miss me? *Plaakk
Okey sorry for long hiatus.. Today I want to share my next paper bird fanfiction :D
hehe~ Finally I finish it >o<


“Jihwannie <3”
Jihwan yang tampaknya sedang serius memperhatikan acara berita di televisi di atas tempat tidurnya menoleh kearah suara yang memanggilnya itu dan mendapati kepala Hyun Ra menyembul dari balik pintu kamar inapnya sambil tersenyum.
“Hyun Ra.. Kenapa hanya kepalamu yang muncul disitu? Masuklah.” Pinta Jihwan dengan suara parau yang heran melihat Hyun Ra tersenyum tak jelas di balik pintu.
“Ne…” Hyun Ra mengangguk dan membuka pintu kamar inap Jihwan perlahan.
Hyun Ra memegang kenop pintu erat dan melangkahkan kakinya yang kaku itu secara tertatih dan bergetar kearah ranjang tempat Jihwan tanpa memakai skruk ataupun kursi roda yang selama ini menemaninya.
Mata sipit milik Jihwan sedikit melebar begitu melihat Hyun Ra sedang menggerakkan kakinya untuk mendekatinya tanpa sedikitpun bantuan. Hyun Ra berjalan perlahan dan gemetaran. Berusaha sekuat tenaga untuk bisa mendekati ranjang Jay menggunakan kakinya sendiri.
“Hyun Ra-ya~ Hwaiting.. Hwaiting..” Ucap Hyun Chul dengan semangat dari balik pintu kamar inap Jihwan yang terbuka. Hyun Chul mengepalkan kedua tangannya gemas sambil memperhatikan gerak – gerik adiknya itu untuk memasuki kamar inap Jihwan.
 “Hyu… Hyun Ra… Kau…” Suara Jihwan tercekat dan sepertinya dia masih belum mempercayai apa yang dilihatnya.

“Ahhh…” Tiba – tiba kaki kiri Hyun Ra kehilangan keseimbangan karena masih belum sepenuhnya bisa berjalan. Hyun Ra memejamkan matanya karena shock. Betapa bodohnya dia, bisa – bisanya dia gagal untuk berjalan mendekati Jihwan. Padahal dia sudah bertekad untuk menunjukkan hasil terapinya itu kepadanya. Tapi malah..
“Gwenchana?”
Hyun Ra membuka matanya dan mendapati wajah Jihwan sedikit berkerut karena khawatir akan keadaan Hyun Ra. Jihwan ternyata dengan sigap sudah meraih tubuhnya sebelum terjatuh. Seperti waktu Hyun Ra akan melompat dulu, Jihwan lah yang meraih tangannya.
“Gwenchana.” Hyun Ra menunduk. Merasa malu karena tak berhasil menghampiri Jihwan dengan baik. “Mianhae, padahal aku ingin menunjukkan padamu bahwa aku bisa berjalan sedikit. Tapi aku malah terjatuh begini.” Hyun Ra memanyunkan bibirnya kesal yang sontak membuat Jihwan tertawa.
“Gwenchana.. Itu sudah progress yang bagus. Aku senang melihatmu tadi bisa berjalan.”
Jay tersenyum dan mengacak – ngacak rambut Hyun Ra lembut yang kontan membuat pipi terasa panas.
“EHEM.”
Suara deheman Hyun Chul menyadarkan mereka berdua jika sang Oppa tercinta Hyun Ra ternyata ada disana.
“Eh? Oppa~ Hehe..” Hyun Ra hanya bisa nyengir kaku saat sadar jika dia nyuekin Oppanya itu.
“Kalian berdua itu yah.. Aku keluar dulu. Kalau sudah kau panggil aku Hyun Ra-ya dank au Jeon Jihwan cepat sembuh.” Kata Hyun Chul sembari keluar.
“Gamsa Hyun Chul Hyung.”
Mereka berdua kini hanya berdua di kamar inap Jihwan. Jihwan sekarang sudah dipindahkan dari ruangan isolasi ke kamar inap miliknya. Saat ini kondisi Jihwan terlihat sedikit membaik. Walaupun sedikit membaik namun Hyun Ra bisa melihat muka pucat dan pipi Jihwan yang semakin tirus dan juga badan Jihwan yang tambah kurus saja. Jihwan juga masih memakai kupluk merah khasnya itu di kepalanya. Dan juga masih banyak selang yang menancap di tubuhnya.
“Ah iyah, aku lupa sesuatu.”
Jihwan mengambil sesuatu dari laci mejanya yang berada di dekatnya dan memberikan Hyun Ra lambang semangatnya seperti biasa.
“Bahkan di saat seperti inipun kau tak berhenti memberiku burung kertas ini.”
“Aku tak akan mengingkari janji yang aku buat sejak awal.” Ucap Jihwan tersenyum sambil melihat sesuatu di televisi. “Hyun Ra…”
“Heum…” Hyun Ra mengalihkan pandangannya dan menatap wajah Jihwan.
“Aboeji bilang besok aku akan dioperasi. Ada seseorang yang ternyata cocok dengan sumsum tulang belakang seperti milikku. Dan dia bersedia mendonorkannya untukku.” Kata Jihwan dengan tatapan lembutnya.
“Mwoya? Jinjjja??” Wajah Hyun Ra terlihat begitu kaget kemudian sepersekian detik kemudian dia tersenyum dan memeluk Jihwan yang terbaring di tempat tidur. “Syukurlah.. Itu berarti kau akan segera sembuh khan?” Hyun Ra menatap wajah Jihwan yang tersenyum samar dan mengangguk perlahan. Tiba – tiba air mata Hyun Ra keluar lagi.
“Hyun Ra-ya…” Suara Jihwan tercekat begitu melihat air mata Hyun Ra.
Hyun Ra menunduk, kemudian dia mendongakkan wajahnya kearah Jihwan. Dia mendekati wajahnya pada Jihwan dan dengan cepat dia mengecup pipinya.
“Eh?” Jihwan meraba pipinya. Tiba – tiba pipinya terasa begitu panas. Sentuhan lembut dari bibir Hyun Ra menyentuh pipinya. Ada rasa bergejolak yang merasuk di hatinya.
 Hyun Ra menunduk malu setelah melakukannya, pipinya juga terasa panas saat melakukan hal bodoh tadi. Hyun menatap Jihwan yang masih memegangi pipinya itu.
“Mianhae, aku.. aku terlalu senang mendengarnya. Aku begitu senang sekali hingga aku tak sadar telah melakukan hal itu. Aku senang…..” Air mata Hyun Ra mengalir lagi. Entah sudah berapa kali dia menangis. Dia terlihat begitu cengeng dihadapan Jay.
Jihwan menatap Hyun Ra. Dia mendekatkan wajahnya pada  Hyun Ra dan mengecup kening Hyun Ra lembut. Kemudian dengan kedua jempolnya dia menghapus air mata Hyun Ra.
“Air mata ini.. aku terlalu sering melihatnya. Entah sudah berapa kali kulihat itu. Tapi aku tak pernah bosan melihatnya. Karena kau hanya memperlihatkannya padaku. Aku suka.” Jihwan membelai rambut Hyun Ra lembut. “Hyun Ra, terima kasih atas semuanya.”
“Heuh? Terima kasih?” Tanya Hyun Ra bingung.
Jihwan mengangguk, “Hari ini aku senang melihatmu bisa melangkahkan kakimu itu. Aku senang. Terima kasih karena kau tunjukkan semuanya kepadaku. Aku punya sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu.”
“Sesuatu? Apa?”
Jihwan menatap Hyun Ra penuh arti, kemudian tatapannya dialihkan kearah layar televisi yang sedang dilihatnya.
“Nanti kau juga akan tau.” Kata Jay sambil tersenyum penuh arti.
“Hah??”

