Tampilkan postingan dengan label Catatanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatanku. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Desember 2021

[CATATANKU] Catatan Akhir Tahun 2021




All photos by pctology 

Sebenarnya aku tidak tau kenapa tiba-tiba terbersit ingin menulis setelah sekian lama aku tidak melakukannya. Jadi, izinkan aku melakukan hal ini di penghujung akhir tahun 2021. Di tahun ini ada beberapa hal yang kulewati, tidak luar biasa, setidaknya aku bisa melakukan sedikit langkah untuk maju. Yah, memang hanya sedikit tapi tidak apa-apa. Setidaknya aku bergerak dari tempatku yang sebelumnya.

Aku membuat sebuah keputusan besar dalam hidupku. Yah, menikah adalah keputusan yang sangat besar aku ambil di tahun ini. Padahal tidak ada sebersit pun di pikiranku untuk mengubah statusku yang telah sekian lama aku sandang sejak lahir. Sejujurnya aku sempat maju mundur untuk melakukannya, ada banyak sekali keraguan dalam proses perjalanannya. Bohong  jika aku tidak merasakan pergulatan batin di sekitarku, apalagi di usiaku di mana berbagai pertanyaan krusial soal pasangan hidup selalu menjadi makanan sehari-hari. Aku tidak pernah berkeinginan untuk menikah awalnya, mengingat ada beberapa faktor yang membuatku merasa aku tidak perlu menikah. Aku tidak cemburu melihat orang-orang di usiaku sudah menikah dan memiliki anak. Apalagi mengingat aku memiliki kenangan tidak baik dengan beberapa kisah asmaraku sebelumnya. Seolah aku tidak membutuhkan pasangan untuk bisa menjalani hidupku. 

Tapi saat seseorang itu muncul di hidupku dan berkeinginan untuk berada di tahap serius denganku, aku mulai berpikir ulang. Karena ini bukanlah keputusan yang mudah untuk orang sepertiku. Di satu sisi aku tidak ingin melepaskannya, namun di sisi lain aku membiarkannya memilih untuk pergi jika ingin. Tapi aku memutuskan untuk maju dan memasrahkan segalanya kepada Allah setelah beberapa kali namanya kurapalkan dalam setiap doaku di setiap akhir sholatku. 

Ada momen aku menangis sangat hebat kala itu, tangisan yang aku sendiri tidak tau alasannya apa. Ingatan-ingatan di masa lalu tiba-tiba saja muncul tanpa sempat bisa aku kendalikan. Betapa kalutnya perasaanku saat itu. Aku ketakutan, aku mengalami kekhawatiran akut. Sebutlah itu bernama Anxiety Disorder. Aku memiliki banyak sekali skenario-skenario buruk yang sudah aku buat di dalam kepalaku dan aku tidak bisa mengendalikannya. Sungguh, aku merasa tidak pernah sekalut itu sebelumnya. Aku akhirnya berani membuka diri dan pergi menemui profesional untuk menceritakan traumaku, sebuah inner child yang tak pernah tuntas dan malah aku biarkan mengendap di dasar.

Memori-memori masa kecil itu muncul kembali saat bercerita, bibir dan tanganku bergetar. Air mataku tumpah ruah dalam mengingat setiap kejadian itu. Aku tak pernah bercerita sebelumnya kepada orang lain kecuali kepada saudara perempuanku. Para monster itu merenggut masa kecilku dan memberikan trauma yang sampai sekarang tak bisa aku maafkan. Berulang kali aku menyalahkan diriku sendiri atas kejadian itu, berulang kali pula aku mengatakan banyak sekali kata pengandaian sebagai bentuk kekecewaan terhadap diriku sendiri yang tak berdaya saat menghadapinya.

Dokter mengatakan padaku untuk belajar memaafkan diri sendiri, tapi tak pernah memberitahuku bagaimana caranya. Apa yang aku harus lakukan untuk bisa mencapai tahap seperti itu? Sedangkan aku terkadang merasa diriku rendah dan menjijikkan. Berpikir bahwa ada seorang laki-laki yang bersedia menerimaku saja adalah sebuah ketidakmungkinan, meski dia tidak tau seperti apa masa laluku.

Aku bahkan tak memiliki keberanian untuk menceritakan hal itu kepada ibuku. Aku merasa sangat bersalah kepada beliau karena bersikap ketus dan tidak dewasa dalam menghadapi pergulatan batinku itu hingga membuat beliau bertanya-tanya perihal sikapku. Maafkan aku ibu, sungguh.. I didn’t mean to hurt you like this but I just can not explain how I felt that time. I feel sorry for my behavior, Mom . Terlepas dari semua itu aku ingin berterima kasih karena sudah menjadi seorang malaikat penjagaku di saat kedua sayapmu dibawa pergi oleh almarhum bapak di Surga sana beberapa tahun silam. Thank you for being a strong mom for your children.

Seorang psikolog menyarankan padaku untuk menulis setiap luka itu sampai detail di sebuah buku catatan untuk meluapkannya dalam bentuk tulisan. Aku melakukannya hingga membuatku harus berulang kali berhenti menulis hanya untuk sekedar menghela nafas sejenak terhadap semua kejadian di masa lalu yang menimpaku. Aku merasa lega setelah menulis semua itu meski masih ada beberapa perasaan yang mengganjal, aku sendiri tidak tau apa. Aku masih belum memiliki cukup keberanian untuk mencari tau lebih dalam. Maafkan aku yang pengecut ini.

Sedikit cerita tentang pasanganku ini, dia tidak setampan para husbu-husbu anime-ku dan juga dedek-dedek gemes korea-ku. Tapi setidaknya dia orang yang bersedia menerima kekuranganku, mendengarkanku tanpa menjustifikasiku seperti apa dan tidak memaksakan kehendaknya. Seseorang yang mengakui ketidaksempurnaannya dan bersedia untuk belajar bersamaku yang tidak sempurna ini. Terima kasih sudah meyakinkan aku untuk membuat komitmen bersama.

Aku tau dia tidak menjanjikan kehidupan yang indah seperti dongeng setelah pernikahan, tapi yang ku tau apapun yang terjadi kita akan melaluinya bersama. Terima kasih untuk memilih tinggal.

Terima kasih juga kepada orang-orang baik yang selalu menjadi support system hebatku. Tanpa kalian semua aku mungkin tidak bisa berada di titik ini. Tolong jangan pernah bosan denganku untuk tahun-tahun selanjutnya.  

Last but not least,

Semoga masih dikasih waktu sama Allah untuk bisa menjalani dan menghadapi tahun 2022 dan selanjutnya bersama orang-orang terkasih. 
Terima kasih kepada setiap pengunjung blog ini yang bersedia untuk mampir dan membaca tulisan tidak penting saya. Semoga kalian semua diberikan keberkahan dan kebahagiaan di tahun depan :) 
Continue reading [CATATANKU] Catatan Akhir Tahun 2021

Rabu, 19 Agustus 2020

[CATATANKU] Mereka yang (Akhirnya) Kupanggil Sahabat


Memories <3
 
Dulu, mungkin sekitar enam tahun yang lalu disaat aku menghabiskan masa-masa Kuliah Kerja Nyata-ku di sebuah desa yang tidak begitu terbelakang dan tentu saja tempatnya nyaman untuk bernaung, aku dan salah seorang temanku menikmati tengah malam di kala kami menyelesaikan sebuah film bersama. Kami mengobrol bersama, berbagi pikiran bersama, membicarakan banyak hal hingga adzan subuh berkumandang.

