Rabu, 19 Agustus 2020

[CATATANKU] Mereka yang (Akhirnya) Kupanggil Sahabat


Memories <3
 
Dulu, mungkin sekitar enam tahun yang lalu disaat aku menghabiskan masa-masa Kuliah Kerja Nyata-ku di sebuah desa yang tidak begitu terbelakang dan tentu saja tempatnya nyaman untuk bernaung, aku dan salah seorang temanku menikmati tengah malam di kala kami menyelesaikan sebuah film bersama. Kami mengobrol bersama, berbagi pikiran bersama, membicarakan banyak hal hingga adzan subuh berkumandang.

Salah satu perkataannya pada obrolan kita malam itu akan selalu kuingat bahkan hingga saat ini.

“Suatu saat nanti, aku yakin kamu pasti menemukan seseorang yang bisa kamu panggil sahabat. Mungkin gak sekarang, tapi siapa tau beberapa tahun ke depan kamu akan menemukan mereka yang bisa membuatmu nyaman dan bisa menjadi dirimu sendiri.”

Dulu aku menanggapi perkataannya dengan skeptic, sungguh aku sudah cukup lelah dengan banyaknya kepergian dalam pertemanan. Aku tidak peduli lagi dengan yang namanya sahabat. Begitu lelahnya hingga membuatku muak sendiri. Mereka pergi begitu saja dan begitu kembali kami seolah menjadi asing satu sama lain. Jadi menurutku buat apa?

Waktu kemudian berlalu, aku pernah beberapa kali dekat dengan seorang teman tapi kemudian seperti terjadi seleksi alam dalam pertemanan, ada beberapa jarak yang tak bisa kita hapus seperti dahulu dan begitulah, kembali asing berulang kali. Hingga suatu ketika seorang teman mengumpulkanku kembali dengan mereka.

Aku mengenal mereka, tapi tidak pernah sedikitpun menyangka bahwa suatu saat kami akan menjadi sangat dekat seperti saat ini. Kami memiliki kisah lalu yang hampir sama begitu juga dengan kepribadian. Lalu ada satu orang yang memiliki kepribadian yang amat sangat kontras dengan kami bertiga, aku mengenalnya semenjak sekolah menengah pertama. Dan hanya sekedar mengenalnya tanpa ekspektasi apapun. Kami dipertemukan, berkumpul bersama. Yang awalnya masih terasa canggung, hingga kemudian merasa ada kenyamanan dan keterikatan satu sama lain. Saat kami berkumpul bersama, waktu terasa begitu cepat berlalu, seolah dunia hanya berputar diantara obrolan kita yang garing dan terkadang serius dengan beberapa gelas minuman yang telah tandas lama hingga mengering.

Kami saling berbagi pemikiran bersama, bercanda bersama hingga melaluinya sampai saat ini. Mereka selalu menjadi tempat untuk berbagi hal-hal pribadi selain kepada adikku. Tidak ada penghakiman di mata mereka saat aku bercerita dan berbagi perspektif. Meski ada beberapa perbedaan, tapi tak sedikitpun perbedaan itu menjadi halangan untuk kami. Kami saling menghargai dan menjaganya untuk tidak sampai melewati hal-hal yang tidak diinginkan.

Dan memang benar, semakin bertambahnya usia lingkaran pertemanan semakin sedikit. Dimana teman yang berkualitas namun dengan lingkaran yang kecil akan selalu menjadi tempat ternyaman untuk saling berangkulan dan menguatkan.

Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian karena sudah bersedia menjadi sosok yang dulu membuatku skeptis untuk mengatakannya. Aku bersyukur memiliki kalian. Terima kasih banyak sudah memberikan warna untukku, tolong jangan bosan. Makasih sudah sabar ngadepin aku yang menyebalkan ini, makasih sudah membuatku menjadi diri sendiri tanpa perlu takut dengan sebuah penilaian.

