Senin, 23 Maret 2020

[CATATANKU] BUKAN HUJAN FAVORIT



Mungkin kamulah yang paling ingat saat pertama kali kita bertemu. Rintik hujan di siang itu, kau dan aku duduk bersisian memakai kemeja putih dan celana hitam yang senada. Aku bergumul dengan pikiranku sendiri menunggu namaku dipanggil. Sedangkan kau, sudah berada di dalam sana terlebih dahulu. Begitu lama hingga membuat pikiranku semakin kacau dan cemas. Mungkin sekitar tiga puluh menit kamu berada di ruang yang menurutku saat itu begitu mengerikan, dan kamu akhirnya ke luar. Aku memberanikan diriku bertanya setelah beberapa kali mengurungkan niatku. Menanyakan apa yang teradi di sana, kami mengobrol seperti biasa dan tidak ada yang tau bahwa itu bukanlah pertemuan pertama dan terakhir kita.

Dan memang kita bertemu lagi, di tempat yang sama setelah beberapa minggu berlalu. Awal pertemuan kembali saat itu aku masih ingat aku meminta saran padamu akan suatu hal dan terima kasih sudah memberikan saran yang melegakanku. Aku dan kamu diam-diam saling bertukar pesan, memberikan semangat saat kamu langsung diberikan banyak tugas dari atasan, begitupun sebaliknya saat aku mengalami hal yang sama.

Berulang kali kau mengajakku untuk ke luar bersama, hanya untuk sekedar menyesap kopi dan mungkin berdiskusi. Berulang kali juga aku menolak karena saat itu kondisi keluargaku saat itu sedang tidak memungkinkah. Terima kasih karena tidak menyerah untuk melakukan itu dan membuatku akhirnya memenuhi ajakanmu setelah penolakan yang sangat banyak. Jujur saja aku begitu kagum padamu, pandanganmu begitu luas, kau bercerita banyak hal tentang pengalamanmu selama menimba ilmu di tanah rantau, bercerita segala prestasi yang telah kamu raih dan memiliki hobi yang sama denganku yaitu membaca buku. Meski buku yang kita baca justru bersebrangan.

Kita pernah bertemu di alun-alun. Aku mengenalkanmu beserta satu orang lagi temanku sebagai teman kantorku kepada ibuku. Kami mengobrol biasa dan aku mungkin memberikan sedikit perhatianku padamu mengenai celana yang kau pakai. Kau menepis tanganku saat aku berusaha menyentuh celanamu yang robek. Dan suatu ketika kau pernah mengatakan padaku bahwa kejadian itu yang membuatmu menaruh hati padaku, juga tentang impian bersama yang sama-sama menginginkan adanya perpustakaan pribadi di rumah.

Suatu malam di bulan Ramadhan kau mengatakan bahwa kau menyukaiku, kau ingin serius denganku. Tentu saja aku tidak meragukan itu, sejujurnya aku senang dan aku mulai menyukaimu juga. Dan sebelum aku meyakinkan diriku aku pernah jujur padamu mengenai kondisiku, dan terima kasih kau bersedia untuk menerimaku. Kau pernah mengirimiku suaramu saat mengaji, betapa gilanya aku saat itu. Mengatakan pada mereka kau mungkin lah orangnya. Dan aku pernah mengirimu sebuah pesan dalam tulisan hangul supaya kau bisa mengartikannya dan aku tau kamu berusaha melakukannya untukku.

I can see the world through your eyes.”

Aku meminta kita untuk menjalani hubungan ini terlebih dahulu, diam-diam kami berhubungan. Sebisa mungkin tidak membuat banyak kontak di lingkungan tempat kerja karena tidak menginginkan hubungan ini diketahui oleh rekan-rekan kami meski kami sudah sering menjadi bahan olok-olokan dan godaan dari mereka. Dan lagipula perkataan salah satu temanku mengenai tidak dibolehkannya pasangan di dalam satu kantor membuatku banyak berpikir mengenai masa depan kami berdua nantinya. Sedangkan aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan ini karena aku memiliki keluarga yang harus aku perjuangkan dengan segenap hatiku.