@@@@@

Tengah malam…
“Hyun Ra-ya…” Bisik Jihwan sembari mengetuk pintu kamar inap Hyun Ra.
Hyun Ra yang sedang terlelap tidur terbangun begitu mendengar suara Jihwan yang sedang mengetuk pintu kamarnya. Setengah sadar dia mengambil skruk disebelah tempat tidurnya. Dengan langkah tersaruk dia membuka pintunya dan mendapati Jihwan sudah berdiri di depan pintu dengan wajah tersenyum.
“Jihwan? Ada apa?” Kesadaran Hyun Ra langsung normal begitu melihat wajah itu. Wajah seseorang yang kini tak pernah lepas dari otaknya.
Jihwan tak menjawab pertanyaan Hyun Ra, dia hanya membalas tersenyum. Dan nyengir tak jelas.
“Tadi aku bilang aku akan menunjukkan sesuatu padamu. Apa kau lupa?”
“Sesuatu? Heum..” Hyun Ra mulai mengingat kejadian tadi saat berada di kamar Jihwan. “Ah iyah, aku ingat. Kau akan menunjukkan sesuatu padaku.” Kata Hyun Ra senang.
“Iyah. Aku ingin menunjukkannya sekarang.”
“Sekarang? Tengah malam begini?”
“Iyah. Maukah ikut bersamaku?” Jihwan mengulurkan tangannya kepada Hyun Ra.
“Tapi, bukan kah besok kau akan melakukan operasi. Bukankah seharusnya kau istirahat? Kenapa harus tengah malam seperti ini?” Tanya Hyun Ra ragu.
“Aku tau dan aku tak perduli. Kau tau, aku takut tak bisa menunjukkannya lagi  padamu kalau tidak sekarang.”
“Apa yang kau katakan? Kau ngelantur. Aku tak kau mengatakannya lagi. Baiklah. Aku akan ikut.” Hyun Ra mengalah yang akhirnya  menyambut tangan Jihwan  dan mereka berdua pergi bersama ke tempat yang ingin ditunjukkan Jihwan padanya.

@@@@@

“Bisa? Sedikit lagi Hyun Ra.” Jihwan meraih tangan Hyun Ra kuat karena Hyun Ra dengan sekuat tenaga telah menaiki tangga hanya dengan kakinya sendiri. Dia menolak untuk memakai skruk untuk bisa sampai ketempat yang ingin Jihwan tunjukkan padanya.
 “Heuh.. Heuh..” Tubuh Hyun Ra bergetar hebat. Rasanya kedua kakinya tidak mau berkompromi dengannya kali ini. ‘dasar sial.’ Rutuknya dalam hati. Nafas Hyun Ra juga memburu karena kelelahan. “ Ini sudah di atap rumah sakit khan?” Tanya Hyun Ra yang masih menunduk dengan nafas terengah – engah.
“Ne, ini sudah di atap. Angkatlah kepalamu, kau harus melihatnya.”
Hyun Ra yang masih sedikit kelelahan dengan kepala berat akhirnya mengangkat kepalanya. Dia mengikuti apa yang Jihwan pinta padanya. Kemudian mata Hyun Ra terbelalak begitu melihat sesuatu di atas sana. Dia melihat bulan purnama yang begitu besar dari biasanya. Cahayanya juga jauh lebih terang dan indah. Hyun Ra terpana melihatnya.
“I, Indah sekali.” Kata Hyun Ra tercekat saat dia mulai bisa mengatur nafasnya.
“Namanya Supermoon atau lunar perigee. Dalam keadaan seperti ini bulan akan nampak jauh lebih cantik dan besar dari biasanya dikarenakan jarak bulan dan planet bumi begitu dekat. Dan untunglah mala mini bertepatan dengan fenomena langka seperti ini. Jarang – jarang hal ini terjadi makanya aku ingin menunjukkannya padamu saat ini juga.”
“Rasanya Bulan terasa begitu dekat.”
“Yah, seolah – olah kita mampu menggapainya khan?” Jihwan mengangkat tangan kanannya dan beranggapan kalau dia mampu menggapai bulan yang begitu besar itu.
“Iyah, aku merasa aku mampu menggapai bulan itu.” Hyun Ra juga mengikuti Jihwan dengan mengangkat tangannya dan berusaha menggapai sang bulan. “Terima kasih, ini begitu indah.” Ucap Hyun Ra kemudian tanpa melepas pandangannya sedikitpun pada bulan super itu.
“Sama – sama.” Balas Jihwan dengan tatapan masih tertuju pada supermoon.
Tatapan mereka berdua tak terlepas dari supermoon. Mereka begitu mengagumi fenomena langka yang Tuhan ciptakan itu dengan rasa syukur yang tiada tara. Tiba – tiba..
“Urghhh….”
Suara erangan Jihwan membuat Hyun Ra berhenti menatap keanggunan supermoon. Dia melihat Jihwan yang berada disampingnya memegang dadanya kuat – kuat menahan rasa sakit yang tiba – tiba datang menyerangnya.
‘sial.’ Rutuk Jihwan dalam hati.
“Jihwannie, gwenchana?” Tanya Hyun Ra panic. Dia merengkuh tubuh Jihwan.
“Gwenchana Hyun Ra.. Gwenchana..” Dia berusaha untuk tersenyum. Namun rasanya kanker di tubuhnya itu malah membuatnya sulit untuk tersenyum.
“Jihwaannn..” Suara Hyun Ra parau. Matanya perih, sepertinya sebentar lagi air matanya akan keluar lagi.
“Aku tak apa – apa Hyun Ra..” Jihwan bersandar pada bahu Hyun Ra, keringat dingin sudah membasahinya. Sakit sekali.. rasanya sangat sakit. Jihwan mencengkram kuat – kuat dadanya.
“Kita harus kembali ke kamar. Aku tak ingin terjadi sesuatu padamu. Apa perlu aku panggilkan suster yang berjaga?” Tanya Hyun Ra dengan pikkiran kalut.
“Tidak.. tidak perlu.. hah.. hah.. hah..” Jihwan menggenggam tangan Hyun Ra kuat. Berusaha untuk menahan Hyun Ra. “A..ku.. masih ingin disini bersamamu.. aku.. masih ingin menikmati keindahan supermoon ini bersamamu..”
“Tapi….”
“Aku mohon Hyun Ra. Aku takut ini malam yang terakhir kalinya kita seperti ini. Aku takut jika keesokan harinya aku tak bisa bersamamu lagi. Maka dari itu.. aku ingin.. aku ingin disini.. bersamamu lebih lama lagi.. aku mohon….”
Hyun Ra diam, dia tak mampu mengatakan apa – apa lagi untuk saat ini. Hatinya terasa begitu perih. Hyun Ra tak menyangka jika selama ini Jihwan sanggup menyembunyikan rasa sakitnya dari dirinya. Jihwan mampu menyembunyikan semuanya dengan sangat rapi dan bersikap seolah tidak terjadi apa – apa dengannya. Sosoknya yang terlihat rapuh saat ini sesungguhnya begitu kuat.
“Kau tau kenapa aku memakai kupluk merah ini?”
“Kau menutupi kepalamu yang sekarang hanya tersisa beberapa helai rambut khan?”
Jihwan tersenyum samar, “Yah, kau memang benar. Aku menyembunyikannya agar aku terlihat sehat dan baik – baik saja. Dan juga.. kupluk merah ini adalah hadiah yang Eomma berikan padaku sebelum dia pergi. Makanya aku sangat menyukainya. Ibuku jugalah yang mengilhami aku mengenai mitos burung kertas.” Jelas Jihwan yang sekarang sudah mulai terlihat sedikit membaik.
“Kau merindukan Eommamu?”
“Rindu sekali, rasanya aku ingin cepat – cepat menemuinya di atas sana.” Kata Jihwan sambil menatap langit yang dihiasi oleh supermoon.
“Kau bisa menemuinya nanti. Saat Tuhan membawamu kesana. Besok kau harus berjuang. Besok aku ingin kita bisa melihat supermoon lagi.”
“Hey, supermoon hanya terjadi hari ini.” ledek Jihwan pelan.
“Aku tak perduli mau ada supermoon atau tidak, yang terpenting aku bisa melihat malam yang seperti ini bersamamu lagi.”
Jihwan tersenyum samar, dia menggenggam tangan Hyun Ra lembut. Matanya menerawang menatap supermoon diatas sana. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini. Perasaannya saat ini terasa campur aduk. Namun apapun kenyataan yang akan terjadi besok Jihwan berharap semoga apa yang mereka berdua harapkan akan terjadi.
“Hyun Ra…”
Jihwan mendadak memeluk Hyun Ra erat namun terkesan begitu lembut. Hyun Ra yang menyadari itu membalas pelukan Jihwan. Hyun Ra bisa merasakan hangat tubuh milik Jihwan, Hyun Ra bisa merasakan desahan nafas berat milik Jihwan, Hyun Ra juga bisa merasakan detakan jantung Jihwan yang tak menentu.
‘Jihwanniee, berjuanglah untuk hari esok.’