Dan semoga bagaimapun keadaan kita kedepannya, kita akan tetap seperti ini.

Tidak ada yang berubah selain status hubungan pribadi yang masih belum terikat dengan siapapun.

Hahaha. Aku sayang kalian banyak-banyak. 

 

Pamekasan, 19 Agustus 2020

Farida Mutia Agustin

Continue reading [CATATANKU] Mereka yang (Akhirnya) Kupanggil Sahabat

Senin, 23 Maret 2020

,

[RESENSI BUKU] BREAK EVEN - MORRA QUATRO


Judul Buku :  Break Even
Penulis : Morra Quatro
Editor : Dewi Fita
Penerbit : Bookslife.co

Sinopsis

Setahun usai kepergian William Hakim, Karla dihampiri berita bahwa sejumlah pihak sedang mencari laki-laki itu. Satu demi satu rahasia tentangnya pun meluap ke permukaan. Tentang nama orang-orang terdekat Will yang tak pernah Karla dengan, tentang apa yang ia lakukan selama menghilang, bahkan tentang kematiannya yang kini diragukan semua orang. William Hakim, sang enigma, si jenius Fisika yang Karla pikir dikenalnya baik, telah meninggalkan jejak yang panjang..

Termasuk kepada Karla

Jejak itu kemudian membawa Karla kepada Nicolas, kakak Will. 

Resensi

"Kamu tidak perlu harus tetap hidup untuk menghasilkan energi yang begitu besar, dan itulah Will. Dia sebuah Pendulum, dengan energi yang begitu besar semasa hidupnya. Demikian besar sehingga ayunannya dapat bertahan selama ini." Nicholas Hakim (Hal. 47)

Aku masih ingat saat pertama kali membaca buku pertamanya yang berjudul Forgiven, tidak berekspektasi apapun saat itu. Namun menjelang akhir cerita perasaanku seolah campur aduk tak karuan. Seolah masih ada yang harus diluruskan dan belum cukup. Betapa emosionalnya aku saat itu menghadapi akhir seorang William Hakim yang sungguh tak terduga. 

Bertahun berlalu dan sosok seorang William Hakim masih dan sungguh sangat tidak terganti hingga tahun kemarin Kak Morra akhirnya menuliskan kembali kisahnya ke dalam buku prequel-nya yang berjudul Break Even. Walau aku tidak mengikuti PO awal buku tapi seenggaknya di tahun ini sembari menjalani masa karantina karena wabah Corona aku memutuskan untuk membeli dan langsung membacanya. Sebenernya butuh waktu bagiku untuk menyelesaikannya karena kesibukan di dunia nyata dan juga karena aku masih ingin lebih lama menikmati kehidupan William semasa berada di Boston. 

Oke, sekian curhatnya mari kita lanjut untuk membahas novel Kak Morra ini. 

Break Even dimulai dari kedatangan dua orang anggota federal di Kediaman Karla. Mereka mengatakan sedang mencari seseorang bernama Chester Winston beserta temannya yang tak lain dan tak bukan adalah William Hakim. Karla hanya tau bahwa William sudah tiada dalam eksekusi setahun yang lalu dan dia tidak tau siapa sosok Chester Winston yang kelak diketahuinya adalah salah seorang sahabat William yang ikut andil dalam berbagai kejadian bersama. 

Setelah Kepergian mereka Karla berinisiatif untuk bertemu dengan Nicholas Hakim--Kakak William Hakim. Mereka bertemu di Mount Hope Cemetery, tempat William bersemayam. Melalui Nicholas kepingan-kepingan rahasia yang selama ini tersembunyi tersingkap satu persatu.  Juga tentang rahasia di balik soal yang diberikan tiga orang profesor MIT kepadanya di perpustakaan saat itu. 
Tentang Nicholas dan segala rahasia yang ingin ditutupi untuk dirinya sendiri. 

