Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Mei 2021

,

[RESENSI BUKU] FISH IN THE WATER - Lee Chanhyuk

Judul Buku : Fish in the Water

Penulis : Lee Chanhyuk

Editor : Ruth Priscilia Angelina

Tebal Halaman : 176 Halaman

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama 

 

Sinopsis

Kesedihan, harapan, idealisme, pertanyaan-pertanyaan... Seon memiliki semuanya. Ia bertekad mencari panutan, seseorang yang ia anggap layak menjawab segala pertanyaannya tentang seni dan hidup. Ia bertemu Hae-ya suatu hari, dan gadis itu mengubah cara pikirnya selama ini.

Hae-ya bagai peri kecil yang terombang-ambing di laut tanpa kepastian dan tanpa pedoman dalam menjalani hidup. Namun itulah Hae-ya, memikat dengan caranya sendiri.

Meski bukunya tidak terlalu tebal, tapi dampaknya membekas di benak. Mungkin setelah selesai, pembaca justru bertanya-tanya, apakah arti semua ini. Yang jelas, pembaca mampu menyelami sedikit pikiran Lee Chanhyuk lewat buku ini.

Sumber : Gramedia Instagram

Ulasan

Alasan membeli buku ini karena ini karya Lee Chanhyuk AKMU, salah satu duo grup kakak adik korea yang tiap merilis karya-karyanya selalu sopan masuk telinga. Perilisan album “Sailing” tahun 2019 itu berbarengan dengan perilisan buku debutnya judul “Fish in the water” yang merupakan salah satu judul lagunya AKMU di Album Sailing. Apalagi buku ini memulai debutnya sebagai salah satu debut buku yang laris manis di pasaran dan disukai di Korea sana.  Saat tau Gramedia membawa buku ini ke versi Indonesia tanpa ragu langsung saja pesan. Oke segitu dulu sesi curcolnya, maaf kalau intronya kebanyakan. Haha..

PERINGATAN !!

RESENSI INI MENGANDUNG BEBERAPA SPOILER!! YOU'VE BEEN WARNED BEFORE

 Saat awal membaca halaman pertama buku Fish in the water saya sudah merasa nuansa di dalam novel ini muram dan sendu. Karena kita langsung dibawa pada sang tokoh yang bernama Seon dari sudut pandang kisahnya. Seon sendiri disini digambarkan sebagai seorang seniman atau lebih tepatnya dia juga bagian dari musisi yang sedang melakukan perjalanan untuk menjadi dan mencari arti dari “Seniman Sejati”. Di tengah perjalanannya ke sebuah pulau, dia bertemu dan menyelamatkan seorang perempuan dari ganasnya hantaman ombak di atas kapal yang sedang dinaikinya. Perempuan itu bernama Hae-ya.

“Terkadang, orang-orang lupa apa yang harus mereka takuti. Karena itulah mereka takut pada hal-hal yang remeh. Contohnya, seorang anak kecil yang takut dikucilkan, atau orang-orang yang takut tidak sempat menyelesaikan pekerjaan mereka pada waktu yang ditentukan.” (Hal. 75)

Bersama Hae-ya, Seon seolah menemukan bagian dari dirinya yang hilang selama ini. Mereka akhirnya melakukan perjalanan bersama. Berbagi kisah dan pandangan hidup. Bagi saya, hal yang menarik dari buku ini adalah sosok Hae-ya itu sendiri. Hae-ya adalah sosok yang penuh misteri dengan pemikiran out of the box-nya. Dia juga suka melakukan hal-hal gila yang menurut Seon tidak umum dilakukan oleh kebanyakan orang, tapi Seon menyukai itu semua. Bagi Seon, Hae-ya adalah musiknya. Tapi bagi Hae-ya laut adalah musiknya. Hae-ya mencintai laut hingga dia sampai meletakkan impiannya di sana. Tak salah jika Seon menyebut bahwa tokoh utama dalam kisah ini adalah Hae-ya sedangkan dia adalah tokoh pendukungnya dan pelengkap kisahnya. Karena memang begitulah adanya. Sampai akhir pun sosok Hae-ya masih penuh teka teki, seolah penulis sendiri sengaja melakukannya dan membiarkan pembaca menginterprestasikan sendiri seperti apa Hae-ya yang sebenarnya.

Seon menceritakan seorang Hae-ya dengan keindahan. Tak heran kita terkadang dibawa hanyut dalam kata-katanya yang penuh damba terhadap wanita yang membuatnya jatuh cinta itu. Tapi di satu sisi kita juga dibuat ikut merasakan perasaan Seon yang dijungkirbalikkan pada kenyataan yang tengah dihadapinya.

“Orang-orang menunggu dan menginginkan sesuatu yang positif, tetapi pada kenyataannya, mereka lebih mementingkan gangguan-gangguan remeh. Mereka hanya mengejar hal-hal negatif!” (hal. 120 -121)

Buku ini penuh dengan filosofi dalam memaknai arti kehidupan. Kau akan dibawa menyelami kata demi kata indah nan puitis yang membuatmu berpikir dan bertanya mengenai segala macam hal yang terjadi di hidup kita. Sejujurnya sungguh tidak menyangka Chanhyuk bisa membuat buku seperti ini, aku tidak meragukan kejeniusannya dalam membuat musik dan menulis lirik yang mampu menggugah hati pendengarnya. Karena aku juga baru tau kalau Chanhyuk sendiri tidak begitu suka membaca dan menggemari buku, tapi di buku debutnya ini Chanhyuk sukses membuat saya sebagai pembacanya mengagumi bagaimana dia membagikan pandangan hidupnya serta dengan pemilihan kata yang tak kalah indah. Dia juga menggambarkan detail ceritanya dengan sangat baik.

Oh iya, selain mengambil sudut pandang Seon buku ini juga mengambil sudut pandang Yangi di salah satu babnya pada alur maju. Yangi sendiri adalah seorang yang memutuskan untuk menarik diri dari hiruk pikuknya manusia dan keramaian kota. Saat sedang dalam pencarian tempat baru, disitulah dia bertemu dengan Seon dan café “Bintang Kecil”-nya di pinggir pantai. Bagi Yangi, Seon adalah seseorang yang rapuh. Dan hanya dari sorot matanya saja Yangi tau ada kesedihan yang tertahan di sana. Dari situ, Yangi menjadi teman Seon dengan harapan dia bisa membantunya bangkit dalam melewati semua yang telah dilalui selama ini.

Sub bab dari buku ini adalah judul-judul lagu di dalam Album Sailing, bahkan Chanhyuk meletakkan beberapa penggalan lirik lagu di sana yang memang berhubungan dengan ceritanya. Mungkin bagi sebagian orang buku ini akan susah dipahami, karena jujur saja saya harus membaca buku ini sampai dua kali dalam satu waktu dan mengulang beberapa bagian untuk bisa mencernanya. Sayangnya buku ini terlalu singkat, tapi ditutup dengan meninggalkan kesan yang mendalam bagi pembacanya. Akan ada berbagai pertanyaan yang terbersit dalam pikiranmu setelah kamu menyelesaikan novel ini. Karena ini buku terjemahan jadi saya berharap tidak mengurangi makna dari bahasa aslinya. Saya sampai penasaran apakah buku aslinya juga sepuitis buku terjemahannya. Haha.

“Hidup dan mati tidak bisa dibedakan berdasarkan pengertian penegasan atau penyangkalan, tetapi dengan naluri. Jika seseorang merasa kematian bukan ‘akhir hidup’ seperti yang dipikirkan sebagian orang, maka taka da alasan bagi kita untuk berkabung baginya.” (Hal. 147)

Direkomendasikan saat membaca buku ini sambil mendengarkan lagu-lagu Akmu di dalam Album Sailing biar lebih feel aja bacanya. 4/5 Bintang untuk Fish in the Water .

 

Continue reading [RESENSI BUKU] FISH IN THE WATER - Lee Chanhyuk

Senin, 23 Maret 2020

,

[RESENSI BUKU] BREAK EVEN - MORRA QUATRO


Judul Buku :  Break Even
Penulis : Morra Quatro
Editor : Dewi Fita
Penerbit : Bookslife.co

Sinopsis

Setahun usai kepergian William Hakim, Karla dihampiri berita bahwa sejumlah pihak sedang mencari laki-laki itu. Satu demi satu rahasia tentangnya pun meluap ke permukaan. Tentang nama orang-orang terdekat Will yang tak pernah Karla dengan, tentang apa yang ia lakukan selama menghilang, bahkan tentang kematiannya yang kini diragukan semua orang. William Hakim, sang enigma, si jenius Fisika yang Karla pikir dikenalnya baik, telah meninggalkan jejak yang panjang..

Termasuk kepada Karla

Jejak itu kemudian membawa Karla kepada Nicolas, kakak Will. 

Resensi

"Kamu tidak perlu harus tetap hidup untuk menghasilkan energi yang begitu besar, dan itulah Will. Dia sebuah Pendulum, dengan energi yang begitu besar semasa hidupnya. Demikian besar sehingga ayunannya dapat bertahan selama ini." Nicholas Hakim (Hal. 47)

Aku masih ingat saat pertama kali membaca buku pertamanya yang berjudul Forgiven, tidak berekspektasi apapun saat itu. Namun menjelang akhir cerita perasaanku seolah campur aduk tak karuan. Seolah masih ada yang harus diluruskan dan belum cukup. Betapa emosionalnya aku saat itu menghadapi akhir seorang William Hakim yang sungguh tak terduga. 

Bertahun berlalu dan sosok seorang William Hakim masih dan sungguh sangat tidak terganti hingga tahun kemarin Kak Morra akhirnya menuliskan kembali kisahnya ke dalam buku prequel-nya yang berjudul Break Even. Walau aku tidak mengikuti PO awal buku tapi seenggaknya di tahun ini sembari menjalani masa karantina karena wabah Corona aku memutuskan untuk membeli dan langsung membacanya. Sebenernya butuh waktu bagiku untuk menyelesaikannya karena kesibukan di dunia nyata dan juga karena aku masih ingin lebih lama menikmati kehidupan William semasa berada di Boston. 

Oke, sekian curhatnya mari kita lanjut untuk membahas novel Kak Morra ini. 

Break Even dimulai dari kedatangan dua orang anggota federal di Kediaman Karla. Mereka mengatakan sedang mencari seseorang bernama Chester Winston beserta temannya yang tak lain dan tak bukan adalah William Hakim. Karla hanya tau bahwa William sudah tiada dalam eksekusi setahun yang lalu dan dia tidak tau siapa sosok Chester Winston yang kelak diketahuinya adalah salah seorang sahabat William yang ikut andil dalam berbagai kejadian bersama. 

Setelah Kepergian mereka Karla berinisiatif untuk bertemu dengan Nicholas Hakim--Kakak William Hakim. Mereka bertemu di Mount Hope Cemetery, tempat William bersemayam. Melalui Nicholas kepingan-kepingan rahasia yang selama ini tersembunyi tersingkap satu persatu.  Juga tentang rahasia di balik soal yang diberikan tiga orang profesor MIT kepadanya di perpustakaan saat itu. 
Tentang Nicholas dan segala rahasia yang ingin ditutupi untuk dirinya sendiri. 