Salah satu perkataannya pada obrolan kita malam itu akan selalu kuingat bahkan hingga saat ini.

“Suatu saat nanti, aku yakin kamu pasti menemukan seseorang yang bisa kamu panggil sahabat. Mungkin gak sekarang, tapi siapa tau beberapa tahun ke depan kamu akan menemukan mereka yang bisa membuatmu nyaman dan bisa menjadi dirimu sendiri.”

Dulu aku menanggapi perkataannya dengan skeptic, sungguh aku sudah cukup lelah dengan banyaknya kepergian dalam pertemanan. Aku tidak peduli lagi dengan yang namanya sahabat. Begitu lelahnya hingga membuatku muak sendiri. Mereka pergi begitu saja dan begitu kembali kami seolah menjadi asing satu sama lain. Jadi menurutku buat apa?

Waktu kemudian berlalu, aku pernah beberapa kali dekat dengan seorang teman tapi kemudian seperti terjadi seleksi alam dalam pertemanan, ada beberapa jarak yang tak bisa kita hapus seperti dahulu dan begitulah, kembali asing berulang kali. Hingga suatu ketika seorang teman mengumpulkanku kembali dengan mereka.

Aku mengenal mereka, tapi tidak pernah sedikitpun menyangka bahwa suatu saat kami akan menjadi sangat dekat seperti saat ini. Kami memiliki kisah lalu yang hampir sama begitu juga dengan kepribadian. Lalu ada satu orang yang memiliki kepribadian yang amat sangat kontras dengan kami bertiga, aku mengenalnya semenjak sekolah menengah pertama. Dan hanya sekedar mengenalnya tanpa ekspektasi apapun. Kami dipertemukan, berkumpul bersama. Yang awalnya masih terasa canggung, hingga kemudian merasa ada kenyamanan dan keterikatan satu sama lain. Saat kami berkumpul bersama, waktu terasa begitu cepat berlalu, seolah dunia hanya berputar diantara obrolan kita yang garing dan terkadang serius dengan beberapa gelas minuman yang telah tandas lama hingga mengering.

Kami saling berbagi pemikiran bersama, bercanda bersama hingga melaluinya sampai saat ini. Mereka selalu menjadi tempat untuk berbagi hal-hal pribadi selain kepada adikku. Tidak ada penghakiman di mata mereka saat aku bercerita dan berbagi perspektif. Meski ada beberapa perbedaan, tapi tak sedikitpun perbedaan itu menjadi halangan untuk kami. Kami saling menghargai dan menjaganya untuk tidak sampai melewati hal-hal yang tidak diinginkan.

Dan memang benar, semakin bertambahnya usia lingkaran pertemanan semakin sedikit. Dimana teman yang berkualitas namun dengan lingkaran yang kecil akan selalu menjadi tempat ternyaman untuk saling berangkulan dan menguatkan.

Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian karena sudah bersedia menjadi sosok yang dulu membuatku skeptis untuk mengatakannya. Aku bersyukur memiliki kalian. Terima kasih banyak sudah memberikan warna untukku, tolong jangan bosan. Makasih sudah sabar ngadepin aku yang menyebalkan ini, makasih sudah membuatku menjadi diri sendiri tanpa perlu takut dengan sebuah penilaian.

Dan semoga bagaimapun keadaan kita kedepannya, kita akan tetap seperti ini.

Tidak ada yang berubah selain status hubungan pribadi yang masih belum terikat dengan siapapun.

Hahaha. Aku sayang kalian banyak-banyak. 

 

Pamekasan, 19 Agustus 2020

Farida Mutia Agustin

Continue reading [CATATANKU] Mereka yang (Akhirnya) Kupanggil Sahabat

Minggu, 15 September 2019

, , ,

[PROFILE SINGKAT GRUP] INTERSECTION

Kiri ke Kanan : William, Mika, Caelan, Kazuma
Kiri ke Kanan : William, Mika, Caelan, dan Kazuma

Logo Grup

URAIAN SINGKAT

Intersection (インターセクション) adalah sebuah boyband Bilingual Jepang/Amerika beranggotakan empat orang remaja yang berbasis di Tokyo, Jepang. Nama “Intersection” sendiri didasari dari kesemua anggotanya yang memiliki garis keturunan persimpangan Jepang dengan Amerika, tidak heran jika mereka mampu berbicara bahasa Inggris dan Jepang dengan lancar meski mereka lahir di luar Jepang.

Grup ini sendiri dibentuk pada tahun 2015 saat Mika Hashizume dan Kazuma Mitchell bertemu di sebuah sekolah internasional di Tokyo, lalu William Aoyama dan Caelan Moriarty bergabung, dan akhirnya berhasil melakukan debut utama mereka pada tahun 2018  di bawah naungan anak perusahaan AVEX Group dengan label mereka sendiri yang disebut The Whole Earth Connection dengan tujuan grup tersebut mampu memberikan dorongan dalam keberagaman industri musik Jepang. Hampir semua lagu yang mereka bawakan juga dalam bahasa Inggris.

Pada 6 Oktober 2017, mereka mengeluarkan single lagu pra-debut berbahasa inggris dengan judul “Starting Over”. Lagu ini terpilih menjadi salah satu nominasi Spotify's "Early Noise 2018


Lalu setahun kemudian, tepatnya tanggal 5 Oktober 2018 mereka akhirnya mengeluarkan lagu digital untuk debut resmi dengan judul “Heart of Gold”. Lagu dan Video Musik untuk debut mereka ini memiliki kesan yang sederhana dengan getaran pop yang manis. Ini akan memberikan kesempatan kepada para penggemar yang baru mengenal mereka mendengarkan vokal dari masing-masing anggota saat mereka melakukan serenade terhadap ketertarikan cinta mereka serta memberikan setiap anggota kesempatan untuk bersinar.
Sumber : (macgmagazine)


Sebulan setelah meluncurkan single pertama debut mereka, pada tanggal 8 November 2018 mereka mengeluarkan single kedua yang berjudul “Falling”. Falling sendiri mengeksplorasikan arti jatuh cinta yang begitu mendalam kepada seseorang hingga kamu akan merasa jatuh sejatuh-jatuhnya. Mereka menyeimbangkan antara melodi dan vokal sambil memberikan ruang satu sama lain untuk bersinar baik sebagai individu maupun sebagai sebuah kesatuan grup.Lagu ini sangat menyenangkan dan visualnya menjadi tambahan yang sempurna untuk memastikan liriknya mampu membuka dan menarik kita ke dalam dunia yang dipenuhi dengan suara mereka.
Sumber : (wolfinasuit)


Setelah Falling, pada tanggal 07 Desember 2018 mereka mengeluarkan single ketiga mereka berjudul “Body Language”. Lagu ini digambarkan sebagai lagu dance upbeat, dimana liriknya membicarakan bagaimana kamu bisa menyampaikan rasa kasih sayangmu kepada seseorang bahkan meski terkendala bahasa sekalipun. Body Language adalah lagu kesuksesan pertama mereka dan terpilih sebagai lagu yang banyak ditampilkan dalam daftar putar besar di pada platform musik Spotify hingga Apple Music. Video Musiknya ditonton lebih dari 800.000 penonton, dan popularitas internasional mereka meningkat terutama di wilayah Asia.
Sumber : (aramajapan)


Awal tahun 2019, mereka mengeluarkan single keempat pada tanggal 25 Januari 2019 berjudul “Twisted”. Twisted merupakan lagu yang diproduseri sendiri oleh William dan Kazuma yang membicarakan tentang patah hati. Teman pribadi mereka menjadi menyutradarai video musiknya dengan setiap anggota memberikan saran dan masukan dalam proses pengambilan gambar.