--To be Continued--

Continue reading [Fan Fiction] "PAPER BIRDS" Part 6

Kamis, 15 Maret 2012

,

[FanFiction] Love Power

Malem kawan - kawan :D *lambai - lambai
Mianhae kalo lama gag ngisi blog. Sibuk men.. Sibuk -.-
Malem ini aku gag mau ngasih news ato pict spam tentang uri beloved DGNA.
Aku mau ngasih tentang Fanfictionku :) Tadi siang udah selesai.
Btw, ini bukan lanjutan dari FF Paper Birdku lho yah ._. FF itu masih dalam tahap pemikiran episode -.-
Yak, untuk membunuh waktu mari kita baca bersama - sama :)
Maaf jelek, masih pemula -.-

--------------------------------------------------------------------------


LOVE POWER

                “Ladies First” Ucapkan dengan memasangkan senyum manis sambil membuka pintu kelas untuknya.
               Dia yang melihatku membukakan pintu untuknya hanya diam dan memasuki ruang kelas dengan kepala menunduk. Mungkin untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.
                “Eciyeee~ Suit Suit”
                Suara gaduhbersahut – sahutan  dan siulan teman – teman sekelasku membahana begitu kami berdua memasuki kelas. Aku hanya menyengir garing sambil sesekali menggaruk – garukkan kepalaku. Sedangkan dia? Hanya menunduk dan langsung pergi menjauh menuju bangkunya yang terletak dibelakang nomer 2.
                “Injunnie~ aku tak menyangka kau hebat juga.” Ucap Karam, temanku sambil melirik jahil kearahnya yang sudah dikerumuni para yeoja.
                “Kau bisa menaklukkan hati Miss. Perfect.” Sahut Hyunmin temanku yang lain.
                “Ckckck, aku benar – benar tidak menyangkanya.” Jay, temanku juga ikut menimpali.
                “Ahh, tidak juga. Aku memang menyukainya. Makanya aku berusaha keras untuk mendapatkan hatinya.” Ucapku dalam sambil menatapnya penuh makna. Dia balik menatapkku, namun saat mata kami bertemu dia malah mendadak menundukkan kepalanya. Aku cekikan dalam hati begitu melihat tingkahnya.
                Yah, kemarin dengan ketekatan kuat aku menyatakan perasaanku padanya seusai sekolah. Dia yang mendengar pernyataanku terlihat begitu shock. Mungkin dia tak menyangka, namja berperawakan amburadul dan ceroboh serta bodoh ini menyukai seorang Miss. Perfect. Itu adalah julukan untuknya. Bagaimana tidak, dialah pemegang peringkat pertama paralel di sekolah dan seorang ketua osis di sekolah. Dia sangat pandai juga ramah kepada semua orang. Kecantikannya terpancar dari semua kebaikannya. Dan dimataku dia memang sempurna. Tanpa kusangka ternyata dia menerimaku. Ini seperti seorang nelayan mendapatkan harta karun di lautan. Aku sungguh beruntung. >.<
                “Mungkin, kau bisa mentraktir kami semua nanti.” Mika menepuk pundakku sembari tersenyum penuh makna. Sedangkan yang lain malah bersorak begitu mendengar kata ‘traktir’.
                Aku melongo begitu mendengarnya. Sementara yang lainnya bahkan tak perduli dengan ekspresi mukaku yang sudah benar – benar memelas. Aku lalu menatapnya sesaat, seolah meminta bantuan. Tapi dia hanya tersenyum dan mengedikkan bahunya. Sepertinya hari ini uang jajanku selama sebulan akan segera habis.

888888

                “Kau tak menghabiskan sayuranmu?” Dia bertanya padaku sambil melihat bekal makananku yang masih tersisa dengan sayuran di dalamnya.
                Hari ini kami makan siang berdua di atas atap sekolah. Dia ternyata membuatkanku bekal makan siang. Dan aku sungguh sangat senang. Masakannya sungguh sangat enak. Tak heran jika aku menghabiskannya dalam sekejap. Namun ternyata aku masih saja menyisakan  sayuran yang dia buatkan untukku.
                “Hyu Rin-ah~” Ucapku dengan nada berat.
                “Heum..”
                “Aku.. Aku tak suka sayuran. Jadi maaf jika aku menyisakannya.” Aku menatapnya sambil menyatukan kedua telapak tanganku di muka dengan maksud untuk meminta maaf.
                Hyu Rin menatapku sebentar, lalu dia menghentikan makannya dan menatap bekal makanku yang masih terdapat sayuran didalamnya. Hyu Rin mendesah pelan.
                “Kenapa kau tak suka? Kau tau Injunnie sayuran itu baik untuk kesehatanmu. Dan itu banyak mengandung vitamin yang berguna untukmu. Kalau kau tidak mau makan sayuran bagaimana kamu bisa sehat? Mulai sekarang kau harus membiasakan dirimu memakan sayuran sedikit demi sedikit. Aku akan membuatkanmu bekal makan siang setiap hari.” Ucapnya sambil tersenyum.
                “Tapi Hyu Rin-ah~” Aku memasang wajah memohon. Aku tak suka sayuran. Rasanya seperti obat, dan aku tak menyukainya.
                “Aaaa~” Hyu Rin menyumpitkan sayuran yang ada di bekalku ke depan wajahku.
                “Ha?”
                “Buka mulutmu!” Hyu Rin semakin mendekatkan sayuran itu ke mulutku.
                Aku sepertinya tidak punya pilihan lain selain mengikuti keinginannya. Dan aku pasrah membiarkan Hyu Rin menyuapkan sayuran itu ke dalam mulutku. Aku menutup mataku. Masih belum bereaksi dengan sayuran yang sudah berada di dalam mulutku. Perlahan dengan ogah – ogahan aku mengunyahnya sebentar dan langsung menelannya dengan cepat. Aku terdiam sesaat setelah aku berhasil menelan sayuran yang kubenci.
                “Enak bukan?” Tanyanya sambil tersenyum ke arahku.
                Aku menatapnya sebentar lalu perlahan aku menganggukkan kepalaku pertanda bahwa sayuran yang Hyu Rin buat sama sekali tidak terasa seperti obat yang selama ini aku duga.
                “Kalau begitu kau lanjutkan makan sayuranmu yang masih tersisa itu.”
               
“Iyah.” Aku mengangguk lalu mengambil bekalku dan menyumpitkan sayuran yang masih tersisa di dalamnya. Demi dia, bahkan sayuran yang kubencipun akan kumakan.

888888

                Sudah sebulan sejak kami jadian, tak terasa waktu cepat berlalu. Aku berjalan dengan riang di lorong sekolah. Hari ini sepulang sekolah aku berniat untuk mengajaknya makan. Hitung – hitung untuk merayakan sebulan jadian kami. Sambil bersiul – siul aku lalu melangkahkan kakiku menuju ruang osis. Aku ingin menemuinya dan bermaksud untuk mengutarakan keinginanku padanya. Begitu aku sudah sampai di depan ruang osis, saat aku hendak membuka pintu sayup – sayup kudengar suara Hyu Rin dan juga suara seorang namja di dalam. Aku mengurungkan niatku dan hanya berdiam diri di depan pintu.
                “Park Hyu Rin, bagaimana bisa kau menerimanya sebagai namja chingumu? Apa kau sudah gila? Dia bahkan tidak memiliki prestasi apapun di sekolah. Seorang pemalas yang kerjanya hanya tidur di kelas dan sering membolos sekolah. Dia tidak pantas sebagai namja chingumu.”
                “Tau apa kau tentang Injun? Jangan menghinanya seolah – olah kau kenal baik dengannya. Apa yang kulakukan tentu bukan urusanmu Lee Suhon. Urus saja urusanmu sendiri.” Hyu Rin setengah membentak kepada lawan bicaranya. Pertanda dia tidak menyukainya.
                Mendengar itu jantungku seolah berhenti berdetak. Mataku membulat. Badanku bergetar. Mencoba menyadari siapa aku selama ini dan sedihnya aku bahkan memang tipe orang yang Mika sebutkan tadi pada Hyu Rin. Aku.. sepertinya tidak pantas mendapatkan seorang yeojachingu seperti Park Hyu Rin.
                Tiba – tiba tanpa sadar pintu ruang osis terbuka. Dan Mika tau – tau sudah berada di depanku. Sedikit terkejut lalu dengan cepat dia merubah ekspresinya itu. Menatapku dingin dan ketus.
                Aku hanya menatapnya tak percaya sosok yang ada di hadapanku itu. Bagaimana bisa dia mengatakan hal jelek tentang diriku dihadapan Hyu Rin? Dia yang kuanggap sahabat ternyata diam – diam menusukku dari belakang. Dan yang paling aku tak percaya adalah dia juga menyukai Hyu Rin.
                “Heuh, kau mendengarnya yah?” tanya Mika sambil menatap Hyu Rin dari balik pintu lalu cepat menutup pintu osis dan mengajakku menjauh dari sana.
                Aku hanya diam. Bibirku serasa kelu untuk mengatakan kata – kata dari mulutku.
                “Aku menyukainya sejak kelas 1. Aku memperhatikannya dari jauh. Aku mengagumi sosoknya dari jauh. Aku menjadi pengurus osis pun karena aku ingin terus bersamanya. Berusaha untuk bisa menaklukan hatinya. Namun ternyata, orang sepertimu yang bisa menaklukan hatinya.” Jelasnya dengan membelakangiku. “Aku tidak bisa menerima jika orang sepertimu yang dia pilih. Aku rela meski dia tak kumiliki namun yang tak kurelakan adalah jika dia memilih seorang namja yang bahkan levelnya jauh dibandingkan aku bahkan dia.”
                Kata – kata yang langsung membuatku merasa  tersudut.
                “Kita memang teman, namun jika masalah Hyu Rin kita adalah rival. Dan aku akan berusaha untuk merebut hatinya darimu.” Mika meninggalkan aku dengan wajah dinginnya. Namun sebelum wajahnya menghilang dari pandanganku dia menoleh padaku sebentar, “Hyu Rin pantas mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dari dirimu.”
                Aku menatap kosong punggung Mika yang sudah menghilang dari pandanganku. Sepeninggal dia aku berusaha mencerna semua yang dia katakan padaku. Tentang diriku yang levelnya jauh dari Hyu Rin, tentang diriku yang suka tidur di dalam kelas saat pembelajaran sedang berlangsung dsb. Aku mendesah pelan. Lalu kutatap langit biru di atas. Aku tersenyum getir. Air mataku jatuh sebelah.
                ‘sepertinya aku memang tidak pantas untuknya.’