"Namun ketika ketakutan terbesar kita terjadi, tibalah kita pada titik dimana sudah tak ada lagi yang perlu ditakutkan. Segalanya lepas dari genggaman." -Hal. 18


Cerita Break Even menggunakan dua sudut pandang. Sudut pandang pertama sebagai Karla yang mana bercerita pada saat ini sedangkan sudut pandang ketiga melalui alur mundur yang menceritakan tentang masa-masa kehidupan William Hakim. Perpindahan alur tidak begitu memusingkan karena kita bisa tau dari awal tiap bab alur apa yang dipakai. Kak Morra juga menyelipkan ilustrasi gambar miliknya sendiri untuk membantu pembaca dalam mengilustrasikan cerita. Ditambah dengan segala teori ilmu fisika hingga sains yang berseliweran dijelaskan dengan nyaman dan mudah dipahami oleh seseorang yang tidak suka fisika. Apalagi salah satu inti cerita mengenai salah satu teori fisika yang menjadi klimaksnya.  Menjelang akhir cerita kita disuguhkan dengan kisah ikatan persaudaraan antara Nicholas dan William. Membuat hati ini ikut merasakan emosi yang sama. Betapa berartinya sosok seorang William Hakim di matanya. 

Plotnya rapi dan runtut, seolah kak Morra sudah tau kemana dan seperti apa kisah ceritanya dibawa.  Juga bagaimana setiap tokoh memiliki peran yang cukup andil dalam ceritanya. Mungkin yang sedikit disayangkan tentang kehadiran sosok Noel yang merupakan kelompok sahabat Chester, Yun Cho, Aldair tidak begitu dieksplor sebanyak Yun Cho juga Aldair. Dan berbagai nama yang sempat dibahas hanya sebagai sedikit selingan saja. 

Ada unsur agama dan kejadian pengeboman WTC yang masih akan dibahas sedikit disini karena 
Dan memang kisah William Hakim benar-benar ditutup dengan indah sesuai porsinya. Cukup. Melengkapi segala kerahasiaannya yang dia bawa bersama mimpi-mimpinya. 

"Pada akhirnya, dia benar-benar menjalani hidup yang bebas. William tetap lebih bebas daripada semua orang yang kukenal saat ini. Dan dia tetap tumbuh sebagai pohon. Dia hidup dengan lengan-lengan menggapai matahari, dan mati menjadi lembar kertas yang harum. Layaknya halaman buku yang gemar dihirupnya di hari-hari masa kecil kami yang cerah, dan sycamore yang meneduhinya selama berbaring dalam peristirahatan ini. (Hal 280)

Akhir kata, 4,9/5 bintang untuk Break Even

Terima kasih untuk kak Morra yang sudah menghidupkan kembali kisah William. 

Continue reading [RESENSI BUKU] BREAK EVEN - MORRA QUATRO

Kamis, 04 April 2019

, ,

[Resensi Buku] REPRESI - Fakhrisina Amalia


Judul Buku : Represi
Penulis : Fakhrisina Amalia
Editor : Tri Saputra Sakti
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama


Sinopsis 

Awalnya hidup Anna baik-baik saja.

Meski tidak terlalu dekat dengan ayahnya, Anna punya seorang Ibu dan paara sahabat yang setia sejak SMA, para sahabatnya yang mendampingin Anna, memahami gadis itu melebihi dirinya sendiri. 

Namun, keadaan berubah ketika Anna mulai menjauh dari para sahabatnya. Bukan hanya itu, hubungan dia dengan ibunya pun memburuk. Anna semakin hari menjadi sosok yang semakin asing. Tidak ada yang tau apa yang terjadi pada Anna, hingga pada suatu hari, dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya  yang ternyata penuh luka. 

Resensi

"Manusia itu seperti gunung es, yang bersembunyi selalu jauh lebih besar daripada yang kelihatan. Ketika mengalami peristiwa yang nggak menyenangkan dan menimbulkan emosi, kita selalu punya dua kecenderungan; untuk menekannya ke bagian tersembunnyi di dalam diri kita atau mengeluarkannya--ke luar diri kita." -hal. 199


Sebelum saya membahas buku ini izinkan saya sedikit memberikan ilmu mengenai judul dari buku karya kak Fakhrisina Amalia ini. 

Menurut Sigmund Freud, Represi adalah ketika kamu berusaha memendam dan melupakan suatu kejadian dengan menggunakan fungsi mekanisme pertahanan diri agar ketika manusia menghadapi situasi traumatis secara terus-menerus, dirinya dapat berlindung dari kecemasan dengan cara mempertahankan dirinya. Freud mengatakan bahwa represi adalah mekanisme pertahanan diri yang paling dasar.


Represi ditunjukkan dalam bentuk mengubur perasaan-perasaan cemas, mengancam, kehendak yang tidak sesuai harapan, serta keinginan yang mengganggu ke alam bawah sadar. Gejolak tersebut disingkirkan supaya tidak muncul ke alam sadar. Represi dapat muncul sepanjang hidup.
(Source : PijarPsikologi)

Nah, setelah kita mengetahui makna dari judul novel di atas kita bisa mengerti inti dari cerita buku ini. Saat aku mengetahui kak Fakhrisina Amalia membuat novel baru aku langsung tertarik untuk mencari tau dengan melihat beberapa resensi dari goodreads, lalu tanpa berpikir lagi aku memutuskan untuk membelinya. 

Membaca buku represi terutama bertemu dengan tokoh Anna sejujurnya serasa bercermin pada diri sendiri. Mungkin perasaan dan pemikiranku tidak sekompleks milik Anna, tapi aku bisa memahami bagaimana perasaan Anna di dalam cerita meski sudut pandang dalam novel ini menggunakan sudut pandang ketiga. Dia adalah sesosok perempuan yang seperti kehilangan gairah hidupnya setelah percobaan bunuh dirinya gagal dan berbagai kejadian menimpa dirinya. Hingga akhirnya dia dibawa ke seorang psikolog yanng ibunya rekomendasikan untuknya. dr. Nabila adalah tokoh yang sangat penting bagi perkembangan si tokoh utama dan terbukti dengan perannya sebagai seorang psikolog yang sabar dan tenang dalam menghadapi Anna untuk bisa terbuka sedikit demi sedikit dengan pendekatan secara psikologis. Dari sini aku jadi tau banyak tentang berbagai macam bimbingan/terapis konseling yang ada meski aku sendiri pernah di posisi Anna. 

"Bersahabat tidak berarti harus selalu bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Kadang-kadang bersahabat adalah tentang tetap saling menjaga dan mendukung ketika jauh. Bersahabat adalah tentang tetap bisa bertemu tanpa canggung dan seperti tidak pernah berjauhan. Bersahabat itu soal hati, bukan soal fisik." hal. 70

Sahabat-sahabat Anna yang bahkan dengan supportive-nya bersedia melakukan apapun demi kebahagiaan Anna. Ini adalah salah satu hal yang membuatku iri dengan persahabatan mereka. Mereka juga adalah tokoh - tokoh penting dalam perkembangan karakter Anna sendiri. Bagaimana mereka bisa saling memahami dan menerima bagaimanapun kondisi Anna tanpa bersikap berbeda.

Pergantian alur maju dan mundur yang ada di dalam novel terkesan nyaman untuk dibaca, apalagi penulis sepertinya sengaja memberikan keterangan tahun terjadinya suatu cerita sebelumnya. Jadi kita dibuat tidak bingung dan menebak-nebak ini alur maju atau merupakan alur mundur. 

Berbeda dengan Persona yang merupakan karya Penulis sebelumnya dimana terdapat plot kejutan menjelang akhir cerita, plot cerita dalam Represi tidak terkesan rumit karena konfliknya tentu saja berbeda meski sama-sama membahas tentang salah satu mental illness. 

Sejujurnya membaca buku ini membuatku teringat dengan diriku sendiri beberapa bulan yang lalu, aku pernah berada di posisi Anna, melihat dunia terasa gelap dan tak ada artinya. Represi adalah cerminan untuk orang-orang yang pernah merasa depresi sepertiku. Apalagi ada satu bagian dalam cerita yang benar-benar membuatku berdebar dan tiba-tiba merasakan sakit akan luka lama yang mendadak muncul. Dadaku ngilu sekali setelah menyelesaikann membaca cerita ini. 

"Menolak menerima bahwa kamu merasa seperti itu karena kamu tau seharusnya nggak begitu, juga merupakan bagian dari nggak menerima diri sendiri. Kadang-kadang yang terjadi memang nggak seperti seharusnya dan kita gak perlu menolak atau marah pada diri kita sendiri. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, Anna." hal. 200

Novel ini banyak mengajarkan tentang bagaimana menerima dan memaafkan diri sendiri terhadap diri kita di masa lalu. Bagaimana kita bisa melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda dan tidak selalu terfokus pada diri kita sendiri. Ada banyak makna kehidupan di setiap perkataan yang dilontarkan dr. Nabila. Aku sempat berkaca-kaca dan terharu saat momen Anna berkata jujur dan terbuka mengenai kisah yang selama ini dia tutupi kepada kedua orang tuanya juga pada teman-temannya karena itu merupakan sebuah keberanian yang tidak semua orang bisa melakukannya.

Ada satu kekurangan yang menurutku sedikit bertanya-tanya, mungkin terdengar sepele namun sebelum memulai cerita tiap bab penulis selalu menuliskan setting tempat cerita yaitu Yogyakarta beserta tahun kejadiannya. Meski penulis sudah secara gamblang menuliskan setting ceritanya tapi aku merasa penulis tidak memberikan unsur detail setting yang dimaksud dalam cerita. Misalnya dimana mereka berkuliah atau detail tempat harusnya bisa menunjukkan kalau mereka ada di Yogyakarta. Selama awal cerita hingga akhir aku jujur saja tidak menemukan hal itu. Sebenarnya tidak terlalu mengganggu hanya saja lebih baik penulis bisa memberikan detail latar dan tempatnya walau cuma sedikit, apalagi untuk orang yang tidak tinggal di kota tempat setting diceritakan.

Akhir kata 4,5/5 bintang untuk Represi.

Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada penulis Represi karena sudah membuat cerita dengan tema depresi ini. Karena membacanya sudah membuatku merasa ikut larut dalam kondisi yang dialami dan sekaligus menjadi terapi untuk diriku sendiri. Terima kasih dan ditunggu karya selanjutnya.



Continue reading [Resensi Buku] REPRESI - Fakhrisina Amalia

Kamis, 23 Maret 2017

, ,

[RESENSI BUKU] Some Kind of Wonderful oleh Winna Efendi




Identitas Buku
Judul Buku        : Some Kind of Wonderful
Penulis                : Winna Efendi
Penyunting        : Hetih Rusli
Desain Sampul  : Sofiani
Tebal Halaman : 360 Halaman
Penerbit             : PT. Gramedia Pustaka Utama

Sinopsis
Liam Kendrick dan Rory Handitama memahami arti kehilangan. Liam pergi ke Sydney dengan dalih menggapai impian sebagai koki, walau alasan sebenarnya untuk menghindari cinta pertama yang bertepuk sebelah tangan. Di lain pihak, Rory sedang berusaha menata kehidupannya setelah suatu insiden membuatnya kehilangan orang-orang yang disayanginya, dan melepaskan impiannya sendiri sebagai pemusik.
Keduanya paham arti berduka, meski belum mengerti caranya. Kesedihan dan kesepian mendekatkan Liam dan Rory sampai akhirnya ada rasa lain yang menyusup. Saat perasaan sudah tak terelakkan, Liam dan Rory terjebak keraguan dan rasa lama masih terlalu kuat untuk dilupakan. Dapatkah dua orang yang pernah mencintai orang lain dengan segenap hati menyisakan ruang bagi satu sama lain?