Kau pun mengatakan kita akan sama-sama berjuang jikalau nantinya kita berhasil lolos tes CPNS, hingga nantinya masalah seperti ini bukanlah halangan bagi kita untuk bersama. Kami suka bertemu diam-diam sepulang kantor, seminggu sekali. Memang segalanya terasa baik-baik saja meski terkadang jujur saja aku bosan dengan isi pesanmu yang menurutku monoton. Aku pernah mengeluhkan itu, betapa aku menginginkan sebuah pesan yang bisa membuatku semangat untuk membahas apapun.  Dan aku sempat protes karena kau seolah menyindirku melalui video di status whatsapp-mu.

Menjelang hari ulang tahunku, aku memintamu untuk menebak kapan tanggal lahirku. Kau mengatakan bahwa kau tau tapi kenyataannya kau salah menebak. Kau mengajakku ke sebuah café dan kita duduk berhadapan di sore yang berbalut langit senja kala itu. Kau memberiku coklat sebagai hadiah ulang tahunku, disitu kau menggenggam jemariku, menatapku dan menanyakan mengenai keseriusannya untuk hubungan ini dan masa depan ini dan aku hanya menunduk dan tidak berani menatap matanya. Jawabanku tetaplah sama. Jujur saja saat jemarimu menyatu dengan jemariku tidak kurasakan getaran yang sama saat dulu pertama kali ada seseorang yang melakukan itu padaku. Terasa biasa saja dan akupun tak tau kenapa.

Aku pernah kesal saat kamu bilang aku gak seharusnya pergi dengan temanku, aku tidak suka reaksimu yang berlebihan dan bahkan diam-diam mengontak saudaraku, bertemu tanpa sepengetahuanku untuk membicarakan masalah ini. Aku tau aku salah dan aku akan lebih berhati-hati lagi untuk ke depannya. Aku tidak suka kamu memeriksa handphone-ku dan melihat dengan siapa aku berhubungan, meski aku memang mengizinkanmu dengan terpaksa. Seolah privasiku ditelanjangi, sejak saat aku memproteksinya supaya gak ada orang yang sembarangan membukanya.
Kau cemburu saat aku saling bertukar pesan sangat banyak pada teman perempuanku. Karena mungkin jika membandingkan dengan isi pesan kita yang memang terasa monoton. Kau pernah tiba-tiba mengatakan memblokirku karena tau aku mengobrol dengan rekan kantorku yang membahas masalah pekerjaan, membuatku kaget dan bertanya-tanya apa kesalahanku. Aku tidak tau seperti apa rekan-rekanku memandangku seperti yang pernah kau ceritakan bahwa aku dijadikan objek olokan, mungkin bagimu ini aku begitu polos sampai aku perlu dilindungi sedemikian rupa seolah aku tidak mampu berdiri di atas kakiku sendiri.

Aku berusaha menurunkan egoku, kecuekanku, hingga berusaha untuk mengolah kata-kataku sendiri saat bersamamu supaya kamu tidak merasa tersinggung dan disaat bersamaan aku tidak tau bagaimana caranya menjadi diriku sendiri. Kau selalu menunda mengatakan sesuatu hal padaku dan berdalih itu tidak penting sembari bilang akan mengatakannya nanti yang aku sendiri tidak tau itu kapan. Membuatku mempertanyakan apa yang sebenarnya ingin kamu katakan dan mencemaskan segala kemungkinan yang tidak kuinginkan.

Aku tidak suka kau menanyakan luka masa laluku yang dengan amat sengaja aku tutup dan kau membukanya kembali, membuatku teringat pada kenangan yang tidak seharusnya aku ingat. Dengan rapat aku menutupnya lalu kau ingin sekali menggedornya meski aku sudah mengatakan jangan sesekali memaksaku untuk membukanya. Kau akhirnya menyerah, namun luka itu terbuka kembali dalam pikiranku.