888888

                “Injunnie, kau melewatkan makan siangmu. Kau mau kemana?” tanya Hyu Rin padaku yang sedang tergesa – gesa.
                Aku menghentikan langkahku, menatap wajah cantik Hyu Rin di depanku. Pikiranku melayang entah kemana.  Aku memegang kedua pundak Hyu Rin. Sedangkan Hyu Rin menatapku bingung.
                “Hyu Rin-ah~” Ucapku dengan wajah serius.
                “Ne.”
                “Kumohon, beri aku waktu untuk mengintrospeksi hidupku.”
                “Mwo?” Hyu Rin tampak bingung dengan perkataanku.
                “Aku.. Aku..” Wajahku menunduk, aku merekatkan peganganku ke pundak Hyu Rin. “Aku ingin menjadi sosok namja yang pantas untukmu.” Aku langsung mengangkat wajahku begitu aku mengatakannya yang langsung disambut dengan wajah setengah terkejut milik Hyu Rin.
                “Injunnie, kau bilang apa?” Hyu Rin ingin mendengar perkataan Injun barusan.
                Injun menghela nafas pelan, lalu dia menatap Hyu Rin dengan tampang serius lagi.
                “Aku ingin menjadi namja chingu yang pantas untukmu. Aku ingin menjadi sesosok namja yang pantas kau banggakan, yang pantas kau tunjukkan pada semua orang. Aku ingin menjadi lebih baik lagi.”
                “Injunnie, kau pantas menjadi namj achinguku.”
                “Tapi bagi orang lain tidak Hyu Rin-ah” Aku menunduk, entah kenapa memori mengenai perkataan Mika yang dia sampaikan tadi pagi tiba – tiba muncul dalam benaknya.

“Kalau kau bisa mendapatkan peringkat 15 besar untuk ujian semester mendatang, maka  aku akan merelakan dia bersamamu. Tapi jika tidak maka sudah pasti kau harus putus dengannya dan membiarkan dia menjadi milikku.”

                Hyu Rin hanya diam dan menatapku dalam. Dia menyentuh pipiku dan tersenyum lembut.
                “Aku senang begitu mendengar hal itu darimu. Aku akan mendukungmu.”
                “Kau akan mendukungku?” Senyumanku mendadak muncul setelah seharian aku tak mampu untuk tersenyum.
                “Tentu. Kalau kau ingin menjadi lebih baik maka aku akan mendukungmu.”
                “Gomawo Hyu Rin-ah.” Tanpa sadar aku menarik tubuhnya kedalam pelukanku karena senang.
                Hyu Rin yang awalnya kaget dengan tidakanku dengan sendirinya membiarkanku untuk memeluknya. Dia membalas pelukanku hangat. Ada sesuatu yang tiba – tiba merasuk dalam diriku. Seperti sebuah tekad yang akan membuatku bisa menjadi yang lebih baik.
                ‘Hyu Rin-ah, aku yakin aku pasti bisa menjadi yang pantas untukmu.’

888888

                Aku bergidik begitu melihat tumpukan buku tebal yang berada di hadapanku. Semua buku itu harus kuplejari dan kupahami. Mendadak aku menjadi mual begitu membayangkan aku akan mempelajari semua buku – buku itu. Aku merebahkan kepalaku di atas meja dan membiarkan kepalaku terbenam di antara buku – buku itu. Hyu Rin yang melihat ekspresiku hanya tersenyum kecil, dia memang yang menyarankan aku untuk membaca semua buku itu.
                “Ya.. kenapa seperti itu? Ayo semangat !! Kau bilang kau ingin menjadi yang pantas untukku.” ucap Hyu Rin sambil menarik kursi di sampingku lalu mengambil sebuah buku tebal dari tumpukan itu.
                Dengan sangat terpaksa aku mengangkat kepalaku, aku memang ingin menjadi yang pantas untuknya tapi melihat tumpukan buku tebal itu entah kenapa semangat yang muncul kemarin menjadi lenyap seketika.
                “Dimulai dari matematika dulu yah.” Dia lalu membuka buku tebal itu disertai dengan buku catatan di dekatnya.
                Aku mengangguk. Aku harus memenuhi tantangan Mika. Aku tak ingin Hyu Rin pergi dariku. Aku tak mau dia merebut Hyu Rin. Aku akan menjadi yang pantas untuk Hyu Rin. Aku akan bekerja keras.

888888
                “tititititititit”
                Suara jam weker membangunkan tidurku tepat pukul 5A M. Mataku yang masih mengantuk kupaksa untuk terbuka. Aku bangkit dari tempat tidurku. Dengan langkah gontai aku memasuki kamar mandi untuk cuci muka dan sikat gigi. Setelah kesadaranku kian ada aku lalu mengganti baju tidurku dengan baju olahraga putih dengan corak putih hitam di kedua lenganku dan juga lambang kupu-kupu di bagian kiri dadaku. Handuk kecil aku lingkarkan di leherku. Aku siap untuk berolahraga.
                Mulai saat ini setiap pagi seperti inilah kegiatan yang akan ku kerjakan. Kulakukan hal ini juga demi mengikuti keinginan Hyu Rin yang menginginkan aku berolahraga setiap hari dipagi hari. Kegiatan yang sama sekali tak pernah terbayang olehku kini kulakukan juga. Aku yang bisanya bangun siang harus bangun pagi untuk berolahraga pagi bersamanya. Lagi – lagi demi Hyu Rin aku melakukan semua ini. heuhh~ meski terasa sulit tapi aku akan menjalaninya dengan senang hati J

888888

                “Ah sial.” Aku merutuk kesal begitu melihat angka 50 dengan warna spidol merah pada kertas ulangan matematikaku. Aku  menggaruk – garukkan kepalaku gemas. Belum percaya dengan hasil ulanganku.
                “Injunnie, kau peningkatan. Biasanya kau selalu mendapatkan nilai 15 atau 20 untuk matematika. Tapi sekarang jadi 50. Itu bagus.” Karam menepuk – nepuk punggungku agak keras, namun aku tak memperdulikannya. Mataku masih manatap kosong pada kertas ulangan matematikaku.
                Lalu entah kenapa mataku tertuju pada Mika yang sepertinya dia sedang memperhatikanku. Dia tersenyum padaku sambil mengacungkan kertas ulangannya yang bertuliskan nilai 100 di dalamnya. Aku memalingkan mukaku kesal.
                “Sial.” Tanganku tergenggam erat dan bergetar. Aku belum bisa menerima keadaan ini. dia yang menang dan aku kalah. Aku mendesah pelan lalu menatap hampa kertas ulanganku. Rasanya sia – sia aku belajar. Rasanya ingin menyerah saja.
                Tiba – tiba ada sesorang yang menjitak kepalaku, aku menoleh secara reflek dan kulihat sosok Hyu Rin sudah berada di dekatku dengan wajah tersenyum.
                “Dapat 50 itu sudah bagus. Jangan menyerah seperti itu hanya gara – gara nilaimu segitu. Lagipula kau sudah mengalami peningkatan begitu.” Kata Hyu Rin sambil tersenyum.
                “Hyu Rin-ah~” Aku menatap Hyu Rin penuh arti. Melihat senyuman yang dimiliki entah kenapa rasa kesalku mendadak menghilang. Aku merasa seperti memiliki semangat baru. Aku membalas senyumannya. Aku tidak akan menyerah. Aku akan mencobanya lagi. Ini masih permulaan.  Oh Tuhan, aku pasti bisa.
888888

