Tampilkan postingan dengan label Sebuah Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sebuah Kisah. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Maret 2020

[CATATANKU] BUKAN HUJAN FAVORIT



Mungkin kamulah yang paling ingat saat pertama kali kita bertemu. Rintik hujan di siang itu, kau dan aku duduk bersisian memakai kemeja putih dan celana hitam yang senada. Aku bergumul dengan pikiranku sendiri menunggu namaku dipanggil. Sedangkan kau, sudah berada di dalam sana terlebih dahulu. Begitu lama hingga membuat pikiranku semakin kacau dan cemas. Mungkin sekitar tiga puluh menit kamu berada di ruang yang menurutku saat itu begitu mengerikan, dan kamu akhirnya ke luar. Aku memberanikan diriku bertanya setelah beberapa kali mengurungkan niatku. Menanyakan apa yang teradi di sana, kami mengobrol seperti biasa dan tidak ada yang tau bahwa itu bukanlah pertemuan pertama dan terakhir kita.

Dan memang kita bertemu lagi, di tempat yang sama setelah beberapa minggu berlalu. Awal pertemuan kembali saat itu aku masih ingat aku meminta saran padamu akan suatu hal dan terima kasih sudah memberikan saran yang melegakanku. Aku dan kamu diam-diam saling bertukar pesan, memberikan semangat saat kamu langsung diberikan banyak tugas dari atasan, begitupun sebaliknya saat aku mengalami hal yang sama.

Berulang kali kau mengajakku untuk ke luar bersama, hanya untuk sekedar menyesap kopi dan mungkin berdiskusi. Berulang kali juga aku menolak karena saat itu kondisi keluargaku saat itu sedang tidak memungkinkah. Terima kasih karena tidak menyerah untuk melakukan itu dan membuatku akhirnya memenuhi ajakanmu setelah penolakan yang sangat banyak. Jujur saja aku begitu kagum padamu, pandanganmu begitu luas, kau bercerita banyak hal tentang pengalamanmu selama menimba ilmu di tanah rantau, bercerita segala prestasi yang telah kamu raih dan memiliki hobi yang sama denganku yaitu membaca buku. Meski buku yang kita baca justru bersebrangan.

Kita pernah bertemu di alun-alun. Aku mengenalkanmu beserta satu orang lagi temanku sebagai teman kantorku kepada ibuku. Kami mengobrol biasa dan aku mungkin memberikan sedikit perhatianku padamu mengenai celana yang kau pakai. Kau menepis tanganku saat aku berusaha menyentuh celanamu yang robek. Dan suatu ketika kau pernah mengatakan padaku bahwa kejadian itu yang membuatmu menaruh hati padaku, juga tentang impian bersama yang sama-sama menginginkan adanya perpustakaan pribadi di rumah.

Suatu malam di bulan Ramadhan kau mengatakan bahwa kau menyukaiku, kau ingin serius denganku. Tentu saja aku tidak meragukan itu, sejujurnya aku senang dan aku mulai menyukaimu juga. Dan sebelum aku meyakinkan diriku aku pernah jujur padamu mengenai kondisiku, dan terima kasih kau bersedia untuk menerimaku. Kau pernah mengirimiku suaramu saat mengaji, betapa gilanya aku saat itu. Mengatakan pada mereka kau mungkin lah orangnya. Dan aku pernah mengirimu sebuah pesan dalam tulisan hangul supaya kau bisa mengartikannya dan aku tau kamu berusaha melakukannya untukku.

I can see the world through your eyes.”

Aku meminta kita untuk menjalani hubungan ini terlebih dahulu, diam-diam kami berhubungan. Sebisa mungkin tidak membuat banyak kontak di lingkungan tempat kerja karena tidak menginginkan hubungan ini diketahui oleh rekan-rekan kami meski kami sudah sering menjadi bahan olok-olokan dan godaan dari mereka. Dan lagipula perkataan salah satu temanku mengenai tidak dibolehkannya pasangan di dalam satu kantor membuatku banyak berpikir mengenai masa depan kami berdua nantinya. Sedangkan aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan ini karena aku memiliki keluarga yang harus aku perjuangkan dengan segenap hatiku.

Kau pun mengatakan kita akan sama-sama berjuang jikalau nantinya kita berhasil lolos tes CPNS, hingga nantinya masalah seperti ini bukanlah halangan bagi kita untuk bersama. Kami suka bertemu diam-diam sepulang kantor, seminggu sekali. Memang segalanya terasa baik-baik saja meski terkadang jujur saja aku bosan dengan isi pesanmu yang menurutku monoton. Aku pernah mengeluhkan itu, betapa aku menginginkan sebuah pesan yang bisa membuatku semangat untuk membahas apapun.  Dan aku sempat protes karena kau seolah menyindirku melalui video di status whatsapp-mu.

Menjelang hari ulang tahunku, aku memintamu untuk menebak kapan tanggal lahirku. Kau mengatakan bahwa kau tau tapi kenyataannya kau salah menebak. Kau mengajakku ke sebuah café dan kita duduk berhadapan di sore yang berbalut langit senja kala itu. Kau memberiku coklat sebagai hadiah ulang tahunku, disitu kau menggenggam jemariku, menatapku dan menanyakan mengenai keseriusannya untuk hubungan ini dan masa depan ini dan aku hanya menunduk dan tidak berani menatap matanya. Jawabanku tetaplah sama. Jujur saja saat jemarimu menyatu dengan jemariku tidak kurasakan getaran yang sama saat dulu pertama kali ada seseorang yang melakukan itu padaku. Terasa biasa saja dan akupun tak tau kenapa.

Aku pernah kesal saat kamu bilang aku gak seharusnya pergi dengan temanku, aku tidak suka reaksimu yang berlebihan dan bahkan diam-diam mengontak saudaraku, bertemu tanpa sepengetahuanku untuk membicarakan masalah ini. Aku tau aku salah dan aku akan lebih berhati-hati lagi untuk ke depannya. Aku tidak suka kamu memeriksa handphone-ku dan melihat dengan siapa aku berhubungan, meski aku memang mengizinkanmu dengan terpaksa. Seolah privasiku ditelanjangi, sejak saat aku memproteksinya supaya gak ada orang yang sembarangan membukanya.
Kau cemburu saat aku saling bertukar pesan sangat banyak pada teman perempuanku. Karena mungkin jika membandingkan dengan isi pesan kita yang memang terasa monoton. Kau pernah tiba-tiba mengatakan memblokirku karena tau aku mengobrol dengan rekan kantorku yang membahas masalah pekerjaan, membuatku kaget dan bertanya-tanya apa kesalahanku. Aku tidak tau seperti apa rekan-rekanku memandangku seperti yang pernah kau ceritakan bahwa aku dijadikan objek olokan, mungkin bagimu ini aku begitu polos sampai aku perlu dilindungi sedemikian rupa seolah aku tidak mampu berdiri di atas kakiku sendiri.

Aku berusaha menurunkan egoku, kecuekanku, hingga berusaha untuk mengolah kata-kataku sendiri saat bersamamu supaya kamu tidak merasa tersinggung dan disaat bersamaan aku tidak tau bagaimana caranya menjadi diriku sendiri. Kau selalu menunda mengatakan sesuatu hal padaku dan berdalih itu tidak penting sembari bilang akan mengatakannya nanti yang aku sendiri tidak tau itu kapan. Membuatku mempertanyakan apa yang sebenarnya ingin kamu katakan dan mencemaskan segala kemungkinan yang tidak kuinginkan.

Aku tidak suka kau menanyakan luka masa laluku yang dengan amat sengaja aku tutup dan kau membukanya kembali, membuatku teringat pada kenangan yang tidak seharusnya aku ingat. Dengan rapat aku menutupnya lalu kau ingin sekali menggedornya meski aku sudah mengatakan jangan sesekali memaksaku untuk membukanya. Kau akhirnya menyerah, namun luka itu terbuka kembali dalam pikiranku.

Lambat laun intensitas perselisihan kita semakin sering. Dimulai dari segala kesalahpahaman yang tak berujung. Segala keinginanmu yang harus aku turuti tanpa peduli sedikitpun mendengar penjelasanku dan tanpa aku perlu tau alasannya. Kau selalu mengatakan semua demi kebaikanku. Mengatakan betapa egoisnya aku berulang kali saat aku mengabaikan pesan juga telepon beruntunmu layaknya seorang penguntit pada pertengkaran yang menurutku tidak penting dan kau malah menyulutnya disaat yang tidak tepat. Kau meminta maaf setelahnya, menghamba untuk dimaafkan. Mungkin memaafkan memang semudah itu, tapi segalanya tak mungkin bisa aku lupakan. Sikapmu yang seolah tidak terjadi apapun semakin menyakitku. Terkadang kau memblokir-ku secara tiba-tiba dengan alasan ingin menenangkan diri. Kini aku tau seperti apa rasanya diblokir.

