Kamis, 23 Maret 2017

[RESENSI BUKU] Some Kind of Wonderful




Identitas Buku
Judul Buku        : Some Kind of Wonderful
Penulis                : Winna Efendi
Penyunting        : Hetih Rusli
Desain Sampul  : Sofiani
Tebal Halaman : 360 Halaman
Penerbit             : PT. Gramedia Pustaka Utama

Sinopsis
Liam Kendrick dan Rory Handitama memahami arti kehilangan. Liam pergi ke Sydney dengan dalih menggapai impian sebagai koki, walau alasan sebenarnya untuk menghindari cinta pertama yang bertepuk sebelah tangan. Di lain pihak, Rory sedang berusaha menata kehidupannya setelah suatu insiden membuatnya kehilangan orang-orang yang disayanginya, dan melepaskan impiannya sendiri sebagai pemusik.
Keduanya paham arti berduka, meski belum mengerti caranya. Kesedihan dan kesepian mendekatkan Liam dan Rory sampai akhirnya ada rasa lain yang menyusup. Saat perasaan sudah tak terelakkan, Liam dan Rory terjebak keraguan dan rasa lama masih terlalu kuat untuk dilupakan. Dapatkah dua orang yang pernah mencintai orang lain dengan segenap hati menyisakan ruang bagi satu sama lain?

Ulasan
Novel ini bercerita mengenai seorang Celebrity Chef terkenal di Sydney bernama asli William Sutjiawan a.k.a Liam Kendrick  yang melarikan diri dari tempat kelahirannya untuk mengejar impiannya sebagai koki dan juga cinta pertamanya sekaligus sahabat sejak kecilnya yang bernama Wendy yang akan segera melangsungkan pernikahan dengan adik tirinya sendiri bernama Willem Sutjiawan. Di satu sisi ada Aurora Handitama a.k.a Rory Nicholson yang memilih untuk menjalani hidupnya dengan selalu berduka dan menutup dirinya sendiri sejak kehilangan dua orang yang paling disayanginya di dunia ini yaitu Jay Nicholson dan Ruben Nicholson. Dia bahkan melupakan semua impiannya karena hal itu. Hidup Rory seolah hanya berjalan di satu tempat dan tidak memiliki tujuan hidupnya.
Liam pertama kali melihat Rory saat di studio Network Eleven--  tempat dia bekerja untuk mengisi acara memasak andalannya yang bernama Liam Cook, disana Rory bekerja sebagai salah satu pengisi acara tetap yang bertugas untuk menghibur anak-anak yang bertajuk FUN-TASTIC. Rory yang selalu menampilkan senyum dan tawa dihadapan anak-anak ternyata menyimpan luka di dalam hatinya dan hal itulah yang membuat Liam penasaran dengan sosok seorang Rory. Rasa penasaran itu membuatnya mengunjungi Rory di Klink—sebuah Kafe tepat Rory bekerja paruh waktu disana.
Karena suatu kejadian mereka saling mengenal dan menjadi teman, mereka bahkan melakukan perjalanan kuliner bersama-sama dan menikmati berbagai macam makanan. Lambat laun, Rory dan Liam mulai saling terbuka dengan kehidupan masing-masing di masa lalunya. Tentang kehilangan orang-orang yang sangat dan disukai bahkan bercerita mengenai hal yang tidak disukai dan disukai.
Mereka menjadi semakin dekat hingga tak sadar ada saling ketertarikan diantara keduanya. Namun masa lalu kembali mengikat keduanya dan ragu untuk menatap ke depan. Bagaimanakah kelanjutan kisah Liam dan Rory selanjutnya? Semuanya bisa dibaca di dalam novel ketiga belas Winna Efendi berjudul Some Kind of Wonderful

***

Untuk pertama kalinya aku membaca novel Winna Efendi dengan genre Metropop karena biasanya Winna selalu menampilkan genre novel khas remaja yang sarat akan makna. Namun kali ini berbeda, dan aku cukup menikmatinya. Seperti karya Winna sebelumnya tema yang diangkat dalam novel ini tentang Kehilangan, keluarga, dan bagaimana menemukan kembali namun konteksnya jauh lebih berat dan kelam. Gaya penulisannya masih khas Winna banget dan mudah dicerna seperti novel-novel karya sebelumnya. Setiap kata-kata yang disampaikan ngena dan tanpa maksud menggurui, dan juga yang paling penting quotable banget.

