Minggu, 14 April 2019

[Catatanku] Surat untuk Seseorang yang Pernah Singgah Lalu Pergi (PART 2)


Surat Kedua,

Halo, mungkin kamu tidak akan pernah menyangka jika surat selanjutnya kutujukan untuk dirimu. Aku sendiri tidak menyangka bahwa kehadiranmu disaat itu membuatku merasakan kenyamanan yang bahkan belum pernah aku rasakan sebelumnya dengan seseorang bahkan dari dia tujuh tahun yang lalu.

Iya, itu kamu.. Hadir di tempat kerjaku dulu dengan perangai yang supel dan friendly. Berbadan tinggi besar dan chubby yang menggemaskan. Aku menyambut awal perkenalan kita dengan baik. Mungkin kau awalnya terkejut saat aku bilang aku bukan tipe orang yang bisa gampang akrab dengan orang lain tapi denganmu aku mampu melakukannya. Aneh bukan?

Setelah pertemuan pertama kita sebagai rekan kerja terjadi, kau dan aku saling bertukar nomer untuk bisa lebih nyaman berkomunikasi lewat chat dan membahas pekerjaan. Awalnya hanya itu niatku dan juga berteman, tapi tanpa sadar semenjak komunikasi yang intens aku mulai bisa bercerita banyak hal denganmu. Dari obrolan yang hanya saling flirting dan ngegombal tidak jelas hingga ke pembicaraan yang lebih mendalam aku merasakan ada kecocokan disitu.

Boleh kukatakan, kamulah satu-satunya laki-laki yang mampu kuajak berbagi pandangan tentang berbagai macam topik dan hal-hal yang sedang terjadi. Aku dan kamu juga berbagi kesukaan masing-masing.

Si penyuka es krim bersuara indah dan pecinta Manchester United yang begitu mencintai keluarganya dengan sepenuh hatinya. Aku dan kamu berbagi rasa sakit yang sama, berbagi kehilangan yang sama. Saling memahami satu sama lain. Obrolan kita di cafe kala itu terasa begitu singkat saking banyaknya hal yang kita obrolkan. Terima kasih untuk traktiran es krimnya, aku sungguh menikmatinya.

Mungkin kamu lupa bahwa dulu pernah berjanji untuk pergi nonton bersama di Surabaya. Tapi tidak apa-apa jika kamu melupakannya karena aku tidak ingin berharap lebih kala itu. Kamu juga menyemangatiku saat aku gagal ujian cpns dan menghiburku. Aku masih ingat saat tengah malam kita saling berbagi ketakutan kita masing-masing, memaknai kehilangan dengan gamblangnya. Kamulah yang pertama mampu membuatku membuka sisiku itu. 

Hei, apa kamu masih suka memotret? Aku suka feed instagram-mu dulu dengan berbagai quote meski sekarang tak kutemukan lagi fotomu disana. Kau tunjukkan momen bahagiamu dibalik lensa kameramu. Teruslah berbagi kebahagiaan. 

Kupikir sejak kepindahanmu ke tempat kerja yang mana tempatnya jauh lebih dekat dengan keluargamu dan pertemuan terakhir kita di cafe saat itu adalah awal dari jarak antara kita berdua. Aku tidak ingin menyalahkan hal itu, karena hubungan kita sepertinya hanya sebatas "teman." Dan aku terlalu berekspektasi tinggi akan perasaan nyamanku terhadapmu. Seharusnya aku sadar bahwa kita tidak akan pernah bisa, karena aku sendiri tau bahwa tidak ada salah satu dari kita yang mampu berkorban.

Jarak itu semakin membentang seiring berjalannya waktu, setiap kali aku melihat story-mu di sosial media ada perasaan menggelitik yang mengganggu pikiranku.

Entah sudah berapa kali aku berusaha untuk menghubungimu duluan melalui chat, namun pesan chat itu tak pernah sampai dan terkirim padamu. Aku kecewa pada diriku sendiri. Aku merutuki kebodohanku karena aku mengulangi kesalahan yang sama.