Ulasan
Novel ini bercerita mengenai seorang Celebrity Chef terkenal di Sydney bernama asli William Sutjiawan a.k.a Liam Kendrick  yang melarikan diri dari tempat kelahirannya untuk mengejar impiannya sebagai koki dan juga cinta pertamanya sekaligus sahabat sejak kecilnya yang bernama Wendy yang akan segera melangsungkan pernikahan dengan adik tirinya sendiri bernama Willem Sutjiawan. Di satu sisi ada Aurora Handitama a.k.a Rory Nicholson yang memilih untuk menjalani hidupnya dengan selalu berduka dan menutup dirinya sendiri sejak kehilangan dua orang yang paling disayanginya di dunia ini yaitu Jay Nicholson dan Ruben Nicholson. Dia bahkan melupakan semua impiannya karena hal itu. Hidup Rory seolah hanya berjalan di satu tempat dan tidak memiliki tujuan hidupnya.
Liam pertama kali melihat Rory saat di studio Network Eleven--  tempat dia bekerja untuk mengisi acara memasak andalannya yang bernama Liam Cook, disana Rory bekerja sebagai salah satu pengisi acara tetap yang bertugas untuk menghibur anak-anak yang bertajuk FUN-TASTIC. Rory yang selalu menampilkan senyum dan tawa dihadapan anak-anak ternyata menyimpan luka di dalam hatinya dan hal itulah yang membuat Liam penasaran dengan sosok seorang Rory. Rasa penasaran itu membuatnya mengunjungi Rory di Klink—sebuah Kafe tepat Rory bekerja paruh waktu disana.
Karena suatu kejadian mereka saling mengenal dan menjadi teman, mereka bahkan melakukan perjalanan kuliner bersama-sama dan menikmati berbagai macam makanan. Lambat laun, Rory dan Liam mulai saling terbuka dengan kehidupan masing-masing di masa lalunya. Tentang kehilangan orang-orang yang sangat dan disukai bahkan bercerita mengenai hal yang tidak disukai dan disukai.
Mereka menjadi semakin dekat hingga tak sadar ada saling ketertarikan diantara keduanya. Namun masa lalu kembali mengikat keduanya dan ragu untuk menatap ke depan. Bagaimanakah kelanjutan kisah Liam dan Rory selanjutnya? Semuanya bisa dibaca di dalam novel ketiga belas Winna Efendi berjudul Some Kind of Wonderful

***

Untuk pertama kalinya aku membaca novel Winna Efendi dengan genre Metropop karena biasanya Winna selalu menampilkan genre novel khas remaja yang sarat akan makna. Namun kali ini berbeda, dan aku cukup menikmatinya. Seperti karya Winna sebelumnya tema yang diangkat dalam novel ini tentang Kehilangan, keluarga, dan bagaimana menemukan kembali namun konteksnya jauh lebih berat dan kelam. Gaya penulisannya masih khas Winna banget dan mudah dicerna seperti novel-novel karya sebelumnya. Setiap kata-kata yang disampaikan ngena dan tanpa maksud menggurui, dan juga yang paling penting quotable banget.

Dunia berada di bawah telapak kakimu. Semoga kau menjejakkan langkah pada setiap bagiannya, dan hidup dengan sebaik-baiknya.” (hal. 319)

“Semasa muda, kita punya kebebasan untuk memimpikan apa yang kita inginkan, tanpa batasan, tanpa alasan, tanpa macam-macam pertimbangan. Makanya kadang impian di masa kecil justru lebih jujur jika dibandingkan ambisi-ambisi kita setelah dewasa. Mereka merefleksikan apa yang benar-benar kita inginkan, dari lubuk yang paling dalam.” (hal. 316-317)

“Kekuatan bukan dilihat dari seberapa sedikit air mata yang diteteskan, atau dari seberapa banyak kau pernah merasa goyah. Kekuatan ada pada diri orang-orang yang tetap bangun dan menjalani setiap hari meski hal terakhir yang ingin mereka lakukan adalah hidup. Kekuatan datang dari senyuman mereka yang bersedih, dari orang-orang yang telah kehilangan segalanya namun telah kehilangan segalanya namun tetap bertahan.” (hal. 303)

“Bisa bertemu dengan belahan jiwa dan menyadarinya itu adalah sebuah berkah. Tapi untuk mendapatkan kesempatan kedua setelah kehilangan semuanya adalah keajaiban. Nggak semua orang seberuntung itu.” (hal. 290)

Aku selalu suka deskripsi tempat yang dipaparkan oleh Winna, dia menggambarkan kota Sydney dengan rinci dan indah, juga yang membuatku kagum adalah penggunaan deskripsi tiap makanan dan jajanan yang ada di dalam novel, hei itu benar-benar bikin aku lapar dan ingin mencoba  memakannya. Winna juga menggunakan dua sudut pandang pertama yaitu dari Liam dan juga dari Rory dengan memberikan font yang berbeda sehingga kita bisa membedakan mana yang dari Liam POV dan Rory POV. Karakter-karakternya tidak semuanya lovable, aku menyukai Daphne dan Angelo serta Pasangan suami Istri pemilik Homey—Stan juga Julie yang menjadi tokoh pendukung namun memberikan andil yang penting untuk kemajuan cerita.
Dan Rory, at first I kinda hate her tapi lambat laun aku mengerti bagaimana rasanya kehilangan orang yang disayanginya. Jujur saja aku pernah berada dalam kondisi seperti dirinya namun tidak sampai seduka yang dialami. Aku juga sangat suka perkembangan dari tokoh utama dari yang benar terpuruk hingga mampu bangkit dan melangkah ke depan. Plotnya rapi hingga tidak ada yang terasa mengganjal yang perlu dijelaskan lagi.
Kekurangan dari novel ini adalah typo. Aku tidak tau apakah penggunaan “[-]” yang memisahkan kata merupakan salah satu EYD atau berada dalam KBBI, jika benar aku tidak mempermasalahkannya namun jika tidak itu cukup mengganggu. Aku menemui hal serupa dalam novel ini bahkan lebih dari lima kali. Aku memang mempermasalahkan Typo, aku bisa mentolerir adanya satu atau dua typo tapi kalau melebihi itu jujur saja aku tidak begitu menyukainya.
Dan, ada suatu paragraf dalam cerita yang membuatku gagal paham maksudnya atau memang aku sendiri yang gak ngerti....

“Ketika meninggalkan gedung apartemen itu, aku melihat tirai jendela unit nomer enam di lantai delapan tersibak sedikit, dengan siluet seseorang di baliknya. Tak lama kemudian, lampunya berubah gelap. Aku berlalu dengan senyum di wajahku.” (Hal.181)

Rada parno juga baca bagian itu meski aku sendiri gak mau bayangin yang tidak-tidak.  Hahaha *abaikan
Akhir kata, terlepas dari ke-typo-annya yang mengurangi keindahan di dalam novel ini ada banyak hal yang bisa dipetik dari kisah Rory dan Liam, penyesalan terkadang datangnya selalu terlambat namun kita masih punya banyak kesempatan untuk memperbaikinya. Empat bintang untuk novel Kak Winna yang kece ini J


Keluarga tidak hanya terdiri atas orang-orang yang sedarah, Liam. Orang yang menganggap satu sama lain keluarga pun memilikinya.” (Hal. 218)



Continue reading [RESENSI BUKU] Some Kind of Wonderful oleh Winna Efendi

Jumat, 06 Januari 2017

, ,

[Resensi Buku] Persona oleh Fakhrisina Amalia






Identitas Buku
Judul Buku          : Persona
Penulis                 : Fakhrisina Amalia
Penyunting         : Tri Saputra Sakti
Desain Sampul  : Orkha Creative
Tebal Halaman  : 248 Halaman
Penerbit              : PT. Gramedia Pustaka Utama

Sinopsis
Namanya Altair, seperti salah satu bintang terang di rasi Aquila yang membentuk segitiga musim panas. Azura mengenalnya di sekolah sebagai murid baru blasteran Jepang yang kesulitan menyebut huruf L pada namanya sendiri.
Azura merasa hidupnya yang berantakan perlahan membaik dengan kehadiran Altair. Keberadaan Altair lambat laun membuat perasaan Azura terhadap kak Nara yang sudah lama dipendam pun luntur.
Namun, saat dia mulai jatuh cinta pada Altair, cowok itu justru menghilang tanpa kabar. Bukan hanya kehilangan Altair, Azura juga harus menghadapi kenyataan bahwa orangtuanya memiliki banyak rahasia, yang mulai terungkap satu demi satu. Dan pada saat itu, Kak Nara-lah tempat Azura berlindung.
Ketika Azura merasa kehidupannya mulai berjalan normal, Altair kembali lagi. Dan kali ini Azura dihadapkan pada kenyataan untuk memilih antara Altair dan Kak Nara.

Ulasan.
Novel ini bercerita tentang Azura, seorang anak SMA biasa-biasa saja yang penyendiri dan tidak memiliki teman sama sekali selama hidupnya karena dia terbiasa menjaga jarak dari kehidupan sosial. Tidak ada yang tau jika kehidupannya tidak biasa-biasa saja saat berada di dalam rumah. Karena sering mendengar pertengkaran kedua orang tuanya dan tidak tau bagaimana caranya meluapkan emosi dan perasaannya akibat pertengkaran mereka akhirnya dia selalu memiliki kebiasaan untuk melampiaskannya dengan cara menyayat lengan kirinya sendiri dengan cutter, maka tak heran jika ada beberapa bekas sayatan di lengannya.

Kehidupan Azura sedikit berubah saat dia berteman dengan Altair yang merupakan siswa baru di sekolahnya. Meski awalnya Azura tidak menyambut baik kehadiran Altair, namun lambat laun Azura merasa kehadiran Altair membuatnya merasa tidak sendirian lagi, dia bahkan tidak menyayat lengannya lagi sejak bertemu Altair. Azura sampai rela membuat bekal berlebih demi bisa membagikannya dengan Altair. Altair menjanjikan bahwa dia akan selalu ada untuk Azura yang membuatnya memberikan harapan pada kehidupannya yang berantakan. Kepada Altair-lah Azura menceritakan seluruh keluh kesahnya, tentang keluarganya juga tentang Kak Nara, kakak kelas yang selama setahun belakangan ini menjadi perhatiannya dan membuatnya memiliki kebiasaan untuk melihatnya bermain sepak bola dari balik kaca jendela perpustakaan saat jam istirahat.

Ketika Azura memilih untuk bersama Altair setelah mengakui perasaannya sendiri, tiba-tiba Altair menghilang. Dia tidak bisa dihubungi dan bahkan sekolah seolah merasa tidak kehilangan sosok seorang Altair, Azura kembali kehilangan semangat hidupnya. Namun seiring berjalannya waktu dia perlahan menata kehidupannya lagi meski tidak dapat dipungkiri dia masih memikirkan sosok Altair. Menginjak bangku kuliah Azura bertemu dengan Yara-- seorang perempuan enerjik jurusan arsitektur yang pada akhirnya menjadi teman perempuan pertamanya sekaligus sahabatnya. Kehidupan Azura perlahan semakin membaik setelah mengenal Yara, ditambah lagi tanpa disangka Abang yang selama ini sering Yara ceritakan ternyata adalah Kak Nara. Azura semakin dekat dengan Kak Nara juga dengan seluruh keluarga Yara.