Dunia berada di bawah telapak kakimu. Semoga kau menjejakkan langkah pada setiap bagiannya, dan hidup dengan sebaik-baiknya.” (hal. 319)

“Semasa muda, kita punya kebebasan untuk memimpikan apa yang kita inginkan, tanpa batasan, tanpa alasan, tanpa macam-macam pertimbangan. Makanya kadang impian di masa kecil justru lebih jujur jika dibandingkan ambisi-ambisi kita setelah dewasa. Mereka merefleksikan apa yang benar-benar kita inginkan, dari lubuk yang paling dalam.” (hal. 316-317)

“Kekuatan bukan dilihat dari seberapa sedikit air mata yang diteteskan, atau dari seberapa banyak kau pernah merasa goyah. Kekuatan ada pada diri orang-orang yang tetap bangun dan menjalani setiap hari meski hal terakhir yang ingin mereka lakukan adalah hidup. Kekuatan datang dari senyuman mereka yang bersedih, dari orang-orang yang telah kehilangan segalanya namun telah kehilangan segalanya namun tetap bertahan.” (hal. 303)

“Bisa bertemu dengan belahan jiwa dan menyadarinya itu adalah sebuah berkah. Tapi untuk mendapatkan kesempatan kedua setelah kehilangan semuanya adalah keajaiban. Nggak semua orang seberuntung itu.” (hal. 290)

Aku selalu suka deskripsi tempat yang dipaparkan oleh Winna, dia menggambarkan kota Sydney dengan rinci dan indah, juga yang membuatku kagum adalah penggunaan deskripsi tiap makanan dan jajanan yang ada di dalam novel, hei itu benar-benar bikin aku lapar dan ingin mencoba  memakannya. Winna juga menggunakan dua sudut pandang pertama yaitu dari Liam dan juga dari Rory dengan memberikan font yang berbeda sehingga kita bisa membedakan mana yang dari Liam POV dan Rory POV. Karakter-karakternya tidak semuanya lovable, aku menyukai Daphne dan Angelo serta Pasangan suami Istri pemilik Homey—Stan juga Julie yang menjadi tokoh pendukung namun memberikan andil yang penting untuk kemajuan cerita.
Dan Rory, at first I kinda hate her tapi lambat laun aku mengerti bagaimana rasanya kehilangan orang yang disayanginya. Jujur saja aku pernah berada dalam kondisi seperti dirinya namun tidak sampai seduka yang dialami. Aku juga sangat suka perkembangan dari tokoh utama dari yang benar terpuruk hingga mampu bangkit dan melangkah ke depan. Plotnya rapi hingga tidak ada yang terasa mengganjal yang perlu dijelaskan lagi.
Kekurangan dari novel ini adalah typo. Aku tidak tau apakah penggunaan “[-]” yang memisahkan kata merupakan salah satu EYD atau berada dalam KBBI, jika benar aku tidak mempermasalahkannya namun jika tidak itu cukup mengganggu. Aku menemui hal serupa dalam novel ini bahkan lebih dari lima kali. Aku memang mempermasalahkan Typo, aku bisa mentolerir adanya satu atau dua typo tapi kalau melebihi itu jujur saja aku tidak begitu menyukainya.
Dan, ada suatu paragraf dalam cerita yang membuatku gagal paham maksudnya atau memang aku sendiri yang gak ngerti....