Lebaran tahun lalu untuk pertama kalinya kau mengirimkan pesan setelah sekian lamanya. Perasaanku kala itu sungguh campur aduk, ada bahagia yang membuncah disana. Dan kau masih mengingat janji kita, kupikir akan ada harapan yang tersisa yang mampu kita capai bersama, namun segalanya tidak berjalan baik. Kau hanya membaca pesan balasanku dan itu terakhir kalinya kau mengirim pesan untukku.

Saat aku iseng membuka story di media sosial, kulihat foto seorang perempuan cantik yang kau unggah di akunmu. Ditambah lagi kau menghapus semua foto-fotomu di akun media sosial dan hanya menyisakan postingan baru berupa sebuah foto unggahan perempuan yang sama di story sedang memamerkan perhiasan indah yang tersemat di jari kiri manisnya bersama dengan ibumu. Segalanya terasa buram bagiku setelah melihatnya, tanpa sadar aku membisukan akunmu supaya aku tidak bisa melihat segala aktivitasmu di media sosial meski kita saling mengikuti.

Aku ingin mengatakan terima kasih sudah pernah hadir sejenak dalam hidupku, terima kasih sudah membuatku bisa melangkah maju dari bayangan seseorang di masa lalu, terima kasih sudah bersedia memahami dan menghargai kehidupanku dan duniaku, aku masih menunggu resensimu dari anime movie yang pernah aku berikan padamu dulu.

Ahh.. Tapi yasudahlah, kudoakan kebahagiaanmu. Finally you've found your mrs. Right.

Melalui surat ini, aku ingin kamu tau bahwa kamu penah menjadi tempat yang teristimewa untukku. Terima kasih sekali lagi dan salam hangat untuk keluargamu yang tercinta disana, semoga sehat selalu.



Pamekasan, 14 Maret 2019
Farida Mutia .A


Continue reading [Catatanku] Surat untuk Seseorang yang Pernah Singgah Lalu Pergi (PART 2)

Kamis, 04 April 2019

, ,

[Resensi Buku] REPRESI - Fakhrisina Amalia


Judul Buku : Represi
Penulis : Fakhrisina Amalia
Editor : Tri Saputra Sakti
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama


Sinopsis 

Awalnya hidup Anna baik-baik saja.

Meski tidak terlalu dekat dengan ayahnya, Anna punya seorang Ibu dan paara sahabat yang setia sejak SMA, para sahabatnya yang mendampingin Anna, memahami gadis itu melebihi dirinya sendiri. 

Namun, keadaan berubah ketika Anna mulai menjauh dari para sahabatnya. Bukan hanya itu, hubungan dia dengan ibunya pun memburuk. Anna semakin hari menjadi sosok yang semakin asing. Tidak ada yang tau apa yang terjadi pada Anna, hingga pada suatu hari, dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya  yang ternyata penuh luka. 

Resensi

"Manusia itu seperti gunung es, yang bersembunyi selalu jauh lebih besar daripada yang kelihatan. Ketika mengalami peristiwa yang nggak menyenangkan dan menimbulkan emosi, kita selalu punya dua kecenderungan; untuk menekannya ke bagian tersembunnyi di dalam diri kita atau mengeluarkannya--ke luar diri kita." -hal. 199


Sebelum saya membahas buku ini izinkan saya sedikit memberikan ilmu mengenai judul dari buku karya kak Fakhrisina Amalia ini. 

Menurut Sigmund Freud, Represi adalah ketika kamu berusaha memendam dan melupakan suatu kejadian dengan menggunakan fungsi mekanisme pertahanan diri agar ketika manusia menghadapi situasi traumatis secara terus-menerus, dirinya dapat berlindung dari kecemasan dengan cara mempertahankan dirinya. Freud mengatakan bahwa represi adalah mekanisme pertahanan diri yang paling dasar.