Lambat laun intensitas perselisihan kita semakin sering. Dimulai dari segala kesalahpahaman yang tak berujung. Segala keinginanmu yang harus aku turuti tanpa peduli sedikitpun mendengar penjelasanku dan tanpa aku perlu tau alasannya. Kau selalu mengatakan semua demi kebaikanku. Mengatakan betapa egoisnya aku berulang kali saat aku mengabaikan pesan juga telepon beruntunmu layaknya seorang penguntit pada pertengkaran yang menurutku tidak penting dan kau malah menyulutnya disaat yang tidak tepat. Kau meminta maaf setelahnya, menghamba untuk dimaafkan. Mungkin memaafkan memang semudah itu, tapi segalanya tak mungkin bisa aku lupakan. Sikapmu yang seolah tidak terjadi apapun semakin menyakitku. Terkadang kau memblokir-ku secara tiba-tiba dengan alasan ingin menenangkan diri. Kini aku tau seperti apa rasanya diblokir.

Aku pernah menangis di sudut kamarku pada pertengkaran yang entah aku tidak tau ke berapa kali, dada yang sesak hingga sulit untuk bernafas, tangan yang bergetar, dan melodi lagu terbaru AKMU “How Can I Love The Heartbreak You are The One I love” akan selalu mengalun tak berhenti menemaniku saat itu. Menggambar dengan perasaan yang kacau hingga aku tidak tau kemana lagi tempatku untuk melampiaskan segala hal yang menyesakkan itu.

Awal tahun ini adalah puncak dari segala kecewaku. Mengataiku dengan sebutan Pendusta disaat aku bahkan mengatakan yang sesungguhnya. Kau tetap tidak mempercayaiku, memintaku ini itu yang membuatku semakin lelah dan muak. Aku kembali diam, membiarkanmu merongrong sesuka hatimu lalu seperti biasa meminta maaf dan bersikap apa yang sudah dilakukannya seolah tidak pernah terjadi. Sedangkan lukaku semakin menganga.

Hatiku yang sudah dipenuhi dengan berbagai kekecewaan tidak bisa menampungnya lagi. Perasaan ini perlahan memudar dengan sendirinya. Aku meminta maaf karena katamu “Aku sengaja menghindar dan mengulur waktu.” Tapi tidak mudah bagiku untuk memutuskan segalanya. Di satu sisi aku memiliki ketakutanku sendiri, namun di sisi lain aku juga memikirkan bagaimana perasaanmu yang menggantung. Aku memintamu untuk menunggu, karena ada begitu banyak kecemasan yang mengurungku saat itu.

Berulang kali kau seolah menyindirku, dan dengan sengaja aku mengacuhkanmu. Awal bulan lalu setelah segala hal melelahkan yang terjadi padaku aku memutuskan untuk menemuimu setelah sekian lamanya. Aku bercerita banyak hal, tentang keluh kesahku. Bagaimana hatiku saat ini yang tidak bisa memiliki perasaan yang sama seperti dulu. Aku meminta maaf karena tidak bisa menjadi seperti yang seharusnya kita inginkan. Dan tidak ingin menyakitinya lebih dalam dengan terus menghindarinya.

Aku minta maaf untuk segala luka yang sudah aku berikan kepadamu dan kini aku sadar bahwa selama ini kita saling melukai. Kuharap dengan melepaskanmu saat ini rasa sakitmu akan menghilang dan akupun mendoakan kebahagiaanmu dengan siapapun wanita yang kelak menjadi bagian dari hidupmu. Maafkan aku karena aku tidak bisa memberikan kesempatan seperti yang kamu inginkan, aku ingin melepaskan yang selama ini mengungkung diriku.

Perasaanku padamu pernah ada, aku pernah mencemburui teman wanitamu. Membuat perasaanku semakin insecure dan aku sadar betapa tidak ada apa-apanya aku darinya. Aku tidak pernah menangis karena laki-laki semenjak kisahku dengan Hatsukoi berakhir. Betapa berartinya kamu bagiku.

