Jumat, 31 Desember 2021

[CATATANKU] Catatan Akhir Tahun 2021




All photos by pctology 

Sebenarnya aku tidak tau kenapa tiba-tiba terbersit ingin menulis setelah sekian lama aku tidak melakukannya. Jadi, izinkan aku melakukan hal ini di penghujung akhir tahun 2021. Di tahun ini ada beberapa hal yang kulewati, tidak luar biasa, setidaknya aku bisa melakukan sedikit langkah untuk maju. Yah, memang hanya sedikit tapi tidak apa-apa. Setidaknya aku bergerak dari tempatku yang sebelumnya.

Aku membuat sebuah keputusan besar dalam hidupku. Yah, menikah adalah keputusan yang sangat besar aku ambil di tahun ini. Padahal tidak ada sebersit pun di pikiranku untuk mengubah statusku yang telah sekian lama aku sandang sejak lahir. Sejujurnya aku sempat maju mundur untuk melakukannya, ada banyak sekali keraguan dalam proses perjalanannya. Bohong  jika aku tidak merasakan pergulatan batin di sekitarku, apalagi di usiaku di mana berbagai pertanyaan krusial soal pasangan hidup selalu menjadi makanan sehari-hari. Aku tidak pernah berkeinginan untuk menikah awalnya, mengingat ada beberapa faktor yang membuatku merasa aku tidak perlu menikah. Aku tidak cemburu melihat orang-orang di usiaku sudah menikah dan memiliki anak. Apalagi mengingat aku memiliki kenangan tidak baik dengan beberapa kisah asmaraku sebelumnya. Seolah aku tidak membutuhkan pasangan untuk bisa menjalani hidupku. 

Tapi saat seseorang itu muncul di hidupku dan berkeinginan untuk berada di tahap serius denganku, aku mulai berpikir ulang. Karena ini bukanlah keputusan yang mudah untuk orang sepertiku. Di satu sisi aku tidak ingin melepaskannya, namun di sisi lain aku membiarkannya memilih untuk pergi jika ingin. Tapi aku memutuskan untuk maju dan memasrahkan segalanya kepada Allah setelah beberapa kali namanya kurapalkan dalam setiap doaku di setiap akhir sholatku. 

Ada momen aku menangis sangat hebat kala itu, tangisan yang aku sendiri tidak tau alasannya apa. Ingatan-ingatan di masa lalu tiba-tiba saja muncul tanpa sempat bisa aku kendalikan. Betapa kalutnya perasaanku saat itu. Aku ketakutan, aku mengalami kekhawatiran akut. Sebutlah itu bernama Anxiety Disorder. Aku memiliki banyak sekali skenario-skenario buruk yang sudah aku buat di dalam kepalaku dan aku tidak bisa mengendalikannya. Sungguh, aku merasa tidak pernah sekalut itu sebelumnya. Aku akhirnya berani membuka diri dan pergi menemui profesional untuk menceritakan traumaku, sebuah inner child yang tak pernah tuntas dan malah aku biarkan mengendap di dasar.

Memori-memori masa kecil itu muncul kembali saat bercerita, bibir dan tanganku bergetar. Air mataku tumpah ruah dalam mengingat setiap kejadian itu. Aku tak pernah bercerita sebelumnya kepada orang lain kecuali kepada saudara perempuanku. Para monster itu merenggut masa kecilku dan memberikan trauma yang sampai sekarang tak bisa aku maafkan. Berulang kali aku menyalahkan diriku sendiri atas kejadian itu, berulang kali pula aku mengatakan banyak sekali kata pengandaian sebagai bentuk kekecewaan terhadap diriku sendiri yang tak berdaya saat menghadapinya.

Dokter mengatakan padaku untuk belajar memaafkan diri sendiri, tapi tak pernah memberitahuku bagaimana caranya. Apa yang aku harus lakukan untuk bisa mencapai tahap seperti itu? Sedangkan aku terkadang merasa diriku rendah dan menjijikkan. Berpikir bahwa ada seorang laki-laki yang bersedia menerimaku saja adalah sebuah ketidakmungkinan, meski dia tidak tau seperti apa masa laluku.

Aku bahkan tak memiliki keberanian untuk menceritakan hal itu kepada ibuku. Aku merasa sangat bersalah kepada beliau karena bersikap ketus dan tidak dewasa dalam menghadapi pergulatan batinku itu hingga membuat beliau bertanya-tanya perihal sikapku. Maafkan aku ibu, sungguh.. I didn’t mean to hurt you like this but I just can not explain how I felt that time. I feel sorry for my behavior, Mom . Terlepas dari semua itu aku ingin berterima kasih karena sudah menjadi seorang malaikat penjagaku di saat kedua sayapmu dibawa pergi oleh almarhum bapak di Surga sana beberapa tahun silam. Thank you for being a strong mom for your children.

Seorang psikolog menyarankan padaku untuk menulis setiap luka itu sampai detail di sebuah buku catatan untuk meluapkannya dalam bentuk tulisan. Aku melakukannya hingga membuatku harus berulang kali berhenti menulis hanya untuk sekedar menghela nafas sejenak terhadap semua kejadian di masa lalu yang menimpaku. Aku merasa lega setelah menulis semua itu meski masih ada beberapa perasaan yang mengganjal, aku sendiri tidak tau apa. Aku masih belum memiliki cukup keberanian untuk mencari tau lebih dalam. Maafkan aku yang pengecut ini.

Sedikit cerita tentang pasanganku ini, dia tidak setampan para husbu-husbu anime-ku dan juga dedek-dedek gemes korea-ku. Tapi setidaknya dia orang yang bersedia menerima kekuranganku, mendengarkanku tanpa menjustifikasiku seperti apa dan tidak memaksakan kehendaknya. Seseorang yang mengakui ketidaksempurnaannya dan bersedia untuk belajar bersamaku yang tidak sempurna ini. Terima kasih sudah meyakinkan aku untuk membuat komitmen bersama.

Aku tau dia tidak menjanjikan kehidupan yang indah seperti dongeng setelah pernikahan, tapi yang ku tau apapun yang terjadi kita akan melaluinya bersama. Terima kasih untuk memilih tinggal.

Terima kasih juga kepada orang-orang baik yang selalu menjadi support system hebatku. Tanpa kalian semua aku mungkin tidak bisa berada di titik ini. Tolong jangan pernah bosan denganku untuk tahun-tahun selanjutnya.  

Last but not least,

Semoga masih dikasih waktu sama Allah untuk bisa menjalani dan menghadapi tahun 2022 dan selanjutnya bersama orang-orang terkasih. 
Terima kasih kepada setiap pengunjung blog ini yang bersedia untuk mampir dan membaca tulisan tidak penting saya. Semoga kalian semua diberikan keberkahan dan kebahagiaan di tahun depan :) 
Continue reading [CATATANKU] Catatan Akhir Tahun 2021

Minggu, 23 Mei 2021

,

[RESENSI BUKU] FISH IN THE WATER - Lee Chanhyuk

Judul Buku : Fish in the Water

Penulis : Lee Chanhyuk

Editor : Ruth Priscilia Angelina

Tebal Halaman : 176 Halaman

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama 

 

Sinopsis

Kesedihan, harapan, idealisme, pertanyaan-pertanyaan... Seon memiliki semuanya. Ia bertekad mencari panutan, seseorang yang ia anggap layak menjawab segala pertanyaannya tentang seni dan hidup. Ia bertemu Hae-ya suatu hari, dan gadis itu mengubah cara pikirnya selama ini.