William memaparkan bahwa Twisted sendiri mengenai perasaan sedih ketika segalanya berjalan tidak baik dengan perempuan yang kamu sukai karena memiliki perasaan yang berbeda. Ini adalah sesuatu yang pernah dia alami. Twisted mempertanyakan jika hatimu sedang tertuju kepada orang lain, perasaan kegelisahan, dan situasi dimana pikiranmu tampak tersesat diantara dunia nyata dan dunia fantasi. William berharap orang-orang akan mendengarkan lagunya, tapi dia juga akan mereka senang jika mereka juga menonton video musiknya.
Sumber : (moshimoshi-nippon)


You are The Reason” rilis enam bulan setelah Twisted dan menjadi single kelima mereka pada tanggal 15 Juni 2019. William memproduseri lagu ini bersama dengan Sack Skelton dan Casey Smith di Los Angeles tahun 2016 silam. Single ini adalah jawaban dari single pre-debut mereka “Starting Over” yang rilis di tahun 2017. William baru menulis ulang lirik bahasa jepangnya dan merekam bagian vokal para anggotanya tahun ini. Musik Video-nya dilakukan di Los Angeles, negeri asal lagu ini dibuat.
Sumber : (talkaboutpopmusic)


One Step Closer” adalah single keenam mereka yang dirilis pada tanggal 19 Juli 2019 dan menjadi 2nd Ending Song untuk Anime “Fruit Basket 2019”. William berpartisipasi dalam penulisan liriknya yang mengacu pada cerita dalam anime-nya.


Pada Tanggal 21 Agustus 2019 akhirnya mereka merilis album digital pertama mereka yang bertajuk “INTERSECTION”. Album ini berisi 11 lagu yang mana 6 lagu merupakan lagu-lagu yang pernah dirilis sebelumnya yaitu Starting Over, Falling, Body Language, Twisted, You are The Reason, dan One Step Closer. Sementara “Who Do You Love” yang merupakan salah satu track lagu di dalam album baru saja mengeluarkan Video Musiknya tanggal 8 Agustus kemarin.”
Sumber : (hinayume)


Musik Video “Hot Water” rilis pada tanggal 28 Agustus 2019 dan merupakan salah satu track di album pertama. Pengambilan gambar video musik ini dilakukan di Thailand.



Lalu “Love Alone” dan juga “Lost Boy” adalah dua lagu yang merupakan tambahan lagu di dalam album pertama mereka.




Keempat anggota berasal dari latar belakang berbeda yang memiliki ketertarikan dalam hal bermusik dan ingin memamerkan hasil dari keberagaman mereka dalam satu kesamaan.
Melalui penampilan mereka dalam acara mode seperti Dior, Luis Vuitton, Tokyo Girls Connection ke-27, dan Sapporo Collection 2019, Intersection telah mengaburkan garis batas antara mode dan musik, sebagai gantinya mereka mendapatkan pengikut dan perhatian online yang besar. Intersection juga dipilih sebagai “Artist to Watch” oleh Youtube pada bulan Januari tahun ini. Selain disibukkan dengan aktivitas grupnya, mereka juga sibuk dengan aktivitas dan aktif dalam kegiatan solo mereka.



ANGGOTA

MIKA HASHIZUME (橋爪ミカ)

Instagram Mika
Lahir di Hawai pada tanggal 21 Desember 1998. Mika merupakan anggota tertua sekaligus leader di dalam grup. Cita-cita Mika awalnya ingin menjadi pemain sepak bola profesional, dia tinggal di Hawai hingga berumur 16 tahun. Dia mendeskripsikan dirinya sendiri sebagai seseorang yang memiliki kepribadian yang lembut dan perhatian, sifat yang sempurna untuk menjadi pemimpin dalam grup.
Sebagai seorang anak yang memiliki latar belakang yang kuat di bidang musik, Mika mampu memainkan dua alat musik Violin dan Ukulele. Selain bermusik, hobi lainnnya yang dia geluti adalah berselancar, fotografi, dan skateboard.
Mika pernah merilis lagu Solo-nya yang berjudul “Tell Me” pada tanggal 24 Desember 2018 lalu


WILLIAM AOYAMA (青山ウィリアム)

Instagram William
William lahir di California pada tanggal 19 Mei 2000. Dia tinggal di Jepang sejak usianya 2 tahun. Memiliki latar belakang yang kuat di bidang Renang, William sebenarnya dilatih untuk menjadi salah satu tim renang di Olimpiade Junior. Sekitar umur 14 tahun dia mulai menunjukkan ketertarikan terdalamnya dalam bidang seni dan menjadikannya sebagai fokus utamanya.
William adalah vokalis utama grup dan juga membantu dalam komposisi lagu. Bahkan beberapa lagu Intersection ciptaan William.

KAZUMA MITCHELL (ミッチェル和馬)

Instagram Kazuma
Kazuma lahir pada tanggal 15 Mei 2000 di New York. Dia tinggal di New York sisi timur hingga berusia 8 tahun, kemudian pindah ke Jepang. Dia bisa memainkan alat musik tiup seperti flute dan Saxophone karena terinsipirasi setelah dia mendengarkan lagu di film Disney yang berjudul “Little Mermaid”
Kazuma juga merupakan model eksklusif untuk majalah mode populer Jepang bernama MEN’S NON-NO, dia dianugerahi penghargaan Semi-Grand Prix saat audisi terbuka di tahub 2017. Disamping memiliki visual dan bakat yang memukau, Mika adalah salah satu paket lengkat dengan memiliki kecerdasan otak yang luar biasa, terbukti saat ini dia sedang menjalani kuliahnya di Harvard University dan berencana untuk lulus di tahun 2023.
Kazuma pernah merilis single solo pertamanya yang berjudul “To You” bekolaborasi dengan Carlo Redl dengan nama Kaz dan tanggal 14 Desember 2018 dia juga merilis lagu solonya kolaborasi dengan Carlo Redl dengan judul “Red Light”. Liriknya sendiri ditulis oleh Kazuma.