Kamu tau bahwa aku menyukai Hujan. Dan kamu adalah hujanku dulu..

Si penyuka pantai dan senja…

Aku meminta maaf untuk kisah kita yang kuakhiri dengan epilog yang menyakitkan.

Terima kasih sudah berbagi kisah denganku, semoga segala impianmu yang pernah kau bagi padaku kala itu dapat kau wujudkan. Maaf aku tidak bisa menemanimu dan terima kasih untuk botol minuman berwarna biru yang pernah kau berikan padaku. Kamu juga tau warna kesukaanku.

Akhir kata, kuharap kau membaca pesanku yang sempat aku kirimkan padamu lalu aku hapus supaya mengembalikan sebuah novel yang pernah kamu pinjam padaku waktu itu. Kamu tau betapa berharganya novel itu bagiku J

Continue reading [CATATANKU] BUKAN HUJAN FAVORIT

Minggu, 15 September 2019

, , ,

[PROFILE SINGKAT GRUP] INTERSECTION

Kiri ke Kanan : William, Mika, Caelan, Kazuma
Kiri ke Kanan : William, Mika, Caelan, dan Kazuma

Logo Grup

URAIAN SINGKAT

Intersection (インターセクション) adalah sebuah boyband Bilingual Jepang/Amerika beranggotakan empat orang remaja yang berbasis di Tokyo, Jepang. Nama “Intersection” sendiri didasari dari kesemua anggotanya yang memiliki garis keturunan persimpangan Jepang dengan Amerika, tidak heran jika mereka mampu berbicara bahasa Inggris dan Jepang dengan lancar meski mereka lahir di luar Jepang.

Grup ini sendiri dibentuk pada tahun 2015 saat Mika Hashizume dan Kazuma Mitchell bertemu di sebuah sekolah internasional di Tokyo, lalu William Aoyama dan Caelan Moriarty bergabung, dan akhirnya berhasil melakukan debut utama mereka pada tahun 2018  di bawah naungan anak perusahaan AVEX Group dengan label mereka sendiri yang disebut The Whole Earth Connection dengan tujuan grup tersebut mampu memberikan dorongan dalam keberagaman industri musik Jepang. Hampir semua lagu yang mereka bawakan juga dalam bahasa Inggris.

Pada 6 Oktober 2017, mereka mengeluarkan single lagu pra-debut berbahasa inggris dengan judul “Starting Over”. Lagu ini terpilih menjadi salah satu nominasi Spotify's "Early Noise 2018


Lalu setahun kemudian, tepatnya tanggal 5 Oktober 2018 mereka akhirnya mengeluarkan lagu digital untuk debut resmi dengan judul “Heart of Gold”. Lagu dan Video Musik untuk debut mereka ini memiliki kesan yang sederhana dengan getaran pop yang manis. Ini akan memberikan kesempatan kepada para penggemar yang baru mengenal mereka mendengarkan vokal dari masing-masing anggota saat mereka melakukan serenade terhadap ketertarikan cinta mereka serta memberikan setiap anggota kesempatan untuk bersinar.
Sumber : (macgmagazine)


Sebulan setelah meluncurkan single pertama debut mereka, pada tanggal 8 November 2018 mereka mengeluarkan single kedua yang berjudul “Falling”. Falling sendiri mengeksplorasikan arti jatuh cinta yang begitu mendalam kepada seseorang hingga kamu akan merasa jatuh sejatuh-jatuhnya. Mereka menyeimbangkan antara melodi dan vokal sambil memberikan ruang satu sama lain untuk bersinar baik sebagai individu maupun sebagai sebuah kesatuan grup.Lagu ini sangat menyenangkan dan visualnya menjadi tambahan yang sempurna untuk memastikan liriknya mampu membuka dan menarik kita ke dalam dunia yang dipenuhi dengan suara mereka.
Sumber : (wolfinasuit)