Aku pernah menangis di sudut kamarku pada pertengkaran yang entah aku tidak tau ke berapa kali, dada yang sesak hingga sulit untuk bernafas, tangan yang bergetar, dan melodi lagu terbaru AKMU “How Can I Love The Heartbreak You are The One I love” akan selalu mengalun tak berhenti menemaniku saat itu. Menggambar dengan perasaan yang kacau hingga aku tidak tau kemana lagi tempatku untuk melampiaskan segala hal yang menyesakkan itu.

Awal tahun ini adalah puncak dari segala kecewaku. Mengataiku dengan sebutan Pendusta disaat aku bahkan mengatakan yang sesungguhnya. Kau tetap tidak mempercayaiku, memintaku ini itu yang membuatku semakin lelah dan muak. Aku kembali diam, membiarkanmu merongrong sesuka hatimu lalu seperti biasa meminta maaf dan bersikap apa yang sudah dilakukannya seolah tidak pernah terjadi. Sedangkan lukaku semakin menganga.

Hatiku yang sudah dipenuhi dengan berbagai kekecewaan tidak bisa menampungnya lagi. Perasaan ini perlahan memudar dengan sendirinya. Aku meminta maaf karena katamu “Aku sengaja menghindar dan mengulur waktu.” Tapi tidak mudah bagiku untuk memutuskan segalanya. Di satu sisi aku memiliki ketakutanku sendiri, namun di sisi lain aku juga memikirkan bagaimana perasaanmu yang menggantung. Aku memintamu untuk menunggu, karena ada begitu banyak kecemasan yang mengurungku saat itu.

Berulang kali kau seolah menyindirku, dan dengan sengaja aku mengacuhkanmu. Awal bulan lalu setelah segala hal melelahkan yang terjadi padaku aku memutuskan untuk menemuimu setelah sekian lamanya. Aku bercerita banyak hal, tentang keluh kesahku. Bagaimana hatiku saat ini yang tidak bisa memiliki perasaan yang sama seperti dulu. Aku meminta maaf karena tidak bisa menjadi seperti yang seharusnya kita inginkan. Dan tidak ingin menyakitinya lebih dalam dengan terus menghindarinya.

Aku minta maaf untuk segala luka yang sudah aku berikan kepadamu dan kini aku sadar bahwa selama ini kita saling melukai. Kuharap dengan melepaskanmu saat ini rasa sakitmu akan menghilang dan akupun mendoakan kebahagiaanmu dengan siapapun wanita yang kelak menjadi bagian dari hidupmu. Maafkan aku karena aku tidak bisa memberikan kesempatan seperti yang kamu inginkan, aku ingin melepaskan yang selama ini mengungkung diriku.

Perasaanku padamu pernah ada, aku pernah mencemburui teman wanitamu. Membuat perasaanku semakin insecure dan aku sadar betapa tidak ada apa-apanya aku darinya. Aku tidak pernah menangis karena laki-laki semenjak kisahku dengan Hatsukoi berakhir. Betapa berartinya kamu bagiku.

Kamu tau bahwa aku menyukai Hujan. Dan kamu adalah hujanku dulu..

Si penyuka pantai dan senja…

Aku meminta maaf untuk kisah kita yang kuakhiri dengan epilog yang menyakitkan.

Terima kasih sudah berbagi kisah denganku, semoga segala impianmu yang pernah kau bagi padaku kala itu dapat kau wujudkan. Maaf aku tidak bisa menemanimu dan terima kasih untuk botol minuman berwarna biru yang pernah kau berikan padaku. Kamu juga tau warna kesukaanku.

Akhir kata, kuharap kau membaca pesanku yang sempat aku kirimkan padamu lalu aku hapus supaya mengembalikan sebuah novel yang pernah kamu pinjam padaku waktu itu. Kamu tau betapa berharganya novel itu bagiku J

Continue reading [CATATANKU] BUKAN HUJAN FAVORIT

Senin, 06 Mei 2019

[Catatan] Surat Rinduku Untukmu (Sebuah Surat Untuk Nenek Tercinta)




Kamar dengan ranjang kayu yang memiliki ukiran khas itu kini lengang, bahkan kasur kapuk yang selalu menjadi tempat untuk beristirahat itu seperti sudah kehilangan penghuni. Aku menatap sendu setiap kali membuka tirai jendela dan mematikan lampu kamar di pagi hari, kenangannya masih terasa hangat. Sudah sebulan semenjak kepergian seorang wanita yang selalu menjadi malaikat pelindungku. Rumah yang biasa penuh dengan makanan dan barang-barang yang entah itu berguna atau tidak sedikit demi sedikit mulai berkurang. Televisi yang biasanya menyala meski tidak ditonton dibiarkan begitu saja.

Ada rasa rindu yang menelusup, ada rasa penyesalan karena aku bahkan tidak bisa menjadi seseorang yang mampu menjaga dan terkadang membangkang perkataannya. Mimpi buruk sebulan yang lalu di rumah sakit malam akan selalu kuingat. Nafasmu yang terengah-engah dengan selang oksigen di hidungmu, air matamu yang menetes saat aku bahkan orang-orang di dalam sana tidak hentinya bersalawat dan meminta kepada sang pencipta untuk kesembuhanmu. Ketakutan itu begitu jelas menggerogoti akal sehatku, takut bahwa aku tak bisa melihatmu lagi keesokan harinya. Kamar rawat layaknya medan perang baginya, tanganku bergetar saat menekan dadanya berulang kali sembari mengucapkan kalimatNya, memohon berulang kali untuk bernafas dengan teratur, untuk berpikir tenang dan tak perlu memikirkan apapun.

Pada dini hari, ketakutanku terjadi kala adikku tiba-tiba saja membangunkanku saat kami bergantian untuk berjaga. Mengatakan dengan suara bergetar bahwa perut beliau tidak bergerak naik turun layaknya orang bernafas. Aku langsung terjaga, rasa kantukku menghilang begitu saja. Aku mencoba untuk menyentuh nadinya dan juga mencoba mendengar deru nafasnya, berusaha berpikir positif bahwa aku masih bisa mendengar suara nafas beliau meski sesungguhnya aku menyadari itu adalah suara selang. Adikku tetap tidak mempercayai pernyataanku hingga pada akhirnya kami memutuskan untuk keluar memanggil perawat yang berjaga.

Perawat yang pada awalnya tampak begitu tenang saat masuk dan memeriksa tiba-tiba terlihat begitu panik, bahkan tabung oksigen pun rencananya akan ditambah lagi. Namun saat mereka memanggil dokter jaga segalanya terlihat jelas, ketakutanku menjadi. Air mataku mengalir, merutuk diriku sendiri karena tertidur. Ibuku dengan tenang menghubungi keluarga kami yang ada di luar kota dan juga beberapa saudara lainnya. Mengatakan bahwa Ibu mereka sudah tiada, tolong didoakan dan meminta untuk tenang. Hatiku sembilu saat wajah beliau ditutup oleh kain, berharap segalanya adalah sebuah kebohongan seperti tanggal ketiadaan beliau saat itu.

Malam yang sunyi begitu mencekam saat sirine ambulans membawaku dan juga jenazah beliau ke rumah tempat kami biasa menghabiskan waktu. Aku menahan air mataku dengan kuat, berusaha untuk tidak menangis lagi, namun aku bisa apa? Nafasku sesak, dadaku sakit. Sudah lama sekali aku tidak merasakan gejala panikku lagi dan sekarang itu datang lagi dengan kondisiku yang seperti ini. Adikku dengan cepat memintaku untuk meminum sisa obat yang dulu pernah dokter resepkan padaku, aku mulai sedikit tenang walau tidak sepenuhnya bisa.

Keluargaku dari luar kota datang menjelang subuh tiba, mereka langsung menghambur pada jenazah beliau yang sudah terbujur kaku di ruang tengah, tangis meraung, dan begitu banyak kata-kata yang diucap menanyakan banyak hal. Mereka memeluk kami, saling memberikan kekuatan satu sama lain. Lantunan ayat suci Al-Qur’an diperdengarkan tak henti-hentinya oleh kami, karena sejatinya hanya itu lah yang bisa kami lakukan untuk beliau saat ini. Saat memandikan jenazah dan memakamkan beliau tangis kembali pecah, seolah tidak rela untuk ditinggal pergi. Namun kami berusaha ikhlas, akupun juga begitu demi kebahagiaan beliau dan ketenangan beliau saat menghadapNya.