Hae-ya bagai peri kecil yang terombang-ambing di laut tanpa kepastian dan tanpa pedoman dalam menjalani hidup. Namun itulah Hae-ya, memikat dengan caranya sendiri.

Meski bukunya tidak terlalu tebal, tapi dampaknya membekas di benak. Mungkin setelah selesai, pembaca justru bertanya-tanya, apakah arti semua ini. Yang jelas, pembaca mampu menyelami sedikit pikiran Lee Chanhyuk lewat buku ini.

Sumber : Gramedia Instagram

Ulasan

Alasan membeli buku ini karena ini karya Lee Chanhyuk AKMU, salah satu duo grup kakak adik korea yang tiap merilis karya-karyanya selalu sopan masuk telinga. Perilisan album “Sailing” tahun 2019 itu berbarengan dengan perilisan buku debutnya judul “Fish in the water” yang merupakan salah satu judul lagunya AKMU di Album Sailing. Apalagi buku ini memulai debutnya sebagai salah satu debut buku yang laris manis di pasaran dan disukai di Korea sana.  Saat tau Gramedia membawa buku ini ke versi Indonesia tanpa ragu langsung saja pesan. Oke segitu dulu sesi curcolnya, maaf kalau intronya kebanyakan. Haha..

PERINGATAN !!

RESENSI INI MENGANDUNG BEBERAPA SPOILER!! YOU'VE BEEN WARNED BEFORE

 Saat awal membaca halaman pertama buku Fish in the water saya sudah merasa nuansa di dalam novel ini muram dan sendu. Karena kita langsung dibawa pada sang tokoh yang bernama Seon dari sudut pandang kisahnya. Seon sendiri disini digambarkan sebagai seorang seniman atau lebih tepatnya dia juga bagian dari musisi yang sedang melakukan perjalanan untuk menjadi dan mencari arti dari “Seniman Sejati”. Di tengah perjalanannya ke sebuah pulau, dia bertemu dan menyelamatkan seorang perempuan dari ganasnya hantaman ombak di atas kapal yang sedang dinaikinya. Perempuan itu bernama Hae-ya.

“Terkadang, orang-orang lupa apa yang harus mereka takuti. Karena itulah mereka takut pada hal-hal yang remeh. Contohnya, seorang anak kecil yang takut dikucilkan, atau orang-orang yang takut tidak sempat menyelesaikan pekerjaan mereka pada waktu yang ditentukan.” (Hal. 75)

Bersama Hae-ya, Seon seolah menemukan bagian dari dirinya yang hilang selama ini. Mereka akhirnya melakukan perjalanan bersama. Berbagi kisah dan pandangan hidup. Bagi saya, hal yang menarik dari buku ini adalah sosok Hae-ya itu sendiri. Hae-ya adalah sosok yang penuh misteri dengan pemikiran out of the box-nya. Dia juga suka melakukan hal-hal gila yang menurut Seon tidak umum dilakukan oleh kebanyakan orang, tapi Seon menyukai itu semua. Bagi Seon, Hae-ya adalah musiknya. Tapi bagi Hae-ya laut adalah musiknya. Hae-ya mencintai laut hingga dia sampai meletakkan impiannya di sana. Tak salah jika Seon menyebut bahwa tokoh utama dalam kisah ini adalah Hae-ya sedangkan dia adalah tokoh pendukungnya dan pelengkap kisahnya. Karena memang begitulah adanya. Sampai akhir pun sosok Hae-ya masih penuh teka teki, seolah penulis sendiri sengaja melakukannya dan membiarkan pembaca menginterprestasikan sendiri seperti apa Hae-ya yang sebenarnya.

Seon menceritakan seorang Hae-ya dengan keindahan. Tak heran kita terkadang dibawa hanyut dalam kata-katanya yang penuh damba terhadap wanita yang membuatnya jatuh cinta itu. Tapi di satu sisi kita juga dibuat ikut merasakan perasaan Seon yang dijungkirbalikkan pada kenyataan yang tengah dihadapinya.

“Orang-orang menunggu dan menginginkan sesuatu yang positif, tetapi pada kenyataannya, mereka lebih mementingkan gangguan-gangguan remeh. Mereka hanya mengejar hal-hal negatif!” (hal. 120 -121)

Buku ini penuh dengan filosofi dalam memaknai arti kehidupan. Kau akan dibawa menyelami kata demi kata indah nan puitis yang membuatmu berpikir dan bertanya mengenai segala macam hal yang terjadi di hidup kita. Sejujurnya sungguh tidak menyangka Chanhyuk bisa membuat buku seperti ini, aku tidak meragukan kejeniusannya dalam membuat musik dan menulis lirik yang mampu menggugah hati pendengarnya. Karena aku juga baru tau kalau Chanhyuk sendiri tidak begitu suka membaca dan menggemari buku, tapi di buku debutnya ini Chanhyuk sukses membuat saya sebagai pembacanya mengagumi bagaimana dia membagikan pandangan hidupnya serta dengan pemilihan kata yang tak kalah indah. Dia juga menggambarkan detail ceritanya dengan sangat baik.

Oh iya, selain mengambil sudut pandang Seon buku ini juga mengambil sudut pandang Yangi di salah satu babnya pada alur maju. Yangi sendiri adalah seorang yang memutuskan untuk menarik diri dari hiruk pikuknya manusia dan keramaian kota. Saat sedang dalam pencarian tempat baru, disitulah dia bertemu dengan Seon dan café “Bintang Kecil”-nya di pinggir pantai. Bagi Yangi, Seon adalah seseorang yang rapuh. Dan hanya dari sorot matanya saja Yangi tau ada kesedihan yang tertahan di sana. Dari situ, Yangi menjadi teman Seon dengan harapan dia bisa membantunya bangkit dalam melewati semua yang telah dilalui selama ini.

Sub bab dari buku ini adalah judul-judul lagu di dalam Album Sailing, bahkan Chanhyuk meletakkan beberapa penggalan lirik lagu di sana yang memang berhubungan dengan ceritanya. Mungkin bagi sebagian orang buku ini akan susah dipahami, karena jujur saja saya harus membaca buku ini sampai dua kali dalam satu waktu dan mengulang beberapa bagian untuk bisa mencernanya. Sayangnya buku ini terlalu singkat, tapi ditutup dengan meninggalkan kesan yang mendalam bagi pembacanya. Akan ada berbagai pertanyaan yang terbersit dalam pikiranmu setelah kamu menyelesaikan novel ini. Karena ini buku terjemahan jadi saya berharap tidak mengurangi makna dari bahasa aslinya. Saya sampai penasaran apakah buku aslinya juga sepuitis buku terjemahannya. Haha.