Setelah Falling, pada tanggal 07 Desember 2018 mereka mengeluarkan single ketiga mereka berjudul “Body Language”. Lagu ini digambarkan sebagai lagu dance upbeat, dimana liriknya membicarakan bagaimana kamu bisa menyampaikan rasa kasih sayangmu kepada seseorang bahkan meski terkendala bahasa sekalipun. Body Language adalah lagu kesuksesan pertama mereka dan terpilih sebagai lagu yang banyak ditampilkan dalam daftar putar besar di pada platform musik Spotify hingga Apple Music. Video Musiknya ditonton lebih dari 800.000 penonton, dan popularitas internasional mereka meningkat terutama di wilayah Asia.
Sumber : (aramajapan)


Awal tahun 2019, mereka mengeluarkan single keempat pada tanggal 25 Januari 2019 berjudul “Twisted”. Twisted merupakan lagu yang diproduseri sendiri oleh William dan Kazuma yang membicarakan tentang patah hati. Teman pribadi mereka menjadi menyutradarai video musiknya dengan setiap anggota memberikan saran dan masukan dalam proses pengambilan gambar.

William memaparkan bahwa Twisted sendiri mengenai perasaan sedih ketika segalanya berjalan tidak baik dengan perempuan yang kamu sukai karena memiliki perasaan yang berbeda. Ini adalah sesuatu yang pernah dia alami. Twisted mempertanyakan jika hatimu sedang tertuju kepada orang lain, perasaan kegelisahan, dan situasi dimana pikiranmu tampak tersesat diantara dunia nyata dan dunia fantasi. William berharap orang-orang akan mendengarkan lagunya, tapi dia juga akan mereka senang jika mereka juga menonton video musiknya.
Sumber : (moshimoshi-nippon)


You are The Reason” rilis enam bulan setelah Twisted dan menjadi single kelima mereka pada tanggal 15 Juni 2019. William memproduseri lagu ini bersama dengan Sack Skelton dan Casey Smith di Los Angeles tahun 2016 silam. Single ini adalah jawaban dari single pre-debut mereka “Starting Over” yang rilis di tahun 2017. William baru menulis ulang lirik bahasa jepangnya dan merekam bagian vokal para anggotanya tahun ini. Musik Video-nya dilakukan di Los Angeles, negeri asal lagu ini dibuat.
Sumber : (talkaboutpopmusic)


One Step Closer” adalah single keenam mereka yang dirilis pada tanggal 19 Juli 2019 dan menjadi 2nd Ending Song untuk Anime “Fruit Basket 2019”. William berpartisipasi dalam penulisan liriknya yang mengacu pada cerita dalam anime-nya.


Pada Tanggal 21 Agustus 2019 akhirnya mereka merilis album digital pertama mereka yang bertajuk “INTERSECTION”. Album ini berisi 11 lagu yang mana 6 lagu merupakan lagu-lagu yang pernah dirilis sebelumnya yaitu Starting Over, Falling, Body Language, Twisted, You are The Reason, dan One Step Closer. Sementara “Who Do You Love” yang merupakan salah satu track lagu di dalam album baru saja mengeluarkan Video Musiknya tanggal 8 Agustus kemarin.”
Sumber : (hinayume)


Musik Video “Hot Water” rilis pada tanggal 28 Agustus 2019 dan merupakan salah satu track di album pertama. Pengambilan gambar video musik ini dilakukan di Thailand.



Lalu “Love Alone” dan juga “Lost Boy” adalah dua lagu yang merupakan tambahan lagu di dalam album pertama mereka.




Keempat anggota berasal dari latar belakang berbeda yang memiliki ketertarikan dalam hal bermusik dan ingin memamerkan hasil dari keberagaman mereka dalam satu kesamaan.
Melalui penampilan mereka dalam acara mode seperti Dior, Luis Vuitton, Tokyo Girls Connection ke-27, dan Sapporo Collection 2019, Intersection telah mengaburkan garis batas antara mode dan musik, sebagai gantinya mereka mendapatkan pengikut dan perhatian online yang besar. Intersection juga dipilih sebagai “Artist to Watch” oleh Youtube pada bulan Januari tahun ini. Selain disibukkan dengan aktivitas grupnya, mereka juga sibuk dengan aktivitas dan aktif dalam kegiatan solo mereka.