Hari terberat yang harus kujalani adalah saat sudah melewati 7 hari kepergian beliau. Rumah benar-benar terasa sunyi dan hanya menyisakan aku dan juga ibuku. Tidak ada lagi meja ruang tengah yang dipenuhi dengan buah dan makanan ringan lainnya yang bahkan tidak tau kapan tidak tersentuh, tidak ada lagi kulkas yang penuh dengan makanan dan bahan-bahan memasak lainnya, tidak ada lagi  sosok yang selalu tiba-tiba membuka pintu kamar untuk memeriksa apakah penghuni di dalamnya tertidur atau masih terjaga, tidak ada lagi sosok yang akan selalu mengupasi buah dan meletakkannya begitu saja di meja kamar untuk kumakan, tidak ada omelan-omelan berisik yang terkadang membuatku jengah, tidak ada lagi yang akan melepaskan kacamata dan mematikan tv kamar saat aku terlelap tidur, tidak ada lagi yang membangunkan aku subuh tanpa henti sampai aku benar-benar bangun dengan kondisi sebal, dan tidak ada lagi sosok pelindung yang akan selalu membelaku dan mengkhawatirkanku saat aku tidak pulang dan pergi seorang diri ke suatu tempat.

Aku rindu... iya aku rindu padamu nek... hingga aku tidak sadar air mataku jatuh begitu saja saat aku menulis surat ini untukmu.

Aku pikir sekarang engkau sudah bahagia disana, penderitaanmu menahan sakit selama ini sirna sudah, Allah sudah mengangkat semuanya dan menempatkanmu di tempat yang terbaik saat ini.
Tolong maafkan segala kesalahanku, tolong maafkan segala ego yang terkadang menyakitimu.

Maafkan aku yang masih belum memberikan sosok lelaki yang akan menjadi pendampingku kelak, aku tau engkau begitu menginginkannya. Maaf.. maaf.. beribu kali maaf. Kelak saat aku menemukan sosok itu aku akan memperkenalkannya padamu dengan benar, mohon tunggu dan bersabarlah.
Nek, apa bapak disana juga baik-baik saja?

Tolong sampaikan rinduku juga untuknya.
Bahagia di surga Allah yah, Nek.
Suatu saat kita pasti akan bertemu lagi. Aku sayang nenek J



Dari cucumu yang selalu membangkang,
06/05/2019
Farida Mutia

Continue reading [Catatan] Surat Rinduku Untukmu (Sebuah Surat Untuk Nenek Tercinta)

Kamis, 04 April 2019

,

[Catatanku] Surat untuk Seseorang yang Pernah Singgah Lalu Pergi (PART 1)




 Surat Pertama. 

Surat ini aku tujukan untuk dirimu, yang sudah mengajarkan aku bagaimana rasanya mencintai seseorang dan juga merasakan luka untuk pertama kalinya. Terima kasih sudah bersedia memberikan aku sebuah rasa yang begitu asing padaku. Aku yang sendiri, memilih untuk menyendiri hingga kau datang padaku melalui perantara temanku. 

Aku berusaha untuk menolak segala perhatian yang kau tujukan padaku, karena aku terlalu takut untuk jatuh hati dan terluka seperti yang pernah teman-temanku alami. Aku berusaha untuk membangun dinding itu untuk diriku sendiri namun kau masih berusaha mendekatiku, menawarkan berbagai perhatian yang tanpa sadar membuatku terbiasa dan mulai menikmatinya. 

Kau mengajakku ke tempat yang tak pernah aku tuju. Namun maaf, sikapku tampak dingin karena sesungguhnya aku tak tau bagaimana harus menyikapi. Kau menemaniku menanti hujan yang turun. Duduk bersama, sedangkan aku hanya menunduk dan berusaha bersikap dengan tenang saat bersamamu. 

Kau orang pertama yang memberikan sebuah sentuhan lembut di tanganku, menyatukan jemariku dengan dirimu bersama-sama. Bersandar satu sama lain hingga perjalanan terasa begitu singkat bagiku. Aku pernah menandai momen pertama antara kau dan aku di kalender hape. Kedengarannya menggelikan tapi aku menyukainya.

Sebungkus bengbeng selalu menjadi hadiah kecil untukku setelah kau mengantar dan menjemputku setiap saat. Terima kasih, aku tidak tau apa kau menyukainya atau tidak tapi kuharap kau suka.
Terima kasih sudah bersedia menjadi pendengar untuk hobiku yang absurd. Terima kasih sudah mengerti. Apa kau ingat kau pernah memintaku untuk menggambar tokoh kartun dengan kaos Manchester United? Maaf jika dulu membuatmu lama menunggu untukku menyelesaikannya. 

Hingga suatu ketika kehadiranmu perlahan tak dapat kuraih. Intensitas yang membuatku menjadi terbiasa denganmu mulai memudar. Kau memberikan jarak sampai aku kehilangan segala bentuk perhatianmu dan membuatku sadar bahwa aku jatuh cinta disaat luka itu baru saja kau torehkan.
Aku minta maaf karena kealpaanku dalam berucap dan mengungkapkan perasaan. Ada begitu banyak pertanyaan di kepalaku namun tak satupun yang mampu aku katakan. Berulang kali aku melepaskan momen yang bisa membuatku mengatakannya tapi lagi-lagi kebodohanku dan ketakutanku selalu menjadi penghalang untukku. 

Dan yang bisa aku lakukan untuk melepaskan sesak di dada karena perasaan ini hanyalah menangis. Entah berapa kali aku menangis karena merindukanmu tanpa sebab. Hingga puncaknya aku menangis pada suatu study tour di Jakarta kala itu. Yang bisa aku lalukan hanya memandang punggungmu, diam-diam memotret punggungmu dari belakang menyimpannya untuk membuatku merasa baik-baik saja dan cukup. 

Sebuah lagu yang saat itu disenandungkan oleh seorang teman padaku tepat dihadapanku membuat pertahananku lumpuh. Aku tidak kuasa menahan sakit itu, sungguh memalukan karena aku menangis di depan banyak teman-temanku dan juga dia menyadarinya. Tapi aku tak mengatakan apapun dan memilih diam.

Momen-momen kecil di kala itu terasa begitu menyenangkan, membawaku pada harap yang tersisa walau sesungguhnya aku sadar aku sudah kehilanganmu disaat itu juga. 

Selama masa empat tahunku, aku berusaha untuk mengejar hanya bayangmu. Menatapamu dari jauh, bahkan aku hafal nomer plat sepedamu dan terkadang tanpa sadar aku mencarinya di parkiran kampus. Aku bahkan masih menatapmu diam-diam saat kau membawa perempuan lain di bangku belakang sepedamu berulang kali. 

Aku memupuk luka itu dan rasa itu padamu. Meski terkadang aku tak sering memikirkanmu dan harapku kian menipis seiring berjalannya waktu namun jauh di dalam hatiku aku masih mencarimu.
Kau mungkin ingat saat aku pernah mengirimkan surat elektronik melalui pesan di akun media sosialmu. Butuh keberanian luar biasa untukku bisa melakukannya, berusaha untuk meluapkan segala hal yang masih mengganjal di hati dan pikiranku. Dan betapa senangnya aku setelah kusadar kau membalasnya beberapa hari setelahnya. Air mataku mengalir dan jantungku berdebar sangat kencang saat aku aku membaca surat balasanmu. 

Kupikir balasan surat itu sudah cukup meredam perasaanku dan membuatku bisa melangkah maju, namun ternyata hatiku masih tertuju untukmu hingga tanpa kusadari 7 tahun sudah berlalu.

Saat kudengar kau akan memulai hidupmu yang baru dengan seorang wanita pilihanmu itulah saat terakhir aku menangis untukmu. Itulah saat terakhir aku memutuskan untuk mengakhiri perasaan yang selama ini mengganjal di hatiku. 

Doaku untukmu yang kini sudah menjadi seorang suami dan ayah dari keluarga kecilmu sekarang. Kumohon berbahagialah dimanapun kamu berada. 

Terima kasih untuk segala kenangan dan luka yang sudah pernah kau torehkan untukku. Aku belajar bahwa aku pantas bahagia layaknya dirimu saat ini. 

Halo Hatsukoi-san-- begitulah aku menyebutmu dalam hati selama tujuh tahun itu, Terima kasih sudah menjadi yang pertama singgah meski pada akhirnya kau memilih untuk tidak menetap. Aku disini masih mencari kebahagiaanku tanpa embel-embel ada dirimu lagi..
Dari seseorang yang pernah mencintaimu untuk 7 tahun lamanya.
 



