Kamis, 17 Mei 2012

,

[FanFiction] Paper Birds "Last Part"


Finallllyyyy~ udah episode terakhir ajah xD
Hahaha~
Padahal dulu males banget buat ngelanjutin. Akhirnya setelah dipaksa nih FF selesai juga^^
Happy reading... 
Mian kalo jelek^^

“Jihwan.”
Jihwan menoleh, dilihatnya sosok itu sudah berdiri di depan pintu kamarnya sambil tersenyum. Hyun Ra berdiri tanpa skruk dan juga kursi rodanya lagi. Dia tersenyum melihatnya. Hyun Ra mendekati Jihwan perlahan walau kakinya masih terlihat bergetar, tapi dia sudah berusaha keras untuk berjalan.
“Kau lihat? Perlahan aku mulai bisa menggunakan kakiku.”
“Yah.” Jawab Jihwan singkat. Dia tersenyum dan membelai rambut Hyun Ra lama. Entah apa yang ada dipikirannya. Rasa takut mulai menyelimuti hatinya lagi. Takut jika perpisahan dengan raga dan jiwanya terjadi. Dia sungguh takut.
“Jihwan.”
Tak ada sahutan dari sang pemilik nama. Pikirannya malah melayang entah kemana sambil membelai rambut Hyun Ra.
“Jeon Jihwan!!” Hyun Ra sedikit meninggikan suaranya.
“Eh?” Pikiran Jihwan tiba – tiba menghilang. Dia menatap Hyun Ra yang memakai raut wajah bingung. “Mianhae.” Ucapnya pelan.
“Ulurkan tanganmu.” Pinta Hyun Ra kemudian yang disambut dengan  wajah bingung Jay.
“Mwo?”
“Ulurkan tanganmu sekarang!”
Jihwan menurut. Dia mengulurkan tangannya kepada Hyun Ra.
            “Pejamkan matamu.”
            “Hah? Baiklah.” Jihwan lalu memejamkan matanya. Entah apa yang ada di pikiran Hyun Ra. Entah apa yang ingin Hyun Ra lakukan padanya. Dia bahkan tak bisa memahaminya.
            “Buka matamu.”
             Jihwan membuka matanya, hal pertama yang dilihatnya adalah Hyun Ra yang tersenyum lalu pandangannya mengarah kepada sesuatu yang berada di telapak tangannya. Burung Kertas.
             “Setiap hari kau selalu memberikan itu kepadaku bahkan tanpa sedikitpun terlupa. Sekarang izinkan aku memberikannya juga padamu hari ini sebagai penyemangatmu yang sebentar lagi akan berjuang menghadapi meja operasi.  Mungkin jika burung kertas itu bisa membawa keajaiban untukmu. Kau ingat khan tentang semalam? Aku masih ingin lihat supermoon – supermoon lainnya bersamamu.”
                Jihwan sedikit bengong namun kemudian dia tersenyum menatap Hyun Ra dan juga burung kertas diatasnya telapak tangannya itu. Entah kenapa rasa takut itu menghilang tanpa dia sadari. Mungkin ini adalah awal dari sebuah keajaiban.
                “Gomawo Hyun Ra-ya.”
                “Ne. Kau harus berjuang. Percaya saja kalau nanti kita masih bisa bertemu lagi.”
                “Tentu, ini bukanlah sebuah akhir.”
                Jay tersenyum, wajahnya yang tampak sangat pucat dengan pipi yang tirus itu masih terlihat begitu tampan di mata Hyun Ra.
                “Jihwan, sudah waktunya.”
                Dokter Jeon dan beberapa perawat memasuki kamar instalasinya dan memasangkan beberapa alat medis kepada Jihwan. Jihwan terbaring dengan selang pernafasan yang menutupi mukanya. Sebelum dia akan dipindahkan ke ruang operasi Jihwan menatap wajah Hyun Ra sebentar.
                “Nanti saat operasiku berhasil aku ingin mengungkapkan sesuatu padamu.”
                Suara yang begitu samar, namun Hyun Ra masih mampu mendengarnya. Dia mengangguk pelan. Perlahan air mata Hyun Ra jatuh saat melihat wajah pucat Jihwan yang sudah menghilang dan dibawa ke ruang operasi.
                “Jihwannie, berjuanglah.”

@@@@@

                Hyun Ra, Hyun Chul dan Eommanya duduk cemas di depan ruangan operasi yang sedari tadi masih belum menunjukkan tanda – tanda akan terbukanya pintu yang tertutup kaku itu. Bahkan lampu peringatan yang berada di atas pintu ruang operasi masih berwarna merah. Ini sudah tiga jam lebih. Wajah Hyun Ra sedari tadi terlihat begitu cemas, pikirannya bahkan tidak menentu. Bahkan Eomma dan Hyun Chul Oppanya yang tidak begitu mengenal sosok seorang Jeon Jihwan saja juga sampai ikutan cemas mengenai kondisi Jay di dalam sana. Mereka berdua mungkin merasa berutang budi pada sosok Jihwan yang selama ini sudah membantu Hyun Ra untuk berubah sedikit demi sedikit itu.
                Lampu peringatan yang berwarna merah itu mendadak berubah menjadi hijau. Hyun Ra yang menyadarinya secara spontan langsung bangkit. Matanya lalu terpusat pada pintu ruang operasi yang terbuka itu. Dilihatnya Dokter Jeon atau Aboejinya Jihwan keluar pertama dari ruang operasi.  Wajahnya yang ditutupi dengan masker  berwarna putih pucat itu mendekati kami bertiga.
                “Dokter bagaimana operasinya? Berhasilkah?” Tanya Hyun Ra tanpa basa – basi. Jantungnya berdegup sangat kencang saat ini. Menunggu Dokter itu berbicara.
                Dokter Jeon mendesah pelan, dia membuka maskernya. Wajahnya terlihat jelas begitu murung. Dan melihat itu perasaan Hyun Ra mendadak mulai tidak enak. Tidak mungkin.
                “Park Hyun Ra…”
                Dokter Jeon mengulurkan tangannya yang diatasnya terdapat sebuah burung kertas yang Hyun Ra berikan kepada Jay sebelum operasi berlangsung.
                “Jihwan menitipkan ini padaku.”

-- END--

Ending jelasnya silahkan baca di Epilog :D
Hehe~

0 comments:

Posting Komentar