ANGGOTA

MIKA HASHIZUME (橋爪ミカ)

Instagram Mika
Lahir di Hawai pada tanggal 21 Desember 1998. Mika merupakan anggota tertua sekaligus leader di dalam grup. Cita-cita Mika awalnya ingin menjadi pemain sepak bola profesional, dia tinggal di Hawai hingga berumur 16 tahun. Dia mendeskripsikan dirinya sendiri sebagai seseorang yang memiliki kepribadian yang lembut dan perhatian, sifat yang sempurna untuk menjadi pemimpin dalam grup.
Sebagai seorang anak yang memiliki latar belakang yang kuat di bidang musik, Mika mampu memainkan dua alat musik Violin dan Ukulele. Selain bermusik, hobi lainnnya yang dia geluti adalah berselancar, fotografi, dan skateboard.
Mika pernah merilis lagu Solo-nya yang berjudul “Tell Me” pada tanggal 24 Desember 2018 lalu


WILLIAM AOYAMA (青山ウィリアム)

Instagram William
William lahir di California pada tanggal 19 Mei 2000. Dia tinggal di Jepang sejak usianya 2 tahun. Memiliki latar belakang yang kuat di bidang Renang, William sebenarnya dilatih untuk menjadi salah satu tim renang di Olimpiade Junior. Sekitar umur 14 tahun dia mulai menunjukkan ketertarikan terdalamnya dalam bidang seni dan menjadikannya sebagai fokus utamanya.
William adalah vokalis utama grup dan juga membantu dalam komposisi lagu. Bahkan beberapa lagu Intersection ciptaan William.

KAZUMA MITCHELL (ミッチェル和馬)

Instagram Kazuma
Kazuma lahir pada tanggal 15 Mei 2000 di New York. Dia tinggal di New York sisi timur hingga berusia 8 tahun, kemudian pindah ke Jepang. Dia bisa memainkan alat musik tiup seperti flute dan Saxophone karena terinsipirasi setelah dia mendengarkan lagu di film Disney yang berjudul “Little Mermaid”
Kazuma juga merupakan model eksklusif untuk majalah mode populer Jepang bernama MEN’S NON-NO, dia dianugerahi penghargaan Semi-Grand Prix saat audisi terbuka di tahub 2017. Disamping memiliki visual dan bakat yang memukau, Mika adalah salah satu paket lengkat dengan memiliki kecerdasan otak yang luar biasa, terbukti saat ini dia sedang menjalani kuliahnya di Harvard University dan berencana untuk lulus di tahun 2023.
Kazuma pernah merilis single solo pertamanya yang berjudul “To You” bekolaborasi dengan Carlo Redl dengan nama Kaz dan tanggal 14 Desember 2018 dia juga merilis lagu solonya kolaborasi dengan Carlo Redl dengan judul “Red Light”. Liriknya sendiri ditulis oleh Kazuma.



Caelan Moriarty (モリアティー慶怜)

Instagram Caelan
Caelan adalah anggota termuda di dalam grup yang lahir di Cuba pada tanggal 12 April 2001 di Pangkalan Militer Amerika Kuba. Ayahnya seorang keturunan Irlandia dan bekerja di Militer, sehingga mereka sering berpindah-pindah. Dia pernah tinggal di Pantai Virginia, Hawai, dan Jepang. Karena sering berpindah tempat, dia jadi mengetahui banyak sekali perbedaan budaya dan memiliki selera musik yang beragam dan beberapa minat umum lainnya. Karena umurnya lebih muda dari anggota lainnya dia tidak pernah terlihat sangat canggung di hadapan mereka bahkan Caelan dinobatkan sebagai moodmaker yang membuat para anggota tertawa.