“Hidup dan mati tidak bisa dibedakan berdasarkan pengertian penegasan atau penyangkalan, tetapi dengan naluri. Jika seseorang merasa kematian bukan ‘akhir hidup’ seperti yang dipikirkan sebagian orang, maka taka da alasan bagi kita untuk berkabung baginya.” (Hal. 147)

Direkomendasikan saat membaca buku ini sambil mendengarkan lagu-lagu Akmu di dalam Album Sailing biar lebih feel aja bacanya. 4/5 Bintang untuk Fish in the Water .

 

Continue reading [RESENSI BUKU] FISH IN THE WATER - Lee Chanhyuk

Rabu, 19 Agustus 2020

[CATATANKU] Mereka yang (Akhirnya) Kupanggil Sahabat


Memories <3
 
Dulu, mungkin sekitar enam tahun yang lalu disaat aku menghabiskan masa-masa Kuliah Kerja Nyata-ku di sebuah desa yang tidak begitu terbelakang dan tentu saja tempatnya nyaman untuk bernaung, aku dan salah seorang temanku menikmati tengah malam di kala kami menyelesaikan sebuah film bersama. Kami mengobrol bersama, berbagi pikiran bersama, membicarakan banyak hal hingga adzan subuh berkumandang.

Salah satu perkataannya pada obrolan kita malam itu akan selalu kuingat bahkan hingga saat ini.

“Suatu saat nanti, aku yakin kamu pasti menemukan seseorang yang bisa kamu panggil sahabat. Mungkin gak sekarang, tapi siapa tau beberapa tahun ke depan kamu akan menemukan mereka yang bisa membuatmu nyaman dan bisa menjadi dirimu sendiri.”

Dulu aku menanggapi perkataannya dengan skeptic, sungguh aku sudah cukup lelah dengan banyaknya kepergian dalam pertemanan. Aku tidak peduli lagi dengan yang namanya sahabat. Begitu lelahnya hingga membuatku muak sendiri. Mereka pergi begitu saja dan begitu kembali kami seolah menjadi asing satu sama lain. Jadi menurutku buat apa?

Waktu kemudian berlalu, aku pernah beberapa kali dekat dengan seorang teman tapi kemudian seperti terjadi seleksi alam dalam pertemanan, ada beberapa jarak yang tak bisa kita hapus seperti dahulu dan begitulah, kembali asing berulang kali. Hingga suatu ketika seorang teman mengumpulkanku kembali dengan mereka.

Aku mengenal mereka, tapi tidak pernah sedikitpun menyangka bahwa suatu saat kami akan menjadi sangat dekat seperti saat ini. Kami memiliki kisah lalu yang hampir sama begitu juga dengan kepribadian. Lalu ada satu orang yang memiliki kepribadian yang amat sangat kontras dengan kami bertiga, aku mengenalnya semenjak sekolah menengah pertama. Dan hanya sekedar mengenalnya tanpa ekspektasi apapun. Kami dipertemukan, berkumpul bersama. Yang awalnya masih terasa canggung, hingga kemudian merasa ada kenyamanan dan keterikatan satu sama lain. Saat kami berkumpul bersama, waktu terasa begitu cepat berlalu, seolah dunia hanya berputar diantara obrolan kita yang garing dan terkadang serius dengan beberapa gelas minuman yang telah tandas lama hingga mengering.

Kami saling berbagi pemikiran bersama, bercanda bersama hingga melaluinya sampai saat ini. Mereka selalu menjadi tempat untuk berbagi hal-hal pribadi selain kepada adikku. Tidak ada penghakiman di mata mereka saat aku bercerita dan berbagi perspektif. Meski ada beberapa perbedaan, tapi tak sedikitpun perbedaan itu menjadi halangan untuk kami. Kami saling menghargai dan menjaganya untuk tidak sampai melewati hal-hal yang tidak diinginkan.

Dan memang benar, semakin bertambahnya usia lingkaran pertemanan semakin sedikit. Dimana teman yang berkualitas namun dengan lingkaran yang kecil akan selalu menjadi tempat ternyaman untuk saling berangkulan dan menguatkan.

Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian karena sudah bersedia menjadi sosok yang dulu membuatku skeptis untuk mengatakannya. Aku bersyukur memiliki kalian. Terima kasih banyak sudah memberikan warna untukku, tolong jangan bosan. Makasih sudah sabar ngadepin aku yang menyebalkan ini, makasih sudah membuatku menjadi diri sendiri tanpa perlu takut dengan sebuah penilaian.

Dan semoga bagaimapun keadaan kita kedepannya, kita akan tetap seperti ini.

Tidak ada yang berubah selain status hubungan pribadi yang masih belum terikat dengan siapapun.

Hahaha. Aku sayang kalian banyak-banyak. 

 

Pamekasan, 19 Agustus 2020

Farida Mutia Agustin

Continue reading [CATATANKU] Mereka yang (Akhirnya) Kupanggil Sahabat

Senin, 23 Maret 2020

,

[RESENSI BUKU] BREAK EVEN - MORRA QUATRO


Judul Buku :  Break Even
Penulis : Morra Quatro
Editor : Dewi Fita
Penerbit : Bookslife.co

Sinopsis

Setahun usai kepergian William Hakim, Karla dihampiri berita bahwa sejumlah pihak sedang mencari laki-laki itu. Satu demi satu rahasia tentangnya pun meluap ke permukaan. Tentang nama orang-orang terdekat Will yang tak pernah Karla dengan, tentang apa yang ia lakukan selama menghilang, bahkan tentang kematiannya yang kini diragukan semua orang. William Hakim, sang enigma, si jenius Fisika yang Karla pikir dikenalnya baik, telah meninggalkan jejak yang panjang..

Termasuk kepada Karla

Jejak itu kemudian membawa Karla kepada Nicolas, kakak Will. 

Resensi

"Kamu tidak perlu harus tetap hidup untuk menghasilkan energi yang begitu besar, dan itulah Will. Dia sebuah Pendulum, dengan energi yang begitu besar semasa hidupnya. Demikian besar sehingga ayunannya dapat bertahan selama ini." Nicholas Hakim (Hal. 47)

Aku masih ingat saat pertama kali membaca buku pertamanya yang berjudul Forgiven, tidak berekspektasi apapun saat itu. Namun menjelang akhir cerita perasaanku seolah campur aduk tak karuan. Seolah masih ada yang harus diluruskan dan belum cukup. Betapa emosionalnya aku saat itu menghadapi akhir seorang William Hakim yang sungguh tak terduga. 

Bertahun berlalu dan sosok seorang William Hakim masih dan sungguh sangat tidak terganti hingga tahun kemarin Kak Morra akhirnya menuliskan kembali kisahnya ke dalam buku prequel-nya yang berjudul Break Even. Walau aku tidak mengikuti PO awal buku tapi seenggaknya di tahun ini sembari menjalani masa karantina karena wabah Corona aku memutuskan untuk membeli dan langsung membacanya. Sebenernya butuh waktu bagiku untuk menyelesaikannya karena kesibukan di dunia nyata dan juga karena aku masih ingin lebih lama menikmati kehidupan William semasa berada di Boston. 