Caelan Moriarty (モリアティー慶怜)

Instagram Caelan
Caelan adalah anggota termuda di dalam grup yang lahir di Cuba pada tanggal 12 April 2001 di Pangkalan Militer Amerika Kuba. Ayahnya seorang keturunan Irlandia dan bekerja di Militer, sehingga mereka sering berpindah-pindah. Dia pernah tinggal di Pantai Virginia, Hawai, dan Jepang. Karena sering berpindah tempat, dia jadi mengetahui banyak sekali perbedaan budaya dan memiliki selera musik yang beragam dan beberapa minat umum lainnya. Karena umurnya lebih muda dari anggota lainnya dia tidak pernah terlihat sangat canggung di hadapan mereka bahkan Caelan dinobatkan sebagai moodmaker yang membuat para anggota tertawa.


Sumber
aramajapanaminoapps, official website, 
semua gambar adalah hak milik INTERSECTION



Continue reading [PROFILE SINGKAT GRUP] INTERSECTION

Minggu, 14 April 2019

[Catatanku] Surat untuk Seseorang yang Pernah Singgah Lalu Pergi (PART 2)


Surat Kedua,

Halo, mungkin kamu tidak akan pernah menyangka jika surat selanjutnya kutujukan untuk dirimu. Aku sendiri tidak menyangka bahwa kehadiranmu disaat itu membuatku merasakan kenyamanan yang bahkan belum pernah aku rasakan sebelumnya dengan seseorang bahkan dari dia tujuh tahun yang lalu.

Iya, itu kamu.. Hadir di tempat kerjaku dulu dengan perangai yang supel dan friendly. Berbadan tinggi besar dan chubby yang menggemaskan. Aku menyambut awal perkenalan kita dengan baik. Mungkin kau awalnya terkejut saat aku bilang aku bukan tipe orang yang bisa gampang akrab dengan orang lain tapi denganmu aku mampu melakukannya. Aneh bukan?

Setelah pertemuan pertama kita sebagai rekan kerja terjadi, kau dan aku saling bertukar nomer untuk bisa lebih nyaman berkomunikasi lewat chat dan membahas pekerjaan. Awalnya hanya itu niatku dan juga berteman, tapi tanpa sadar semenjak komunikasi yang intens aku mulai bisa bercerita banyak hal denganmu. Dari obrolan yang hanya saling flirting dan ngegombal tidak jelas hingga ke pembicaraan yang lebih mendalam aku merasakan ada kecocokan disitu.

Boleh kukatakan, kamulah satu-satunya laki-laki yang mampu kuajak berbagi pandangan tentang berbagai macam topik dan hal-hal yang sedang terjadi. Aku dan kamu juga berbagi kesukaan masing-masing.

Si penyuka es krim bersuara indah dan pecinta Manchester United yang begitu mencintai keluarganya dengan sepenuh hatinya. Aku dan kamu berbagi rasa sakit yang sama, berbagi kehilangan yang sama. Saling memahami satu sama lain. Obrolan kita di cafe kala itu terasa begitu singkat saking banyaknya hal yang kita obrolkan. Terima kasih untuk traktiran es krimnya, aku sungguh menikmatinya.

Mungkin kamu lupa bahwa dulu pernah berjanji untuk pergi nonton bersama di Surabaya. Tapi tidak apa-apa jika kamu melupakannya karena aku tidak ingin berharap lebih kala itu. Kamu juga menyemangatiku saat aku gagal ujian cpns dan menghiburku. Aku masih ingat saat tengah malam kita saling berbagi ketakutan kita masing-masing, memaknai kehilangan dengan gamblangnya. Kamulah yang pertama mampu membuatku membuka sisiku itu. 

Hei, apa kamu masih suka memotret? Aku suka feed instagram-mu dulu dengan berbagai quote meski sekarang tak kutemukan lagi fotomu disana. Kau tunjukkan momen bahagiamu dibalik lensa kameramu. Teruslah berbagi kebahagiaan. 

Kupikir sejak kepindahanmu ke tempat kerja yang mana tempatnya jauh lebih dekat dengan keluargamu dan pertemuan terakhir kita di cafe saat itu adalah awal dari jarak antara kita berdua. Aku tidak ingin menyalahkan hal itu, karena hubungan kita sepertinya hanya sebatas "teman." Dan aku terlalu berekspektasi tinggi akan perasaan nyamanku terhadapmu. Seharusnya aku sadar bahwa kita tidak akan pernah bisa, karena aku sendiri tau bahwa tidak ada salah satu dari kita yang mampu berkorban.

Jarak itu semakin membentang seiring berjalannya waktu, setiap kali aku melihat story-mu di sosial media ada perasaan menggelitik yang mengganggu pikiranku.

Entah sudah berapa kali aku berusaha untuk menghubungimu duluan melalui chat, namun pesan chat itu tak pernah sampai dan terkirim padamu. Aku kecewa pada diriku sendiri. Aku merutuki kebodohanku karena aku mengulangi kesalahan yang sama.

Lebaran tahun lalu untuk pertama kalinya kau mengirimkan pesan setelah sekian lamanya. Perasaanku kala itu sungguh campur aduk, ada bahagia yang membuncah disana. Dan kau masih mengingat janji kita, kupikir akan ada harapan yang tersisa yang mampu kita capai bersama, namun segalanya tidak berjalan baik. Kau hanya membaca pesan balasanku dan itu terakhir kalinya kau mengirim pesan untukku.

Saat aku iseng membuka story di media sosial, kulihat foto seorang perempuan cantik yang kau unggah di akunmu. Ditambah lagi kau menghapus semua foto-fotomu di akun media sosial dan hanya menyisakan postingan baru berupa sebuah foto unggahan perempuan yang sama di story sedang memamerkan perhiasan indah yang tersemat di jari kiri manisnya bersama dengan ibumu. Segalanya terasa buram bagiku setelah melihatnya, tanpa sadar aku membisukan akunmu supaya aku tidak bisa melihat segala aktivitasmu di media sosial meski kita saling mengikuti.

Aku ingin mengatakan terima kasih sudah pernah hadir sejenak dalam hidupku, terima kasih sudah membuatku bisa melangkah maju dari bayangan seseorang di masa lalu, terima kasih sudah bersedia memahami dan menghargai kehidupanku dan duniaku, aku masih menunggu resensimu dari anime movie yang pernah aku berikan padamu dulu.

Ahh.. Tapi yasudahlah, kudoakan kebahagiaanmu. Finally you've found your mrs. Right.

Melalui surat ini, aku ingin kamu tau bahwa kamu penah menjadi tempat yang teristimewa untukku. Terima kasih sekali lagi dan salam hangat untuk keluargamu yang tercinta disana, semoga sehat selalu.



Pamekasan, 14 Maret 2019
Farida Mutia .A


Continue reading [Catatanku] Surat untuk Seseorang yang Pernah Singgah Lalu Pergi (PART 2)

Kamis, 04 April 2019

, ,

[Resensi Buku] REPRESI - Fakhrisina Amalia


Judul Buku : Represi
Penulis : Fakhrisina Amalia
Editor : Tri Saputra Sakti
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama


Sinopsis 

Awalnya hidup Anna baik-baik saja.