Sumber
aramajapanaminoapps, official website, 
semua gambar adalah hak milik INTERSECTION



Continue reading [PROFILE SINGKAT GRUP] INTERSECTION

Senin, 06 Mei 2019

[Catatan] Surat Rinduku Untukmu (Sebuah Surat Untuk Nenek Tercinta)




Kamar dengan ranjang kayu yang memiliki ukiran khas itu kini lengang, bahkan kasur kapuk yang selalu menjadi tempat untuk beristirahat itu seperti sudah kehilangan penghuni. Aku menatap sendu setiap kali membuka tirai jendela dan mematikan lampu kamar di pagi hari, kenangannya masih terasa hangat. Sudah sebulan semenjak kepergian seorang wanita yang selalu menjadi malaikat pelindungku. Rumah yang biasa penuh dengan makanan dan barang-barang yang entah itu berguna atau tidak sedikit demi sedikit mulai berkurang. Televisi yang biasanya menyala meski tidak ditonton dibiarkan begitu saja.

Ada rasa rindu yang menelusup, ada rasa penyesalan karena aku bahkan tidak bisa menjadi seseorang yang mampu menjaga dan terkadang membangkang perkataannya. Mimpi buruk sebulan yang lalu di rumah sakit malam akan selalu kuingat. Nafasmu yang terengah-engah dengan selang oksigen di hidungmu, air matamu yang menetes saat aku bahkan orang-orang di dalam sana tidak hentinya bersalawat dan meminta kepada sang pencipta untuk kesembuhanmu. Ketakutan itu begitu jelas menggerogoti akal sehatku, takut bahwa aku tak bisa melihatmu lagi keesokan harinya. Kamar rawat layaknya medan perang baginya, tanganku bergetar saat menekan dadanya berulang kali sembari mengucapkan kalimatNya, memohon berulang kali untuk bernafas dengan teratur, untuk berpikir tenang dan tak perlu memikirkan apapun.

Pada dini hari, ketakutanku terjadi kala adikku tiba-tiba saja membangunkanku saat kami bergantian untuk berjaga. Mengatakan dengan suara bergetar bahwa perut beliau tidak bergerak naik turun layaknya orang bernafas. Aku langsung terjaga, rasa kantukku menghilang begitu saja. Aku mencoba untuk menyentuh nadinya dan juga mencoba mendengar deru nafasnya, berusaha berpikir positif bahwa aku masih bisa mendengar suara nafas beliau meski sesungguhnya aku menyadari itu adalah suara selang. Adikku tetap tidak mempercayai pernyataanku hingga pada akhirnya kami memutuskan untuk keluar memanggil perawat yang berjaga.

Perawat yang pada awalnya tampak begitu tenang saat masuk dan memeriksa tiba-tiba terlihat begitu panik, bahkan tabung oksigen pun rencananya akan ditambah lagi. Namun saat mereka memanggil dokter jaga segalanya terlihat jelas, ketakutanku menjadi. Air mataku mengalir, merutuk diriku sendiri karena tertidur. Ibuku dengan tenang menghubungi keluarga kami yang ada di luar kota dan juga beberapa saudara lainnya. Mengatakan bahwa Ibu mereka sudah tiada, tolong didoakan dan meminta untuk tenang. Hatiku sembilu saat wajah beliau ditutup oleh kain, berharap segalanya adalah sebuah kebohongan seperti tanggal ketiadaan beliau saat itu.

Malam yang sunyi begitu mencekam saat sirine ambulans membawaku dan juga jenazah beliau ke rumah tempat kami biasa menghabiskan waktu. Aku menahan air mataku dengan kuat, berusaha untuk tidak menangis lagi, namun aku bisa apa? Nafasku sesak, dadaku sakit. Sudah lama sekali aku tidak merasakan gejala panikku lagi dan sekarang itu datang lagi dengan kondisiku yang seperti ini. Adikku dengan cepat memintaku untuk meminum sisa obat yang dulu pernah dokter resepkan padaku, aku mulai sedikit tenang walau tidak sepenuhnya bisa.