Oke, sekian curhatnya mari kita lanjut untuk membahas novel Kak Morra ini. 

Break Even dimulai dari kedatangan dua orang anggota federal di Kediaman Karla. Mereka mengatakan sedang mencari seseorang bernama Chester Winston beserta temannya yang tak lain dan tak bukan adalah William Hakim. Karla hanya tau bahwa William sudah tiada dalam eksekusi setahun yang lalu dan dia tidak tau siapa sosok Chester Winston yang kelak diketahuinya adalah salah seorang sahabat William yang ikut andil dalam berbagai kejadian bersama. 

Setelah Kepergian mereka Karla berinisiatif untuk bertemu dengan Nicholas Hakim--Kakak William Hakim. Mereka bertemu di Mount Hope Cemetery, tempat William bersemayam. Melalui Nicholas kepingan-kepingan rahasia yang selama ini tersembunyi tersingkap satu persatu.  Juga tentang rahasia di balik soal yang diberikan tiga orang profesor MIT kepadanya di perpustakaan saat itu. 
Tentang Nicholas dan segala rahasia yang ingin ditutupi untuk dirinya sendiri. 

"Namun ketika ketakutan terbesar kita terjadi, tibalah kita pada titik dimana sudah tak ada lagi yang perlu ditakutkan. Segalanya lepas dari genggaman." -Hal. 18


Cerita Break Even menggunakan dua sudut pandang. Sudut pandang pertama sebagai Karla yang mana bercerita pada saat ini sedangkan sudut pandang ketiga melalui alur mundur yang menceritakan tentang masa-masa kehidupan William Hakim. Perpindahan alur tidak begitu memusingkan karena kita bisa tau dari awal tiap bab alur apa yang dipakai. Kak Morra juga menyelipkan ilustrasi gambar miliknya sendiri untuk membantu pembaca dalam mengilustrasikan cerita. Ditambah dengan segala teori ilmu fisika hingga sains yang berseliweran dijelaskan dengan nyaman dan mudah dipahami oleh seseorang yang tidak suka fisika. Apalagi salah satu inti cerita mengenai salah satu teori fisika yang menjadi klimaksnya.  Menjelang akhir cerita kita disuguhkan dengan kisah ikatan persaudaraan antara Nicholas dan William. Membuat hati ini ikut merasakan emosi yang sama. Betapa berartinya sosok seorang William Hakim di matanya. 

Plotnya rapi dan runtut, seolah kak Morra sudah tau kemana dan seperti apa kisah ceritanya dibawa.  Juga bagaimana setiap tokoh memiliki peran yang cukup andil dalam ceritanya. Mungkin yang sedikit disayangkan tentang kehadiran sosok Noel yang merupakan kelompok sahabat Chester, Yun Cho, Aldair tidak begitu dieksplor sebanyak Yun Cho juga Aldair. Dan berbagai nama yang sempat dibahas hanya sebagai sedikit selingan saja. 

Ada unsur agama dan kejadian pengeboman WTC yang masih akan dibahas sedikit disini karena 
Dan memang kisah William Hakim benar-benar ditutup dengan indah sesuai porsinya. Cukup. Melengkapi segala kerahasiaannya yang dia bawa bersama mimpi-mimpinya. 

"Pada akhirnya, dia benar-benar menjalani hidup yang bebas. William tetap lebih bebas daripada semua orang yang kukenal saat ini. Dan dia tetap tumbuh sebagai pohon. Dia hidup dengan lengan-lengan menggapai matahari, dan mati menjadi lembar kertas yang harum. Layaknya halaman buku yang gemar dihirupnya di hari-hari masa kecil kami yang cerah, dan sycamore yang meneduhinya selama berbaring dalam peristirahatan ini. (Hal 280)

Akhir kata, 4,9/5 bintang untuk Break Even

Terima kasih untuk kak Morra yang sudah menghidupkan kembali kisah William. 

Continue reading [RESENSI BUKU] BREAK EVEN - MORRA QUATRO

[CATATANKU] BUKAN HUJAN FAVORIT



Mungkin kamulah yang paling ingat saat pertama kali kita bertemu. Rintik hujan di siang itu, kau dan aku duduk bersisian memakai kemeja putih dan celana hitam yang senada. Aku bergumul dengan pikiranku sendiri menunggu namaku dipanggil. Sedangkan kau, sudah berada di dalam sana terlebih dahulu. Begitu lama hingga membuat pikiranku semakin kacau dan cemas. Mungkin sekitar tiga puluh menit kamu berada di ruang yang menurutku saat itu begitu mengerikan, dan kamu akhirnya ke luar. Aku memberanikan diriku bertanya setelah beberapa kali mengurungkan niatku. Menanyakan apa yang teradi di sana, kami mengobrol seperti biasa dan tidak ada yang tau bahwa itu bukanlah pertemuan pertama dan terakhir kita.

Dan memang kita bertemu lagi, di tempat yang sama setelah beberapa minggu berlalu. Awal pertemuan kembali saat itu aku masih ingat aku meminta saran padamu akan suatu hal dan terima kasih sudah memberikan saran yang melegakanku. Aku dan kamu diam-diam saling bertukar pesan, memberikan semangat saat kamu langsung diberikan banyak tugas dari atasan, begitupun sebaliknya saat aku mengalami hal yang sama.

Berulang kali kau mengajakku untuk ke luar bersama, hanya untuk sekedar menyesap kopi dan mungkin berdiskusi. Berulang kali juga aku menolak karena saat itu kondisi keluargaku saat itu sedang tidak memungkinkah. Terima kasih karena tidak menyerah untuk melakukan itu dan membuatku akhirnya memenuhi ajakanmu setelah penolakan yang sangat banyak. Jujur saja aku begitu kagum padamu, pandanganmu begitu luas, kau bercerita banyak hal tentang pengalamanmu selama menimba ilmu di tanah rantau, bercerita segala prestasi yang telah kamu raih dan memiliki hobi yang sama denganku yaitu membaca buku. Meski buku yang kita baca justru bersebrangan.

Kita pernah bertemu di alun-alun. Aku mengenalkanmu beserta satu orang lagi temanku sebagai teman kantorku kepada ibuku. Kami mengobrol biasa dan aku mungkin memberikan sedikit perhatianku padamu mengenai celana yang kau pakai. Kau menepis tanganku saat aku berusaha menyentuh celanamu yang robek. Dan suatu ketika kau pernah mengatakan padaku bahwa kejadian itu yang membuatmu menaruh hati padaku, juga tentang impian bersama yang sama-sama menginginkan adanya perpustakaan pribadi di rumah.