Meski tidak terlalu dekat dengan ayahnya, Anna punya seorang Ibu dan paara sahabat yang setia sejak SMA, para sahabatnya yang mendampingin Anna, memahami gadis itu melebihi dirinya sendiri. 

Namun, keadaan berubah ketika Anna mulai menjauh dari para sahabatnya. Bukan hanya itu, hubungan dia dengan ibunya pun memburuk. Anna semakin hari menjadi sosok yang semakin asing. Tidak ada yang tau apa yang terjadi pada Anna, hingga pada suatu hari, dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya  yang ternyata penuh luka. 

Resensi

"Manusia itu seperti gunung es, yang bersembunyi selalu jauh lebih besar daripada yang kelihatan. Ketika mengalami peristiwa yang nggak menyenangkan dan menimbulkan emosi, kita selalu punya dua kecenderungan; untuk menekannya ke bagian tersembunnyi di dalam diri kita atau mengeluarkannya--ke luar diri kita." -hal. 199


Sebelum saya membahas buku ini izinkan saya sedikit memberikan ilmu mengenai judul dari buku karya kak Fakhrisina Amalia ini. 

Menurut Sigmund Freud, Represi adalah ketika kamu berusaha memendam dan melupakan suatu kejadian dengan menggunakan fungsi mekanisme pertahanan diri agar ketika manusia menghadapi situasi traumatis secara terus-menerus, dirinya dapat berlindung dari kecemasan dengan cara mempertahankan dirinya. Freud mengatakan bahwa represi adalah mekanisme pertahanan diri yang paling dasar.


Represi ditunjukkan dalam bentuk mengubur perasaan-perasaan cemas, mengancam, kehendak yang tidak sesuai harapan, serta keinginan yang mengganggu ke alam bawah sadar. Gejolak tersebut disingkirkan supaya tidak muncul ke alam sadar. Represi dapat muncul sepanjang hidup.
(Source : PijarPsikologi)

Nah, setelah kita mengetahui makna dari judul novel di atas kita bisa mengerti inti dari cerita buku ini. Saat aku mengetahui kak Fakhrisina Amalia membuat novel baru aku langsung tertarik untuk mencari tau dengan melihat beberapa resensi dari goodreads, lalu tanpa berpikir lagi aku memutuskan untuk membelinya. 

Membaca buku represi terutama bertemu dengan tokoh Anna sejujurnya serasa bercermin pada diri sendiri. Mungkin perasaan dan pemikiranku tidak sekompleks milik Anna, tapi aku bisa memahami bagaimana perasaan Anna di dalam cerita meski sudut pandang dalam novel ini menggunakan sudut pandang ketiga. Dia adalah sesosok perempuan yang seperti kehilangan gairah hidupnya setelah percobaan bunuh dirinya gagal dan berbagai kejadian menimpa dirinya. Hingga akhirnya dia dibawa ke seorang psikolog yanng ibunya rekomendasikan untuknya. dr. Nabila adalah tokoh yang sangat penting bagi perkembangan si tokoh utama dan terbukti dengan perannya sebagai seorang psikolog yang sabar dan tenang dalam menghadapi Anna untuk bisa terbuka sedikit demi sedikit dengan pendekatan secara psikologis. Dari sini aku jadi tau banyak tentang berbagai macam bimbingan/terapis konseling yang ada meski aku sendiri pernah di posisi Anna. 

"Bersahabat tidak berarti harus selalu bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Kadang-kadang bersahabat adalah tentang tetap saling menjaga dan mendukung ketika jauh. Bersahabat adalah tentang tetap bisa bertemu tanpa canggung dan seperti tidak pernah berjauhan. Bersahabat itu soal hati, bukan soal fisik." hal. 70

Sahabat-sahabat Anna yang bahkan dengan supportive-nya bersedia melakukan apapun demi kebahagiaan Anna. Ini adalah salah satu hal yang membuatku iri dengan persahabatan mereka. Mereka juga adalah tokoh - tokoh penting dalam perkembangan karakter Anna sendiri. Bagaimana mereka bisa saling memahami dan menerima bagaimanapun kondisi Anna tanpa bersikap berbeda.

Pergantian alur maju dan mundur yang ada di dalam novel terkesan nyaman untuk dibaca, apalagi penulis sepertinya sengaja memberikan keterangan tahun terjadinya suatu cerita sebelumnya. Jadi kita dibuat tidak bingung dan menebak-nebak ini alur maju atau merupakan alur mundur. 

Berbeda dengan Persona yang merupakan karya Penulis sebelumnya dimana terdapat plot kejutan menjelang akhir cerita, plot cerita dalam Represi tidak terkesan rumit karena konfliknya tentu saja berbeda meski sama-sama membahas tentang salah satu mental illness. 

Sejujurnya membaca buku ini membuatku teringat dengan diriku sendiri beberapa bulan yang lalu, aku pernah berada di posisi Anna, melihat dunia terasa gelap dan tak ada artinya. Represi adalah cerminan untuk orang-orang yang pernah merasa depresi sepertiku. Apalagi ada satu bagian dalam cerita yang benar-benar membuatku berdebar dan tiba-tiba merasakan sakit akan luka lama yang mendadak muncul. Dadaku ngilu sekali setelah menyelesaikann membaca cerita ini. 

"Menolak menerima bahwa kamu merasa seperti itu karena kamu tau seharusnya nggak begitu, juga merupakan bagian dari nggak menerima diri sendiri. Kadang-kadang yang terjadi memang nggak seperti seharusnya dan kita gak perlu menolak atau marah pada diri kita sendiri. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, Anna." hal. 200

Novel ini banyak mengajarkan tentang bagaimana menerima dan memaafkan diri sendiri terhadap diri kita di masa lalu. Bagaimana kita bisa melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda dan tidak selalu terfokus pada diri kita sendiri. Ada banyak makna kehidupan di setiap perkataan yang dilontarkan dr. Nabila. Aku sempat berkaca-kaca dan terharu saat momen Anna berkata jujur dan terbuka mengenai kisah yang selama ini dia tutupi kepada kedua orang tuanya juga pada teman-temannya karena itu merupakan sebuah keberanian yang tidak semua orang bisa melakukannya.

Ada satu kekurangan yang menurutku sedikit bertanya-tanya, mungkin terdengar sepele namun sebelum memulai cerita tiap bab penulis selalu menuliskan setting tempat cerita yaitu Yogyakarta beserta tahun kejadiannya. Meski penulis sudah secara gamblang menuliskan setting ceritanya tapi aku merasa penulis tidak memberikan unsur detail setting yang dimaksud dalam cerita. Misalnya dimana mereka berkuliah atau detail tempat harusnya bisa menunjukkan kalau mereka ada di Yogyakarta. Selama awal cerita hingga akhir aku jujur saja tidak menemukan hal itu. Sebenarnya tidak terlalu mengganggu hanya saja lebih baik penulis bisa memberikan detail latar dan tempatnya walau cuma sedikit, apalagi untuk orang yang tidak tinggal di kota tempat setting diceritakan.