Pamekasan, 13-03-2019.
Farida Mutia .A

Continue reading [Catatanku] Surat untuk Seseorang yang Pernah Singgah Lalu Pergi (PART 1)

Jumat, 31 Maret 2017

,

Perjalanan singkat ke Surabaya Seorang Diri

 Sebenarnya aku melakukan perjalanan ini dengan tujuan utama menonton “Sword Art Online Movie : Ordinal Scale” yang ditayangkan di CGV Cinema Marvell City. Jadi aku sudah mempersiapkan diri dari jauh hari jika memang benar movie yang ingin aku tonton akan tayang di Indonesia dan begitu aku mendengar beritanya tanpa pikir panjang aku langsung mengutarakan niatku untuk pergi menonton kepada Ibuku. Karena aku tinggal di Madura tepatnya di kabupaten Pamekasan dimana perjalanan ke Surabaya akan membutuhkan waktu sekitar 3-3 ½ jam dengan jalur darat Ibuku langsung menyuarakan keberatannya, pasalnya karena aku akan melakukan perjalanan tersebut seorang diri dan beliau khawatir. Singkatnya setelah pertimbangan panjang akhirnya ibuku memberikan izin padaku dengan syarat aku kesana dengan menggunakan jasa transportasi travel pulang pergi dari Surabaya kearah kost adekku yang terletak tak jauh dari kampus tempatnya kuliah di Universitas Pembangunan Nasional Surabaya dan aku menyanggupinya. Ini adalah perjalananku bersama adekku saja, berdua dan tanpa diketahui oleh saudara-saudara kami yang ada di Surabaya. Mohon maafkan karena keegoisanku sampai tidak mampir. 

Jadi aku pergi pada hari Minggu tanggal 26 Maret dan akan pulang keesokan paginya pada tanggal 27 Maret karena pada siang harinya aku harus masuk kerja. Dan akhirnya hari yang kutunggu tiba juga. Pukul 05.30 travel datang menjemputku dan aku duduk di kursi paling depan tepatnya disamping supir. Aku benar-benar berangkat menuju Surabaya pada pukul 06.45 karena harus menjemput beberapa penumpang lainnya. Ada suatu kejadian yang membuatku marah dan kesal yaitu saat aku mengetahui bahwa aku akan diantar paling terakhir, aku bukannya tidak mau mengerti kondisi tapi hal yang membuatku marah adalah karena supir travelnya malah mengantarkan penumpang dengan tujuan Waru Sidoarjo terlebih dahulu ketimbang aku, dan penumpang tujuan ke Terminal Purabaya yang akan melanjutkan perjalanannya ke Mojokerto naik bus dimana dia harus menunggu sejam lagi untuk bus tujuannya tersebut. Hell yeah, aku sudah bilang kalau aku sudah ada janji dan pak supirnya dengan cengengesannya malah bilang tidak bisa karena jika harus mengantarkanku terlebih dahulu dia harus melewati jalan yang memutar ditambah lagi penumpang lainnya yang terdiri dari para ibu-ibu dengan egoisnya malah mengamini pak sopirnya. Aku tambah kesal dan marah, namun seperti biasa aku tidak pernah bisa benar-benar menunjukkan emosiku dan menahannya sambil tak henti-hentinya berusaha menahan tangisku apalagi ditambah cuaca di Surabaya saat itu mendung. Lengkaplah sudah kekesalanku. Makasih pak sudah menghancurkan mood-ku yang sudah kubangun jauh-jauh hari.

Pada akhirnya aku sampai tepat saat adzan dhuhur berkumandang tepatnya pukul 11.45, oke rencanaku yang ingin menonton sebelum siang hancur total gara-gara pak supir travel yang sepertinya belum-hafal- benar-jalanan-Surabaya-karena-masih-menggunakan-jasa aplikasi-google-maps. Sebelum sampai ke kost adekku, pak supirnya berulang kali memohon maaf padaku dan aku sama sekali tak mengindahkannya bahkan melihat wajahnya pun aku tak sudi. Sorry to say, but you already pissed me off so you better get out of my way you f*cking bitch driver.

Sesampainya di kost adekku aku mengutarakan kekesalanku sambil nangis karena sedari tadi aku sudah menahannya dan adekku selalu bisa dengan caranya sendiri menenangkanku. Setelah sholat dhuhur dan sarapan yang digabung dengan makan siang aku dan adekku membicarakan transportasi apa yang akan kita pakai ke Marvell City tempat bioskop yang akan menayangkan SAO. Karena cuaca mendung dan juga ditambah gerimis serta hujan yang mulai turun akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan jasa transportasi online yaitu Grab Taxi dengan biaya sekitar Rp 24.000,-

Kami sampai sekitaran pukul 14.00 wib dan jadwal penayangan film SAO yang berdekatan adalah pukul 14.25 jadi kami bergegas mengantri untuk membeli tiket. Fyi, kami sempat tersesat karena tidak tau pintu masuk menuju bioskopnya. Bioskop di hari minggu seperti biasa ramai, kami memesan dua tiket. Satu untuk adekku yang ingin menonton Dear Nathan dan Satu untukku yang akan menonton Sword Art Online Movie : Ordinal Scale. Awalnya adekku ingin menemaniku untuk menonton SAO karena dia sudah mendapat mandat dari ibuku supaya terus menemaniku (read. Beliau takut aku tersesat dsb. Wkwk) tapi aku memaksanya untuk menonton film yang diinginkannya karena sejujurnya aku tidak tega jika dia yang sama sekali tidak mengerti apapun tentang anime harus ikutan menonton. Sebelum memasuki ruang nomer 7 tempat SAO akan ditayangkan adekku sudah mewanti-wanti buat gak salah duduk dan menyuruhku untuk melihat nomer tempat duduk dengan teliti karena ini pertama kalinya buatku menonton film seorang diri, biasanya kami menonton bersama keluarga dan tidak pernah pergi sendirian.


Aku duduk di tempat yang lumayan strategis karena tepat menghadap layar. Dan aku tidak menyangka ternyata banyak sekali orang-orang yang ingin menonton SAO mengingat SAO sendiri adalah Anime yang menurut kebanyakan orang itu diperuntukkan anak kecil. Hal yang paling mengganggu saat filmnya diputar adalah ada sebagian subtitle yang tidak bisa terbaca karena terhalang oleh seorang penonton yang kepalanya mencuat dari sandaran kursi, padahal sandaran kursi cukup tinggi, entah dia badannya bongsor atau memang cara duduknya yang aneh tapi jelas itu menggangguku. Aku sampai harus mengedepankan tubuhku supaya aku bisa membaca subtitle yang ada di depan. Film selesai pukul 16.30, dan yang membuatku kagum adalah kebanyakan para penonton tidak segera beranjak dari kursinya setelah film menunjukkan kredit. Intinya mereka sama sepertiku, menunggu setelah kredit film dengan diiringi lagu ed “Catching the Moment” yang dibawakan LiSA selesai dan menunjukkan epilog tersembunyi setelahnya. Ya, mereka sepertinya sudah dapat spoiler dari berbagai forum online sama sepertiku dan itu berarti mereka sudah pernah nonton SAO sebelumnya. Jika kalian bertanya bagaimana kesanku setelah menonton film yang sampai membuatku bela-belain datang ke Surabaya adalah AKU TIDAK MENYESAL. Karena filmnya bener-bener keren untuk seorang penggemar SAO sepertiku. Dan aku benar-benar sungguh berterima kasih sama SAO karena sudah memperbaiki mood-ku yang sedari tadi buruk sejak insiden supir travel sialan itu. Rasanya pengen nonton filmnya lagi. Sayangnya aku tidak bisa melampiaskan kesenanganku setelah nonton karena adekku yang notabene tidak menyukai anime tidak bisa menanggapiku dengan baik. Dia hanya mendengar apa yang aku bicarakan, seperti biasa. I wish Nii-san who worked far away from here watching SAO with me and we’ll have a very long chit chat after that.
                                                          

Setelah menonton kami pergi sholat ashar terlebih dahulu baru setelah itu memutuskan untuk keluar dari mall, namun niat itu urung dilakukan karena di luar hujan deras. Terpaksa kami masuk kembali dan berkeliling tidak jelas. Sedikit membosankan karena Marvell City sendiri termasuk mall yang entah kenapa tidak begitu banyak didatangi pengunjung, mungkin karena mall ini masih baru dan juga masih belum banyak stand-stand yang berdiri disana. Bahkan saat aku mengunjungi toko buku bernama “Karisma” yang ada disana terlihat kosong melompong tanpa didatangi pengunjung. Dan setelah kegabutan tidak jelas, kami memutuskan untuk meninggalkan Marvell City untuk pergi ke Tunjungan Plaza Mall Surabaya dengan menggunakan jasa angkutan online grab taxi. Biaya kesana sekitar Rp 16.000,- amat sangat murah dengan jarak tempuh kesana sekitaran 2 km lebih.