Hingga suatu ketika Altair kembali di kehidupan Azura setelah sekian lama menghilang. Kembalinya Altair membawa berbagai teka – teki yang membuat hidup Azura menjadi rumit.

++++

Sebenarnya gak sengaja masuk list buku yang dibeli karena ngeliat review dari instagram hingga akhirnya iseng buka Goodreads buat nyari tau lebih banyak tentang buku ini. Dan setelah membelinya butuh waktu beberapa hari untuk bisa menyelesaikan buku ini, entah kenapa. Hati saya ikutan tersayat saat melihat adegan Azura sang tokoh utama dalam cerita yang menyayat lengan kirinya menggunakan cutter untuk melampiaskan rasa sakit pada hatinya ketika kedua orangtuanya bertengkar. Seolah saya sendiri juga ikut mengalami betapa perihnya rasa sakit yang dialami oleh Azura.

Rasa perih itu biasanya membantuku menghilangkan semua rasa sesak yang muncul. Biasanya, rasa perih itu yang kucari agar perasaan tidak menyenangkan di hatiku pindah. Itu yang bisa kulakukan, memindahkan rasa sakit di hati menjadi rasa sakit yang lebih nyata—menjadi rasa sakit fisik.” (hal. 14)

Awal cerita saya merasa cerita Persona terkesan biasa-biasa saja, bahkan saya sempat berhenti beberapa lama sebelum akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan baca. Saya sangat suka gaya bahasa yang dbawakan oleh penulisannya meskipun ini buku pertama yang saya baca dari penulis, penuturan yang disampaikan rinci dan terkesan luwes, dan alurnya yang rapi sampai saya tidak sadar selama membaca bahwa terdapat plot twist didalamnya. Sebenarnya secara sadar penulis sendiri memberikan beberapa petunjuk mengenai arah cerita yang akan dibawanya, namun karena saya terlalu hanyut dalam cerita dan terlalu fokus dengan sudut pandang dari sang tokoh utama saya melewatkan beberapa petunjuk tersebut. Tidak terlihat plot cerita yang kosong karena semuanya sudah dijelaskan satu-persatu dengan runtut dan tidak mengganggu jalannya cerita.

Saya merasa berkaca pada diri saya sendiri saat berkenalan dengan Azura, si tokoh utama. Jujur saja saya pernah memiliki sesuatu hal yang sama dengan Azura namun dalam tahap yang tidak berlebihan, makanya tidak mengherankan jika ada beberapa hal yang mendasari kesamaan saya dengan tokoh utama. Saya suka persahabatan antara Azura dan Nayara yang memiliki kepribadian bertolak belakang dengannya, bahkan dalam keadaan seperti apapun Yara akan selalu membuka tangannya lebar-lebar untuk Azura.

“Kata orang, seringkali kita bersahabat dengan seseorang tanpa tahu kapan persahabatan itu dimulai. Tiba-tiba sudah bersahabat, tiba-tiba sudah begitu dekat. Tapi saat menjabat tangan Nayara hari itu, saat melihat senyumnya, dan binary-binar di sepasang matanya, aku seolah mengalami momen klik. Saat itu aku seolah diberi keterampilan untuk melihat masa depan, dan masa depan itu aku dan Nayara menjadi dua orang yang bersahabat.” (hal. 132)

“karena sesuatu itu yang bikin kamu ‘hidup’. Sesuatu yang bisa kamu sebut passion. Sesuatu yang bikin jiwa kamu penuh, hati kamu penuh, yang selalu ada buat kamu kapanpun kamu mau. Aku kasih tau ya, Azura. Passion itu kadang lebih powerful daripada cinta. Yah, mungkin berlebihan, tapi seenggaknya passion nggak bakalan mengkhianati dan meninggalkan kamu. Passion juga bakal bilang dia sudah nggak jatuh cinta sama kamu lagi.” (hal. 136)

“Jangan menahan dirimu sendiri untuk melakukan sesuatu karena aku atau siapapun, Azura-chan. Aku, bahkan siapapun, tidak ada yang benar-benar akan bersamamu selamanya. Jadi jangan berhenti melakukan sesuatu yang ingin kau lakukan hanya karena orang lain. Kau harus hidup untuk dirimu sendiri. Jadi, saat aku pergi, atau saat orang lain pergi, kau tidak akan merasa kehilangan dirimu sepenuhnya. Kau akan tetap berbahagia.” (hal. 188)

Saya juga menyukai tokoh kak Nara yang pada awalnya seperti tokoh pendukung namun seiring berjalannya cerita dia menjadi tokoh yang sangat penting dan terlihat lebih matang dalam menyikapi segala hal. Terlebih dengan segala hal pengorbanan yang telah dia lakukan demi Azura.

Sebenarnya ada banyak hal yang ingin saya bahas dalam buku ini, namun mengingat akan menimbulkan banyak spoiler yang bertebaran s
epertinya saya harus bisa menahan diri. Buku ini memberikan banyak pelajaran yang bisa diambil, terutama untuk para remaja. Oh iya, epilog dalam cerita ini benar-benar membuat saya heboh setelah menutup bukunya.

Akhir kata, saya menikmati buku ini dan tentu saja penulis benar-benar memberikan kesan yang bagus terhadap saya selaku pembaca yang tentu saja ingin mencoba membaca karya-karya lain miliknya. Lima Bintang untuk buku yang kece ini J

“Semua pasti berlalu. Suatu hari nanti kau akan tiba pada suatu titik dimana kau akan bangga pada dirimu hari ini, Azura-chan. Jadi kuatlah.” (Hal. 187)





Continue reading [Resensi Buku] Persona oleh Fakhrisina Amalia

Sabtu, 02 Juli 2016

, ,

[Novel Profile] The Chronicle of Audy





Intermezzo + Review (di akhir paragraf) :
Yaah, jadi begini. Karena saya tipe orang yang tidak pandai mereview buku dan bagi saya buku yang bagus itu buku yang bisa bikin saya nggak bisa menutup buku itu pada pertengahan dan akan menghabiskannya dalam waktu singkat. Jadi boleh dong saya dengan seenaknya cuma ngasih sedikit info mengenai salah satu novel yang saya sukai ini. Dan gambar diatas adalah fanart jelek saya beserta buku dan saya juga tambahkan quotes biar terasa agak kerenan dikit. 
Bolehkan saya sedikit cerita awal baca novel ini? Jadi dulu tau buku ini pertama dari perpusatakaan umum yang ada di daerahku. Kalau nama pengarangnya aku sudah tau lama karena dia pengarang buku favorite-ku. Tapi dulu karena lagi males baca pada akhirnya aku cuma liat doang sinopsisnya. Dan menurutku terlihat biasa - biasa saja. Beberapa tahun berlalu hingga akhirnya di twitter ada kehebohan mengenai buku ini, lebih tepatnya buku ketiga sudah mau terbit. Aku ngeliat banyak banget yang excited nungguin buku ketiganya. Dan juga saat aku tanya adik yang ternyata sudah membaca terlebih dahulu novel ini dari temannya dia bilang novelnya bagus, keren.
Akhirnya saat sempet pergi ke Gramedia aku coba beli seri buku pertamanya (TCoA 4R), niatnya beli nyicil gitu :D Hahaha. Dan begitu buka sampulnya dapet bookmark salah satu tokoh yang bernama ROMEO pake pose V-sign. wkwk. Niatnya mau langsung baca, tapi karena ada beberapa kesibukan akhirnya baru bisa dibaca dua hari setelah beli. Kesan awal baca, tulisannya khas kak Orizuka banget. Terus lama - lama aku buka halaman demi halaman bukunya ternyata ceritanya tambah seru, bahkan bisa bikin ketawa dan kesemsem sendiri. Dan setelah selesai baca buku pertama kesan yang aku dapat adalah "Aku harus beli buku kedua secepatnya." Dan akhirnya buku kedua (TCoA 21) juga berhasil kebeli dengan mendapat bookmark si unyu RAFAEL dengan muka memberengutnya yang menggemaskan. Dan buku kedua ini sukses juga aku selesaikan dalam waktu singkat. Ceritanya tambah seru juga. 
Desperate kepengen buku ketiga dan pada saat yang bersamaan keuangan menipis akhirnya aku nemuin postingan penerbit haru yang merupakan penerbit dari novel Audy. Disana ditulis bakalan ngadain kuis dan dua orang yang beruntung akan  mendapatkan dua buah novel Audy gratis. Iseng - iseng aku coba ikut, mikirnya siapa tau beruntung. Dan seminggu setelahnya ada pengumuman kalau aku menang :D HIP HIP HORE~ Segera setelah itu aku langsung ngirimin identitas beserta alamat rumah. Hampir dua minggu gak ada kabar dan desperate gara - gara gak ada kabar sama buku hadiahku akhirnya seminggu sebelum lebaran buku hadiah ketigaku (TCoA 4/4) sampai dengan selamat. Dan senengnya lagi aku dapat tanda tangan kak Orizuka juga bookmark REX :D /Yaiiy~/ Triple seneng jadinya, kan? Sama seperti buku sebelumnya aku selesai membaca buku ketiga dalam waktu singkat. 
Untuk buku keempatnya (TCoA O2) aku mendapat bookmark REGAN dan lengkaplah koleksi bookmark 4R meskipun minus 1A :( untuk cerita ending-nya sendiri ditutup dengan manis dan bahagia. Perkembangan setiap tokohnya lebih terasa. Selalu aja ada momen kocak dan heartwarming yang kerasa pas dan gak maksa. Bahkan di buku terakhir sampe menitikkan air mata. Selamat untuk shipper #RexAudy akhirnya ship kalian sailing juga. Sedikit sedih karena saya shipper #RomeoAudy, tapi kak Orizuka pada akhirnya menghibur  saya dengan memberikan sedikit harapan untuk penggemar Romeo. Dan sejujurnya saya butuh dosis Romeo x Missy lebih banyaaaak *plaaak*. Bener - bener nggak ngecewain. Seperti biasa kak Orizuka memang paling pinter ngeramu tema cerita yang sudah ada menjadi luar biasa. Tokoh - tokoh yang ada didalamnya memiliki karakteristik yang unik dan juga kuat. Dari novel ini ada pesan yang tersirat bahwa keluarga itu sangat berharga, mau seperti apapun itu tempat yang paling nyaman adalah berada di tengah - tengah keluarga :) Kadang ngerasa hangat sendiri waktu baca novel ini, terharu juga sih ada. Hehe. 
Wahh, sepertinya intermezzo-nya kepanjangan :o baiklah langsung saja yah. 