                “Yak, selanjutnya kau kerjakan soal geometri di buku ini. Penjelasannya sudah aku beri tau tadi khan? Sepuluh menit.” Ucap Hyu Rin sambil mengerlingkan matanya padaku.
                “Mwoya? 10 menit? Aku harus mengerjakan 20 soal ini dalam 10 menit?” Tanyaku tak percaya yang hanya dibalas anggukan oleh Hyu Rin.
                “Tentu. Kau pasti bisa.”
Dia menepuk pundakku. Dan tersenyum untuk memberikanku semangat. Aku menatapnya lama. Aku mengangguk. Bersiap untuk mengerjakan soal yang diberikan.
Yak, seminggu lagi ujian semester akan dimulai. Dan selama ini aku sudah berusaha keras untuk merubah diriku menjadi yang lebih baik. Aku yang biasanya membolos dan tidur di dalam kelas sekarang sudah tidak melakukan hal itu lagi. Aku akan menunjukkan kepada semua orang bahwa Injun yang selama ini selalu malas telah berubah menjadi seseorang yang mampu diperhitungkan. Aku memiliki kepercayaan itu. Dengan dukungan Hyu Rin, aku seolah bisa melakukan semua itu. Bahkan untuk mencapai peringkat 15 pun aku seolah mampu menggapainya.
“Trrrrtrrrrttrrrrtt..”
Suara getar handphone sempat menghentikanku sejenak. Bukan dari handphoneku ternyata. Getar handphone itu milik Hyu Rin. Hyu Rin yang sedang menemaniku belajar sambil membaca buku menghentikan kegiatannya sejenak. Dia mengambil handphonenya yang dia letakkan di atas meja. Dia melihat handphonenya sebentar, lalu beberapa detik kemudian dia mengetikkan sesuatu. Sesudah itu dia menutup flip handhonenya. Meletakkannya di saku roknya lalu bermaksud hendak beranjak dari tempat duduknya.
“Injunnie~ aku pergi sebentar. Ada rapat osis mendadak. Nanti aku akan kembali. Kau kerjakan apa yang aku pinta tadi. Kalau sudah kau sambil baca – baca buku lainnya.”
Belum sempat aku mengatakan sesuatu padanya dia sudah menghilang dari perpustakaan. Aku hanya menatap kepergiannya diam. Aku mendesah pelan. Menyandarkan tubuhku dan meregangkan otot – ototku yang sedari tadi terasa penat. Aku istirahat sebentar saja. Lagipula soal – soal geometri dihadapanku ini hanya tinggal 5 soal tersisa. Sambil menunggunya selesai rapat lebih baik aku istirahat dulu.
Aku menguap beberapa kali, kutatap jam digital yang kupasang di lengan kananku. Sudah sejam sejak dia pergi. Dia bahkan belum kembali. Soal – soal geometri ini juga sudah kuselesaikan lama. Aku juga membaca beberapa buku untuk membunuh waktu. Kulihat jendela dibelakangku. Cahaya berwarna jingga memantul dari jendela perpustakaan.
“Heuh~”
Aku mendesah untuk yang kesekian kalinya. Kusandarkan kepalaku di atas meja. Membiarkan buku – buku itu menjadi sandaran kepalaku. Sayup – sayup angin yang masuk dari jendela perpustakaan membuat rasa kantukku mendadak semakin kuat. Entah kenapa aku juga begitu menikmati suasana tenang perpustakaan yang saat itu memang sedang lengang saat – saat jam sore. Dengan mata yang sepertinya sudah tidak bisa diajak berkompromi lagi perlahan aku memejamkan mataku. Dan jiwaku dengan cepat sudah berada di alam mimpi.
“Injunnie~ maaf aku baru kembali.” Hyu Rin masuk ke dalam perpustakaan dengan wajah khawatir. Khawatir karena dia merasa tak nyaman membuat Injun menunggu lama. Namun yang di dapat Hyu Rin ternyata suara dengkuran Injun yang sekarang sedang terlelap diantara buku – bukunya. Yang membuat Hyu Rin cekikikan adalah karena Injun menjadikan beberapa buku didekatnya itu sebagai bantalan tidurnya. Hyu Rin menggeleng – gelengkan kepalanya gemas.
“Hyu Rin-ah, aku pasti bisa.. Heum.. nyam.. nyam..”
Hyu Rin terdiam sesaat begitu mendengar suara igauan Injun. Hyun Ri lalu tersenyum. Dia duduk di sebelah Injun. Membelai lembut rambut Injun yang jatuh menutupi mukanya. Dia bahkan menyingkap beberapa poni Injun itu. Hyu Rin menatap lama wajah Injun yang tertidur.
‘Kau sudah berusaha kerasa demi diriku. Terima kasih.’
Entah Injun sadar atau tidak, tapi sebuah kecupan lembut diberikan Hyu Rin padanya di dahinya. Mungkin sebagai sebuah ‘reward’ karena Injun telah berusaha menjadi lebih baik lagi.
‘Aku yakin kau pasti bisa, Injunnie~”

888888

Ujian semester akhirnya tiba juga. Dan disinilah pertarungan yang sebenarnya dimulai. Aku dengan langkah ringan dan percaya diri berangkat kesekolah.
‘Akhirnya tiba juga.’
“Annyeong.” Suara Hyu Rin menyambutku di pagi ini di depan gerbang sekolah. Dia tersenyum padaku.
“Hyu Rin-ah.” Aku mempercepat langkahku dan mendekatinya. “Annyeong.” Balasku sambil mebalas senyumannya.
“Hari ini sudah siap khan?”
Aku mengangguk mantap pada Hyu Rin.
“Tentu saja aku sudah siap. Selama ini kau yang membingbingku. Jadi aku percaya bahwa aku bisa buat ujian nanti.”
“Baguslah. Hwaiting.”
“Kau juga Hyu Rin.” Aku membelai rambutnya pelan yang dibalas senyuman olehnya.
Selama berjalan di lorong sekolah kami berdua bercanda gurau bersama. Bahkan ada tawa yang terselip. Rasanya ujian ini seperti tidak ada beban bagiku. Langkah kami lalu terhenti begitu melihat Mika sudah berada di depan pintu kelas. Dia menatapku datar. Sedangkan aku juga membalasnya dengan tatapan yang sama.
“Ayo masuk Hyu Rin-ah.” Aku menggandeng Hyu Rin masuk kelas.
Hyu Rin hanya mengangguk dan mengamini permintaanku. Kami berjalan melewatinya. Saat itulah sayup – sayup kudengar kata – kata dari mulutnya.
“Aku yang akan menang.”
Aku menoleh sejenak. Menatapnya dengan wajah tak suka.
‘Cih, aku yang akan menang. Liat saja nanti Lee Suhon.’

888888

Dua minggu berlalu sejak ujian semester berakhir. Hari ini sekolah akan menempelkan papan nama hasil ujian semester. Aku sungguh sangat tegang menanti hal ini terjadi. Saking tegangnya aku bahkan tak bisa tidur semalam dan terus – terusan memikirkan hari ini tiba. Hyu Rin yang melihat keteganganku selalu berhasil membuatku tenang. Entah seperti sebuah magic. Dia mampu mengubahku seperti ini.
Kang Songsaenim datang sambil membawa gulungan kertas untuk ditempelkan di papan pengumuman. Sepertinya itu memang hasil dari ujian semester. Aku berusaha mendekat. Namun apesnya begitu aku hendak mendekat kerumunan siswa sudah lebih dulu mendekati papan pengumuman.
“Sial.” Rutukku kesal.
“Sabar, kita tunggu sampai kerumunan itu berkurang yah.” Hyu Rin menepuk – nepuk punggungku pelan.
Aku menatap Hyu Rin dan mengangguk. Aku mengikuti keinginannya walau sebenarnya aku ingin sekali merangsek masuk ke dalam kerumunan itu untuk melihat apakah namaku ada di papan pengumuman. Aku akan menunggu.
                Setelah kerumunan kian berkurang aku mengajak Hyu Rin untuk melihat hasil dari ujian semester di papan pengumuman. Aku menggandeng tangannya supaya dia tak hilang dari pandanganku. Dengan susah payah aku menajamkan mataku. Aku sampai menjinjit untuk melihat dengan jelas. Kulihat nama Park Hyu Rin berada di paling atas dengan nilai yang nyaris hampir sempurna. Aku tak kaget jika namanya bertengger di paling atas. Dan yang menyebalkan lagi nama Lee Suhon berada di bawah nama Hyu Rin dengan menempati peringkat kedua.
                “Bagaimana?” Tanya Hyu Rin yang memang tak bisa melihat papan pengumuman itu.
                “Heum. Seperti biasa namamu berada di paling atas.” Jawabku sambil menatapnya.
                “Bukan.. Bukan itu yang kumaksud. Maksudku apa ada namamu di peringkat 20 besar?”
               