Akhir kata 4,5/5 bintang untuk Represi.

Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada penulis Represi karena sudah membuat cerita dengan tema depresi ini. Karena membacanya sudah membuatku merasa ikut larut dalam kondisi yang dialami dan sekaligus menjadi terapi untuk diriku sendiri. Terima kasih dan ditunggu karya selanjutnya.



Continue reading [Resensi Buku] REPRESI - Fakhrisina Amalia
,

[Catatanku] Surat untuk Seseorang yang Pernah Singgah Lalu Pergi (PART 1)




 Surat Pertama. 

Surat ini aku tujukan untuk dirimu, yang sudah mengajarkan aku bagaimana rasanya mencintai seseorang dan juga merasakan luka untuk pertama kalinya. Terima kasih sudah bersedia memberikan aku sebuah rasa yang begitu asing padaku. Aku yang sendiri, memilih untuk menyendiri hingga kau datang padaku melalui perantara temanku. 

Aku berusaha untuk menolak segala perhatian yang kau tujukan padaku, karena aku terlalu takut untuk jatuh hati dan terluka seperti yang pernah teman-temanku alami. Aku berusaha untuk membangun dinding itu untuk diriku sendiri namun kau masih berusaha mendekatiku, menawarkan berbagai perhatian yang tanpa sadar membuatku terbiasa dan mulai menikmatinya. 

Kau mengajakku ke tempat yang tak pernah aku tuju. Namun maaf, sikapku tampak dingin karena sesungguhnya aku tak tau bagaimana harus menyikapi. Kau menemaniku menanti hujan yang turun. Duduk bersama, sedangkan aku hanya menunduk dan berusaha bersikap dengan tenang saat bersamamu. 

Kau orang pertama yang memberikan sebuah sentuhan lembut di tanganku, menyatukan jemariku dengan dirimu bersama-sama. Bersandar satu sama lain hingga perjalanan terasa begitu singkat bagiku. Aku pernah menandai momen pertama antara kau dan aku di kalender hape. Kedengarannya menggelikan tapi aku menyukainya.

Sebungkus bengbeng selalu menjadi hadiah kecil untukku setelah kau mengantar dan menjemputku setiap saat. Terima kasih, aku tidak tau apa kau menyukainya atau tidak tapi kuharap kau suka.
Terima kasih sudah bersedia menjadi pendengar untuk hobiku yang absurd. Terima kasih sudah mengerti. Apa kau ingat kau pernah memintaku untuk menggambar tokoh kartun dengan kaos Manchester United? Maaf jika dulu membuatmu lama menunggu untukku menyelesaikannya. 

Hingga suatu ketika kehadiranmu perlahan tak dapat kuraih. Intensitas yang membuatku menjadi terbiasa denganmu mulai memudar. Kau memberikan jarak sampai aku kehilangan segala bentuk perhatianmu dan membuatku sadar bahwa aku jatuh cinta disaat luka itu baru saja kau torehkan.
Aku minta maaf karena kealpaanku dalam berucap dan mengungkapkan perasaan. Ada begitu banyak pertanyaan di kepalaku namun tak satupun yang mampu aku katakan. Berulang kali aku melepaskan momen yang bisa membuatku mengatakannya tapi lagi-lagi kebodohanku dan ketakutanku selalu menjadi penghalang untukku. 

Dan yang bisa aku lakukan untuk melepaskan sesak di dada karena perasaan ini hanyalah menangis. Entah berapa kali aku menangis karena merindukanmu tanpa sebab. Hingga puncaknya aku menangis pada suatu study tour di Jakarta kala itu. Yang bisa aku lalukan hanya memandang punggungmu, diam-diam memotret punggungmu dari belakang menyimpannya untuk membuatku merasa baik-baik saja dan cukup. 

Sebuah lagu yang saat itu disenandungkan oleh seorang teman padaku tepat dihadapanku membuat pertahananku lumpuh. Aku tidak kuasa menahan sakit itu, sungguh memalukan karena aku menangis di depan banyak teman-temanku dan juga dia menyadarinya. Tapi aku tak mengatakan apapun dan memilih diam.

Momen-momen kecil di kala itu terasa begitu menyenangkan, membawaku pada harap yang tersisa walau sesungguhnya aku sadar aku sudah kehilanganmu disaat itu juga. 

Selama masa empat tahunku, aku berusaha untuk mengejar hanya bayangmu. Menatapamu dari jauh, bahkan aku hafal nomer plat sepedamu dan terkadang tanpa sadar aku mencarinya di parkiran kampus. Aku bahkan masih menatapmu diam-diam saat kau membawa perempuan lain di bangku belakang sepedamu berulang kali. 

Aku memupuk luka itu dan rasa itu padamu. Meski terkadang aku tak sering memikirkanmu dan harapku kian menipis seiring berjalannya waktu namun jauh di dalam hatiku aku masih mencarimu.
Kau mungkin ingat saat aku pernah mengirimkan surat elektronik melalui pesan di akun media sosialmu. Butuh keberanian luar biasa untukku bisa melakukannya, berusaha untuk meluapkan segala hal yang masih mengganjal di hati dan pikiranku. Dan betapa senangnya aku setelah kusadar kau membalasnya beberapa hari setelahnya. Air mataku mengalir dan jantungku berdebar sangat kencang saat aku aku membaca surat balasanmu. 

Kupikir balasan surat itu sudah cukup meredam perasaanku dan membuatku bisa melangkah maju, namun ternyata hatiku masih tertuju untukmu hingga tanpa kusadari 7 tahun sudah berlalu.

Saat kudengar kau akan memulai hidupmu yang baru dengan seorang wanita pilihanmu itulah saat terakhir aku menangis untukmu. Itulah saat terakhir aku memutuskan untuk mengakhiri perasaan yang selama ini mengganjal di hatiku. 

Doaku untukmu yang kini sudah menjadi seorang suami dan ayah dari keluarga kecilmu sekarang. Kumohon berbahagialah dimanapun kamu berada. 

Terima kasih untuk segala kenangan dan luka yang sudah pernah kau torehkan untukku. Aku belajar bahwa aku pantas bahagia layaknya dirimu saat ini. 

Halo Hatsukoi-san-- begitulah aku menyebutmu dalam hati selama tujuh tahun itu, Terima kasih sudah menjadi yang pertama singgah meski pada akhirnya kau memilih untuk tidak menetap. Aku disini masih mencari kebahagiaanku tanpa embel-embel ada dirimu lagi..
Dari seseorang yang pernah mencintaimu untuk 7 tahun lamanya.
 