Kami sampai ke TP tepat saat waktu sholat maghrib, jadi kami pergi sholat terlebih dahulu sebelum melanjutkan cuci mata. Musholla yang terletak di lantai 5 parking area itu penuh sesak, wajar saja karena ini maghrib dan waktu sholatnya juga terbatas. Untungnya kami sudah menyimpan wudhu dan tidak perlu mengantri berwudhu lagi, jadi kami langsung melaksanakan sholat maghrib. Setelah sholat kami pergi ke stand cincau station untuk membeli minuman, sayangnya minuman yang aku pesan sudah habis dan aku menyerahkan semua keputusan pemesanannya pada adikku. Setelah itu kami pergi ke foodcourt yang sudah ramai dipenuhi pengunjung, kami sampai harus mencari tempat duduk kosong saking penuhnya. Untung saja ada tempat kosong saat aku melihat petugas kebersihan baru saja membersihkan tempat itu. Kami kelaparan tapi kami kebingungan harus makan apa, jadi kami tidak membeli makanan apapun dan malah memesan membeli jajanan ayam pok dengan lumeran keju diatasnya. Adekku suka sekali jajanan itu, begitupun juga aku. Sambil memakan jajanan kami berbicang tentang banyak hal, mulai dari keluarga teman hingga apapun itu. Bersama adekku aku selalu merasa nyaman dan tidak pernah kehilangan sedikitpun bahan pembicaraan.

Setelah menghabiskan jajanan dan minuman kami, kami memutuskan untuk sekedar berkeliling. Iya hanya berkeliling dan melihat-lihat tanpa membeli apapun. Di lantai dasar ternyata ada semacam pameran stand produk kosmetik, adekku yang sangat menyukai hal-hal semacam ini dengan senangnya langsung mengajakku pergi kesana. Aku mengikutinya dari belakang meski aku tidak begitu tertarik dengan hal yang seperti ini, dia melihat berbagai macam alat-alat kosmetik dari berbagai macam brand mulai dari Maybelline, Silky Girl, Body Shop, Wardah, La tulip, dsb. Dan aku entah kenapa-untuk pertama kalinya membeli lip tint dari la tulipe atas dasar rekomendasi adekku yang katanya cocok denganku. Adikku menyindirku karena ini pertama kalinya aku membeli kosmetik dengan uangku sendiri, karena sebelum-sebelumnya aku selalu mendapat hibah kosmetik dari adekku. Sedangkan adekku, dia juga ingin sekali membeli tapi menahan diri mengingat dia sudah punya berbagai macam lipstik di kostnya.

Setelah itu kami berjalan-jalan lagi, kami pergi ke berbagai macam outlet yang ada hanya untuk sekedar melihat-lihat, Kami bahkan mampir ke Gramedia untuk melihat-lihat buku bacaan yang ada dan berakhir tidak membeli apapun. Aku sempat kelaparan lagi dan membeli satu buah Roti Boy isi karena untuk dimakan bersama adekku. Puas berjalan-jalan kami memutuskan untuk pulang, namun karena ini waktunya jam pulang dan masih sibuk-sibuknya jadi tarif taksi online sempat melambung, kami menunggu lagi agak malam supaya bisa mendapat harga pas. Setelah melewati jam 22.00 kami memutuskan untuk mengambil taksi online Uber dengan tarif harga Rp 63.000,-

Salah satu hal yang menyenangkan adalah, supir taksinya sangat baik. Bahkan kami berbicara banyak hal dengan dia, termasuk lika liku jadi supir taksi online bahkan plus minusnya taksi online. Rasanya menyenangkan hingga tanpa sadar kami sudah sampai tujuan. Kami mengucapkan terima kasih kepada supir uber yang baik hati tersebut dan semoga beruntung bertemu dengan dia lagi.

Sampai di kost-nya adekku, kami beristirahat sejenak dan lanjut untuk mencari makan di warung pinggir jalan dekat kostnya. Kami memesan tahu telur pedas yang kata adekku enak dan sudah jadi langganannya. Dan memang benar tahu telurnya enak juga pedas serta porsinya banyak, adekku bahkan tidak sanggup menghabiskan hingga pada akhirnya aku membantu. Setelah kenyang, kami pergi ke mc donalds untuk order mc flurry, sudah lama sekali aku menginginkan ini dan akhirnya kesampaian juga. Kami memesannya melalui drive thru untuk dimakan di kost.

Setelah menghabiskan mcflurry, kami sholat isya dan tak lupa membersihkan muka sisa lelah sejak tadi siang. Niat awalnya aku tidak ingin tidur dikarenakan saat itu jam sudah menunjukkan lewat tengah malam dan travel yang akan menjemputku besok akan datang pukul 04.00 pagi, rasanya nanggung sekali untuk tidur. Namun pada akhirnya aku memutuskan tidur sejenak pada pukul 02.30 dini hari dan terbangun karena suara alarm pukul 03.30. setelah itu aku bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan muka, menggosok gigi, mengambil wudhu sambil menunggu subuh.

Pada pukul 04.00 travel yang menjemputku datang, aku sampai di pamekasan pukul 09.00 pagi. Jauh lebih cepat ketimbang dengan supir yang kemaren sempat membuat emosiku menggila dan berakhirlah perjalananku di Surabaya yang singkat ini, meski terasa singkat ada banyak hal yang membuat senang dan kesal seperti yang aku ceritakan panjang lebar di tulisan ini. Tapi setidaknya bisa menghabiskan waktu hanya berdua dengan adekku dan melakukan hal-hal yang kuinginkan rasanya menyenangkan.

Akhir kata, terima kasih sudah berkenan untuk membaca tulisan gajes ini bersamaku.
See you next post. xoxoxo


Farida Mutia Agustin

28/03/17


Continue reading Perjalanan singkat ke Surabaya Seorang Diri

Minggu, 12 Maret 2017

,

[Catatan] Kisah Sepotong Hati yang Patah



Kusebut dia adalah seseorang yang pertama kali mengajarkan padaku bahwa cinta bisa begitu menyenangkan dan menyedihkan di saat yang bersamaan. Dia yang datang padaku, mengulurkan tangannya padaku disaat kesendirian selalu menjadi teman setiaku. Dia memberikan senyuman dan kepercayaan diri yang sedari dulu kutelan habis hingga tak bersisa. Dia yang melihatku tanpa memandang aku sebagai sesosok yang menyedihkan. Dia adalah awal tak dari segala suka dan lukaku.

Aku berusaha percaya bahwa cinta tidak seburuk tangisan teman-temanku yang hatinya patah dan terluka, bahwa cinta bisa saja tak pernah memandangmu serupawan apa dirimu saat itu. Bahwa setiap perhatian yang ditujukan untukku adalah sebuah ketulusan yang membuatku ingin selalu merasakan kenyamananmu tanpa akhir. Namun aku terlalu tenggelam pada keraguan-raguanku, pada rasa takutku, pada egoku hingga pada akhirnya dia memilih menyerah dan pergi secara perlahan tanpa memberikan alasan.

Aku tersentak, penyesalanku tak akan pernah merubah apapun. Aku ingin bertanya alasan atas kepergiannya, namun bibirku terasa kelu untuk berbicara. Berulang kali aku melewatkan berbagai macam kesempatan saat bersamanya, berulang kali juga aku menyesal kenapa aku tak bisa mengutarakannya. Padahal ada begitu banyak kata yang telah kurangkai dalam otakku, namun tetap saja tak pernah ada satupun kata yang keluar. Aku hanya menunduk di hadapannya, memainkan kata-kata dalam pikiran hingga bungkam pada akhirnya menjadi pilihanku atas dasar terlalu takut mendengar jawabannya.

Aku lalu menyadari bahwa perasaanku sudah terlanjur jatuh begitu dalam kepadanya. Aku seorang diri, hanya ditemani suara isakan tangis yang tertahan dari dalam kamar gelap karena merindukannya. Aku hanya bisa meratapi kebodohanku sendiri, penyesalanku sendiri, hingga lelah dan tertidur.

Kupandangi dirimu dari jarak pandang jauh, punggungmu yang dipeluk oleh perempuan lain dari belakang saat kau dan dia sedang berboncengan. Kubaca setiap kata romantis kalian dari media sosial yang membuatku semakin merasakan sakit yang tak berkesudahan.

Sudah ada begitu banyak kisah yang diutarakan padaku mengenai dirimu dari teman-temanku. Namun hatiku tetap bergeming, masih dengan kamu dan perasaanku. Kuakui bahwa terkadang aku membenci perlakuanmu terhadapku, aku benci betapa cepatnya kamu maju melangkah sedangkan aku masih tertatih bersama dengan kenangan yang kau buat untuk pertama kalinya padaku. Kusadar bahwa perlakuanmu bukan sepenuhnya salahmu, ini juga salahku.

Tolong maafkan aku yang masih egois menyukaimu hingga waktu berganti dan memisahkan kita sedemikian rupa. Tolong maafkan aku karena masih menyimpan begitu banyak kenangan kebersamaan kita dan membiarkannya terbuka hingga kini. Tolong maafkan aku yang masih saja ingin tahu kabarmu dari teman-temanku.