"Namun ketika ketakutan terbesar kita terjadi, tibalah kita pada titik dimana sudah tak ada lagi yang perlu ditakutkan. Segalanya lepas dari genggaman." -Hal. 18


Cerita Break Even menggunakan dua sudut pandang. Sudut pandang pertama sebagai Karla yang mana bercerita pada saat ini sedangkan sudut pandang ketiga melalui alur mundur yang menceritakan tentang masa-masa kehidupan William Hakim. Perpindahan alur tidak begitu memusingkan karena kita bisa tau dari awal tiap bab alur apa yang dipakai. Kak Morra juga menyelipkan ilustrasi gambar miliknya sendiri untuk membantu pembaca dalam mengilustrasikan cerita. Ditambah dengan segala teori ilmu fisika hingga sains yang berseliweran dijelaskan dengan nyaman dan mudah dipahami oleh seseorang yang tidak suka fisika. Apalagi salah satu inti cerita mengenai salah satu teori fisika yang menjadi klimaksnya.  Menjelang akhir cerita kita disuguhkan dengan kisah ikatan persaudaraan antara Nicholas dan William. Membuat hati ini ikut merasakan emosi yang sama. Betapa berartinya sosok seorang William Hakim di matanya. 

Plotnya rapi dan runtut, seolah kak Morra sudah tau kemana dan seperti apa kisah ceritanya dibawa.  Juga bagaimana setiap tokoh memiliki peran yang cukup andil dalam ceritanya. Mungkin yang sedikit disayangkan tentang kehadiran sosok Noel yang merupakan kelompok sahabat Chester, Yun Cho, Aldair tidak begitu dieksplor sebanyak Yun Cho juga Aldair. Dan berbagai nama yang sempat dibahas hanya sebagai sedikit selingan saja. 

Ada unsur agama dan kejadian pengeboman WTC yang masih akan dibahas sedikit disini karena 
Dan memang kisah William Hakim benar-benar ditutup dengan indah sesuai porsinya. Cukup. Melengkapi segala kerahasiaannya yang dia bawa bersama mimpi-mimpinya. 

"Pada akhirnya, dia benar-benar menjalani hidup yang bebas. William tetap lebih bebas daripada semua orang yang kukenal saat ini. Dan dia tetap tumbuh sebagai pohon. Dia hidup dengan lengan-lengan menggapai matahari, dan mati menjadi lembar kertas yang harum. Layaknya halaman buku yang gemar dihirupnya di hari-hari masa kecil kami yang cerah, dan sycamore yang meneduhinya selama berbaring dalam peristirahatan ini. (Hal 280)

Akhir kata, 4,9/5 bintang untuk Break Even

Terima kasih untuk kak Morra yang sudah menghidupkan kembali kisah William. 

Continue reading [RESENSI BUKU] BREAK EVEN - MORRA QUATRO

[CATATANKU] BUKAN HUJAN FAVORIT



Mungkin kamulah yang paling ingat saat pertama kali kita bertemu. Rintik hujan di siang itu, kau dan aku duduk bersisian memakai kemeja putih dan celana hitam yang senada. Aku bergumul dengan pikiranku sendiri menunggu namaku dipanggil. Sedangkan kau, sudah berada di dalam sana terlebih dahulu. Begitu lama hingga membuat pikiranku semakin kacau dan cemas. Mungkin sekitar tiga puluh menit kamu berada di ruang yang menurutku saat itu begitu mengerikan, dan kamu akhirnya ke luar. Aku memberanikan diriku bertanya setelah beberapa kali mengurungkan niatku. Menanyakan apa yang teradi di sana, kami mengobrol seperti biasa dan tidak ada yang tau bahwa itu bukanlah pertemuan pertama dan terakhir kita.

Dan memang kita bertemu lagi, di tempat yang sama setelah beberapa minggu berlalu. Awal pertemuan kembali saat itu aku masih ingat aku meminta saran padamu akan suatu hal dan terima kasih sudah memberikan saran yang melegakanku. Aku dan kamu diam-diam saling bertukar pesan, memberikan semangat saat kamu langsung diberikan banyak tugas dari atasan, begitupun sebaliknya saat aku mengalami hal yang sama.