Suatu malam di bulan Ramadhan kau mengatakan bahwa kau menyukaiku, kau ingin serius denganku. Tentu saja aku tidak meragukan itu, sejujurnya aku senang dan aku mulai menyukaimu juga. Dan sebelum aku meyakinkan diriku aku pernah jujur padamu mengenai kondisiku, dan terima kasih kau bersedia untuk menerimaku. Kau pernah mengirimiku suaramu saat mengaji, betapa gilanya aku saat itu. Mengatakan pada mereka kau mungkin lah orangnya. Dan aku pernah mengirimu sebuah pesan dalam tulisan hangul supaya kau bisa mengartikannya dan aku tau kamu berusaha melakukannya untukku.

I can see the world through your eyes.”

Aku meminta kita untuk menjalani hubungan ini terlebih dahulu, diam-diam kami berhubungan. Sebisa mungkin tidak membuat banyak kontak di lingkungan tempat kerja karena tidak menginginkan hubungan ini diketahui oleh rekan-rekan kami meski kami sudah sering menjadi bahan olok-olokan dan godaan dari mereka. Dan lagipula perkataan salah satu temanku mengenai tidak dibolehkannya pasangan di dalam satu kantor membuatku banyak berpikir mengenai masa depan kami berdua nantinya. Sedangkan aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan ini karena aku memiliki keluarga yang harus aku perjuangkan dengan segenap hatiku.

Kau pun mengatakan kita akan sama-sama berjuang jikalau nantinya kita berhasil lolos tes CPNS, hingga nantinya masalah seperti ini bukanlah halangan bagi kita untuk bersama. Kami suka bertemu diam-diam sepulang kantor, seminggu sekali. Memang segalanya terasa baik-baik saja meski terkadang jujur saja aku bosan dengan isi pesanmu yang menurutku monoton. Aku pernah mengeluhkan itu, betapa aku menginginkan sebuah pesan yang bisa membuatku semangat untuk membahas apapun.  Dan aku sempat protes karena kau seolah menyindirku melalui video di status whatsapp-mu.

Menjelang hari ulang tahunku, aku memintamu untuk menebak kapan tanggal lahirku. Kau mengatakan bahwa kau tau tapi kenyataannya kau salah menebak. Kau mengajakku ke sebuah café dan kita duduk berhadapan di sore yang berbalut langit senja kala itu. Kau memberiku coklat sebagai hadiah ulang tahunku, disitu kau menggenggam jemariku, menatapku dan menanyakan mengenai keseriusannya untuk hubungan ini dan masa depan ini dan aku hanya menunduk dan tidak berani menatap matanya. Jawabanku tetaplah sama. Jujur saja saat jemarimu menyatu dengan jemariku tidak kurasakan getaran yang sama saat dulu pertama kali ada seseorang yang melakukan itu padaku. Terasa biasa saja dan akupun tak tau kenapa.

Aku pernah kesal saat kamu bilang aku gak seharusnya pergi dengan temanku, aku tidak suka reaksimu yang berlebihan dan bahkan diam-diam mengontak saudaraku, bertemu tanpa sepengetahuanku untuk membicarakan masalah ini. Aku tau aku salah dan aku akan lebih berhati-hati lagi untuk ke depannya. Aku tidak suka kamu memeriksa handphone-ku dan melihat dengan siapa aku berhubungan, meski aku memang mengizinkanmu dengan terpaksa. Seolah privasiku ditelanjangi, sejak saat aku memproteksinya supaya gak ada orang yang sembarangan membukanya.
Kau cemburu saat aku saling bertukar pesan sangat banyak pada teman perempuanku. Karena mungkin jika membandingkan dengan isi pesan kita yang memang terasa monoton. Kau pernah tiba-tiba mengatakan memblokirku karena tau aku mengobrol dengan rekan kantorku yang membahas masalah pekerjaan, membuatku kaget dan bertanya-tanya apa kesalahanku. Aku tidak tau seperti apa rekan-rekanku memandangku seperti yang pernah kau ceritakan bahwa aku dijadikan objek olokan, mungkin bagimu ini aku begitu polos sampai aku perlu dilindungi sedemikian rupa seolah aku tidak mampu berdiri di atas kakiku sendiri.

Aku berusaha menurunkan egoku, kecuekanku, hingga berusaha untuk mengolah kata-kataku sendiri saat bersamamu supaya kamu tidak merasa tersinggung dan disaat bersamaan aku tidak tau bagaimana caranya menjadi diriku sendiri. Kau selalu menunda mengatakan sesuatu hal padaku dan berdalih itu tidak penting sembari bilang akan mengatakannya nanti yang aku sendiri tidak tau itu kapan. Membuatku mempertanyakan apa yang sebenarnya ingin kamu katakan dan mencemaskan segala kemungkinan yang tidak kuinginkan.

Aku tidak suka kau menanyakan luka masa laluku yang dengan amat sengaja aku tutup dan kau membukanya kembali, membuatku teringat pada kenangan yang tidak seharusnya aku ingat. Dengan rapat aku menutupnya lalu kau ingin sekali menggedornya meski aku sudah mengatakan jangan sesekali memaksaku untuk membukanya. Kau akhirnya menyerah, namun luka itu terbuka kembali dalam pikiranku.

Lambat laun intensitas perselisihan kita semakin sering. Dimulai dari segala kesalahpahaman yang tak berujung. Segala keinginanmu yang harus aku turuti tanpa peduli sedikitpun mendengar penjelasanku dan tanpa aku perlu tau alasannya. Kau selalu mengatakan semua demi kebaikanku. Mengatakan betapa egoisnya aku berulang kali saat aku mengabaikan pesan juga telepon beruntunmu layaknya seorang penguntit pada pertengkaran yang menurutku tidak penting dan kau malah menyulutnya disaat yang tidak tepat. Kau meminta maaf setelahnya, menghamba untuk dimaafkan. Mungkin memaafkan memang semudah itu, tapi segalanya tak mungkin bisa aku lupakan. Sikapmu yang seolah tidak terjadi apapun semakin menyakitku. Terkadang kau memblokir-ku secara tiba-tiba dengan alasan ingin menenangkan diri. Kini aku tau seperti apa rasanya diblokir.

Aku pernah menangis di sudut kamarku pada pertengkaran yang entah aku tidak tau ke berapa kali, dada yang sesak hingga sulit untuk bernafas, tangan yang bergetar, dan melodi lagu terbaru AKMU “How Can I Love The Heartbreak You are The One I love” akan selalu mengalun tak berhenti menemaniku saat itu. Menggambar dengan perasaan yang kacau hingga aku tidak tau kemana lagi tempatku untuk melampiaskan segala hal yang menyesakkan itu.

Awal tahun ini adalah puncak dari segala kecewaku. Mengataiku dengan sebutan Pendusta disaat aku bahkan mengatakan yang sesungguhnya. Kau tetap tidak mempercayaiku, memintaku ini itu yang membuatku semakin lelah dan muak. Aku kembali diam, membiarkanmu merongrong sesuka hatimu lalu seperti biasa meminta maaf dan bersikap apa yang sudah dilakukannya seolah tidak pernah terjadi. Sedangkan lukaku semakin menganga.