PERINGATAN!!
Postingan ini mengandung banyak SPOILER, diharapkan yang tidak mengharapkan dan menginginkan SPOILER untuk tidak melanjutkan membaca postingan ini. Terima kasih :) 

Sinopsis cerita : 
Audy Nagisa, seorang Mahasiswi tingkat akhir jurusan Hubungan Internasional di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang saat ini sedang menyusun tugas akhirnya atau yang biasa kita sebut sebagai skripsi tengah bingung dikarenakan kedua orang tuanya menyuruhnya untuk tidak pulang dan mengatakan ekonomi keluarga sedang diujung tanduk. Disisi lain, Audy juga dipusingkan dengan uang biaya kost yang sudah menunggak tiga bulan. Hingga pada akhirnya saat dia iseng mencari lowongan pekerjaan di koran untuk menambah biaya hidupnya Audy menemukan sebuah lowongan pekerjaan menjadi baby sitter. Langsung saja dia mencoba untuk menghubungi nomer telepon yang tertera di iklan tersebut. Dan saat mendatangi rumah tersebut Audy dikagetkan dengan keadaan rumah yang semrawut, ditambah lagi para pemilik rumah yang kesemuanya adalah laki-laki tampan dengan sifat - sifatnya yang unik dan berbeda. Ada Regan Rashad (R1) yang ramah dan sekaligus kepala rumah tangga juga tulang punggung keluarga, ada Romeo Rashad (R2) si hacker gondrong yang jarang mandi namun usil dan moodmaker abis, ada Rex Rashad (R3) si jenius dengan IQ 200 yang dingin dan super cuek, terakhir ada Rafael Rashad (R4) anak umur 5 tahun yang kelewat cerdas dan sedikit 'tsundere'. Bagaimana kisah kronik Audy dalam menghadapi 4R? Jangan lupa baca The Chronicle of Audy Buku 1 - 4 :)

Pengenalan Tokoh
Audy Nagisa (A1)          
                               


"Seperti oksigen, keluarga ada di sekitarmu, di setiap tarikan napasmu, mengalir dalam darahmu. walaupun kamu nggak selalu bisa lihat, tapi kamu tau keluarga selalu ada bersama kamu. Ya, kan?" -Audy Nagisa (TCoA O2)-
Cewek yang berusia 21 tahun ini tengah dipusingkan dengan masalah skripsi yang tengah dihadapinya, ditambah lagi keadaan ekonomi keluarganya yang lagi absurd (?). Untuk meringankan beban keluarganya dia memutuskan untuk mencari kerja sambilan dan akhirnya dipilihlah pekerjaan sebagai Baby Sitter yang menurutnya gampang dan bisa dilakukannya, namun kenyataannya tidak segampang yang dipikirkannya. ternyata dia harus menjaga seorang anak jenius berumur 5 tahun yang menyebalkannya minta ampun. Audy juga merangkap sebagai asisten rumah tangga. Seiring berjalannya cerita Audy tinggal satu rumah dengan 4R dan mereka bahkan menganggap Audy adalah bagian dari keluarga juga. Audy memiliki kepribadian yang ceria, berpikiran positif, namun cenderung bodoh dan konyol. Di sisi lain dia tipe orang yang tidak gampang menyerah dan terkadang terlalu membesar-besarkan suatu masalah. Terlepas dari semua itu tidak dapat dipungkiri bahwasanya Audy merupakan suatu penghubung yang menyatukan setiap tokoh dalam novel TCoA, terutama untuk tokoh 4R sendiri yang sedari awal menjadi topik utama dalam cerita ini.

Regan Rashad (R1)


              
"Jangan lupa Dy, kalau Rex hanya 1/4, 3/4 sisanya juga membutuhkan kamu, sama besarnya." 
-Regan Rashad (TCoA 4/4)-
Si kakak tertua yang juga sekaligus tulang punggung keluarga semenjak kedua orang tua 4R meninggal. Dialah yang bertanggung jawab dalam semua urusan keluarga. Bekerja sebagai seorang pengacara di sebuah firma hukum di Yogyakarta. Penampilan Regan selalu rapi dan bersih. Sifatnya dewasa, ramah, baik, murah senyum dan juga sayang terhadap adik-adiknya, dia bahkan selalu menyempatkan diri pulang ke rumah untuk makan siang bersama dengan saudara-saudaranya. Di sisi lain Regan orang yang selalu perhitungan dalam segala hal, ini dilakukannya untuk menghidupi kebutuhan hidup keluarganya. Regan merupakan tipe lelaki setia, ini dibuktikan dengan kunjungannya setiap hari untuk menjenguk tunangannya yang sudah 2 tahun koma karena mengalami kecelakaan bersama kedua orang tuanya. Setiap hari selama dua tahun itu pulalah dia selalu membawakan mawar merah untuk tunangannya. Jika terjadi perselisihan dalam keluarga Regan lah yang selalu jadi penengah diantara mereka dan selalu berusaha bersikap netral. Regan bahkan tak segan - segan meminta bantuan Audy jika sedang menghadapi masalah dengan ketiga adiknya. 

Romeo Rashad (R2)




"Kamu tau cita-citaku, Au? Lifetime wish-ku? Aku cuma pengin kami terus seperti ini, hidup bahagia, bareng-bareng, selamanya. Tapi kayaknya terlalu muluk, ya." 
-Romeo Rashad (TCoA 4/4)
Si anak kedua dalam keluarga dan seumuran dengan Audy, cowok pengangguran yang kerjaannya selalu di rumah dengan hanya bermain game bersama adiknya Rafael, makan, dan tidur. Dia adalah moodmaker dalam keluarga, sifatnya tidak jauh berbeda dengan Audy yang konyol dan ceria. Romeo sebenarnya tidak bisa dibilang pengangguran juga, ini dikarenakan setiap malam dia selalu begadang dan mengerjakan pekerjaannya sebagai web designer dan segala sesuatu yang berhubungan dengan komputer juga internet. Bahkan Romeo yang menanggung semua biaya listrik dan internet di rumah. Dia seorang gamer, hacker, juga cracker handal. Lulusan UGM Jurusan TI dengan IPK sempurna alias Cumlaude, bisa dibilang Romeo jenius dibidangnya. Rambutnya gondrong, penampilannya urakan bahkan jarang mandi dan keramas hingga membuat rambutnya yang panjang itu sampai ketombean dan memaksa Audy yang harus mengeramasi rambutnya. Kepribadian luarnya yang ceria ternyata berbanding terbalik dengan sifat aslinya yang jarang sekali dia tunjukkan kepada saudara-saudaranya. Dia memiliki banyak sekali kekhawatiran dan ketakutan, terutama yang berhubungan dengan keluarganya sendiri. Dia selalu memendam perasaannya sendiri, hingga membuatnya mengalami susah tidur. Dia sangat perasa dan menganggap bahwa seharusnya keluarga itu berkumpul bersama, tidak berpisah satu sama lain.

Rex Rashad (R3)



"Kamu adalah entitas yang jadi kelemahan sekaligus kekuatanku; yang membuatku merasa lebih hidup."
 -Rex Rashad (TCoA 21)-
Si anak ketiga  umur 17 tahun yang dinginnya minta ampun. Rex cowok yang jenius dengan IQ 200 yang setara dengan B.J Habibie dan suka membaca buku-buku yang sulit dipahami oleh orang kebanyakan. Tipe orang yang berbicara apa adanya dan cenderung sinis tapi misterius. Rex juga orang yang sangat kritis. Dia jago memasak yang dianggap Audy masakan Rex amat sangat luar biasa enak. Memiliki penyakit Asma sejak kecil yang membuatnya tidak bisa diberi kejutan apapun karena akan membuat penyakitnya itu kambuh, bahkan untuk meringankan penyakitnya setiap hari dia selalu lari pagi. Rex orang yang sangat tertutup dibandingkan dengan yang lainnya, Rex selalu punya cara tersendiri untuk mengungkapkan perasaannya yang bahkan caranya bisa bikin orang baper. Dia orang yang membutuhkan logika dalam memahami sesuatu. Meskipun terkadang cara yang dilakukannya sedikit sinis tapi dia orang yang sangat care dan peduli terhadap keluarganya. Rex selalu membuat rencana dalam hidupnya dan sebisa mungkin akan mewujudkan rencananya bagaimanapun caranya. Dia bahkan sudah memasukkan Audy dalam salah satu daftar dari rencana hidupnya. 

Rafael Rashad (R4)




"Bukannya Audy bagian dari keluarga? Kenapa keluarga nggak bisa tinggal bareng?" 
-Rafael Rashad (TCoA 21)-
Si Bungsu umur 5 tahun yang tak kalah jeniusnya dengan Rex bahkan bisa melebihinya. Setiap hari selalu ditemani Romeo bermain game dengan tingkatan yang selevel pemain pro, dia bahkan pernah membaca majalah dewasa sekelas playboy milik Romeo. Karena didikan yang berbeda-beda dari kakaknya Rafael manjadi pribadi anak yang cepat dewasa sebelum waktunya, tapi tidak dipungkiri masih ada sifat anak-anaknya saat berhubungan dengan sesuatu hal yang tidak diketahuinya. Rafael cenderung ketus, individualis, dan terlihat anti sosial. Ini bisa dilihat dari keenggenannya bersekolah dan menganggap teman - teman di TK-nya bodoh karena tidak bisa cepat memahami seperti dirinya. Rafael sangat haus akan pengetahuan dan keingintahuannya sangat besar, sehingga dia selalu membutuhkan jawaban akan setiap pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya selalu ingin tahu. Dia menganggap selama ada kakak-kakaknya dia tidak membutuhkan orang lain. Sangat menyayangi Audy meskipun terkadang sikapnya tidak sopan dan sering membuat Audy sebal. Memiliki perasaan sentimentil terhadap Rex karena tidak tau bagaimana harus bersikap dihadapan kakaknya yang satu itu. Namun seiring berjalannya cerita Rafael dan Rex memiliki ikatan persaudaraan yang cukup dekat yang membuat Audy dan Romeo bahagia.


Oke, sekian postingan gaje saya mengenai salah satu buku novel favorite saya. Saya sangat senang ending dari novel ini berakhir bahagia, semua bahagia, dan saya pun juga *horeee* Saya mengucapkan terima kasih buat kak Orizuka yang sudah menghidupkan karakter 4R1A ke dalam buku yang luar biasa ini, juga untuk penerbitharu yang sudah menerbitkan buku ini dan mendistribusikannya kepada seluruh penggemar buku kak  Orizuka. Dan yang terakhir buat sahabat pena saya Nofie Shiroyuki-chan yang sudah bersedia meluangkan waktunya untuk memotret semua bookmark 4R1A miliknya yang bahkan saya kurang beruntung untuk mendapatkannya :') Akhir kata.... bye bye...


Nb : Gambar fanart 4R1A adalah milik saya, dilarang mengambil atau mintalah izin sebelum mengambil. terima kasih :) 
Continue reading [Novel Profile] The Chronicle of Audy

Sabtu, 30 April 2016

, ,

[Resensi Buku] Melupakanmu Sekali Lagi oleh Kireina Enno




Identitas Buku

Judul     : Melupakanmu Sekali Lagi
Penulis  : Kireina Enno
Tahun    : 2015
Penerbit : GagasMedia
Cetakan : Pertama, 2015

Quotes Favorit


"Jalan satu-satunya adalah menjadi tabah. menyatukan keping yang patah dan merekatnya kuat-kuat. Pada akhirnya aku menjadi baja, saat duka tak lagi pekat." 







Sejujurnya ini resensi buku pertama saya karena sebelumnya saya tidak pernah berani untuk meresensi sebuah buku meskipun saya sangat suka membaca. Mungkin karena saya merasa kemampuan saya dalam menilai suatu karya orang lain tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan yang lain, dan entah kenapa kali ini saya mencoba untuk memberanikan diri untuk melakukannya. Maafkan saya jika ada beberapa yang salah dalam penulisan ini. Mohon maklumi karena saya masih pemula tingkat akut. Dan postingan ini akan menjadi postingan pertama saya di tahun ini setelah sekian lama hiatus menulis *biasanya cuma suka ganti header doang**abaikan* Selamat membaca postingan saya :) 

Sinopsis Singkat

Arai Mahameru (25 tahun) memutuskan untuk pergi ke Surabaya dengan misi untuk mencari Ayah kandungnya setelah dia membuka sebuah kotak rahasia di ruang kerja Ibunya yang berisi kenangan-kenangan dan petunjuk mengenai Ayahnya yang selama ini selalu ditutupi oleh Ibunya sejak kecil, selain misi tersebut Arai melakukannya juga demi menghindari semua hal yang bisa mengingatkannya dengan mantan pacarnya Fira yang memutuskannya dengn alasan ketidakselarasan tujuan mereka. Selama di Surabaya dia bertemu dengan seorang Perempuan penyuka tomat yang sama-sama sedang melakukan misi untuk mencari keluarganya yang telah lama tidak bertemu. 
Di waktu yang berbeda, potongan-potongan cerita mengenai Ibunya di masa lalu dengan seorang laki-laki yang kelak menjadi alasan Arai harus melakukan sejauh ini sedikit demi sedikit terkuak. Mampukah Arai menyelesaikan misinya di Surabaya?