Berulang kali kau mengajakku untuk ke luar bersama, hanya untuk sekedar menyesap kopi dan mungkin berdiskusi. Berulang kali juga aku menolak karena saat itu kondisi keluargaku saat itu sedang tidak memungkinkah. Terima kasih karena tidak menyerah untuk melakukan itu dan membuatku akhirnya memenuhi ajakanmu setelah penolakan yang sangat banyak. Jujur saja aku begitu kagum padamu, pandanganmu begitu luas, kau bercerita banyak hal tentang pengalamanmu selama menimba ilmu di tanah rantau, bercerita segala prestasi yang telah kamu raih dan memiliki hobi yang sama denganku yaitu membaca buku. Meski buku yang kita baca justru bersebrangan.

Kita pernah bertemu di alun-alun. Aku mengenalkanmu beserta satu orang lagi temanku sebagai teman kantorku kepada ibuku. Kami mengobrol biasa dan aku mungkin memberikan sedikit perhatianku padamu mengenai celana yang kau pakai. Kau menepis tanganku saat aku berusaha menyentuh celanamu yang robek. Dan suatu ketika kau pernah mengatakan padaku bahwa kejadian itu yang membuatmu menaruh hati padaku, juga tentang impian bersama yang sama-sama menginginkan adanya perpustakaan pribadi di rumah.

Suatu malam di bulan Ramadhan kau mengatakan bahwa kau menyukaiku, kau ingin serius denganku. Tentu saja aku tidak meragukan itu, sejujurnya aku senang dan aku mulai menyukaimu juga. Dan sebelum aku meyakinkan diriku aku pernah jujur padamu mengenai kondisiku, dan terima kasih kau bersedia untuk menerimaku. Kau pernah mengirimiku suaramu saat mengaji, betapa gilanya aku saat itu. Mengatakan pada mereka kau mungkin lah orangnya. Dan aku pernah mengirimu sebuah pesan dalam tulisan hangul supaya kau bisa mengartikannya dan aku tau kamu berusaha melakukannya untukku.

I can see the world through your eyes.”

Aku meminta kita untuk menjalani hubungan ini terlebih dahulu, diam-diam kami berhubungan. Sebisa mungkin tidak membuat banyak kontak di lingkungan tempat kerja karena tidak menginginkan hubungan ini diketahui oleh rekan-rekan kami meski kami sudah sering menjadi bahan olok-olokan dan godaan dari mereka. Dan lagipula perkataan salah satu temanku mengenai tidak dibolehkannya pasangan di dalam satu kantor membuatku banyak berpikir mengenai masa depan kami berdua nantinya. Sedangkan aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan ini karena aku memiliki keluarga yang harus aku perjuangkan dengan segenap hatiku.

Kau pun mengatakan kita akan sama-sama berjuang jikalau nantinya kita berhasil lolos tes CPNS, hingga nantinya masalah seperti ini bukanlah halangan bagi kita untuk bersama. Kami suka bertemu diam-diam sepulang kantor, seminggu sekali. Memang segalanya terasa baik-baik saja meski terkadang jujur saja aku bosan dengan isi pesanmu yang menurutku monoton. Aku pernah mengeluhkan itu, betapa aku menginginkan sebuah pesan yang bisa membuatku semangat untuk membahas apapun.  Dan aku sempat protes karena kau seolah menyindirku melalui video di status whatsapp-mu.