Hatiku yang sudah dipenuhi dengan berbagai kekecewaan tidak bisa menampungnya lagi. Perasaan ini perlahan memudar dengan sendirinya. Aku meminta maaf karena katamu “Aku sengaja menghindar dan mengulur waktu.” Tapi tidak mudah bagiku untuk memutuskan segalanya. Di satu sisi aku memiliki ketakutanku sendiri, namun di sisi lain aku juga memikirkan bagaimana perasaanmu yang menggantung. Aku memintamu untuk menunggu, karena ada begitu banyak kecemasan yang mengurungku saat itu.

Berulang kali kau seolah menyindirku, dan dengan sengaja aku mengacuhkanmu. Awal bulan lalu setelah segala hal melelahkan yang terjadi padaku aku memutuskan untuk menemuimu setelah sekian lamanya. Aku bercerita banyak hal, tentang keluh kesahku. Bagaimana hatiku saat ini yang tidak bisa memiliki perasaan yang sama seperti dulu. Aku meminta maaf karena tidak bisa menjadi seperti yang seharusnya kita inginkan. Dan tidak ingin menyakitinya lebih dalam dengan terus menghindarinya.

Aku minta maaf untuk segala luka yang sudah aku berikan kepadamu dan kini aku sadar bahwa selama ini kita saling melukai. Kuharap dengan melepaskanmu saat ini rasa sakitmu akan menghilang dan akupun mendoakan kebahagiaanmu dengan siapapun wanita yang kelak menjadi bagian dari hidupmu. Maafkan aku karena aku tidak bisa memberikan kesempatan seperti yang kamu inginkan, aku ingin melepaskan yang selama ini mengungkung diriku.

Perasaanku padamu pernah ada, aku pernah mencemburui teman wanitamu. Membuat perasaanku semakin insecure dan aku sadar betapa tidak ada apa-apanya aku darinya. Aku tidak pernah menangis karena laki-laki semenjak kisahku dengan Hatsukoi berakhir. Betapa berartinya kamu bagiku.

Kamu tau bahwa aku menyukai Hujan. Dan kamu adalah hujanku dulu..

Si penyuka pantai dan senja…

Aku meminta maaf untuk kisah kita yang kuakhiri dengan epilog yang menyakitkan.

Terima kasih sudah berbagi kisah denganku, semoga segala impianmu yang pernah kau bagi padaku kala itu dapat kau wujudkan. Maaf aku tidak bisa menemanimu dan terima kasih untuk botol minuman berwarna biru yang pernah kau berikan padaku. Kamu juga tau warna kesukaanku.

Akhir kata, kuharap kau membaca pesanku yang sempat aku kirimkan padamu lalu aku hapus supaya mengembalikan sebuah novel yang pernah kamu pinjam padaku waktu itu. Kamu tau betapa berharganya novel itu bagiku J

Continue reading [CATATANKU] BUKAN HUJAN FAVORIT

Minggu, 15 September 2019

, , ,

[PROFILE SINGKAT GRUP] INTERSECTION

Kiri ke Kanan : William, Mika, Caelan, Kazuma
Kiri ke Kanan : William, Mika, Caelan, dan Kazuma

Logo Grup

URAIAN SINGKAT

Intersection (インターセクション) adalah sebuah boyband Bilingual Jepang/Amerika beranggotakan empat orang remaja yang berbasis di Tokyo, Jepang. Nama “Intersection” sendiri didasari dari kesemua anggotanya yang memiliki garis keturunan persimpangan Jepang dengan Amerika, tidak heran jika mereka mampu berbicara bahasa Inggris dan Jepang dengan lancar meski mereka lahir di luar Jepang.

Grup ini sendiri dibentuk pada tahun 2015 saat Mika Hashizume dan Kazuma Mitchell bertemu di sebuah sekolah internasional di Tokyo, lalu William Aoyama dan Caelan Moriarty bergabung, dan akhirnya berhasil melakukan debut utama mereka pada tahun 2018  di bawah naungan anak perusahaan AVEX Group dengan label mereka sendiri yang disebut The Whole Earth Connection dengan tujuan grup tersebut mampu memberikan dorongan dalam keberagaman industri musik Jepang. Hampir semua lagu yang mereka bawakan juga dalam bahasa Inggris.

Pada 6 Oktober 2017, mereka mengeluarkan single lagu pra-debut berbahasa inggris dengan judul “Starting Over”. Lagu ini terpilih menjadi salah satu nominasi Spotify's "Early Noise 2018


Lalu setahun kemudian, tepatnya tanggal 5 Oktober 2018 mereka akhirnya mengeluarkan lagu digital untuk debut resmi dengan judul “Heart of Gold”. Lagu dan Video Musik untuk debut mereka ini memiliki kesan yang sederhana dengan getaran pop yang manis. Ini akan memberikan kesempatan kepada para penggemar yang baru mengenal mereka mendengarkan vokal dari masing-masing anggota saat mereka melakukan serenade terhadap ketertarikan cinta mereka serta memberikan setiap anggota kesempatan untuk bersinar.
Sumber : (macgmagazine)


Sebulan setelah meluncurkan single pertama debut mereka, pada tanggal 8 November 2018 mereka mengeluarkan single kedua yang berjudul “Falling”. Falling sendiri mengeksplorasikan arti jatuh cinta yang begitu mendalam kepada seseorang hingga kamu akan merasa jatuh sejatuh-jatuhnya. Mereka menyeimbangkan antara melodi dan vokal sambil memberikan ruang satu sama lain untuk bersinar baik sebagai individu maupun sebagai sebuah kesatuan grup.Lagu ini sangat menyenangkan dan visualnya menjadi tambahan yang sempurna untuk memastikan liriknya mampu membuka dan menarik kita ke dalam dunia yang dipenuhi dengan suara mereka.
Sumber : (wolfinasuit)


Setelah Falling, pada tanggal 07 Desember 2018 mereka mengeluarkan single ketiga mereka berjudul “Body Language”. Lagu ini digambarkan sebagai lagu dance upbeat, dimana liriknya membicarakan bagaimana kamu bisa menyampaikan rasa kasih sayangmu kepada seseorang bahkan meski terkendala bahasa sekalipun. Body Language adalah lagu kesuksesan pertama mereka dan terpilih sebagai lagu yang banyak ditampilkan dalam daftar putar besar di pada platform musik Spotify hingga Apple Music. Video Musiknya ditonton lebih dari 800.000 penonton, dan popularitas internasional mereka meningkat terutama di wilayah Asia.
Sumber : (aramajapan)


Awal tahun 2019, mereka mengeluarkan single keempat pada tanggal 25 Januari 2019 berjudul “Twisted”. Twisted merupakan lagu yang diproduseri sendiri oleh William dan Kazuma yang membicarakan tentang patah hati. Teman pribadi mereka menjadi menyutradarai video musiknya dengan setiap anggota memberikan saran dan masukan dalam proses pengambilan gambar.