Resensi 
Ini pertama kalinya saya membaca buku karya Kirenai Enno, karena sejujurnya buku ini juga dibeli oleh adik saya dan sudah lama mendiami rak buku selama beberapa bulan *maak kakak*. Judul bukunya terkesan galau, karena ini merupakan seri L.O.V.E Cycle tentang Heart Break. Saya suka pemilihan bahasa dan kata-kata yang ditulis pengarang, meskipun saya merasa tema patah hati yang disampaikan dalam buku ini kurang kuat dan bahkan terkesan sedikit maksa. Pada halaman pertama membaca saya merasa plot cerita terasa lambat dan membuat saya bosan apalagi awal pertemuan Arai dan Adda menurut saya terkesan klise, tipikal novel romance yang sudah banyak terjadi, namun pada saat memasuki pertengahan cerita mulai terlihat menarik, dan menuju ending saya terkesan dengan plot twist yang diberikan. Saya juga tidak terganggu dengan alur maju mundur yang disuguhkan karena ada perbedaan font yang diberikan untuk membedakan setiap alurnya. Good joob deh.
Penambahan ilustrasi gambar di dalam novel menambah daya tarik sendiri bagi saya. Untuk tokohnya saya merasa chemistry antara Arai dan Adda masih belum kerasa di dalam novel dan momen-momen yang mereka lakukan berdua terasa cepat dan tidak begitu memberikan dampak yang besar terhadap perkembangan cerita, justru tokoh Karenina yang tak lain adalah Ibu Arai terkesan kuat. Saya sendiri  terkesan dengan tokoh Sakti. Sebagai tokoh penengah dalam  cerita dia cukup memorable buat saya, mungkin bisa dibilang jarang sekali ada orang seperti dia di kehidupan nyata. 3/5 untuk novel ini, overall okelah untuk bahan bacaan malam minggu saya kali ini :D Mungkin saya akan mencoba untuk membaca karya kakak yang lainnya, ditunggu karya selanjutnya yah Kak :) 
Continue reading [Resensi Buku] Melupakanmu Sekali Lagi oleh Kireina Enno

Jumat, 31 Juli 2015

, , ,

Confession Rehearsal Novel [Bahasa Indonesia 'Bab 4']

Ehem, tolong jangan tanya kenapa ini bisa update lebih cepat daripada biasanya ._. Yang penting bisa update. Dan nggak bosen - bosennya saya ngasih tau kalau terjemahan ini masih jauh dari kata sempurna. Sekali lagi mohon maaf kalau ada beberapa kalimat atau kata - kata yang sedikit rancu. Kedepannya saya janji akan berusaha lebih baik lagi untuk menyempurnakannya. Untuk chapter lima diusahakan bisa cepat seperti ini dan do'akan saya saja semoga malasnya hilang. Akhir kata terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk mengunjungi blog gajes saya dan membaca postingannya yang lebih gajes lagi. Untuk translasi bahasa inggrisnya bisa dilihat disini . Kritik dan saran untuk penyempurnaan terjemahan ini ditunggu. Selamat membaca kisah lika - liku cinta Natsuki dan Yuu :) 

Confession Rehearsal Novel Bahasa Indonesia
Bab 4



——



Hayasaka Akari
Tanggal Lahir: Desember 3
Zodiac: Sagittarius
Golongan Darah: O

Teman dekat Natsuki. Berada di klub kesenian. Memiliki kepribadian yang mudah bergaul, dan senyuman ramahnya membuatnya mendapatkan banyak penggemar, tetapi kenyataannya, dia pribadi yang cukup pemalu.  
——

Latihan 4

Akhir pekan pertama yang sangat sibuk.
Natsuki merasa aneh sendiri karena terlalu gugup sehingga menyebabkannya tidak bisa tidur di malam sebelumnya, tapi pada akhirnya dia bisa juga tertidur, jam alarmnya berbunyi. Dia tidak bisa ingat apa yang terjadi setelahnya, dan ketika dia membuka matanya untuk kedua kalinya, waktu menunjukkan satu jam sebelum waktu pertemuan.
“Sial… aku ingin bangun pagi untuk menghabiskan banyak waktu memilih pakaian apa yang ingin aku pakai, juga…”
Natsuki akhirnya mencoba satu pakaian setelahnya di depan cermin, tapi dia masih belum bisa memutuskan kombinasi pakaian yang pas untuk dipakai pergi.  
‘Aku akan pergi bertemu dengan Yoshida-sensei, jadi aku tidak boleh terlihat terlalu ceroboh…!’
Pesan yang dia terima dari Koyuki setelah pulang sekolah waktu itu adalah sebuah undangan untuk menghadiri acara tanda tangan dengan mangaka yang sangat Natsuki sukai. Ini bukan pergi ke taman bermain, atau ke akuarium atau apapun itu, tapi sesungguhnya, ke sebuah toko buku besar di kota.

Karena dia sangat menantikan ke tempat dimana mereka akan pergi, awalnya dia sedikit terkejut setelah membaca pesannya, tapi jujur, dia sangat bersemangat untuk bertemu dengan Mangaka yang sangat dia kagumi.
Natsuki cepat – cepat mereservasi sendiri untuk acara tanda tangan, dan menunggu hari ini tiba.
“Aku harus pergi dengan pakaian yang terbaik….!”
Dari gunungan pakaian yang menumpuk di kakinya, Natsuki memilih sebuah gaun dengan renda lucu yang mengitari daerah dada.
Dia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan pakaian itu dan langsung membelinya ketika pergi bersama Akari dan Miou.
“Aku tidak pernah benar – benar memakai pakaian seperti ini sebelumnya, tapi… aku bertanya – tanya jika ini yang terbaik.”
Memegang gaun di depan piyama yang dipakainya, dia melihat pantulan dirinya sendiri di cermin. Dia merasa gaun ini membuatnya terlihat lebih bersih dan layak dari biasanya.
“Ini seperti… barang di waktu yang terbatas, aku pikir?”
Tersenyum masam adalah cara mudah untuk situasi saat ini, Natsuki meraih bagian bawah kaus T-nya.
‘Jadi, undangan kencan, huh?’
Dia mendadak teringat dengan kata – kata Miou, dan tangannya membeku.
‘Tidak mungkin.’
Koyuki tidak pernah bilang kalau ini kencan, mereka hanya akan pergi ke acara tanda tangan mangaka. Walaupun mereka berbagi ketertarikan yang sama dalam manga, dia mungkin tidak akan memilih sesuatu yang seperti itu untuk sebuah kencan.
Lagipula, Koyuki tidak akan pernah menyatakan perasaan kepadanya, sepertinya Natsuki terlalu memikirkannya.
Beep beep! Beep beep!
Seolah ingin mengganggu pikirannya, handphone yang dia tinggalkan di atas tempat tidurnya mulai berbunyi.
“Oh, benar, aku memasang alarm.”
Dia bergegas memeriksa jam, dan melihat bahwa hanya tersisa tiga puluh menit.
Tidak ada waktu lagi. Menepuk kedua pipinya, Natsuki dengan anggunnya melepas kausnya.

♥ ♥ ♥ ♥ ♥

“Heeey, Natsuki! Aku kemari untuk mengembalikan game milikmu!”
Saat Natsuki keluar dari pintu depan, seseorang berdiri di depan gerbang memanggil namanya.
Saat – saat mata mereka bertemu, Yuu, yang memegang sebuah softwear panduan dan strategi game, datang dengan berlari.
“Maaf, aku akan pergi. Bisakah kau meninggalkannya di kotak sepatu?”
“Pergi dengan Aida dan Hayasaka?”
‘….H-Huh? Tapi, tidakkah aku terlihat aku sedang berpakaian benar – benar baik hari ini?’
Merasa sedikit tidak nyaman dengan tatapan Yuu, Natsuki menggelengkan kepalanya.
“Tidak, aku akan pergi dengan Koyuki-kun hari ini.”
Saat dia menjawab, rasanya seperti udara disekitar mereka membeku.
Sebuah lipatan terbentuk diantara alis Yuu, dan dia melihat Natsuki dengan tatapan tajam.
“A-Ada apa? Ada yang salah?”
“Apakah Haruki tidak apa – apa dengan ini?”
Suara Yuu keluar seperti sebuah sentakan bernada rendah, menenggelamkan perkataan Natsuki.
Dia tidak mengerti maksudnya, tapi yang jelas Yuu marah.
Lebih marah dari pada yang pernah dia lihat sebelumnya.
Menahan keinginan untuk melangkah mundur, Natsuki balas menatap balik Yuu.
Saat dia melihat tangannya sedikit bergetar, cara dia menggigit bibir bawahnya, dan bagaimana matanya bergerak – gerak seolah – olah balik memperjuangkan sesuatu, Natsuki menyadari bahwa dia telah salah menafsirkannya.
‘Yuu… sedang berusaha untuk tidak menangis?’
Dia sendiri mungkin tidak menyadarinya, tapi bersama dengan kemarahannya, ada emosi lainnya yang berkeliaran disana.
Saat dia menyadari hal itu, dia kehilangan keinginan untuk memberikan jawaban yang kuat.
“Sudah diputuskan bahwa Akari yang akan menggambar untuk filmnya. Jadi ini tidak seperti aku harus bertemu dengan Haruki sekarang atau apapun itu. Lagipula, Koyuki dan aku hanya pergi bersama. Ini tidak ada bedanya jika aku pergi bersama Mochita.”
“Kau tidak terpilih, jadi kau langsung menyerah?”
Saat dia langsung menanyakannya dengan pertanyaan yang tak terduga, Natsuki menahan nafas.
Ini tidak seperti aku menyerah atau apapun. Hanya saja hal ini sudah diputuskan bahwa Akari yang terpilih untuk melakukannya. Dia yakin Yuu mengetahuinya, jadi kenapa dia menanyakan sesuatu seperti ini sekarang?
“Aku tidak… benar – benar mengerti apa yang kau coba katakan….”
“Kau tidak menjawab pertanyaanku. Meskipun kau terlihat begitu bahagia Haruki memujimu… aku tidak pernah melihatmu seperti itu sebelumnya.”
Bahkan saat dia dengan jujurnya mengatakan dia tidak mengerti, Yuu malah terus memaksanya untuk menjawab.
Diliputi dengan kebingungan yang mendera, hanya ada satu hal yang di yakini.
‘Aku benar – benar tidak mengerti apa yang sedang dia bicarakan!’
Apa terjadi sesuatu sebelumnya yang tidak Natsuki sadari? Tidak, tidak ada pesan apapun yang dikirimkannya, dan dia yakin Yuu juga akan menjelaskan padanya sekarang, jika benar – benar terjadi sesuatu.
‘Lalu, apa? Ada apa? Apa yang sedang terjadi disini?!’
Saat Natsuki menahan nafas dengan kebingungan, Yuu mendesah.
Bertanya – tanya apa yang akan dia katakan selanjutnya, dia mengangkat kepalanya, dan melihat tangan yang besar memenuhi pandangannya.
Perasaan tegang mendadak merasukinya, tapi Yuu hanya menepuk kepalanya dengan telapak tangannya.
“Eh? Yuu….?”
Dengan mulut ternganga, dia melihat wajah teman kecilnya itu.
Dia yang sedang berdiri di hadapannya, terlihat hampir seperti seseorang yang berbeda dengan  seulas senyuman dewasa di wajahnya.
“Maaf, itu bukan urusanku, kan?”
Lihat, inilah kenapa aku tidak pernah bisa  mengetahui apa yang membuatmu marah, atau apa yang sedang mengganggumu.
Meskipun hal seperti ini akan terlihaat baik – baik saja selama dia membalasnya, entah kenapa, dia tidak memiliki kekuatan untuk melakukannya.
Yuu menepuk  kepala Natsuki lagi, seperti yang dia lakukan pada adik perempuannya, Hina.
“Bagaimanapun juga, akulah orang yang mengatakan aku akan mendukungmu tidak peduli siapa yang kau sukai,”
Kata – kata yang digumamkan Yuu begitu pelan, berdering jelas di telinga Natsuki.
Namun, dia masih tidak bisa menemukan kata – kata yang tepat untuk membalasnya, dan hanya bisa berdiri terpaku di tempat seolah – olah dia tidak berdaya melakukan apapun. 
“Bukannya kau harus segera pergi? Kau tidak ingin terlambat. Oh, benar, ini ditaruh di kotak sepatu, kan?”
Melambaikan tangannya, Yuu membuka pintu depan rumah Natsuki.
Meskipun ini adalah sesuatu hal yang selalu dia lihat, untuk beberapa alasan, ini membuat dadanya teramat sakit.
‘Apakah Yuu dan aku akan tetap selalu menjadi teman masa kecil…? Apakah kita akan tetap seperti ini selamanya?’
Sejak dia sudah mulai melakukan latihan pengakuan cinta, Natsuki yang setiap hari akan mengatakan pada Yuu “Aku menyukaimu” pada akhirnya akan mengatakan kata – kata yang biasa dia katakana, “Sampai jumpa besok”
Dan setiap kali dia mengatakannya, dia terus berpikir bagaimana dia harus mengatakan pada Yuu yang sebenarnya.
‘Apa yang sudah aku lakukan selama ini…’
Yang dia lakukan selam ini hanyalah melarikan diri darinya. Memanfaatkan hubungan mereka sebagai “Teman masa kecil” dan “Latihan Pengakuan Cinta” sebagai jaring pengamannya, dan membangun dinding sehingga dia tidak akan pernah terluka.
Meskipun dia mencoba untuk menahannya, pada akhirnya, air mata penyesalan keluar juga.
“Aku benar – benar tidak berguna…”
Suara Natsuki tenggelam oleh suara jangkrik yang berbunyi nyaring, tidak mencapai telinga siapapun dan tidak terdengar.