Aku tak menjawab, aku kembali memfokuskan pandanganku pada papan pengumuman itu. Mataku bergerak turun hingga peringkat 10. Tidak ada namaku. Rasanya sedikit mustahil aku bisa mendapatkan peringkat 10 besar. Lalu aku melanjutkan melihat peringkat 20 besar.
                Kutajamkan lagi penglihatanku. Mataku bahkan sampai menyipit untuk bisa melihatnya dengan jelas. Saat mataku tertuju pada peringkat 14 aku terdiam. Mendadak tubuhku lemas. Aku berusaha untuk melihatnya dengan jelas sebuah nama yang berada di peringkat itu.

“14. Lee Injun / 이인준 (730)”

          “Injunnie~ gwenchana?” Tanya Hyu Rin yang cemas melihat ekspresiku yang shock. “Apa yang terjadi? Kau berada di peringkat berapa?” Tanyanya beruntut sambil mengguncang – guncangkan lenganku.
                Aku masih belum bereaksi. Aku shock melihat namaku berada di peringkat ke 14 di seluruh sekolah. Aku berusaha melihat lagi papan pengumuman. Berharap itu hanyalah mimpi atau apalah itu. Namun ternyata tidak. Aku sampai menepuk kedua pipiku untuk meyakinkan ini bukanlah mimpi.
                “Injunniee~” Hyu Rin mendorngku pelan ke belakang. Dia bermaksud untuk melihat sendiri papan pengumuman. Sepertinya dia sedikit kesal karena pertanyaannya tidak segera direspon olehku. Aku dengan pasrah membiarkan Hyu Rin merengsek masuk ke dalam kerumunan. Setelah dia berhasil masuk dan berada tepat di depan papan pengumuman dia lalu menggerakkan matanya kebawah sambil menempelkan jari telunjuknya ke papan pengumuman.
                Mata dan jarinya berhenti bergerak begitu sampai pada peringkat ke-14. Nama Injun tertera jelas disana. Mata Hyu Rin membulat begitu mengetahuinya. Ini bukan mimpi. Injun berada di peringkat ke-14. Hyu Rin lalu keluar dari kerumunan. Menatap Injun yang sedang menunggunya dibelakang kerumunan dengan wajah masih shock.
                “Hyu Rin-ah, itu.. itu..” Aku masih belum bisa mengatakan dengan jelas.
                Hyu Rin tersenyum menatapku yang masih saja shock. Lalu entah aku mimpi atau tidak air mata Hyu Rin jatuh membasahi pipinya. Aku terdiam.
                “Hyu Rin-ah~”
                Perlahan Hyu Rin mendekatiku. Dia lalu memelukku. Aku hanya diam. Sedangkan banyak mata mendadak mengalihkan perhatiannya kepada kami berdua. Aku kontan jadi kikuk dan serba salah.
                “Hyu Rin-ah~”
                “Kau berhasil Injunnie. Kau berhasil. Kau berada di posisi 14 dan itu bukanlah suatu mimpi. Itu kenyataan. Kau berhasil melakukannya.” Dia menatapku sambil tersenyum. Air matanya masih menggenang di pelupuk matanya.
                “Hyu Rin-ah, aku berhasil. Dan itu bukan mimpi. Ini semua berkat dirimu.” Aku membelai rambutnya lembut.
                Hyu Rin menggeleng pelan.
                “Bukan berkat diriku. Tapi berkatmu yang mau berubah. Dan kau berhasil melakukannya.”
                Aku tersenyum. Yah.. kau juga ikut berperan dalam hidupku.
                “Eciye~ yang masuk peringkat 20 besar.” Suara cempreng Karam membuyarkan kemesraan kami. Dia mendadak merangkulku. Dan sontak aku dan Hyu Rin melepaskan pelukan kami.
                “Kau ini.” Aku menyikutnya pelan dan kami tertawa bersama.
                “Traktir – traktir.” Jay ikut bersuara yang diamini dengan senyum girang Hyunmin.
                “Heee? Traktir lagi?”
                “Tentu saja, kau harus berbagi kebahagiaan dengan kami. Setelah kau bersama Hyu Rin sekarang kau mendapat peringkat 15 besar. Itu khan berita menyenangkan.” Ucap Hyunmin yang sudah membayangkan makan sepuasnya di kafetaria.
                “Hei.. Hei..” Mereka menarikku dan Hyu Rin menuju kafetaria.
                Namun langkah kami tiba – tiba terhenti begitu ada Mika di hadapan kami. Wajahnya datar. Lalu dia melangkahkan kakinya mendekatiku. Aku menggenggam tangan Hyu Rin. Aku menang, dan tak akan kuserahkan Hyu Rin kepadanya.
                Dia menepuk pundakku pelan, lalu membisikkan sesuatu ke telingaku.
                “Chukkae. Kau bisa kupercayai sekarang. Teruslah kau tingkatkan prestasimu itu. Semoga bahagia.”
                Mataku melebar begitu mendengar perkataan Mika. Aku berbalik dan menatap Mika yang melambaikan tangannya padaku. Dia..
                “Dia gentlemen bukan?” Kata Hyu Rin sambil menatapku jahil.
                “Mwoya? Aku lebih hebat dari dia. Ayo kita ke kafetaria. Kita akan makan. Aku yang traktir.” Aku menggandeng tangan Hyu Rin dan merangkul Karam menuju ke kafetaria. Hyunmin dan Jay juga terlihat begitu antusias.
                Aku menatap Hyu Rin lekat. Lalu tersenyum kepadanya.
“Tidak perduli apapun yang terjadi pada diriku”
“Jika kau bersamaku”
“Aku bisa bekerja dengan keras, aku bisa menjadi lebih kuat.”
“Selalu ada kekuatan cinta di dalamnya"
“Kapanpun aku memikirkanmu, entah kenapa keberanianku jadi semakin meningkat.
“Aku percaya bahwa aku bisa melakukan apapun”
“Itulah yang dinamakan kekuatan cinta”

“FIN”
Farida Mutia Agustin (@fmutia0628)
Kamis, 15 Maret 2012 (10.58 WIB)

Continue reading [FanFiction] Love Power

Rabu, 08 Februari 2012

,

[FanFiction] I Want to Snatch You Away Right Now

Annyeong All~ \\^O^//
Kali ini aku kembali.
Aku cuma mau ngeshare tentang FF.ku
FF Amatiran sih -.-
Tapi seenggaknya aku udah nyoba._.
Yang gag suka silahkan dilewatkan saja yah^^
FF ini terinspirasi dari lagu Daikoku Danji dengan judul yang sama.
Awalnya pengen ngikutin lagunya, tapi malah kemana - mana -.-
Let's check this out--> 

                Sore ini kami, ah tidak maksudku aku dan dia sedang berjalan pulang dari sekolah. Ditemani matahari yang hampir tenggelam keperaduannya aku dan dia bersenda gurau bersama. Membicarakan banyak hal yang menyenangkan hingga membuatku dan juga dia tertawa tanpa henti. Aku lalu menghentikan tawaku, menatapnya yang masih saja mengoceh tentang teman sekelas  kami di sekolah. Dia tersenyum dan tertawa. Aku tersenyum sendiri saat melihatnya, aku begitu menyukai wajahnya yang dipenuhi dengan senyuman dan tawanya itu. Aku menyukainya.
               Namun tiba – tiba langkah kami terhenti. Senyuman itu juga ikut terhenti.
                “Ubaitai~ Kimi wo imai suguni. Boku naraba kitto. Kimi wo kanashimasenai no ni
                Nada dering handphone miliknya berbunyi dan sontak dia langsung mengambil handphone miliknya dari dalam tasnya. Dilihatnya sekilas nama dari display handphonenya. Kemudian diangkatnya telepon yang masih berdering itu.
                “Yeoboseyo.”
                Entah apa yang terjadi  namun saat beberapa detik dia berbicara dengan seseorang ditelepon raut wajahnya mendadak berubah. Dia menatap kepadaku cemas lalu berusaha untuk memperlebar jarak dariku. Dia membelakangiku dan berbicara setengah berbisik dengan orang di telepon itu. Aku hanya diam saja melihat tingkahnya. Aku bisa menebak siapa orang yang sedang diteleponnya. Aku tau itu.
                Kulihat dia sudah selesai berbicara dengan ‘seseorang’ di telepon itu. Dia menutup teleponnya. Aku memperhatikannya cemas. Dia masih membelakangiku. Kepalanya menunduk dan kulihat tangannya terkepal sekaligus bergetar dengan hebat.
                “Hey. Gwaenchana?” tanyaku cemas.
                Namun tak ada jawaban dari orang yang sedang aku tanya itu. Dia tak meresponku. Kulangkahkan kakiku untuk mendekatinya. Kuraih lengannya, bermaksud untuk menariknya halus dan membuatnya menghadap padaku. Tapi dia tidak bergeming. Ku coba lagi untuk membalik tubuhnya perlahan dan mendadak hatiku terasa sangat sakit.
                Wajah yang tadi dipenuhi dengan senyum dan tawa itu kini berubah dipenuhi dengan air mata. Wajahnya masih menunduk. Namun bisa kurasakan bahwa dia sedang menangis. Dia menggigit bibir bawahnya kuat – kuat bermaksud untuk menahan air mata keluar lagi, namun sepertinya hal itu tidak berhasil. Air mata itu masih saja mengalir dan tak bisa dia hentikan.
               