William memaparkan bahwa Twisted sendiri mengenai perasaan sedih ketika segalanya berjalan tidak baik dengan perempuan yang kamu sukai karena memiliki perasaan yang berbeda. Ini adalah sesuatu yang pernah dia alami. Twisted mempertanyakan jika hatimu sedang tertuju kepada orang lain, perasaan kegelisahan, dan situasi dimana pikiranmu tampak tersesat diantara dunia nyata dan dunia fantasi. William berharap orang-orang akan mendengarkan lagunya, tapi dia juga akan mereka senang jika mereka juga menonton video musiknya.
Sumber : (moshimoshi-nippon)


You are The Reason” rilis enam bulan setelah Twisted dan menjadi single kelima mereka pada tanggal 15 Juni 2019. William memproduseri lagu ini bersama dengan Sack Skelton dan Casey Smith di Los Angeles tahun 2016 silam. Single ini adalah jawaban dari single pre-debut mereka “Starting Over” yang rilis di tahun 2017. William baru menulis ulang lirik bahasa jepangnya dan merekam bagian vokal para anggotanya tahun ini. Musik Video-nya dilakukan di Los Angeles, negeri asal lagu ini dibuat.
Sumber : (talkaboutpopmusic)


One Step Closer” adalah single keenam mereka yang dirilis pada tanggal 19 Juli 2019 dan menjadi 2nd Ending Song untuk Anime “Fruit Basket 2019”. William berpartisipasi dalam penulisan liriknya yang mengacu pada cerita dalam anime-nya.


Pada Tanggal 21 Agustus 2019 akhirnya mereka merilis album digital pertama mereka yang bertajuk “INTERSECTION”. Album ini berisi 11 lagu yang mana 6 lagu merupakan lagu-lagu yang pernah dirilis sebelumnya yaitu Starting Over, Falling, Body Language, Twisted, You are The Reason, dan One Step Closer. Sementara “Who Do You Love” yang merupakan salah satu track lagu di dalam album baru saja mengeluarkan Video Musiknya tanggal 8 Agustus kemarin.”
Sumber : (hinayume)


Musik Video “Hot Water” rilis pada tanggal 28 Agustus 2019 dan merupakan salah satu track di album pertama. Pengambilan gambar video musik ini dilakukan di Thailand.



Lalu “Love Alone” dan juga “Lost Boy” adalah dua lagu yang merupakan tambahan lagu di dalam album pertama mereka.




Keempat anggota berasal dari latar belakang berbeda yang memiliki ketertarikan dalam hal bermusik dan ingin memamerkan hasil dari keberagaman mereka dalam satu kesamaan.
Melalui penampilan mereka dalam acara mode seperti Dior, Luis Vuitton, Tokyo Girls Connection ke-27, dan Sapporo Collection 2019, Intersection telah mengaburkan garis batas antara mode dan musik, sebagai gantinya mereka mendapatkan pengikut dan perhatian online yang besar. Intersection juga dipilih sebagai “Artist to Watch” oleh Youtube pada bulan Januari tahun ini. Selain disibukkan dengan aktivitas grupnya, mereka juga sibuk dengan aktivitas dan aktif dalam kegiatan solo mereka.



ANGGOTA

MIKA HASHIZUME (橋爪ミカ)

Instagram Mika
Lahir di Hawai pada tanggal 21 Desember 1998. Mika merupakan anggota tertua sekaligus leader di dalam grup. Cita-cita Mika awalnya ingin menjadi pemain sepak bola profesional, dia tinggal di Hawai hingga berumur 16 tahun. Dia mendeskripsikan dirinya sendiri sebagai seseorang yang memiliki kepribadian yang lembut dan perhatian, sifat yang sempurna untuk menjadi pemimpin dalam grup.
Sebagai seorang anak yang memiliki latar belakang yang kuat di bidang musik, Mika mampu memainkan dua alat musik Violin dan Ukulele. Selain bermusik, hobi lainnnya yang dia geluti adalah berselancar, fotografi, dan skateboard.
Mika pernah merilis lagu Solo-nya yang berjudul “Tell Me” pada tanggal 24 Desember 2018 lalu


WILLIAM AOYAMA (青山ウィリアム)

Instagram William
William lahir di California pada tanggal 19 Mei 2000. Dia tinggal di Jepang sejak usianya 2 tahun. Memiliki latar belakang yang kuat di bidang Renang, William sebenarnya dilatih untuk menjadi salah satu tim renang di Olimpiade Junior. Sekitar umur 14 tahun dia mulai menunjukkan ketertarikan terdalamnya dalam bidang seni dan menjadikannya sebagai fokus utamanya.
William adalah vokalis utama grup dan juga membantu dalam komposisi lagu. Bahkan beberapa lagu Intersection ciptaan William.

KAZUMA MITCHELL (ミッチェル和馬)

Instagram Kazuma
Kazuma lahir pada tanggal 15 Mei 2000 di New York. Dia tinggal di New York sisi timur hingga berusia 8 tahun, kemudian pindah ke Jepang. Dia bisa memainkan alat musik tiup seperti flute dan Saxophone karena terinsipirasi setelah dia mendengarkan lagu di film Disney yang berjudul “Little Mermaid”
Kazuma juga merupakan model eksklusif untuk majalah mode populer Jepang bernama MEN’S NON-NO, dia dianugerahi penghargaan Semi-Grand Prix saat audisi terbuka di tahub 2017. Disamping memiliki visual dan bakat yang memukau, Mika adalah salah satu paket lengkat dengan memiliki kecerdasan otak yang luar biasa, terbukti saat ini dia sedang menjalani kuliahnya di Harvard University dan berencana untuk lulus di tahun 2023.
Kazuma pernah merilis single solo pertamanya yang berjudul “To You” bekolaborasi dengan Carlo Redl dengan nama Kaz dan tanggal 14 Desember 2018 dia juga merilis lagu solonya kolaborasi dengan Carlo Redl dengan judul “Red Light”. Liriknya sendiri ditulis oleh Kazuma.



Caelan Moriarty (モリアティー慶怜)

Instagram Caelan
Caelan adalah anggota termuda di dalam grup yang lahir di Cuba pada tanggal 12 April 2001 di Pangkalan Militer Amerika Kuba. Ayahnya seorang keturunan Irlandia dan bekerja di Militer, sehingga mereka sering berpindah-pindah. Dia pernah tinggal di Pantai Virginia, Hawai, dan Jepang. Karena sering berpindah tempat, dia jadi mengetahui banyak sekali perbedaan budaya dan memiliki selera musik yang beragam dan beberapa minat umum lainnya. Karena umurnya lebih muda dari anggota lainnya dia tidak pernah terlihat sangat canggung di hadapan mereka bahkan Caelan dinobatkan sebagai moodmaker yang membuat para anggota tertawa.