Menjelang hari ulang tahunku, aku memintamu untuk menebak kapan tanggal lahirku. Kau mengatakan bahwa kau tau tapi kenyataannya kau salah menebak. Kau mengajakku ke sebuah café dan kita duduk berhadapan di sore yang berbalut langit senja kala itu. Kau memberiku coklat sebagai hadiah ulang tahunku, disitu kau menggenggam jemariku, menatapku dan menanyakan mengenai keseriusannya untuk hubungan ini dan masa depan ini dan aku hanya menunduk dan tidak berani menatap matanya. Jawabanku tetaplah sama. Jujur saja saat jemarimu menyatu dengan jemariku tidak kurasakan getaran yang sama saat dulu pertama kali ada seseorang yang melakukan itu padaku. Terasa biasa saja dan akupun tak tau kenapa.

Aku pernah kesal saat kamu bilang aku gak seharusnya pergi dengan temanku, aku tidak suka reaksimu yang berlebihan dan bahkan diam-diam mengontak saudaraku, bertemu tanpa sepengetahuanku untuk membicarakan masalah ini. Aku tau aku salah dan aku akan lebih berhati-hati lagi untuk ke depannya. Aku tidak suka kamu memeriksa handphone-ku dan melihat dengan siapa aku berhubungan, meski aku memang mengizinkanmu dengan terpaksa. Seolah privasiku ditelanjangi, sejak saat aku memproteksinya supaya gak ada orang yang sembarangan membukanya.
Kau cemburu saat aku saling bertukar pesan sangat banyak pada teman perempuanku. Karena mungkin jika membandingkan dengan isi pesan kita yang memang terasa monoton. Kau pernah tiba-tiba mengatakan memblokirku karena tau aku mengobrol dengan rekan kantorku yang membahas masalah pekerjaan, membuatku kaget dan bertanya-tanya apa kesalahanku. Aku tidak tau seperti apa rekan-rekanku memandangku seperti yang pernah kau ceritakan bahwa aku dijadikan objek olokan, mungkin bagimu ini aku begitu polos sampai aku perlu dilindungi sedemikian rupa seolah aku tidak mampu berdiri di atas kakiku sendiri.

Aku berusaha menurunkan egoku, kecuekanku, hingga berusaha untuk mengolah kata-kataku sendiri saat bersamamu supaya kamu tidak merasa tersinggung dan disaat bersamaan aku tidak tau bagaimana caranya menjadi diriku sendiri. Kau selalu menunda mengatakan sesuatu hal padaku dan berdalih itu tidak penting sembari bilang akan mengatakannya nanti yang aku sendiri tidak tau itu kapan. Membuatku mempertanyakan apa yang sebenarnya ingin kamu katakan dan mencemaskan segala kemungkinan yang tidak kuinginkan.

Aku tidak suka kau menanyakan luka masa laluku yang dengan amat sengaja aku tutup dan kau membukanya kembali, membuatku teringat pada kenangan yang tidak seharusnya aku ingat. Dengan rapat aku menutupnya lalu kau ingin sekali menggedornya meski aku sudah mengatakan jangan sesekali memaksaku untuk membukanya. Kau akhirnya menyerah, namun luka itu terbuka kembali dalam pikiranku.

Lambat laun intensitas perselisihan kita semakin sering. Dimulai dari segala kesalahpahaman yang tak berujung. Segala keinginanmu yang harus aku turuti tanpa peduli sedikitpun mendengar penjelasanku dan tanpa aku perlu tau alasannya. Kau selalu mengatakan semua demi kebaikanku. Mengatakan betapa egoisnya aku berulang kali saat aku mengabaikan pesan juga telepon beruntunmu layaknya seorang penguntit pada pertengkaran yang menurutku tidak penting dan kau malah menyulutnya disaat yang tidak tepat. Kau meminta maaf setelahnya, menghamba untuk dimaafkan. Mungkin memaafkan memang semudah itu, tapi segalanya tak mungkin bisa aku lupakan. Sikapmu yang seolah tidak terjadi apapun semakin menyakitku. Terkadang kau memblokir-ku secara tiba-tiba dengan alasan ingin menenangkan diri. Kini aku tau seperti apa rasanya diblokir.