♥ ♥ ♥ ♥ ♥

“Enomoto-san, apa kau baik – baik saja?”
“….Huh?”
Bahunya bergetar di tempat yang sudah dipesannya, dan Natsuki melihat yang lainnya dengan gerakan lambat.
Dia berkedip, dan Koyuki, yang sedang duduk disana terlihat khawatir, berubah fokus.
Sesaat kemudian, suara yang mengelilingi mereka terdengar kembali. Dia bis mendengar suara orang lain berbicara di sekitar mereka.
‘Ini dimana….? Acara tanda tangan… betul, acaranya sudah berakhir.’
Es di gelas yang dipegangnya membuat suara seperti bergeser, dan dia ingat bahwa dia memesan ices café au lait. Karena dia meninggalkannya sendiri untuk waktu yang lama, genangan air telah terbentuk diatas meja tepat dibawah gelas.
“Kau tidak bernafsu makan, huh. Apa ini dikarenakan panasnya musim panas?”
“Tidak, tidak seperti itu! Sepertinya aku hanya lelah dari kegembiraannku bertemu dengan Yoshida-sensei. Maaf karena sudah melamun,”
Karena kata – kata yang dikeluarkannya terlihat begitu alami, bahkan Natsuki yakin bahwa itulah alasannya.
Namun, Koyuki masih terlihat bingung, dan terus menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu. 
“…. Sesuatu terjadi antara kau dan Setoguchi-kun?”
Pertanyaan itu langsung membuat hatinya goyah.
Seperti genangan air, sensasinya menyebar ke seluruh tubuhnya, dan dia mengangguk lemah.
“Ini bukan masalah besar atau apapun itu, tapi…. Hanya saja, aku benar – benar tidak mengerti apa yang sedang Yuu pikirkan akhir – akhir ini.”
“Kau sudah membicarakan hal ini padanya?”
“Tentu saja tidak! Tidak mungkin aku bisa mengatakannya.”
“Tapi kenapa? Ini mengganggumu, kan?”
Natsuki kehilangan kata – kata pada jawaban cepat dan tajam Koyuki.
Apa yang dikatakannya masuk akal, tapi yang mengganggunya adalah fakta bahwa dia tidak tau bagaimana mengatakannya.
Dan yang lebih mengganggunya adalah Koyoku yang begitu mudahnya menyadari keadaannya. Tentu saja, dia cukup pintar untuk berada di tingkat atas pada Try Out Ujian Nasional, sehingga proses pemikirannya sesuai seperti yang diharapkan.
Sekali dia menyadarinya, dia hanya akan melakukannya dan mengatakannya langsung.
‘Seperti bertujuan untuk berada di depan terlebih dulu, daripada hanya mengulurnya, huh.’
“Koyuki-kun… kau banyak berubah. Tidak hanya dari penampilan, tapi kau jadi lebih agrsif, seperti caramu berbicara.”
“Apa kau… berpikir begitu? Jika aku memilikinya, itu karena kau yang memberikanku dorongan dari belakang,”
Seolah – olah dia sedang menceritakan rahasianya, Koyuki merendahkan suaranya.
“Huh? Tunggu, huuuh?! Aku? Tapi aku tidak melakukan apapun!”
“Ahaha! Sudah aku duga kau akan berkata begitu!” 
Koyuki terlihat tampat menemukan sesuatu yang lucu, kepalanya menunduk diatas meja dengan tawanya yang ngakak.
Saat dia mengangkat wajahnya lagi, dia menyeka air mata yang berkumpul di sudut matanya,  meninggalkan Natsuki yang kebingungan.
“Apakah aku mengatakan sesuatu hal yang lucu…?”
“Tidak, aku hanya berpikir betapa berlawanannya ini.”
Setelah meminum dari es teh miliknya, Koyuki melanjutkan perkataannya dengan tenang, seperti dia memberikan solusi untuk rumus matematika.
“Alasan aku berubah karena dirimu, Enomoto-san. Tapi bagimu, alasan tertentu yang menyebabkanku berubah adalah sesuatu yang begitu ‘natural’ sehingga kau tidak begitu memberikan perhatian khusus pada hal ini. Jadi itulah kenapa kau tidak ingat.”
“Apa itu… benar?”
Tidak bisa mengikuti penjelasan Koyuki, Natsuki tidak bisa dengan jujurnya  mengatakan bahwa dia mengerti
Namun, dengan cepat Koyuki mengklarifikasinya.
“Itulah caraku berpikir. Menerapkannya pada situasimu dengan Setoguchi-kun, karena kalian berdua adalah teman kecil, itu sangat ‘natural’ bagimu untuk memahami apa yang orang lain pikirkan. Di sisi lain, itu mungkin yang menyebabkan kalian berdua kehilangan kesempatan untuk berbicara satu sama lain mengenai perasaan kalian.”
Berbicara satu sama lain mengenai perasaan kami…
Saat Natsuki mengulangi kalimat itu, dia merasa kabut yang telah menghalanginya telah hilang.
‘….begitu. Jadi aku terlalu terbiasa dengan yang namanya “natural”
Dia merasa dia tidak memahami percakapan ini, tapi dia ragu – ragu untuk melangkah maju.
Hingga sekarang, dia tidak pernah merasa perlu untuk membicarakan perasaannya, jadi dia selalu mengartikan hal – hal yang semacam ini untuk membuatnya merasa nyaman, dan menjadikannya takut untuk menghadapi kenyataan lagi.
‘Selama ini, kita telah menunda untuk mengkonfirmasi perasaan kami satu sama lain.’
Saat Natsuki duduk diam, Koyuki merespon dengan merendahkan kepalanya.
“Maafkan aku. Sebagai orang luar, tidak seharusnya aku mengasumsikannya…”
“Ah, kau tidak perlu meminta maaf! Sejujurnya, aku berpikir bagaimana kemungkinannya, juga.”
Melambaikan kedua tangannya panik, Natsuki menyarankan mereka untuk melanjutkan makan siang mereka.
“Lebih penting lagi, ayo kita makan pasta selagi masih hangat!”
Koyuki melihat keatas lagi, dan terlihat dia masih ingin mengatakan sesuatu, tapi saat Natsuki menatapnya dengan penuh tanda tanya, dia hanya menggelengkan kepalanya. Ekspresi dari wajahnya terlihat sedikit sedih.
‘Apakah Koyuki merasa bosan padaku…?’
Setelah semuanya, alasan mereka melakukan pembicaraan tadi dikarena Natsuki yang melamun. 
Selain itu, dia merasa Koyuki-kun sudah membantunya menyelesaikan masalah yang telah mengganggunya, tapi karena ini masalah pribadi, dia benar – benar tidak bisa mengatakan padanya lebih rinci.
‘Sekali aku mengatakan pada Yuu bagaimana perasaanku yang sebenarnya, itulah saatnya aku akan mengatakan terima kasih pada Koyuki-kun dengan benar, juga.’
Jika Natsuki yang sudah memberikan Koyuki dorongan dari belakang, jadi kali ini, Koyuki lah yang memberikannya dorongan yang dia butuhkan.
Saat dia mengucapkan terima kasinya, dia akan membiarkannya tau bahwa betapa bersyukurnya dia.
Di saat itu, dia percaya bahwa tidak akan begitu lama sebelum hari yang dinantikannya tiba.