Sumber
aramajapanaminoapps, official website, 
semua gambar adalah hak milik INTERSECTION



Continue reading [PROFILE SINGKAT GRUP] INTERSECTION

Senin, 06 Mei 2019

[Catatan] Surat Rinduku Untukmu (Sebuah Surat Untuk Nenek Tercinta)




Kamar dengan ranjang kayu yang memiliki ukiran khas itu kini lengang, bahkan kasur kapuk yang selalu menjadi tempat untuk beristirahat itu seperti sudah kehilangan penghuni. Aku menatap sendu setiap kali membuka tirai jendela dan mematikan lampu kamar di pagi hari, kenangannya masih terasa hangat. Sudah sebulan semenjak kepergian seorang wanita yang selalu menjadi malaikat pelindungku. Rumah yang biasa penuh dengan makanan dan barang-barang yang entah itu berguna atau tidak sedikit demi sedikit mulai berkurang. Televisi yang biasanya menyala meski tidak ditonton dibiarkan begitu saja.

Ada rasa rindu yang menelusup, ada rasa penyesalan karena aku bahkan tidak bisa menjadi seseorang yang mampu menjaga dan terkadang membangkang perkataannya. Mimpi buruk sebulan yang lalu di rumah sakit malam akan selalu kuingat. Nafasmu yang terengah-engah dengan selang oksigen di hidungmu, air matamu yang menetes saat aku bahkan orang-orang di dalam sana tidak hentinya bersalawat dan meminta kepada sang pencipta untuk kesembuhanmu. Ketakutan itu begitu jelas menggerogoti akal sehatku, takut bahwa aku tak bisa melihatmu lagi keesokan harinya. Kamar rawat layaknya medan perang baginya, tanganku bergetar saat menekan dadanya berulang kali sembari mengucapkan kalimatNya, memohon berulang kali untuk bernafas dengan teratur, untuk berpikir tenang dan tak perlu memikirkan apapun.

Pada dini hari, ketakutanku terjadi kala adikku tiba-tiba saja membangunkanku saat kami bergantian untuk berjaga. Mengatakan dengan suara bergetar bahwa perut beliau tidak bergerak naik turun layaknya orang bernafas. Aku langsung terjaga, rasa kantukku menghilang begitu saja. Aku mencoba untuk menyentuh nadinya dan juga mencoba mendengar deru nafasnya, berusaha berpikir positif bahwa aku masih bisa mendengar suara nafas beliau meski sesungguhnya aku menyadari itu adalah suara selang. Adikku tetap tidak mempercayai pernyataanku hingga pada akhirnya kami memutuskan untuk keluar memanggil perawat yang berjaga.

Perawat yang pada awalnya tampak begitu tenang saat masuk dan memeriksa tiba-tiba terlihat begitu panik, bahkan tabung oksigen pun rencananya akan ditambah lagi. Namun saat mereka memanggil dokter jaga segalanya terlihat jelas, ketakutanku menjadi. Air mataku mengalir, merutuk diriku sendiri karena tertidur. Ibuku dengan tenang menghubungi keluarga kami yang ada di luar kota dan juga beberapa saudara lainnya. Mengatakan bahwa Ibu mereka sudah tiada, tolong didoakan dan meminta untuk tenang. Hatiku sembilu saat wajah beliau ditutup oleh kain, berharap segalanya adalah sebuah kebohongan seperti tanggal ketiadaan beliau saat itu.

Malam yang sunyi begitu mencekam saat sirine ambulans membawaku dan juga jenazah beliau ke rumah tempat kami biasa menghabiskan waktu. Aku menahan air mataku dengan kuat, berusaha untuk tidak menangis lagi, namun aku bisa apa? Nafasku sesak, dadaku sakit. Sudah lama sekali aku tidak merasakan gejala panikku lagi dan sekarang itu datang lagi dengan kondisiku yang seperti ini. Adikku dengan cepat memintaku untuk meminum sisa obat yang dulu pernah dokter resepkan padaku, aku mulai sedikit tenang walau tidak sepenuhnya bisa.

Keluargaku dari luar kota datang menjelang subuh tiba, mereka langsung menghambur pada jenazah beliau yang sudah terbujur kaku di ruang tengah, tangis meraung, dan begitu banyak kata-kata yang diucap menanyakan banyak hal. Mereka memeluk kami, saling memberikan kekuatan satu sama lain. Lantunan ayat suci Al-Qur’an diperdengarkan tak henti-hentinya oleh kami, karena sejatinya hanya itu lah yang bisa kami lakukan untuk beliau saat ini. Saat memandikan jenazah dan memakamkan beliau tangis kembali pecah, seolah tidak rela untuk ditinggal pergi. Namun kami berusaha ikhlas, akupun juga begitu demi kebahagiaan beliau dan ketenangan beliau saat menghadapNya.

Hari terberat yang harus kujalani adalah saat sudah melewati 7 hari kepergian beliau. Rumah benar-benar terasa sunyi dan hanya menyisakan aku dan juga ibuku. Tidak ada lagi meja ruang tengah yang dipenuhi dengan buah dan makanan ringan lainnya yang bahkan tidak tau kapan tidak tersentuh, tidak ada lagi kulkas yang penuh dengan makanan dan bahan-bahan memasak lainnya, tidak ada lagi  sosok yang selalu tiba-tiba membuka pintu kamar untuk memeriksa apakah penghuni di dalamnya tertidur atau masih terjaga, tidak ada lagi sosok yang akan selalu mengupasi buah dan meletakkannya begitu saja di meja kamar untuk kumakan, tidak ada omelan-omelan berisik yang terkadang membuatku jengah, tidak ada lagi yang akan melepaskan kacamata dan mematikan tv kamar saat aku terlelap tidur, tidak ada lagi yang membangunkan aku subuh tanpa henti sampai aku benar-benar bangun dengan kondisi sebal, dan tidak ada lagi sosok pelindung yang akan selalu membelaku dan mengkhawatirkanku saat aku tidak pulang dan pergi seorang diri ke suatu tempat.

Aku rindu... iya aku rindu padamu nek... hingga aku tidak sadar air mataku jatuh begitu saja saat aku menulis surat ini untukmu.

Aku pikir sekarang engkau sudah bahagia disana, penderitaanmu menahan sakit selama ini sirna sudah, Allah sudah mengangkat semuanya dan menempatkanmu di tempat yang terbaik saat ini.
Tolong maafkan segala kesalahanku, tolong maafkan segala ego yang terkadang menyakitimu.

Maafkan aku yang masih belum memberikan sosok lelaki yang akan menjadi pendampingku kelak, aku tau engkau begitu menginginkannya. Maaf.. maaf.. beribu kali maaf. Kelak saat aku menemukan sosok itu aku akan memperkenalkannya padamu dengan benar, mohon tunggu dan bersabarlah.
Nek, apa bapak disana juga baik-baik saja?

Tolong sampaikan rinduku juga untuknya.
Bahagia di surga Allah yah, Nek.
Suatu saat kita pasti akan bertemu lagi. Aku sayang nenek J



Dari cucumu yang selalu membangkang,
06/05/2019
Farida Mutia

Continue reading [Catatan] Surat Rinduku Untukmu (Sebuah Surat Untuk Nenek Tercinta)