Pamekasan, 13-03-2019.
Farida Mutia .A

Continue reading [Catatanku] Surat untuk Seseorang yang Pernah Singgah Lalu Pergi (PART 1)

Jumat, 31 Maret 2017

,

Perjalanan singkat ke Surabaya Seorang Diri

 Sebenarnya aku melakukan perjalanan ini dengan tujuan utama menonton “Sword Art Online Movie : Ordinal Scale” yang ditayangkan di CGV Cinema Marvell City. Jadi aku sudah mempersiapkan diri dari jauh hari jika memang benar movie yang ingin aku tonton akan tayang di Indonesia dan begitu aku mendengar beritanya tanpa pikir panjang aku langsung mengutarakan niatku untuk pergi menonton kepada Ibuku. Karena aku tinggal di Madura tepatnya di kabupaten Pamekasan dimana perjalanan ke Surabaya akan membutuhkan waktu sekitar 3-3 ½ jam dengan jalur darat Ibuku langsung menyuarakan keberatannya, pasalnya karena aku akan melakukan perjalanan tersebut seorang diri dan beliau khawatir. Singkatnya setelah pertimbangan panjang akhirnya ibuku memberikan izin padaku dengan syarat aku kesana dengan menggunakan jasa transportasi travel pulang pergi dari Surabaya kearah kost adekku yang terletak tak jauh dari kampus tempatnya kuliah di Universitas Pembangunan Nasional Surabaya dan aku menyanggupinya. Ini adalah perjalananku bersama adekku saja, berdua dan tanpa diketahui oleh saudara-saudara kami yang ada di Surabaya. Mohon maafkan karena keegoisanku sampai tidak mampir. 

Jadi aku pergi pada hari Minggu tanggal 26 Maret dan akan pulang keesokan paginya pada tanggal 27 Maret karena pada siang harinya aku harus masuk kerja. Dan akhirnya hari yang kutunggu tiba juga. Pukul 05.30 travel datang menjemputku dan aku duduk di kursi paling depan tepatnya disamping supir. Aku benar-benar berangkat menuju Surabaya pada pukul 06.45 karena harus menjemput beberapa penumpang lainnya. Ada suatu kejadian yang membuatku marah dan kesal yaitu saat aku mengetahui bahwa aku akan diantar paling terakhir, aku bukannya tidak mau mengerti kondisi tapi hal yang membuatku marah adalah karena supir travelnya malah mengantarkan penumpang dengan tujuan Waru Sidoarjo terlebih dahulu ketimbang aku, dan penumpang tujuan ke Terminal Purabaya yang akan melanjutkan perjalanannya ke Mojokerto naik bus dimana dia harus menunggu sejam lagi untuk bus tujuannya tersebut. Hell yeah, aku sudah bilang kalau aku sudah ada janji dan pak supirnya dengan cengengesannya malah bilang tidak bisa karena jika harus mengantarkanku terlebih dahulu dia harus melewati jalan yang memutar ditambah lagi penumpang lainnya yang terdiri dari para ibu-ibu dengan egoisnya malah mengamini pak sopirnya. Aku tambah kesal dan marah, namun seperti biasa aku tidak pernah bisa benar-benar menunjukkan emosiku dan menahannya sambil tak henti-hentinya berusaha menahan tangisku apalagi ditambah cuaca di Surabaya saat itu mendung. Lengkaplah sudah kekesalanku. Makasih pak sudah menghancurkan mood-ku yang sudah kubangun jauh-jauh hari.

Pada akhirnya aku sampai tepat saat adzan dhuhur berkumandang tepatnya pukul 11.45, oke rencanaku yang ingin menonton sebelum siang hancur total gara-gara pak supir travel yang sepertinya belum-hafal- benar-jalanan-Surabaya-karena-masih-menggunakan-jasa aplikasi-google-maps. Sebelum sampai ke kost adekku, pak supirnya berulang kali memohon maaf padaku dan aku sama sekali tak mengindahkannya bahkan melihat wajahnya pun aku tak sudi. Sorry to say, but you already pissed me off so you better get out of my way you f*cking bitch driver.

Sesampainya di kost adekku aku mengutarakan kekesalanku sambil nangis karena sedari tadi aku sudah menahannya dan adekku selalu bisa dengan caranya sendiri menenangkanku. Setelah sholat dhuhur dan sarapan yang digabung dengan makan siang aku dan adekku membicarakan transportasi apa yang akan kita pakai ke Marvell City tempat bioskop yang akan menayangkan SAO. Karena cuaca mendung dan juga ditambah gerimis serta hujan yang mulai turun akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan jasa transportasi online yaitu Grab Taxi dengan biaya sekitar Rp 24.000,-

Kami sampai sekitaran pukul 14.00 wib dan jadwal penayangan film SAO yang berdekatan adalah pukul 14.25 jadi kami bergegas mengantri untuk membeli tiket. Fyi, kami sempat tersesat karena tidak tau pintu masuk menuju bioskopnya. Bioskop di hari minggu seperti biasa ramai, kami memesan dua tiket. Satu untuk adekku yang ingin menonton Dear Nathan dan Satu untukku yang akan menonton Sword Art Online Movie : Ordinal Scale. Awalnya adekku ingin menemaniku untuk menonton SAO karena dia sudah mendapat mandat dari ibuku supaya terus menemaniku (read. Beliau takut aku tersesat dsb. Wkwk) tapi aku memaksanya untuk menonton film yang diinginkannya karena sejujurnya aku tidak tega jika dia yang sama sekali tidak mengerti apapun tentang anime harus ikutan menonton. Sebelum memasuki ruang nomer 7 tempat SAO akan ditayangkan adekku sudah mewanti-wanti buat gak salah duduk dan menyuruhku untuk melihat nomer tempat duduk dengan teliti karena ini pertama kalinya buatku menonton film seorang diri, biasanya kami menonton bersama keluarga dan tidak pernah pergi sendirian.


Aku duduk di tempat yang lumayan strategis karena tepat menghadap layar. Dan aku tidak menyangka ternyata banyak sekali orang-orang yang ingin menonton SAO mengingat SAO sendiri adalah Anime yang menurut kebanyakan orang itu diperuntukkan anak kecil. Hal yang paling mengganggu saat filmnya diputar adalah ada sebagian subtitle yang tidak bisa terbaca karena terhalang oleh seorang penonton yang kepalanya mencuat dari sandaran kursi, padahal sandaran kursi cukup tinggi, entah dia badannya bongsor atau memang cara duduknya yang aneh tapi jelas itu menggangguku. Aku sampai harus mengedepankan tubuhku supaya aku bisa membaca subtitle yang ada di depan. Film selesai pukul 16.30, dan yang membuatku kagum adalah kebanyakan para penonton tidak segera beranjak dari kursinya setelah film menunjukkan kredit. Intinya mereka sama sepertiku, menunggu setelah kredit film dengan diiringi lagu ed “Catching the Moment” yang dibawakan LiSA selesai dan menunjukkan epilog tersembunyi setelahnya. Ya, mereka sepertinya sudah dapat spoiler dari berbagai forum online sama sepertiku dan itu berarti mereka sudah pernah nonton SAO sebelumnya. Jika kalian bertanya bagaimana kesanku setelah menonton film yang sampai membuatku bela-belain datang ke Surabaya adalah AKU TIDAK MENYESAL. Karena filmnya bener-bener keren untuk seorang penggemar SAO sepertiku. Dan aku benar-benar sungguh berterima kasih sama SAO karena sudah memperbaiki mood-ku yang sedari tadi buruk sejak insiden supir travel sialan itu. Rasanya pengen nonton filmnya lagi. Sayangnya aku tidak bisa melampiaskan kesenanganku setelah nonton karena adekku yang notabene tidak menyukai anime tidak bisa menanggapiku dengan baik. Dia hanya mendengar apa yang aku bicarakan, seperti biasa. I wish Nii-san who worked far away from here watching SAO with me and we’ll have a very long chit chat after that.
                                                          