Suatu ketika menjelang kelulusanku ada suatu tekad yang muncul di dalam diriku, aku ingin mengutarakannya padamu di hari kelahiranmu yang ke-23. Sudah sekian lama kita tidak pernah dipertemukan sejak kau memilih untuk pergi. Aku mengirimimu sebuah surat pribadi di akun media sosialmu, yang berisi mengenai perasaanku yang selama ini kupendam dan alasan kepergiannya. Berhari-hari aku menunggu balasannya sampai suatu ketika kamu membalasnya. Aku hanya bisa menangis setelah membacanya, ada perasaan lega namun tak sepenuhnya lega. “Jika memang aku terlalu baik untukmu kenapa kau malah pergi dan tidak menetap? Apakah kamu masih belum cukup baik untukku?” Tapi setidaknya ini bisa mengurangi sedikit bebanku yang selama ini kutanggung seorang diri.

Sejujurnya, setelah waktu berganti aku berhasil menekan perasaanku terhadapmu semenjak saat itu. Namun aku masih belum berhasil menyembuhkan lukamu begitu saja. Luka itu belum mengering hingga kini. Aku berusaha untuk membuka hatiku perlahan pada laki-laki lain, tetapi pada akhirnya semuanya berujung pada dirimu yang masih belum kulupakan sepenuhnya.

Hingga suatu ketika kudengar kabar dirimu yang akan bersanding dengan seorang wanita pilihanmu di pelaminan. Seketika hatiku mencelos, luka itu kembali, rasa sakit itu datang lagi. Kau akan berbahagia sedangkan aku masih diam di tempat yang sama. Ini salahku, bukan salahmu.

Kumohon, untuk dirimu yang selama ini masih mendiami hati yang kuletakkan di dasar tak berujung… berbahagialah.

Kau pantas mendapatkannya, dia pantas mendapatkanmu. Urusan lukaku biarlah aku yang menanggungnya seperti biasanya.



Tolong doakan diriku juga, yang berharap kebahagiaanku akan segera datang menyusulmu. Terima kasih untuk segala yang telah kau berikan untukku, terima kasih telah menjadi pelajaran hidup pertamaku akan mencintai dan meninggalkan.


15/02/17
13.33 WIB

Farida Mutia Agustin

Continue reading [Catatan] Kisah Sepotong Hati yang Patah

Jumat, 13 Maret 2015

,

Aku merindukanmu, Otou-san

Pada hari Jum'at tanggal 17 Januari 2014 adalah hari yang tak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Hari dimana sosok lelaki yang paling aku sayangi di dunia ini telah meninggalkanku secara mendadak. Aku tak akan pernah melupakannya kala bendera hijau bertuliskan arab "innalillahiwainnailaihirajiun" berkibar di pagar rumahku, aku tidak akan pernah melupakan kala dirimu telah terbujur kaku dalam keranda di teras rumah. Hatiku benar-benar hancur, aku tidak bisa menerima keputusan tuhanku (ALLAH S.W.T) mengambil penyangga hidupku itu. 

Aku masih ingat kejadian itu, saat itu aku sedang menjalankan KKN (Kuliah Kerja Nyata) di daerah Sampang desa Sokobanah Daya. Kala itu, saat aku menyelesaikan waktu subuhku entah kenapa perasaanku seolah - olah begitu merindukan keluargaku yang berada di Pamekasan. Akupun membuat semacam postingan di Line dengan tulisan, "Otou-san, Okaa-san, Imouto-chan aitakatta." dan sepertinya itu sebuah firasat bahwa hari itu adalah hari yang tak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Pagi hari, tepatnya pukul 08.30 wib aku mendapatkan sebuah telepon dari saudara sepupuku. Mengatakan bahwa aku harus segera pulang ke Pamekasan dan akan dijemput. Aku tak tau alasan sebenarnya yang terjadi, dia hanya mengatakan bahwa Bapakku sakit dan ada di rumah sakit. Beliau ingin bertemu denganku. Perasaanku benar-benar tidak enak, pikiranku kacau tak karuan, aku menangis. Temanku yang selaku ketua kelompok mengizinkan aku untuk pulang setelah dia mendapatkan telepon dari sepupuku. Sepertinya mereka tau apa yang terjadi namun sengaja untuk tidak memberitahukannya dikarenakan memikirkan keadaanku yang sangat kacau. Akupun pulang bersama salah seorang saudaraku dan teman kerja Bapakku. Di perjalanan pikiranku sama sekali tidak tenang, aku memikirkan keadaan Bapakku. Membayangkan saat aku sampai di rumah sakit aku akan menangis di pelukannya dan memarahinya karena tidak menjaga kesehatannya. Aku pasti akan memarahinya. Begitulah pikiranku.

Namun keanehan mulai muncul saat mobil yang kukendarai tidak melaju ke arah jalan rumah sakit tapi melaju ke arah jalan rumahku. Pikiran jelek mulai menghantuiku, dan kala melihat kerumunan orang yang berada di rumahku aku tidak bisa menahan semuanya. 'Ini tidak mungkin. Ini tidak mungkin.' gumamku dalam keadaan setengah tak percaya. Pertahanankupun runtuh seketika. Aku meraung-raung layaknya orang gila melihat sebuah keranda berada di teras rumahku. Berharap apa yang terjadi pada hari itu hanyalah sebuah mimpi belaka. Beliau tidak bisa meninggalkan aku yang selangkah lagi mampu membuatnya bangga dengan menepati salah satu janjiku. Aku masih mengingat jelas seminggu yang lalu sebelum kejadian beliau dan keluargaku datang ke tempat KKN untuk menjengukku, membawakan semua yang aku pinta dan beliau berjanji untuk mengunjungiku kembali di minggu berikutnya. Namun janji itu tak pernah bisa beliau tepati, beliau pergi meninggalkanku kala aku masih haus akan kasih sayangnya. Pesan terakhir yang dikirimkan semalam sebelum kepergiannya masih terasa hangat diingatakanku, mengatakan 'apakah aku betah disana?' dan aku menjawabnya dengan pesan yang singkat pula. Aku juga ingat kala terakhir aku marah sama beliau, ngambek sama beliau karena keegoisanku dan sampai sekarang aku begitu menyesalinya karena aku tak sempat meminta maaf kepada beliau.

"Maafkan anakmu yang kurang ajar ini, Bapak. Maaf kalau selalu ngambek. Maaf kalau anakmu ini selalu bersikap egois dan tak pernah bisa memahami bahwa beban yang engkau pikul jauh lebih besar ketimbang diriku. Maaf kalau selama ini selalu membuatmu khawatir karena ketidakmandirianku. Maafkan aku, Bapak kalau aku masih belum mampu memenuhi pintamu."

Andai waktu bisa kuputar kembali, andai aku tau bahwa pertemuanku dengan beliau adalah yang terakhir, akan kukatakan permohonan maafku. Namun kata maaf itu hanya bisa kuucapkan dalam do'aku. Aku merindukanmu, Pakk... Pahlawanku yang selalu setia menjadi teman kencanku di malam minggu, yang selalu setia menemaniku kemanapun, yang selalu berusaha memenuhi semua keinginanku yang egois, yang selalu memberikan lawakan garing dan terkadang membuatku malu sendiri. Aku merindukanmu...

Kini lebih dari setahun semenjak kepergian beliau, semua ingatanku tentang beliau masih terasa hangat. Aku tak akan pernah lupa semuanya. Aku tak akan pernah lupa pintanya kepadaku. Selamat jalan lelaki favoritku di dunia... Tenanglah engkau disana... Tenanglah engkau disisiNya... Janganlah engkau khawatirkan kami... Kami akan baik-baik saja walau kenyataannya kehidupan kami terasa berat begitu engkau tiada... Tidak apa-apa, karena aku tau ini adalah salah satu bentuk kasih sayangNya kepada kami :') Allah, tolong jaga beliau disana yah... Tolong sampaikan sejuta rinduku untuknya... :')

"In memoriam"
 Mujiono bin Kastubo ,ST., MT
Madiun, 10 Oktober 1960 - 17 Januari 2014
Celebrated my sister's 16th birthday with Otou-san to Okaa-san :')
October 1st 2012
Ahh, ini kue ultah pertamaku di umur 21 tahun.
Seumur hidup ini kue pertama yang beliau kasih untukku.
August 19th 2013