“Ketika meninggalkan gedung apartemen itu, aku melihat tirai jendela unit nomer enam di lantai delapan tersibak sedikit, dengan siluet seseorang di baliknya. Tak lama kemudian, lampunya berubah gelap. Aku berlalu dengan senyum di wajahku.” (Hal.181)

Rada parno juga baca bagian itu meski aku sendiri gak mau bayangin yang tidak-tidak.  Hahaha *abaikan
Akhir kata, terlepas dari ke-typo-annya yang mengurangi keindahan di dalam novel ini ada banyak hal yang bisa dipetik dari kisah Rory dan Liam, penyesalan terkadang datangnya selalu terlambat namun kita masih punya banyak kesempatan untuk memperbaikinya. Empat bintang untuk novel Kak Winna yang kece ini J


Keluarga tidak hanya terdiri atas orang-orang yang sedarah, Liam. Orang yang menganggap satu sama lain keluarga pun memilikinya.” (Hal. 218)



Minggu, 12 Maret 2017

[Catatan] Kisah Sepotong Hati yang Patah



Kusebut dia adalah seseorang yang pertama kali mengajarkan padaku bahwa cinta bisa begitu menyenangkan dan menyedihkan di saat yang bersamaan. Dia yang datang padaku, mengulurkan tangannya padaku disaat kesendirian selalu menjadi teman setiaku. Dia memberikan senyuman dan kepercayaan diri yang sedari dulu kutelan habis hingga tak bersisa. Dia yang melihatku tanpa memandang aku sebagai sesosok yang menyedihkan. Dia adalah awal tak dari segala suka dan lukaku.

Aku berusaha percaya bahwa cinta tidak seburuk tangisan teman-temanku yang hatinya patah dan terluka, bahwa cinta bisa saja tak pernah memandangmu serupawan apa dirimu saat itu. Bahwa setiap perhatian yang ditujukan untukku adalah sebuah ketulusan yang membuatku ingin selalu merasakan kenyamananmu tanpa akhir. Namun aku terlalu tenggelam pada keraguan-raguanku, pada rasa takutku, pada egoku hingga pada akhirnya dia memilih menyerah dan pergi secara perlahan tanpa memberikan alasan.

Aku tersentak, penyesalanku tak akan pernah merubah apapun. Aku ingin bertanya alasan atas kepergiannya, namun bibirku terasa kelu untuk berbicara. Berulang kali aku melewatkan berbagai macam kesempatan saat bersamanya, berulang kali juga aku menyesal kenapa aku tak bisa mengutarakannya. Padahal ada begitu banyak kata yang telah kurangkai dalam otakku, namun tetap saja tak pernah ada satupun kata yang keluar. Aku hanya menunduk di hadapannya, memainkan kata-kata dalam pikiran hingga bungkam pada akhirnya menjadi pilihanku atas dasar terlalu takut mendengar jawabannya.

Aku lalu menyadari bahwa perasaanku sudah terlanjur jatuh begitu dalam kepadanya. Aku seorang diri, hanya ditemani suara isakan tangis yang tertahan dari dalam kamar gelap karena merindukannya. Aku hanya bisa meratapi kebodohanku sendiri, penyesalanku sendiri, hingga lelah dan tertidur.

Kupandangi dirimu dari jarak pandang jauh, punggungmu yang dipeluk oleh perempuan lain dari belakang saat kau dan dia sedang berboncengan. Kubaca setiap kata romantis kalian dari media sosial yang membuatku semakin merasakan sakit yang tak berkesudahan.

Sudah ada begitu banyak kisah yang diutarakan padaku mengenai dirimu dari teman-temanku. Namun hatiku tetap bergeming, masih dengan kamu dan perasaanku. Kuakui bahwa terkadang aku membenci perlakuanmu terhadapku, aku benci betapa cepatnya kamu maju melangkah sedangkan aku masih tertatih bersama dengan kenangan yang kau buat untuk pertama kalinya padaku. Kusadar bahwa perlakuanmu bukan sepenuhnya salahmu, ini juga salahku.

Tolong maafkan aku yang masih egois menyukaimu hingga waktu berganti dan memisahkan kita sedemikian rupa. Tolong maafkan aku karena masih menyimpan begitu banyak kenangan kebersamaan kita dan membiarkannya terbuka hingga kini. Tolong maafkan aku yang masih saja ingin tahu kabarmu dari teman-temanku.