Setelah menonton kami pergi sholat ashar terlebih dahulu baru setelah itu memutuskan untuk keluar dari mall, namun niat itu urung dilakukan karena di luar hujan deras. Terpaksa kami masuk kembali dan berkeliling tidak jelas. Sedikit membosankan karena Marvell City sendiri termasuk mall yang entah kenapa tidak begitu banyak didatangi pengunjung, mungkin karena mall ini masih baru dan juga masih belum banyak stand-stand yang berdiri disana. Bahkan saat aku mengunjungi toko buku bernama “Karisma” yang ada disana terlihat kosong melompong tanpa didatangi pengunjung. Dan setelah kegabutan tidak jelas, kami memutuskan untuk meninggalkan Marvell City untuk pergi ke Tunjungan Plaza Mall Surabaya dengan menggunakan jasa angkutan online grab taxi. Biaya kesana sekitar Rp 16.000,- amat sangat murah dengan jarak tempuh kesana sekitaran 2 km lebih.

Kami sampai ke TP tepat saat waktu sholat maghrib, jadi kami pergi sholat terlebih dahulu sebelum melanjutkan cuci mata. Musholla yang terletak di lantai 5 parking area itu penuh sesak, wajar saja karena ini maghrib dan waktu sholatnya juga terbatas. Untungnya kami sudah menyimpan wudhu dan tidak perlu mengantri berwudhu lagi, jadi kami langsung melaksanakan sholat maghrib. Setelah sholat kami pergi ke stand cincau station untuk membeli minuman, sayangnya minuman yang aku pesan sudah habis dan aku menyerahkan semua keputusan pemesanannya pada adikku. Setelah itu kami pergi ke foodcourt yang sudah ramai dipenuhi pengunjung, kami sampai harus mencari tempat duduk kosong saking penuhnya. Untung saja ada tempat kosong saat aku melihat petugas kebersihan baru saja membersihkan tempat itu. Kami kelaparan tapi kami kebingungan harus makan apa, jadi kami tidak membeli makanan apapun dan malah memesan membeli jajanan ayam pok dengan lumeran keju diatasnya. Adekku suka sekali jajanan itu, begitupun juga aku. Sambil memakan jajanan kami berbicang tentang banyak hal, mulai dari keluarga teman hingga apapun itu. Bersama adekku aku selalu merasa nyaman dan tidak pernah kehilangan sedikitpun bahan pembicaraan.

Setelah menghabiskan jajanan dan minuman kami, kami memutuskan untuk sekedar berkeliling. Iya hanya berkeliling dan melihat-lihat tanpa membeli apapun. Di lantai dasar ternyata ada semacam pameran stand produk kosmetik, adekku yang sangat menyukai hal-hal semacam ini dengan senangnya langsung mengajakku pergi kesana. Aku mengikutinya dari belakang meski aku tidak begitu tertarik dengan hal yang seperti ini, dia melihat berbagai macam alat-alat kosmetik dari berbagai macam brand mulai dari Maybelline, Silky Girl, Body Shop, Wardah, La tulip, dsb. Dan aku entah kenapa-untuk pertama kalinya membeli lip tint dari la tulipe atas dasar rekomendasi adekku yang katanya cocok denganku. Adikku menyindirku karena ini pertama kalinya aku membeli kosmetik dengan uangku sendiri, karena sebelum-sebelumnya aku selalu mendapat hibah kosmetik dari adekku. Sedangkan adekku, dia juga ingin sekali membeli tapi menahan diri mengingat dia sudah punya berbagai macam lipstik di kostnya.

Setelah itu kami berjalan-jalan lagi, kami pergi ke berbagai macam outlet yang ada hanya untuk sekedar melihat-lihat, Kami bahkan mampir ke Gramedia untuk melihat-lihat buku bacaan yang ada dan berakhir tidak membeli apapun. Aku sempat kelaparan lagi dan membeli satu buah Roti Boy isi karena untuk dimakan bersama adekku. Puas berjalan-jalan kami memutuskan untuk pulang, namun karena ini waktunya jam pulang dan masih sibuk-sibuknya jadi tarif taksi online sempat melambung, kami menunggu lagi agak malam supaya bisa mendapat harga pas. Setelah melewati jam 22.00 kami memutuskan untuk mengambil taksi online Uber dengan tarif harga Rp 63.000,-

Salah satu hal yang menyenangkan adalah, supir taksinya sangat baik. Bahkan kami berbicara banyak hal dengan dia, termasuk lika liku jadi supir taksi online bahkan plus minusnya taksi online. Rasanya menyenangkan hingga tanpa sadar kami sudah sampai tujuan. Kami mengucapkan terima kasih kepada supir uber yang baik hati tersebut dan semoga beruntung bertemu dengan dia lagi.

Sampai di kost-nya adekku, kami beristirahat sejenak dan lanjut untuk mencari makan di warung pinggir jalan dekat kostnya. Kami memesan tahu telur pedas yang kata adekku enak dan sudah jadi langganannya. Dan memang benar tahu telurnya enak juga pedas serta porsinya banyak, adekku bahkan tidak sanggup menghabiskan hingga pada akhirnya aku membantu. Setelah kenyang, kami pergi ke mc donalds untuk order mc flurry, sudah lama sekali aku menginginkan ini dan akhirnya kesampaian juga. Kami memesannya melalui drive thru untuk dimakan di kost.

Setelah menghabiskan mcflurry, kami sholat isya dan tak lupa membersihkan muka sisa lelah sejak tadi siang. Niat awalnya aku tidak ingin tidur dikarenakan saat itu jam sudah menunjukkan lewat tengah malam dan travel yang akan menjemputku besok akan datang pukul 04.00 pagi, rasanya nanggung sekali untuk tidur. Namun pada akhirnya aku memutuskan tidur sejenak pada pukul 02.30 dini hari dan terbangun karena suara alarm pukul 03.30. setelah itu aku bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan muka, menggosok gigi, mengambil wudhu sambil menunggu subuh.

Pada pukul 04.00 travel yang menjemputku datang, aku sampai di pamekasan pukul 09.00 pagi. Jauh lebih cepat ketimbang dengan supir yang kemaren sempat membuat emosiku menggila dan berakhirlah perjalananku di Surabaya yang singkat ini, meski terasa singkat ada banyak hal yang membuat senang dan kesal seperti yang aku ceritakan panjang lebar di tulisan ini. Tapi setidaknya bisa menghabiskan waktu hanya berdua dengan adekku dan melakukan hal-hal yang kuinginkan rasanya menyenangkan.

Akhir kata, terima kasih sudah berkenan untuk membaca tulisan gajes ini bersamaku.
See you next post. xoxoxo


Farida Mutia Agustin

28/03/17


Continue reading Perjalanan singkat ke Surabaya Seorang Diri