Aku pernah menangis di sudut kamarku pada pertengkaran yang entah aku tidak tau ke berapa kali, dada yang sesak hingga sulit untuk bernafas, tangan yang bergetar, dan melodi lagu terbaru AKMU “How Can I Love The Heartbreak You are The One I love” akan selalu mengalun tak berhenti menemaniku saat itu. Menggambar dengan perasaan yang kacau hingga aku tidak tau kemana lagi tempatku untuk melampiaskan segala hal yang menyesakkan itu.

Awal tahun ini adalah puncak dari segala kecewaku. Mengataiku dengan sebutan Pendusta disaat aku bahkan mengatakan yang sesungguhnya. Kau tetap tidak mempercayaiku, memintaku ini itu yang membuatku semakin lelah dan muak. Aku kembali diam, membiarkanmu merongrong sesuka hatimu lalu seperti biasa meminta maaf dan bersikap apa yang sudah dilakukannya seolah tidak pernah terjadi. Sedangkan lukaku semakin menganga.

Hatiku yang sudah dipenuhi dengan berbagai kekecewaan tidak bisa menampungnya lagi. Perasaan ini perlahan memudar dengan sendirinya. Aku meminta maaf karena katamu “Aku sengaja menghindar dan mengulur waktu.” Tapi tidak mudah bagiku untuk memutuskan segalanya. Di satu sisi aku memiliki ketakutanku sendiri, namun di sisi lain aku juga memikirkan bagaimana perasaanmu yang menggantung. Aku memintamu untuk menunggu, karena ada begitu banyak kecemasan yang mengurungku saat itu.

Berulang kali kau seolah menyindirku, dan dengan sengaja aku mengacuhkanmu. Awal bulan lalu setelah segala hal melelahkan yang terjadi padaku aku memutuskan untuk menemuimu setelah sekian lamanya. Aku bercerita banyak hal, tentang keluh kesahku. Bagaimana hatiku saat ini yang tidak bisa memiliki perasaan yang sama seperti dulu. Aku meminta maaf karena tidak bisa menjadi seperti yang seharusnya kita inginkan. Dan tidak ingin menyakitinya lebih dalam dengan terus menghindarinya.

Aku minta maaf untuk segala luka yang sudah aku berikan kepadamu dan kini aku sadar bahwa selama ini kita saling melukai. Kuharap dengan melepaskanmu saat ini rasa sakitmu akan menghilang dan akupun mendoakan kebahagiaanmu dengan siapapun wanita yang kelak menjadi bagian dari hidupmu. Maafkan aku karena aku tidak bisa memberikan kesempatan seperti yang kamu inginkan, aku ingin melepaskan yang selama ini mengungkung diriku.

Perasaanku padamu pernah ada, aku pernah mencemburui teman wanitamu. Membuat perasaanku semakin insecure dan aku sadar betapa tidak ada apa-apanya aku darinya. Aku tidak pernah menangis karena laki-laki semenjak kisahku dengan Hatsukoi berakhir. Betapa berartinya kamu bagiku.

Kamu tau bahwa aku menyukai Hujan. Dan kamu adalah hujanku dulu..

Si penyuka pantai dan senja…

Aku meminta maaf untuk kisah kita yang kuakhiri dengan epilog yang menyakitkan.

Terima kasih sudah berbagi kisah denganku, semoga segala impianmu yang pernah kau bagi padaku kala itu dapat kau wujudkan. Maaf aku tidak bisa menemanimu dan terima kasih untuk botol minuman berwarna biru yang pernah kau berikan padaku. Kamu juga tau warna kesukaanku.

Akhir kata, kuharap kau membaca pesanku yang sempat aku kirimkan padamu lalu aku hapus supaya mengembalikan sebuah novel yang pernah kamu pinjam padaku waktu itu. Kamu tau betapa berharganya novel itu bagiku J

Continue reading [CATATANKU] BUKAN HUJAN FAVORIT