“Hey, gwaenchana? Apa yang terjadi? Apa ada sesuatu?” Tanyaku lagi cemas.
                Lagi – lagi dia tak menjawabku. Dia masih terisak didepanku dengan wajah menunduk. Aku berusaha untuk mengangkat wajahnya. Wajahnya kini bisa kulihat dengan jelas. Tapi sorot mata indahnya tenggelam bersamaan dengan banyaknya air mata yang keluar.
                “Apa yang terjadi?”
                Aku bertanya lagi, kudekatkan wajahku kearahnya. Dia lalu menatapku. Tatapan matanya begitu menghamba dan sulit kupahami. Aku mencoba menghapus air matanya dengan kedua tanganku. Rasanya benar – benar menyakitkan saat melihat orang yang kau sayangi menangis seperti ini. Aku sungguh tak menginginkan ekspresi wajah ini terlihat lagi.
                “Gomawo.” Ucapnya pelan dengan senyum getir.
                Aku diam, dia berusaha menutupi semuanya dariku. Dan aku menyadari hal itu. Senyum yang bergetar dan seolah dipaksakan itu… aku bisa merasakan ada sesuatu hal yang terjadi. Namun dia hanya diam.
                “Ayo kita pulang.”
                Dia kemudian menggenggam tanganku kuat. Kulihat dia seperti sedang menahan sesuatu. Tatapan matanya juga sungguh berbeda. Aku menghela nafas panjang dan kemudian  membalas menggenggam tangannya. Dia tersenyum padaku seolah kejadian tadi tidak pernah terjadi. Aku menatapnya nanar lalu dengan setengah enggan aku berusaha membalas senyuman itu.

@@@@@

                Kurebahkan tubuhku lelah diatas kasur, entah kenapa hari ini begitu lelah. Kejadian saat pulang sekolah tadi masih terus membayangiku. Wajahnya yang menangis dan senyumnya yang sungguh dipaksakan. Entahlah, rasanya dia sudah memenuhi pikiranku saat ini. Aku lalu menoleh ke arah sebuah bingkai foto yang terpajang di samping meja tempat tidurku. Kutatap lekat sosok yang berada di dalam foto itu. Wajahku dan juga dia yang tersenyum bersama saat kelulusan SMP. Aku rindu senyumannya yang lepas seperti itu. Sebelum bertemu dengan ‘orang itu’ senyumannya selalu seperti itu, namun semenjak ‘orang itu’ hadir dalam hidupnya entahlah. Senyuman itu seolah lenyap.
                “You are the only want I want, you are the only one I love
                Handphoneku tiba – tiba berbunyi. Aku lalu mengalihkan perhatianku dari bingkai foto itu dan mulai mencari hanphoneku yang sepertinya lupa aku letakkan dimana. Dengan menajamkan pendengaran akhirnya aku berhasil menemukan handphoneku yang ternyata terselip dibawah bantalku. Aku melihat nama seseorang yang menelponku malam ini di display handphone. Aku terpaku sejenak lalu dengan cepat mengangkatnya.
                “Yeoboseyo. Ada apa? Malam ini? Baiklah. Aku akan segera kesana.”
                Aku menutup teleponku. Dengan segera aku bangkit, mengambil jaket yang tergantung di belakang pintu. Lalu dengan langkah lebar aku segera melesat ke tempatnya untuk menyusulnya. Aku bahkan tak perduli dengan turunnya salju malam ini. Dia menungguku.