Suatu ketika menjelang kelulusanku ada suatu tekad yang muncul di dalam diriku, aku ingin mengutarakannya padamu di hari kelahiranmu yang ke-23. Sudah sekian lama kita tidak pernah dipertemukan sejak kau memilih untuk pergi. Aku mengirimimu sebuah surat pribadi di akun media sosialmu, yang berisi mengenai perasaanku yang selama ini kupendam dan alasan kepergiannya. Berhari-hari aku menunggu balasannya sampai suatu ketika kamu membalasnya. Aku hanya bisa menangis setelah membacanya, ada perasaan lega namun tak sepenuhnya lega. “Jika memang aku terlalu baik untukmu kenapa kau malah pergi dan tidak menetap? Apakah kamu masih belum cukup baik untukku?” Tapi setidaknya ini bisa mengurangi sedikit bebanku yang selama ini kutanggung seorang diri.

Sejujurnya, setelah waktu berganti aku berhasil menekan perasaanku terhadapmu semenjak saat itu. Namun aku masih belum berhasil menyembuhkan lukamu begitu saja. Luka itu belum mengering hingga kini. Aku berusaha untuk membuka hatiku perlahan pada laki-laki lain, tetapi pada akhirnya semuanya berujung pada dirimu yang masih belum kulupakan sepenuhnya.

Hingga suatu ketika kudengar kabar dirimu yang akan bersanding dengan seorang wanita pilihanmu di pelaminan. Seketika hatiku mencelos, luka itu kembali, rasa sakit itu datang lagi. Kau akan berbahagia sedangkan aku masih diam di tempat yang sama. Ini salahku, bukan salahmu.

Kumohon, untuk dirimu yang selama ini masih mendiami hati yang kuletakkan di dasar tak berujung… berbahagialah.

Kau pantas mendapatkannya, dia pantas mendapatkanmu. Urusan lukaku biarlah aku yang menanggungnya seperti biasanya.



Tolong doakan diriku juga, yang berharap kebahagiaanku akan segera datang menyusulmu. Terima kasih untuk segala yang telah kau berikan untukku, terima kasih telah menjadi pelajaran hidup pertamaku akan mencintai dan meninggalkan.


15/02/17
13.33 WIB

Farida Mutia Agustin

Jumat, 06 Januari 2017

[Resensi Buku] Persona oleh Fakhrisina Amalia






Identitas Buku
Judul Buku          : Persona
Penulis                 : Fakhrisina Amalia
Penyunting         : Tri Saputra Sakti
Desain Sampul  : Orkha Creative
Tebal Halaman  : 248 Halaman
Penerbit              : PT. Gramedia Pustaka Utama

Sinopsis
Namanya Altair, seperti salah satu bintang terang di rasi Aquila yang membentuk segitiga musim panas. Azura mengenalnya di sekolah sebagai murid baru blasteran Jepang yang kesulitan menyebut huruf L pada namanya sendiri.
Azura merasa hidupnya yang berantakan perlahan membaik dengan kehadiran Altair. Keberadaan Altair lambat laun membuat perasaan Azura terhadap kak Nara yang sudah lama dipendam pun luntur.
Namun, saat dia mulai jatuh cinta pada Altair, cowok itu justru menghilang tanpa kabar. Bukan hanya kehilangan Altair, Azura juga harus menghadapi kenyataan bahwa orangtuanya memiliki banyak rahasia, yang mulai terungkap satu demi satu. Dan pada saat itu, Kak Nara-lah tempat Azura berlindung.
Ketika Azura merasa kehidupannya mulai berjalan normal, Altair kembali lagi. Dan kali ini Azura dihadapkan pada kenyataan untuk memilih antara Altair dan Kak Nara.

Ulasan.
Novel ini bercerita tentang Azura, seorang anak SMA biasa-biasa saja yang penyendiri dan tidak memiliki teman sama sekali selama hidupnya karena dia terbiasa menjaga jarak dari kehidupan sosial. Tidak ada yang tau jika kehidupannya tidak biasa-biasa saja saat berada di dalam rumah. Karena sering mendengar pertengkaran kedua orang tuanya dan tidak tau bagaimana caranya meluapkan emosi dan perasaannya akibat pertengkaran mereka akhirnya dia selalu memiliki kebiasaan untuk melampiaskannya dengan cara menyayat lengan kirinya sendiri dengan cutter, maka tak heran jika ada beberapa bekas sayatan di lengannya.