♥ ♥ ♥ ♥ ♥

‘Apa yang aku lakukan, kita sudah di taman….’
Natsuki mendesah pelan di sebelah Koyuki, yang matanya bersinar sangat terang.
Dia senang saat Koyuki mengatakan dia akan mengantarnya, tapi dia tidak menyangka dia bermaksud mengantarnya sampai ke pintu rumahnya.
Dia sudah cukup terkejut saat Koyuki menemaninya sampai di pemberhentian kereta terdekat, tapi saat Kyouki mulai berjalan ke depan, dengan santainya dia mengatakan, “Ayo,” Natsuki yang sudah membatu di tempat tidak bisa melakukan apapun selain mengikuti Koyuki.
‘Bahkan saat aku mengatakan aku akan baik – baik saja karena masih terang, dia sama sekali tidak mendengarkanku.’
Koyuki ternyata keras kepala.
Setelah cukup lama khawatir, Natsuki berani menghentikan langkahnya.
“Koyuki-kun, sungguh, kau tidak perlu mengantarkanku sampai sini… kau tidak ingat saat di stasiun tadi, kan?”
“…. Baiklah. Aku tidak ingin mengganggumu, lagipula.”
Natsuki tersenyum masam pada perkataan jujur Koyuki.
‘Dia sudah begini sepanjang hari…’
Koyuki selalu sopan saat berbicara, tapi hari ini, dia bertingkah seperti pelayan atau ksatria. Dia memperlakukan Natsuki seperti wanita kelas atas atau seorang permaisuri, dia tidak bisa melakukan apapun tapi merasa malu mengenainya.
‘Maksudku, Koyuki-kun benar – benar menjaga semuanya.’
Seolah – olah itu sudah kewajiban, dia akan membukakan setiap pintu untuknya, diikuti dengan menarikkan kursi untuknya, dan bahkan berjalan di sisi trotoar menghadap mobil.
‘Aku merasa tidak enak juga saat dia mengatakan akan membayarkan makan siang, karena dialah yang mengajaknya keluar hari ini,’
Koyuki benar – benar orang yang baik.   
Bahkan jika dia mencoba untuk membalas budi dengan melakukan sesuatupun, dia mungkin tidak akan menerimanya.
Itulah kenapa, untuk saat ini, Natsuki hanya menghadapinya dengan memberikan  senyuman untuk menunjukkan semua rasa terima kasihnya.
“Terima kasih untuk hari ini! Sangat menyenangkan.”
“Tidak perlu berterima kasih. Ini rasanya… seperti mimpi.”
“Ehh? Kau terlalu berlebihan Koyuki-kun.”
Memerikan tawa malu – malu, Natsuki yang menganggapnya sebagai candaan memukul lengan atas Koyuki, seperti yang dia lakukan pada Yuu atau Haruki. 
Walaupun lengannya terlihat kurus dan lembut, dia merasakan ada otot yang tersembuyi disana saat Natsuki memukulnya.
‘Ya, duh, Koyuki-kun juga cowok, kan….’
“Enomoto-san!”
Koyuki tiba – tiba memanggil namanya, dan memegang pergelangan tangannya.
Melihat ekpresi serius di wajahnya, Natsuki menahan nafas.
‘Apakah dia tipe orang yang tidak suka disentuh?’
Dia biasanya melakukannya sedikit lebih kasar pada Yuu dan yang lainnya, jadi itu mengganggu pikirannya. Kemungkinan Koyuki merasa tidak nyaman dengan kontak fisik.
Saat dia berpikir untuk meminta maaf, dia mendengar suara sepeda melaju tepat di belakangnya.
Dia langsung tersentak, dan Koyuki dengan cepat melepaskan tangan Natsuki.
“Ma-maaf! Apa aku menyakitimu?”
“Tidak, aku baik – baik saja. Sebenarnya, aku minta maaf karena memukulmu.”
Saat dia meminta maaf pada Koyuki, Natsuki melihat sepeda dari sudut matanya.
Itu jelas – jelas sepeda perempuan, dengan tas supermarket di keranjang depan. Orang yang mengendarai sepeda juga seorang wanita, dan bukan seseorang yang dia kenal.
“Enomoto-san? Ada apa?”
“Ah, aku baru saja ingat kalau ini adalah jalan yang biasa dia lalui….”
Natsuki tampak terlihat sedang menangkap kebiasaan yang dilakukan Yuu, dan mengatakannya tanpa sadar.
Tapi untuk beberapa alasan, Koyuki memahami apa yang dia maksud, dan membalasnya dengan mengatakan, “Oh, maksudmu Setoguchi-kun.”
Bagaimana dia bisa mengetahuinya?
Sebelum dia bisa mengatakannya, Koyuki memegang lengannya lagi. 
Dia menarik Natsuki ke arahnya, dan kepalanya membentur tepat di tulang selangkanya.
‘Ou, itu pasti sakit….!’
Itulah yang Natsuki pikirkan, tapi Koyuki terlihat tidak terpengaruh. Sebaliknya dia melingkarkan lengan lainnya ke punggung Natsuki, memeluknya tubuhnya.
“Kau tau wajah seperti apa yang baru saja kau buat barusan?”
Dia mendengar suara Koyuki di telinganya, dan mencoba menggeser tubuhnya untuk bisa melihat ke arahnya.
Namun, lengan Koyuki ternyata jauh lebih kuat dari dugaannya, dan yang bisa dia lakukan hanyalah menggerakkan lehernya.
‘Koyuki-kun, apa yang terjadi denganmu? ‘
Diantara kebingungan dan kegelisahan, Natsuki tidak bisa menangkap maksud dari pertanyaan Koyuki.
Seolah tidak sabar dengan sikap diam Natsuki, Koyuki melanjutkan.
“Jika itu aku, aku tidak akan pernah memberikanmu wajah sedih seperti ini. Aku akan berusaha keras untukmu, dan melakukan yang terbaik.
Suara detak jantung Koyuki terdengar jelas di telinga Natsuki.
Detak jantung Natsuki sendiri juga mulai berdetak cepat, benar – benar gelisah seolah – olah dia baru saja selesai melakukan lari cepat. 
Benar – benar menyakitkan.
“Jadi, dibandingkan dengan Setoguchi-kun—“
“Dibandingkan dengan aku, apa?”
Natsuki mendengar sebuah suara dari belakangnya, memotong perkataan Koyuki.
Tidak salah lagi suara itu begitu familiar ditelinganya.
“…Yuu…”
Menarik diri dari Koyuki, yang telah melonggarkan cengkramannya, dia berbalik dengan langkah lambat.
Dengan matahari terbenam yang tepat berada di belakangnya, wajah Yuu memberikan bayangan dan susah terlihat.
Tapi anehnya, terlihat jelas kalau dia marah. Suasana menegang, bahkan terasa menyakitkan jika harus berdiri disana.
“Katakan, Ayase,”
Yuu bertingkah seolah – olah Natsuki tidak ada disana, dan hanya menatap kearah Koyuki. 
Koyuki bahkan tidak goyah, dan hanya mengangguk dengan senyuman di wajahnya.
Merasakan ketegangan yang semakin meningkat, Natsuki mengepalkan ujung bajunya gugup.
“Pernahkan kau mendengar istilah, ‘TPO’? TPO artinya memperhatikan bagaimana cara bertindak yang tepat di waktu, tempat, dan peristiwa tertentu. Ini adalah tempat umum, dimana warga biasa sepertiku bisa berjalan berlalu – lalang. Jika kau begitu santainya mengatakan hal – hal seperti itu di tempat umum, kau akan menyebabkan masalah bagi Natsuki.”
“’Hal – hal seperti itu’?”
Apakah dia benar – benar tidak mengerti, atau dia hanya ingin mengujinya, Koyuki dengan cepat menanyakan pada Yuu apa yang dia maksud.
Yuu berdecak, sesuatu hal yang jarang dia lakukan, dan melangkah mendekati Koyuki.
Maksudku,  jika kau punya waktu untuk bertingkah seperti pacarnya, setidaknya berpikirlah sedikit mengenai perasaannya.”
“…. Tidakkah seharusnya kau mengikuti saranmu sendiri dulu?”
“Tidak perlu.”
Saat Yuu menjawab dengan cepat, senyuman menghilang dari wajah Koyuki.
Matanya melebar seolah terkejut, dan lalu menyipit karena silau.
Tidak bisa menghadapi mereka berdua, Natsuki hanya bisa melihat dalam diam.
“Bolehkah aku tanya maksudnya apa?”
“Ini karena Natsuki dan aku adalah teman kecil… bahkan para tetangga bisa mengkonfirmasi hal ini.”
“Ahh, teman masa kecil. Begitu.”
Koyuki tampak mengejek, dan Yuu terlihat jadi lebih kesal.
Bahkan bagi Natsuki, terlihat seperti Koyuki mencoba untuk memprovokasi Yuu.
‘Kenapa dia bertingkah seperti ini? Apa ini…. Benar – benar Koyuki-kun….?’
Dia tau bahwa dia harus menghentikan mereka berdua, tetapi kakinya tidak bisa digerakkan.
Bahkan saat dia mencoba untuk berteriak, yang mana setidaknya hanya itu yang bisa dia lakukan, tapi suaranya tidak mau keluar.
Semakin tidak sabar dengan tingkah mereka berdua dia harus melakukan sesuatu, semakin dia merasakannya tenggorokannya terasa tercekat.
‘Kumohon, jangan bertengkar….’
Natsuki menatap mereka berdua, berharap dapat menyampaikan pesan itu. Yuu yang pertama menyadarinnya.
Saat mata mereka bertemu, dia terlihat terkejut, dan sedikit demi sedikit, keriput diantara alisnya semakin menjadi.
‘Ta-tapi kenapa? Apakah ini bisa menjadi boomerang?’
Jangan – jangan dia berpikir bahwa Natsuki mencoba untuk membela Koyuki?
Meskipun kepanikan sedang menimpa Natsuki, Yuu mengambil langkah lain di hadapannya.
“Dalam hal apapun, aku tidak akan memaafkan siapapun yang membuat Natsuki menangis.”
Sudah jelas bahwa Yuu yang suaranya terdengar acuh itu tidak dia ditujukan pada ejekan Koyuki.
Menghembuskan nafas yang sedari tadi dia tahan, Natsuki merasa sesuatu yang dingin dan basah menetes turun ke sekitar tulang selangkanya.
‘Tadi itu apa….? Hujan?’
Dia melihat ke atas langit, tapi sebelum dia bisa melihatnya, pandangannya kabur.
Saat dia dengan lemahnya mengangkat tangannya untuk menggosok matanya, dia merasakan ujung jarinya yang basah.
“….H-Huh?”
“Jadi seperti itu, ayo pergi.”
Tanpa menunggu jawaban atau bahkan terganggu untuk menanyakan pendapatnya, Yuu melingkarkan lengannya ke bahu Natsuki dan mulai berjalan.
Dia berusaha mengatakan pada Yuu untuk menunggu, tapi yang bisa dia lakukan adalah sesenggukan menahan tangis.
‘Bodoh, ini bukan waktunya untuk menangis….’
Aku harus meminta maaf pada Koyuki-kun.
Aku harus menyelesaikan kesalahpahaman Yuu.
Meskipun pikirannya sedang kacau, air mata terus saja turun, mencegahnya untuk berbicara.
“Tidak adil bagiku melakukan ini jika kamu tidak berkeinginan untuk bersaing!”
Dia mendengar terika Koyuki, tapi tidak membuat mereka berdua berhenti.
Yang lebih penting lagi, Natsuki tidak yakin kata – kata yang Koyuki ucapkan itu ditujukan kepada siapa.
Saat dia melihat teman masa kecilnya berjalan disampingnya, dia melihat wajah ketidapuasan pada diri Yuu.
‘Jadi… itu tadi ditujukan pada Yuu?’ 
Namun, Yuu tidak memberikan reaksi apapun, dan mulutnya tetap bungkam.
Setelah itu, Koyuki tidak mengatakan apapun lagi, dan Natsuki mendengar suara langkah kaki milik Koyuki saat dia berlari.
‘Kenapa…? Kenapa berakhir seperti ini?’
Menahan isak tangisnya, Natsuki terus menanyakan pertanyaan yang tak terjawab itu di kepalanya.

Matahari terbenam di hari itu benar – benar buruk di matanya.   


Sumber
Terjemahan Bahasa Inggris Bab 4 oleh Renna's Translation


Continue reading Confession Rehearsal Novel [Bahasa Indonesia 'Bab 4']