Mom's birthday on April 06th 2012

Continue reading Aku merindukanmu, Otou-san

Kamis, 06 Februari 2014

,

"Our Little Family" (Keluarga Kecil Kami) KKN 22 UTM 2014




Mungkin, aku bukan tipe orang yang bisa mengungkapkan semua perasaan lewat lisan tapi melalui tulisan aku bisa mengungkapkannya. Kami menyebutnya "Keluarga Kecil Kami" dan semuanya berawal dari kegiatan wajib universitas yang dinamakan Kuliah Kerja Nyata atau biasa disebut KKN. Berawal dari situlah semuanya dimulai. Kami dibentuk tanpa saling mengenal satu sama lain. Aku menatap mereka asing, dan mungkin hanya sekitar 3 orang yang aku kenal karena mereka satu jurusan denganku, selebihnya benar - benar asing. Jujur saja, aku selalu menyangsikan kegiatan ini, selalu takut apa yang akan terjadi denganku disana nantinya dan pernah aku mengatakan "Kalau bisa bayar, aku bakalan bayar biar aku gak ikut KKN." 
Tapi saat menjalaninya ternyata tidak seperti yang aku takutkan, aku menikmatinya. Benar - benar menikmatinya. 
Bersama mereka aku membuat banyak tawa, air mata, kekonyolan, dan lain sebagainya. Bersama mereka aku belajar banyak hal; seperti kebahagiaan, kebersamaan, kekompakan, saling membantu dan bekerja sama, juga kesedihan bersama. Bersama mereka aku merasa seperti berada di sebuah keluarga yang benar - benar menyayangiku tanpa pamrih. Untuk itulah aku mengucapkan terima kasih banyak.
Terima kasih sudah memberikanku sebuah keluarga kedua yang membuatku merasa nyaman untuk masuk di dalamnya, terima kasih atas semua perhatian dan semangat yang telah kalian berikan untukku. Terutama saat Bapakku meninggal di saat aku sedang menjalani KKN, terima kasih sudah menguatkanku dan juga memberikan sumbangan do'a untuk beliau. Terima kasih banyak. 
Dan tak terasa semua kebersamaan itu harus berakhir bersamaan dengan berakhirnya kami menjalankan tugas KKN di Desa Sokobanah Daya kabupaten Sampang. Saat itu, perasaanku sungguh campur aduk, rasanya benar-benar tidak ingin berpisah dengan kalian. Rasanya aku masih ingin bersama kalian lebih lama lagi. Aku memang membenci perpisahan, dan saat itu terjadi aku akui kalau aku benar - benar tidak menginginkannya. I wanna be with you guys a little bit longer :'( Truthly, I was so happy being with you all. Everything we did together will always be the most precious memories in my life. Terima kasih, aku yakin meski kebersamaan itu tak bisa diulang tapi akan tetap dikenang sampai kapanpun. Kita masih bisa bertemu kembali di waktu yang tepat, dan apapun yang terjadi kita akan tetap menjadi keluarga, "Our Little Family" ^^ Love you guys^^ 
Continue reading "Our Little Family" (Keluarga Kecil Kami) KKN 22 UTM 2014

Selasa, 02 Agustus 2011

,

Perjalanan Panjang Menuju Metropolitan


Minggu lalu, pada hari Selasa tepatnya pada tanggal 25 Juli 2011 aku bersama segerombolan teman - teman dari UKMF UNIJOYO Madura yang bernama EFEC (Economy Faculty English Collaboration) mengadakan acara study banding ke Kota Metropolitan Jakarta. Acara itu bertujuan untuk saling berbagi pengalaman berbahasa inggris ke sebuah Universitas terkemuka di Indonesia yaitu UNIVERSITAS INDONESIA. Perjalanan kami lalui sangatlah panjang, kami berangkat dari Bangkalan Madura menuju Jakarta kurang lebih memakan waktu seharian. Atau bisa dibilang 24 jam perjalanan. Bukankah itu perjalanan yang sangat melelahkan? :)

Esoknya setelah menempuh perjalanan yang sangat lelah, kami singgah sejenak untuk membersihkan diri dan sekaligus untuk beristirahat sejenak di sebuah rumah makan padang di daerah Cikampek. Kurang lebih satu jam kita beristirahat, kemudian melanjutkan perjalanan lagi menuju tempat wisata Ancol. Tepatnya kita hanya pergi ke pantainya saja selama setengah jam untuk sekedar berfoto ria. Setelah dari Ancol kami pergi ke monas, perjalanan ke monas dari ancol lumayan jauh menurutku, kurang lebih satu jam perjalanan. Sesampainya di Ancol kami pergi berkeliling memfoto monas yang sangat gagah bagiku. Kami juga bertemu dengan beberapa turis asing. Tapi sayangnya aku tak bisa menyapa mereka dikarenakan bahasa inggrisku yang sedikit bermasalah. Setelah itu, perjalanan kami lanjutkan kembali menuju Pasar Tanah Abang, pusat grosir yang terkenal di Jakarta. Sayangnya tak satupun barang yang mampu aku beli dikarenakan tempat itu adalah tempat grosir yang mengharuskan untuk membeli lebih dari 1 barang dengan jenis yang sama. Di tempat itu aku sungguh kecewa, karena aku tak bisa membelikan sesuatu untuk keluargaku di rumah.

Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju Hotel untuk sekedar check in dan beristirahat sejenak melepas lelah. Kurang lebih satu jam kami beristirahat dan terpaksa dengan badan yang masih lelah kami harus pergi ke stasiun metro tv untuk menghadiri acara Kick Andy. Perjalanan menuju stasiun metro tv lumayan melelahkan dan menyebalkan untukku. Jalanan kota metropolitan yang semrawut dan juga macet membuatku sedikit muak. Ditambah lagi bus yang kami tumpangi terpaksa ditilang oleh polisi dikarenakan kami melalui jalanan untuk Bus TransJakarta (Busway). Ada rasa putus asa menggelayutiku karena kejadian itu, sempat ku berbisik supaya acara ke metro tv dibatalkan saja. Namun perjalanan ke metro tv tetap dilaksanakan.



Setelah menempuh perjalanan yang 'cukup' mengesalkan akhirnya kami tiba di stasiun tv metro tv, kesan pertamaku saat pertama kali menginjakkan kaki disana adalah 'Megah'. Mungkin terdengar begitu alay bagi orang - orang yang sudah sering pergi kesana, namun bagiku yang pertama kali memasuki stasiun tv itu sungguh sangat berbeda. Aku begitu mengaguminya, bahkan aku tak berhenti berdecak kagum. Sambil menunggu acara syuting Kick Andy, kami diberi jamuan minuman dan juga beberapa snack untuk dimakan. Acara syuting pun juga akan berlangsung jam 19.00 malam sampai pukul 22.00 wib, melelahkan bukan? :)

Tepat pukul 19.00 kami memasuki studio tempat Kick Andy akan syuting, aku dan beberapa orang temanku duduk di bangku penonton paling belakang. Setelah kami memasuki studio, kami langsung disuguhkan oleh penyanyi yang menyanyikan lagu - lagu populer dari Iwan fals. Kata kru metro dia adalah salah seorang fans berat Iwan fals dan hafal semua lagu - lagu Iwan fals. Kami bisa maklum mengapa dia menyanyikan lagu Iwan fals di acara ini. Sambil menunggu kedatangan sang pembawa acara Andy F. Noya kami menikmati beberapa lagu Iwan fals yang dinyanyikan oleh penyanyi tersebut. Bahkan, salah seorang teman kami maju kedepan untuk berduet bersamanya. Ini sangat mengejutkan bagiku sekaligus sebuah kabanggaan. Setidaknya penonton tau jika orang yang berduet itu adalah teman kami.





Akhirnya, setelah menuggu cukup lama sang pembawa acara Andy F. Noya tiba di studio. Dengan memakai kemeja putih dihiasi dasi berwarna hitam dia tampak begitu tampan jika aku liat secara live :3 Topik yang akan dibicarakan malam itu adalah Bagaimana cara seseorang mampu bangkit setelah menghadapi kejadian yang paling tidak diinginkannya yaitu masuk 'Penjara' . Topik yang sangat menarik bukan? Disini kami dapat berbagai banyak pengalaman hidup dan hikmah atas kejadian yang dialami oleh para narasumber. Bagaimana seharusnya mereka yang tidak bersalah tapi dituduh korupsi atas sesuatu hal yang tidak dilakukannya? Bagimana mereka menjalani masa - masa selama ditahanan? Semuanya menurutku begitu menarik. Aku yang awalnya merasa sangsi akan takut bosan pun akhirnya menikmati juga acara itu hingga selesai. Dan yang membuatku senang adalah, kami mendapatkan buku gratis setelah acara Kick Andy selesai. Bukankah itu adalah bonus kami setelah acara selesai? Hahaha.. sungguh menyenangkan. Suatu saat aku ingin sekali pergi ke stasiun trans corp. Aku salah satu fans berat acara trans tv soalnya :)

Setelah dari acara kick andy kami segera menuju hotel untuk beristirahat, tak lupa di bus kami diberi nasi kotak untuk makan malam. Namun makanan itu sama sekali tak bisa aku habiskan, aku hanya menyendokkan beberapa suap saja ke mulutku. aku tak bermaksud untuk membuang makanan, namun perutku sepertinya sudah tak mau untuk mendapat asupan lagi dimalam hari itu. Jam setengah 12 kami tiba di hotel, aku langsung menuju ke kamarku bersama kedua orang temanku yang juga teman kamarku. Karena kelelahan, salah seorang temanku langsung tertidur begitu menyentuh kasur dan bantal empuk itu. Sedangkan aku masih melaksanakan kewajibanku untuk sholat dan kemudian bergegas tidur bersama seorang temanku lagi supaya besok kami bisa segar dan bersemangat dalam menjalani hari besok 
yang mungkin lumayan 'melelahkan'.