Kehidupan Azura sedikit berubah saat dia berteman dengan Altair yang merupakan siswa baru di sekolahnya. Meski awalnya Azura tidak menyambut baik kehadiran Altair, namun lambat laun Azura merasa kehadiran Altair membuatnya merasa tidak sendirian lagi, dia bahkan tidak menyayat lengannya lagi sejak bertemu Altair. Azura sampai rela membuat bekal berlebih demi bisa membagikannya dengan Altair. Altair menjanjikan bahwa dia akan selalu ada untuk Azura yang membuatnya memberikan harapan pada kehidupannya yang berantakan. Kepada Altair-lah Azura menceritakan seluruh keluh kesahnya, tentang keluarganya juga tentang Kak Nara, kakak kelas yang selama setahun belakangan ini menjadi perhatiannya dan membuatnya memiliki kebiasaan untuk melihatnya bermain sepak bola dari balik kaca jendela perpustakaan saat jam istirahat.

Ketika Azura memilih untuk bersama Altair setelah mengakui perasaannya sendiri, tiba-tiba Altair menghilang. Dia tidak bisa dihubungi dan bahkan sekolah seolah merasa tidak kehilangan sosok seorang Altair, Azura kembali kehilangan semangat hidupnya. Namun seiring berjalannya waktu dia perlahan menata kehidupannya lagi meski tidak dapat dipungkiri dia masih memikirkan sosok Altair. Menginjak bangku kuliah Azura bertemu dengan Yara-- seorang perempuan enerjik jurusan arsitektur yang pada akhirnya menjadi teman perempuan pertamanya sekaligus sahabatnya. Kehidupan Azura perlahan semakin membaik setelah mengenal Yara, ditambah lagi tanpa disangka Abang yang selama ini sering Yara ceritakan ternyata adalah Kak Nara. Azura semakin dekat dengan Kak Nara juga dengan seluruh keluarga Yara.

Hingga suatu ketika Altair kembali di kehidupan Azura setelah sekian lama menghilang. Kembalinya Altair membawa berbagai teka – teki yang membuat hidup Azura menjadi rumit.

++++

Sebenarnya gak sengaja masuk list buku yang dibeli karena ngeliat review dari instagram hingga akhirnya iseng buka Goodreads buat nyari tau lebih banyak tentang buku ini. Dan setelah membelinya butuh waktu beberapa hari untuk bisa menyelesaikan buku ini, entah kenapa. Hati saya ikutan tersayat saat melihat adegan Azura sang tokoh utama dalam cerita yang menyayat lengan kirinya menggunakan cutter untuk melampiaskan rasa sakit pada hatinya ketika kedua orangtuanya bertengkar. Seolah saya sendiri juga ikut mengalami betapa perihnya rasa sakit yang dialami oleh Azura.

Rasa perih itu biasanya membantuku menghilangkan semua rasa sesak yang muncul. Biasanya, rasa perih itu yang kucari agar perasaan tidak menyenangkan di hatiku pindah. Itu yang bisa kulakukan, memindahkan rasa sakit di hati menjadi rasa sakit yang lebih nyata—menjadi rasa sakit fisik.” (hal. 14)

Awal cerita saya merasa cerita Persona terkesan biasa-biasa saja, bahkan saya sempat berhenti beberapa lama sebelum akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan baca. Saya sangat suka gaya bahasa yang dbawakan oleh penulisannya meskipun ini buku pertama yang saya baca dari penulis, penuturan yang disampaikan rinci dan terkesan luwes, dan alurnya yang rapi sampai saya tidak sadar selama membaca bahwa terdapat plot twist didalamnya. Sebenarnya secara sadar penulis sendiri memberikan beberapa petunjuk mengenai arah cerita yang akan dibawanya, namun karena saya terlalu hanyut dalam cerita dan terlalu fokus dengan sudut pandang dari sang tokoh utama saya melewatkan beberapa petunjuk tersebut. Tidak terlihat plot cerita yang kosong karena semuanya sudah dijelaskan satu-persatu dengan runtut dan tidak mengganggu jalannya cerita.