Represi ditunjukkan dalam bentuk mengubur perasaan-perasaan cemas, mengancam, kehendak yang tidak sesuai harapan, serta keinginan yang mengganggu ke alam bawah sadar. Gejolak tersebut disingkirkan supaya tidak muncul ke alam sadar. Represi dapat muncul sepanjang hidup.
(Source : PijarPsikologi)

Nah, setelah kita mengetahui makna dari judul novel di atas kita bisa mengerti inti dari cerita buku ini. Saat aku mengetahui kak Fakhrisina Amalia membuat novel baru aku langsung tertarik untuk mencari tau dengan melihat beberapa resensi dari goodreads, lalu tanpa berpikir lagi aku memutuskan untuk membelinya. 

Membaca buku represi terutama bertemu dengan tokoh Anna sejujurnya serasa bercermin pada diri sendiri. Mungkin perasaan dan pemikiranku tidak sekompleks milik Anna, tapi aku bisa memahami bagaimana perasaan Anna di dalam cerita meski sudut pandang dalam novel ini menggunakan sudut pandang ketiga. Dia adalah sesosok perempuan yang seperti kehilangan gairah hidupnya setelah percobaan bunuh dirinya gagal dan berbagai kejadian menimpa dirinya. Hingga akhirnya dia dibawa ke seorang psikolog yanng ibunya rekomendasikan untuknya. dr. Nabila adalah tokoh yang sangat penting bagi perkembangan si tokoh utama dan terbukti dengan perannya sebagai seorang psikolog yang sabar dan tenang dalam menghadapi Anna untuk bisa terbuka sedikit demi sedikit dengan pendekatan secara psikologis. Dari sini aku jadi tau banyak tentang berbagai macam bimbingan/terapis konseling yang ada meski aku sendiri pernah di posisi Anna. 

"Bersahabat tidak berarti harus selalu bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Kadang-kadang bersahabat adalah tentang tetap saling menjaga dan mendukung ketika jauh. Bersahabat adalah tentang tetap bisa bertemu tanpa canggung dan seperti tidak pernah berjauhan. Bersahabat itu soal hati, bukan soal fisik." hal. 70

Sahabat-sahabat Anna yang bahkan dengan supportive-nya bersedia melakukan apapun demi kebahagiaan Anna. Ini adalah salah satu hal yang membuatku iri dengan persahabatan mereka. Mereka juga adalah tokoh - tokoh penting dalam perkembangan karakter Anna sendiri. Bagaimana mereka bisa saling memahami dan menerima bagaimanapun kondisi Anna tanpa bersikap berbeda.

Pergantian alur maju dan mundur yang ada di dalam novel terkesan nyaman untuk dibaca, apalagi penulis sepertinya sengaja memberikan keterangan tahun terjadinya suatu cerita sebelumnya. Jadi kita dibuat tidak bingung dan menebak-nebak ini alur maju atau merupakan alur mundur. 

Berbeda dengan Persona yang merupakan karya Penulis sebelumnya dimana terdapat plot kejutan menjelang akhir cerita, plot cerita dalam Represi tidak terkesan rumit karena konfliknya tentu saja berbeda meski sama-sama membahas tentang salah satu mental illness. 

Sejujurnya membaca buku ini membuatku teringat dengan diriku sendiri beberapa bulan yang lalu, aku pernah berada di posisi Anna, melihat dunia terasa gelap dan tak ada artinya. Represi adalah cerminan untuk orang-orang yang pernah merasa depresi sepertiku. Apalagi ada satu bagian dalam cerita yang benar-benar membuatku berdebar dan tiba-tiba merasakan sakit akan luka lama yang mendadak muncul. Dadaku ngilu sekali setelah menyelesaikann membaca cerita ini. 

"Menolak menerima bahwa kamu merasa seperti itu karena kamu tau seharusnya nggak begitu, juga merupakan bagian dari nggak menerima diri sendiri. Kadang-kadang yang terjadi memang nggak seperti seharusnya dan kita gak perlu menolak atau marah pada diri kita sendiri. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, Anna." hal. 200

Novel ini banyak mengajarkan tentang bagaimana menerima dan memaafkan diri sendiri terhadap diri kita di masa lalu. Bagaimana kita bisa melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda dan tidak selalu terfokus pada diri kita sendiri. Ada banyak makna kehidupan di setiap perkataan yang dilontarkan dr. Nabila. Aku sempat berkaca-kaca dan terharu saat momen Anna berkata jujur dan terbuka mengenai kisah yang selama ini dia tutupi kepada kedua orang tuanya juga pada teman-temannya karena itu merupakan sebuah keberanian yang tidak semua orang bisa melakukannya.