Pukul 04.00 alarm dari salah satu handphone temanku berbunyi, dia memang sengaja memasang alarm jam segitu karena pada pukul 06.30 kita terpaksa harus segera check out dari kamar hotel. JIka tidak segera check out, maka akan bertambah biaya hotelnya. Seorang temanku terbangun, dia dengan wajah masih mengantuk segera memasuki kamar mandi untuk bersih diri dan juga sekaligus akan packing barang - barang untuk check out. Sedangkan aku hanya melihatnya dan masih saja memeluk bantal karena memang aku benar - benar masih mengantuk. setelah setengah jam berlalu, giliran aku yang memasuki kamar mandi untuk bersih diri. Seorang temanku yang masih terlelap tidurpun aku biarkan tidur karena kulihat dia benar - benar sangat letih. Setelah selesai berbersih diri, aku segera melaksanakan sholat subuh dan kemudian membangunkan temanku yang masih terlelap tidur. Dia begitu kaget saat aku mengatakan jam sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi. Ekspresi kagetnya begitu lucu bagiku, kemudian kulihat dia segera memasuki kamar mandi dengan langkah tergesa - gesa.

Pukul 05.45 kami sudah bersiap - siap untuk check out hotel, kami menaiki lift untuk turun dari lantai empat menuju lantai dasar. Setelah sampai di lobi hotel, kami menyerahkan kunci kamar kepada resepsionist hotel untuk check out. Sembari menunggu teman - teman lainnya yang masih belum datang aku dan seorang temanku bercanda gurau sejenak. Ternyata banyak teman - temanku yang belum check otu hotel, padahal pihak tour leader sudah mengatakan bahwa kita harus check out jam 06.00 . Tapi mereka malah molor, wajar saja menurutku. Karena sepertinya mereka benar - benar sangat kelelahan. Aku dan teman - temanku yang sudah check out langsung menuju ke restoran untuk breakfast dan kemudian setelah itu langsung menuju bus untuk mengangkat barang - barang bawaan kami ke dalamnya.

Pukul 07.30 kami meninggalkan hotel dan langsung menuju ke tempat tujuan utama yaitu Universitas Indonesia (UI). Menurut tour guide yang memandu kami, perjalanan akan memakan waktu selama 3 jam dikarenakan kondisi jalanan Jakarta yang-sangat-macet. Namun ternyata, perjalanan tidak selama yang tour guide katakan, perjalanan kami menuju UI bahkan lebih cepat   2 jam dikarenakan jalanan menuju UI tidak begitu macet.





Saat memasuki gerbang UI kesan pertamaku sungguh sangat berbeda. Aku tak berhenti memandang jalanan UI yang begitu tertata rapi dan tampak sangat asri. Tiap bangunannya pun juga ditata sedemikian rupa sehingga terlihat sangat indah. Disana juga ada sepeda gratis yang bisa dikendarai oleh mahasiswa UI untuk berkendara menuju ketempat satu dan yang lainnya yang jaraknya cukup jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki. Kami berhenti disalah satu fakultas disana. Banyak teman - temanku yang berfoto disana dan juga menyempati untuk mencoba sepeda gratis yang ada disana, sedangkan aku? hanya memperhatikan mereka semua sembari memfoto beberapa objek yang menarik buatku. Banyak teman yang mengajakku berfoto, namun aku sama sekali tidak tertarik. Aku bukan tipe orang narsis seperti teman - temanku.





Setelah menunggu cukup lama, akhirnya kita disambut oleh beberapa mahasiswa UI dari UKM IDS atau semacam UKM yang memfokuskan pada debat bahasa inggris. Disana, kami saling mengenalkan UKM masing - masing dan juga kelebihan - kelebihan dari UKM tersebut. yang pertama mempersetasikan diri adalah dari UI yaitu dari UKM IDS. Materi presentasi yang disajikan sangat menarik buatku, apalagi ditambah dengan pemateri yang sepertinya sudah berpengalaman dan cukup berkompeten. Sungguh jauh berbeda dari mahasiswa kami dari Universitas Trunojoyo. Setelah mahasiswa dari UKM IDS mempresentasikan diri, tiba giliran dari UKMF EFEC untuk persentasi. Persentasi dilakukan oleh ketua umum UKMF EFEC. Acara kunjungan UI akhirnya ditutup dengan pemberian kenang - kenangan dari pihak UI dan juga dari pihak UNIJOYO sendiri.




Setelah dari UI acara terakhir adalah mengunjungi TMII (Taman Mini Indonesia Indah). Perjalanan menuju TMII lumayan jauh, aku bahkan sampai tertidur karena kelelahan. Tak terasa akhirnya kami telah sampai di UI, tour guide kami mengatakan batas waktu kami di TMII adalah sampai jam 14.30. Setelah mengatakan itu kami langsung melesat turun dan berpencar - pencar untuk mengunjungi berbagi wahana di TMII. Aku dan beberapa orang temanku pergi ke tempat souvenir untuk membeli beberapa oleh - oleh untuk keluarga dirumah. Aku hanya membeli 3 potong t-shirt untuk keluarga dirumah, memang tidak banyak tapi setidaknya aku memliki oleh - oleh dari Jakarta^^ Kemudian setelah berbelanja, aku dan beberapa temanku melanjutkan untuk makan siang disalah satu restoran cepat saji disana. Bisa dibilang harganya lumayan mahal^^ tapi tidak masalah karena jarang - jarang juga aku mengeluarkan uang yang 'lumayan' dari kantongku. Setelah itu aku dan temaku berencana untuk pergi ke aquarium, namun niat itu urung dilaksanakan karena ternyata waktu tidak mencukupi. Sebelum kembali ke tempat berkumpul, kami sempat berfoto di beberapa bangunan mini yang ada disana. Lumayanlah untuk kenang - kenangan^^. Setelah itu kami berkumpul didekat bus. Ternyata banyak peserta yang belum berkumpul. Akhirnya rencana yang awalnya yang berkumpul jam 14.30 harus tertunda 1 jam gara - gara itu. Ada sedikit rasa sesalku saat ku tau hal itu, jika seperti itu keadaannya mungkin aku dan juga teman - temanku masih sempat pergi ke aquarium tadi :( Padahal belum tentu juga aku bisa ke Jakarta lagi. Tapi mungkin memang belum waktunya :) jadi aku coba untuk ikhlas. Sebelum meninggalkan TMII salah seorang temanku ternyata tetap berada di Jakarta karena dia akan tinggal beberapa pekan bersama keluarganya disana. Ada rasa sedih dan tidak rela yang merasuk dalam diriku, aku belum mau berpisah darinya. Aku masih ingin bersamanya, namun aku bisa apa? Mungkin hanya menatapnya sedih saat bus pergi meninggalkan dirinya dan juga TMII. Please, take in there Chagiya :")

Setelah dari TMII perjalanan akhirnya dilanjutkan untuk perjalanan pulang menuju Madura. sepertinya memang akan menjadi perjalanan yang melelahkan lagi. Kami akan menginap (lagi) di Bus. Heuft.. benar - benar melelahkan bagiku. Selama perjalanan kami sempat mampir ke beberapa tempat untuk sekedar makan, sholat, ataupun membeli beberapa oleh - oleh untuk keluarga dirumah. Akhirnya setelah perjalanan yang melelahkan itu, pada malam hari pukul 19.30 tanggal 29 Juli 2011 kami sampai di Madura dengan selamat (Alhamdulillah). Perjalanan melelahkan dari Jakarta sampai tiba di Madura ditutup dengan ucapan perminta maaf, perpisahan juga terima kasih dari pihak tour guide sekaligus memberikan kami souvenir berupa cangkir cantik dari pihak penyelenggara. Perjalanan melelahkan itu akhirnya berakhir dengan senyuman dari bibir kami semua. Ada banyak hal yang bisa kami pelajari dari perjalanan itu. Semoga di lain waktu aku bisa berkunjung ke Jakarta lagi :) dan jika itu terjadi aku ingin pergi bersama keluargaku :D
Continue reading Perjalanan Panjang Menuju Metropolitan