Saya merasa berkaca pada diri saya sendiri saat berkenalan dengan Azura, si tokoh utama. Jujur saja saya pernah memiliki sesuatu hal yang sama dengan Azura namun dalam tahap yang tidak berlebihan, makanya tidak mengherankan jika ada beberapa hal yang mendasari kesamaan saya dengan tokoh utama. Saya suka persahabatan antara Azura dan Nayara yang memiliki kepribadian bertolak belakang dengannya, bahkan dalam keadaan seperti apapun Yara akan selalu membuka tangannya lebar-lebar untuk Azura.

“Kata orang, seringkali kita bersahabat dengan seseorang tanpa tahu kapan persahabatan itu dimulai. Tiba-tiba sudah bersahabat, tiba-tiba sudah begitu dekat. Tapi saat menjabat tangan Nayara hari itu, saat melihat senyumnya, dan binary-binar di sepasang matanya, aku seolah mengalami momen klik. Saat itu aku seolah diberi keterampilan untuk melihat masa depan, dan masa depan itu aku dan Nayara menjadi dua orang yang bersahabat.” (hal. 132)

“karena sesuatu itu yang bikin kamu ‘hidup’. Sesuatu yang bisa kamu sebut passion. Sesuatu yang bikin jiwa kamu penuh, hati kamu penuh, yang selalu ada buat kamu kapanpun kamu mau. Aku kasih tau ya, Azura. Passion itu kadang lebih powerful daripada cinta. Yah, mungkin berlebihan, tapi seenggaknya passion nggak bakalan mengkhianati dan meninggalkan kamu. Passion juga bakal bilang dia sudah nggak jatuh cinta sama kamu lagi.” (hal. 136)

“Jangan menahan dirimu sendiri untuk melakukan sesuatu karena aku atau siapapun, Azura-chan. Aku, bahkan siapapun, tidak ada yang benar-benar akan bersamamu selamanya. Jadi jangan berhenti melakukan sesuatu yang ingin kau lakukan hanya karena orang lain. Kau harus hidup untuk dirimu sendiri. Jadi, saat aku pergi, atau saat orang lain pergi, kau tidak akan merasa kehilangan dirimu sepenuhnya. Kau akan tetap berbahagia.” (hal. 188)

Saya juga menyukai tokoh kak Nara yang pada awalnya seperti tokoh pendukung namun seiring berjalannya cerita dia menjadi tokoh yang sangat penting dan terlihat lebih matang dalam menyikapi segala hal. Terlebih dengan segala hal pengorbanan yang telah dia lakukan demi Azura.

Sebenarnya ada banyak hal yang ingin saya bahas dalam buku ini, namun mengingat akan menimbulkan banyak spoiler yang bertebaran s
epertinya saya harus bisa menahan diri. Buku ini memberikan banyak pelajaran yang bisa diambil, terutama untuk para remaja. Oh iya, epilog dalam cerita ini benar-benar membuat saya heboh setelah menutup bukunya.

Akhir kata, saya menikmati buku ini dan tentu saja penulis benar-benar memberikan kesan yang bagus terhadap saya selaku pembaca yang tentu saja ingin mencoba membaca karya-karya lain miliknya. Lima Bintang untuk buku yang kece ini J

“Semua pasti berlalu. Suatu hari nanti kau akan tiba pada suatu titik dimana kau akan bangga pada dirimu hari ini, Azura-chan. Jadi kuatlah.” (Hal. 187)





Selasa, 02 Agustus 2016

[INDONESIAN LYRIC] Nissy - Wagamama (Selfish)






Japanese

あの日 あなたに 言いかけた言葉
わたしの中に 隠してよかった
嘘ついてないよ 言い訳もないよ
頬に溶ける雪
答えのない日々 求めもしないのに
涙のわけに背中向けて
今より 過去から笑顔ばかり
探すのはどうしてかな
変わらない思いと 変わりゆく景色
最後のワガママをあの日告げてたら
あなたは答えを迷っていたでしょ
未来 まだ重ならなくていい
あなたがくれた冬色の靴
今年もわたしをキレイに彩るの
大丈夫の証 並べて歩けば
雪が濡らすよ
今はどこにいるの?連絡しなくていいよ?
気になるのが趣味なのは自由でしょ
でもやっぱ いいそびれた言葉は
夜空には消えないみたい
とどめた思いと止まらない時間
最後のワガママを内緒にしてるのは
あなたは嘘さえつけない人だから
優しさがふたりを 切り裂くよ
答えは言わないで 伝えたいだけだよ
それ以上はいらない
だけど人はきっと 欲深いものだね
もっともっと 欲しくなくなる
変わらない思いが 降り積もる景色
小さなワガママを 今告げようとしたのに
あなたはただそっと抱きしめてくれる
そばにいてのわたしを包むように
つつむように