Ada satu kekurangan yang menurutku sedikit bertanya-tanya, mungkin terdengar sepele namun sebelum memulai cerita tiap bab penulis selalu menuliskan setting tempat cerita yaitu Yogyakarta beserta tahun kejadiannya. Meski penulis sudah secara gamblang menuliskan setting ceritanya tapi aku merasa penulis tidak memberikan unsur detail setting yang dimaksud dalam cerita. Misalnya dimana mereka berkuliah atau detail tempat harusnya bisa menunjukkan kalau mereka ada di Yogyakarta. Selama awal cerita hingga akhir aku jujur saja tidak menemukan hal itu. Sebenarnya tidak terlalu mengganggu hanya saja lebih baik penulis bisa memberikan detail latar dan tempatnya walau cuma sedikit, apalagi untuk orang yang tidak tinggal di kota tempat setting diceritakan.

Akhir kata 4,5/5 bintang untuk Represi.

Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada penulis Represi karena sudah membuat cerita dengan tema depresi ini. Karena membacanya sudah membuatku merasa ikut larut dalam kondisi yang dialami dan sekaligus menjadi terapi untuk diriku sendiri. Terima kasih dan ditunggu karya selanjutnya.



Continue reading [Resensi Buku] REPRESI - Fakhrisina Amalia
,

[Catatanku] Surat untuk Seseorang yang Pernah Singgah Lalu Pergi (PART 1)




 Surat Pertama. 

Surat ini aku tujukan untuk dirimu, yang sudah mengajarkan aku bagaimana rasanya mencintai seseorang dan juga merasakan luka untuk pertama kalinya. Terima kasih sudah bersedia memberikan aku sebuah rasa yang begitu asing padaku. Aku yang sendiri, memilih untuk menyendiri hingga kau datang padaku melalui perantara temanku. 

Aku berusaha untuk menolak segala perhatian yang kau tujukan padaku, karena aku terlalu takut untuk jatuh hati dan terluka seperti yang pernah teman-temanku alami. Aku berusaha untuk membangun dinding itu untuk diriku sendiri namun kau masih berusaha mendekatiku, menawarkan berbagai perhatian yang tanpa sadar membuatku terbiasa dan mulai menikmatinya. 

Kau mengajakku ke tempat yang tak pernah aku tuju. Namun maaf, sikapku tampak dingin karena sesungguhnya aku tak tau bagaimana harus menyikapi. Kau menemaniku menanti hujan yang turun. Duduk bersama, sedangkan aku hanya menunduk dan berusaha bersikap dengan tenang saat bersamamu. 

Kau orang pertama yang memberikan sebuah sentuhan lembut di tanganku, menyatukan jemariku dengan dirimu bersama-sama. Bersandar satu sama lain hingga perjalanan terasa begitu singkat bagiku. Aku pernah menandai momen pertama antara kau dan aku di kalender hape. Kedengarannya menggelikan tapi aku menyukainya.

Sebungkus bengbeng selalu menjadi hadiah kecil untukku setelah kau mengantar dan menjemputku setiap saat. Terima kasih, aku tidak tau apa kau menyukainya atau tidak tapi kuharap kau suka.
Terima kasih sudah bersedia menjadi pendengar untuk hobiku yang absurd. Terima kasih sudah mengerti. Apa kau ingat kau pernah memintaku untuk menggambar tokoh kartun dengan kaos Manchester United? Maaf jika dulu membuatmu lama menunggu untukku menyelesaikannya. 