@@@@@

                Dia menoleh dan tersenyum padaku begitu melihatku tiba ke tempat dia menantiku.
                “Akhirnya kau datang.” Ujarnya sambil tersenyum samar.
                Aku hanya balas tersenyum dan mengangguk. Aku mendekatinya yang sudah berada di taman itu entah berapa lama. Aku  lalu duduk di samping ayunan yang sedang dia duduki. Aku menatapnya. Dia hanya menunduk sambil mengayun – ayunkan ayunannya pelan. Tak ada sahutan yang keluar. Dia ataupun aku sama – sama diam. Terlalu larut dalam pikiran masing – masing. Aku menghela nafas kemudian menatap langit malam yang sudah dijatuhin oleh gumpalan - gumpalan putih dingin itu.
                “Saat kita pulang sekolah tadi, Injun menelponku.” Ucapnya dengan suara serak.
Akhirnya dia mau membuka mulutnya setelah sedari tadi hanya diam saja.
“Dia mengatakan bahwa dia melihat Hyunmin berjalan bersama Min Ri ke karaoke sambil berpegangan tangan.”
Mendadak rahangku mengeras begitu mendengarnya. Rasanya aku benar – benar muak. Ini memang bukan yang pertama kalinnya aku mendengar dia mengadu tentang ‘namjachingu’ sialannya itu. Ini sudah beberapa kali. Namun rasanya rasa jengkelku terhadapnya sudah diambang batas.
“Aku tak percaya apa yang telah dia katakan padaku. Jadi aku pergi untuk memastikannya.”
Dia berhenti sejenak. Memejamkan matanya dan menghela nafas berat.
“Saat aku pergi ketempat itu kulihat dia sedang berciuman dengan Min Ri. Dia menyadari kedatanganku. Dia lalu menghampiriku dan menatapku dingin.”
“Lalu?” Tanyaku dengan emosi yang tertahan.
“Dia mengatakan, ‘Kau sudah melihatnya khan? Aku sudah tidak menyayangimu lagi. Jadi putuskan hubungan kita sekarang.’ Itu yang dia bilang.”
“Terus, kau memutuskannya?”
Tak ada jawaban atas pertanyaanku. Dia menundukkan kepalanya, menggenggam rantai ayunan kuat dan mengayunkan ayunan yang dinaikinya tanpa minat.
“Jangan bilang kalau kau tidak memutuskan hubunganmu dengannya.”
Tebakku yang sontak membuat dia menatapku dengan wajah terkejut.
“Sial.”
Aku bangkit dari ayunanku. Tanganku bergetar dan terkepal menahan amarah.
“Aku menyayanginya. Aku menyayangi Woo Hyunmin. Aku tidak ingin berpisah dengannya. Dia cinta pertamaku. Jika aku berpisah dengannya itu berarti aku tidak bisa bertemu lagi dengannya.”
Dia berkata dengan cepat dan bersuara serak menahan tangis. Aku menoleh padanya. Mendekatinya dan berjongkok dihadapnya. Bisa – bisanya dia mengatakan hal gila itu dihadapanku. Tak sadarkah dia bahwa orang yang sedang berada dihapannya ini begitu tulus mencintainya? Tak pernahkah dia sadar bahwa perasaan ini selalu ada untuknya? Rasanya aku benat – benar ingin merebutmu darinya. Rasanya aku sungguh tak sanggup melihat dia menangis dan bersedih hanya gara – gara namja brengsek itu. Aku sungguh tak sanggup.
“Kenapa? Kenapa kau begitu mencintainya? Kau bahkan sudah tau betapa brengseknya dia khan? Tapi kenapa?” Suaraku mendadak tercekat, rasanya aku sungguh tak sanggup.
“Aku mencintainya. Dan aku yakin apa yang tadi dia lakukan hanya sebatas main – main saja seperti yang lain.”
Main – main? Menggelikan sekali. Dia bahkan masih saja bisa menutupi dosa namja brengseknya itu kepadaku.
“Aku sudah merepotkanmu selama ini dengan semua keluhanku. Maafkan aku. Tolong aku, jangan kau salahkan sepenuhnya padanya. Ini salahku karena tak bisa menjadi sosok seorang yeoja yang dia inginkan.”
Aku diam untuk kesekkian kalinya. Pikiranku sudah dipenuhi dengan namja sialan itu. Rahangku sudah mengeras menahan amarahku. Aku lalu menatapnya. Menatap wajah cantik itu yang kini terlihat begitu pucat dan gusar. Aku meraba wajahnya yang kontan membuatnya juga menatapku. Menatap tepat ke mataku. Ada hawa beku saat kusentuh wajah itu.
“Sudah berapa lama kau tadi disini?” Tanyaku tanpa memperdulikan perkataannya tadi.
“Entahlah. Aku tidak sadar sudah berapa lama aku di tempat ini.” Jawabnya yang sekarang sudah menunduk untuk menghindari tatap mata denganku.
Aku mengelus pipinya lembut, lalu kuangkat wajahnya yang menunduk dengan mengangkat dagunya. Sekarang tatapan kami bertemu untuk kesekian kali.
“Apa kau ingin menangis?”
Tak ada sahutan darinya. Dia hanya diam dan membalas tatapanku. Aku mendekati wajahnya lebih dekat lagi. Hingga aku bisa merasakan embun yang mengepul dari desahan nafasnya. Entah setan apa yang merasukiku, aku secara perlahan demi perlahan semakin mendekati wajahnya . Tanpa sadar mataku terpejam dan bibirku sudah menyentuh bibir miliknya. Ada sensasi tersendiri yang kurasakan. Entah perasaanku benar atau tidak, ternyata dia membalas ciumanku lembut. Aku begitu terhanyut akan hal itu. Rasanya salju yang dingin pun seolah menjadi menghangat.
                “KIM SUNG RI..!!”
                Teriakan itu menghentikanku dan mendadak aku menjauhkan wajahku darinya. Aku melihat ke arah suara itu. Suara yang begitu familiar ditelingaku dan yang pasti ditelinganya juga. Dan ternyata tebakanku benar. Woo Hyunmin melihat aku dan dia berciuman. Dan kulihat wajahnya mendadak merah menahan amarah. Tangannya terkepal. Dia mendekati kami berdua yang masih diam terpaku melihat kedatangannya.
                “BUKKK…!!!”
                Sebuah pukulan telak mendarat di pipiku yang kontan membuatku langsung tersungkur. Aku bisa merasakan cairan kental merah mengalir dari sudut bibirku. Dia mendekatiku. Menarik kerah bajuku dan menghajarku dengan membabi buta. Sedangkan aku? Hanya diam menerima pukulan demi pukulan yang dia berikan padaku.
                “Hyunmin-ah, STOP..!!” Teriaknya panic dan menarik jaket Hyunmin dari belakang. Namun Hyunmin tidak mengindahkannya dan malah berusaha melepas tarikannya dengan menyikutnya dari belakang yang langsung membuat dia terjatuh.
                Aku yang melihatnya dari sebelah mataku langsung bereaksi cepat. Dengan sisa tenagaku tanpa sadar aku memukul perut Hyunmin dengan keras dan membuatnya juga jatuh tersungkur. Aku bangkit dengan susah payah. Kulihat Hyunmin mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya.
                “Sudah lama aku ingin melakukan ini padamu. Aku sudah cukup bersabar akan perlakuanmu. Aku tak mempermasalahkan kau memukulku hingga aku mati. Silahkan kau lakukan. Tapi jika sekali saja kau menyentuhnya maka bisa jamin aku akan membunuhmu.”
                Aku mengancamnya dengan tegas. Aku serius mengatakan hal itu padanya. Dengan kepala berdenyut dan semua badan yang terasa remuk aku mendekatinya. Mendekati Sung Ri.
                “Gwe, gwenchana?” Ujarku dengan nada serak.
Aku mengulurkan tanganku bermaksud untuk membantunya berdiri. Namun Sung Ri malah bergeming. Dia hanya terduduk lemas dengan kaki yang bergetar. Aku berjongkok, dengan susah payah aku membuatnya melihatku. Dia menatapku dengan linangan air matanya, hatiku terasa sangat sakit. Bahkan jauh lebih sakit dari semua pukulan yang aku terima dari namja brengsek itu.
“Mianhae.. aku begitu lancang padamu. Seharusnya aku tak melakukan hal gila seperti tadi.”
Dia menggeleng dan tersenyum samar padaku.
“Gwenchana. Mungkin tadi terbawa situasi, makanya kau lakukan itu khan?”
Bibirku bergetar, aku mengepalkan tanganku. Terbawa situasi? Aku lakukan secara sadar. Dengan susah payah aku membalas senyumannya. Walau sebenarnya aku bahkan tak ingin melakukan itu.
Aku lalu membantunya berdiri, setelah berhasil dia langsung mendekati Hyunmin yang masih terbaring itu. Cih, dia masih memperdulikan namja sialan itu.
“Hyunmin-ah, gwaenchanayo?” Tanyanya khawatir.
Hyunmin tak menjawab, dia masih sibuk memperhatikan awal hitam yang sudah menurunkan salju – salju itu. Entah aku tak tau apa yang sedang ada dipikirannya. Aku harap dia secara sadar mau meninggalkan Sung Ri dan memutuskan hubungan itu secepatnya. Aku memang berharap hal itu. Aku tak perduli tentang pandangan orang lain. Tapi jika dia tidak melakukan itu, maka aku akan berusaha merebut Sung Ri dari dirinya.
“Sung Ri-ah, kau mencintaiku?” Tanyanya tanpa sedikitpun menatap Sung Ri yang setengah terkejut mendengar pertanyaan Hyunmin.
Aku juga begitu. Reaksiku sama seperti reaksi Sung Ri. Namun aku harus tetap tenang. Kulakukan ini semua demi Sung Ri. Hanya semi dia seorang.
Kulihat Sung Ri mengangguk perlahan pada Hyunmin.
“Ne, Saranghanda.”
“Bahkan meski aku sudah menyakitimu berulang kali?”
“Ne.”
“Lalu, apa kau mencintainya?”
Pertanyaan yang membuat mataku melebar begitu mendengarnya. Dia menatap dan menunjuk ke arahku. Apa yang ada dipikiran namja brengsek itu?
Sung Ri menatapku dalam. Entahlah apa yang sedang ada di dalam pikirannya mengenaiku saat ini. Mungkin saat ini dia sedang mencari tau pentingkah aku didalam hidupnya. Andai saja aku bisa membaca pikirannya. Andai saja, namun hal seperti itu bahkan mustahil bagiku.
“Dia.. dia..”
Sung Ri masih menatapku, katanya – katanya menggantung dan terlihat begitu ragu. Dengan mata yang sedikit kabur aku bisa melihat wajah yang dipenuhi dengan kebingungan itu. Aku menghembuskan nafas perlahan. Kurasakan buliran dingin menyentuh wajahku yang memar. Aku lalu menatap Sung Ri lemah.
“Tak perlu kau jawab Sung Ri-ah jika kau tak bisa menjawabnya. Jangan memaksakan hatimu untuk melakukannya.”
Aku tersenyum samar dan berjalan dengan langkah berat. Kulihat Hyunmin sedang terduduk di samping Sung Ri, menatapku dengan wajah tak sukanya. Aku tersenyum sinis padamu.
“Sung Ri, mungkin sekarang hatimu sudah tertutupi olehnya. Aku tau. Tapi suatu saat sedikit demi sedikit hatimu itu akan memberontak dan membukanya untuk sebuah kenyataan yang ada. Di saat hatimu melakukan itu, bahkan saat seperti apapun aku tidak akan pergi. Aku akan selalu disini menunggumu dan akan melindungimu.”
Sung Ri melihatku dengan ekspresi yang sulit aku tebak. Aku tak perduli. Bahkan kejadian tadi sama sekali tak kusesali. Rasanya jika itu adalah sebuah mimpi maka aku tidak ingin terbangun lagi. Aku tak menginginkannya sama sekali.
Aku tersenyum samar pada Sung Ri, kulangkahkan kakiku berat menjauh dari mereka. Biarlah seperti ini dulu. Kali ini kubiarkan hal seperti ini terulang lagi. Walau terasa begitu menyakitkan tapi kuyakin suatu saat dia akan mengerti bahwa keberadaanku tak hanya lebih dari sekedar teman biasa. Dan jika hal seperti itu terulang kembali lagi, maka aku bersumpah aku akan merebutmu darinya.
Bahkan kalaupun bisa, aku ingin merebutmu  saat ini juga.
‘I want to snatch away right now.’

THE END
               
               
               
               

Continue reading [FanFiction] I Want to Snatch You Away Right Now