Romaji

Ano hi anata ni iikake ta kotoba
watashi no naka ni kakushi te yokatta
uso tsuite nai yo īwake mo nai yo
hō ni tokeru yuki
kotae no nai hibi motome mo shi nai noni
namida no wake ni senaka muke te
ima yori kako kara egao bakari
sagasu no wa dōshite ka na kawara nai omoi to kawariyuku keshiki
saigo no wagamama o ano hi tsugete tara
anata wa kotae o mayotte i ta desho
mirai mada kasanara naku te ii
anata ga kure ta fuyu shoku no kutsu
kotoshi mo watashi o kirei ni irodoru no
daijōbu no akashi narabe te aruke ba
yuki ga nurasu yo
ima wa doko ni iru no? renraku shi naku te ii yo?
ki ni naru no ga shumi na no wa jiyū desho
demo yappa iisobire ta kotoba wa
yozora ni wa kie nai mitai
todome ta omoi to tomara nai jikan
saigo no wagamama o naisho ni shiteru no wa
anata wa uso sae tsuke nai hito da kara
yasashi sa ga futari o kirisaku yo
kotae wa iwa nai de tsutae tai dake da yo
sore ijō wa ira nai
dakedo hito wa kitto yoku fukai mono da ne
motto motto hoshiku naku naru
kawara nai omoi ga furitsumoru keshiki
chīsana wagamama o ima tsugeyo u to shi ta noni
anata wa tada sotto dakishime te kureru
soba ni i te no watashi o tsutsumu yō ni
tsutsumu yō ni



Indonesian Lyric

Kata-kata yang ingin aku ungkapkan padamu di hari itu
Aku senang aku tidak mengatakannya
Aku tidak bohong, tidak ada keberuntungan dan tidak ada alasan
Salju yang mencair di pipiku
Tiap hari tidak ada jawaban dan bahkan mereka tidak menanyakannya
tapi di punggungku, ada tangisan
Begitu bodoh, tapi saat ini aku hanya tersenyum dan mengatasi masa lalu
Aku ingin tahu apa aku sekarang bisa melihatnya
Pemandangan dan emosi yang tidak berubah
Jika aku mengatakannya di hari itu, keegoisanku
kau pasti tidak akan bisa menjawabnya
Kau tidak perlu mencocokkan berbagai hal, tapi masih ada harapan
Sepatu musim dingin yang kau berikan padaku membawa warna dalam diriku
Tahun ini, adalah warna kesukaanku
Tidak apa-apa berjalan bersisian denganmu
Karena saljunya licin
Dimana kau sekarang?
Kau tidak harus terus berhubungan denganku
Jika kau luang mungkin aku akan bertanya apa hobimu saat ini?
Hei, tetap saja masih ada kata-kata yang ingin aku katakan padamu sayangku
karena ini tidak akan menghilang di langit malam
Waktu tidak menghentikan perasaanku terhadapmu
Ini akan menjadi yang terakhir, perasaan tersembunyi ini yang menyebabkan aku egois
karena diantara semua orang, kau tidak pernah berbohong
Aku ingin membagi kelembutan ini untuk kita berdua
Aku hanya ingin mengatakan padamu bahkan tanpa jawaban
Bahwa aku tidak ingin lagi
Tapi bagi orang lagi, ini adalah ketamakan
Tapi seperti orang lainnya, aku ingin lebih dan lebih
Perasaan dan pemandangan yang tidak berubah
Meskipun ada sedikit keegoisan di dalam diriku saat ini
Tapi semua yang bisa kau lakukan hanyalah memelukku dengan lembut
Aku ingin diselimuti olehmu 
dan meraihmu 



Source :
Lyric and English Translation by
 

The Journal of Faridamutiaa Template by Ipietoon Cute Blog Design