Hingga suatu ketika kehadiranmu perlahan tak dapat kuraih. Intensitas yang membuatku menjadi terbiasa denganmu mulai memudar. Kau memberikan jarak sampai aku kehilangan segala bentuk perhatianmu dan membuatku sadar bahwa aku jatuh cinta disaat luka itu baru saja kau torehkan.
Aku minta maaf karena kealpaanku dalam berucap dan mengungkapkan perasaan. Ada begitu banyak pertanyaan di kepalaku namun tak satupun yang mampu aku katakan. Berulang kali aku melepaskan momen yang bisa membuatku mengatakannya tapi lagi-lagi kebodohanku dan ketakutanku selalu menjadi penghalang untukku. 

Dan yang bisa aku lakukan untuk melepaskan sesak di dada karena perasaan ini hanyalah menangis. Entah berapa kali aku menangis karena merindukanmu tanpa sebab. Hingga puncaknya aku menangis pada suatu study tour di Jakarta kala itu. Yang bisa aku lalukan hanya memandang punggungmu, diam-diam memotret punggungmu dari belakang menyimpannya untuk membuatku merasa baik-baik saja dan cukup. 

Sebuah lagu yang saat itu disenandungkan oleh seorang teman padaku tepat dihadapanku membuat pertahananku lumpuh. Aku tidak kuasa menahan sakit itu, sungguh memalukan karena aku menangis di depan banyak teman-temanku dan juga dia menyadarinya. Tapi aku tak mengatakan apapun dan memilih diam.

Momen-momen kecil di kala itu terasa begitu menyenangkan, membawaku pada harap yang tersisa walau sesungguhnya aku sadar aku sudah kehilanganmu disaat itu juga. 

Selama masa empat tahunku, aku berusaha untuk mengejar hanya bayangmu. Menatapamu dari jauh, bahkan aku hafal nomer plat sepedamu dan terkadang tanpa sadar aku mencarinya di parkiran kampus. Aku bahkan masih menatapmu diam-diam saat kau membawa perempuan lain di bangku belakang sepedamu berulang kali. 

Aku memupuk luka itu dan rasa itu padamu. Meski terkadang aku tak sering memikirkanmu dan harapku kian menipis seiring berjalannya waktu namun jauh di dalam hatiku aku masih mencarimu.
Kau mungkin ingat saat aku pernah mengirimkan surat elektronik melalui pesan di akun media sosialmu. Butuh keberanian luar biasa untukku bisa melakukannya, berusaha untuk meluapkan segala hal yang masih mengganjal di hati dan pikiranku. Dan betapa senangnya aku setelah kusadar kau membalasnya beberapa hari setelahnya. Air mataku mengalir dan jantungku berdebar sangat kencang saat aku aku membaca surat balasanmu. 

Kupikir balasan surat itu sudah cukup meredam perasaanku dan membuatku bisa melangkah maju, namun ternyata hatiku masih tertuju untukmu hingga tanpa kusadari 7 tahun sudah berlalu.

Saat kudengar kau akan memulai hidupmu yang baru dengan seorang wanita pilihanmu itulah saat terakhir aku menangis untukmu. Itulah saat terakhir aku memutuskan untuk mengakhiri perasaan yang selama ini mengganjal di hatiku. 

Doaku untukmu yang kini sudah menjadi seorang suami dan ayah dari keluarga kecilmu sekarang. Kumohon berbahagialah dimanapun kamu berada. 

Terima kasih untuk segala kenangan dan luka yang sudah pernah kau torehkan untukku. Aku belajar bahwa aku pantas bahagia layaknya dirimu saat ini. 

Halo Hatsukoi-san-- begitulah aku menyebutmu dalam hati selama tujuh tahun itu, Terima kasih sudah menjadi yang pertama singgah meski pada akhirnya kau memilih untuk tidak menetap. Aku disini masih mencari kebahagiaanku tanpa embel-embel ada dirimu lagi..
Dari seseorang yang pernah mencintaimu untuk 7 tahun lamanya.
 



Pamekasan, 13-03-2019.
Farida Mutia .A

Continue reading [Catatanku] Surat untuk Seseorang yang Pernah Singgah Lalu Pergi (PART 1)