Keluargaku dari luar kota datang menjelang subuh tiba, mereka langsung menghambur pada jenazah beliau yang sudah terbujur kaku di ruang tengah, tangis meraung, dan begitu banyak kata-kata yang diucap menanyakan banyak hal. Mereka memeluk kami, saling memberikan kekuatan satu sama lain. Lantunan ayat suci Al-Qur’an diperdengarkan tak henti-hentinya oleh kami, karena sejatinya hanya itu lah yang bisa kami lakukan untuk beliau saat ini. Saat memandikan jenazah dan memakamkan beliau tangis kembali pecah, seolah tidak rela untuk ditinggal pergi. Namun kami berusaha ikhlas, akupun juga begitu demi kebahagiaan beliau dan ketenangan beliau saat menghadapNya.

Hari terberat yang harus kujalani adalah saat sudah melewati 7 hari kepergian beliau. Rumah benar-benar terasa sunyi dan hanya menyisakan aku dan juga ibuku. Tidak ada lagi meja ruang tengah yang dipenuhi dengan buah dan makanan ringan lainnya yang bahkan tidak tau kapan tidak tersentuh, tidak ada lagi kulkas yang penuh dengan makanan dan bahan-bahan memasak lainnya, tidak ada lagi  sosok yang selalu tiba-tiba membuka pintu kamar untuk memeriksa apakah penghuni di dalamnya tertidur atau masih terjaga, tidak ada lagi sosok yang akan selalu mengupasi buah dan meletakkannya begitu saja di meja kamar untuk kumakan, tidak ada omelan-omelan berisik yang terkadang membuatku jengah, tidak ada lagi yang akan melepaskan kacamata dan mematikan tv kamar saat aku terlelap tidur, tidak ada lagi yang membangunkan aku subuh tanpa henti sampai aku benar-benar bangun dengan kondisi sebal, dan tidak ada lagi sosok pelindung yang akan selalu membelaku dan mengkhawatirkanku saat aku tidak pulang dan pergi seorang diri ke suatu tempat.

Aku rindu... iya aku rindu padamu nek... hingga aku tidak sadar air mataku jatuh begitu saja saat aku menulis surat ini untukmu.

Aku pikir sekarang engkau sudah bahagia disana, penderitaanmu menahan sakit selama ini sirna sudah, Allah sudah mengangkat semuanya dan menempatkanmu di tempat yang terbaik saat ini.
Tolong maafkan segala kesalahanku, tolong maafkan segala ego yang terkadang menyakitimu.

Maafkan aku yang masih belum memberikan sosok lelaki yang akan menjadi pendampingku kelak, aku tau engkau begitu menginginkannya. Maaf.. maaf.. beribu kali maaf. Kelak saat aku menemukan sosok itu aku akan memperkenalkannya padamu dengan benar, mohon tunggu dan bersabarlah.
Nek, apa bapak disana juga baik-baik saja?

Tolong sampaikan rinduku juga untuknya.
Bahagia di surga Allah yah, Nek.
Suatu saat kita pasti akan bertemu lagi. Aku sayang nenek J



Dari cucumu yang selalu membangkang,
06/05/2019
Farida Mutia

Continue reading [Catatan] Surat Rinduku Untukmu (Sebuah Surat Untuk Nenek Tercinta)

Minggu, 14 April 2019

[Catatanku] Surat untuk Seseorang yang Pernah Singgah Lalu Pergi (PART 2)


Surat Kedua,

Halo, mungkin kamu tidak akan pernah menyangka jika surat selanjutnya kutujukan untuk dirimu. Aku sendiri tidak menyangka bahwa kehadiranmu disaat itu membuatku merasakan kenyamanan yang bahkan belum pernah aku rasakan sebelumnya dengan seseorang bahkan dari dia tujuh tahun yang lalu.

Iya, itu kamu.. Hadir di tempat kerjaku dulu dengan perangai yang supel dan friendly. Berbadan tinggi besar dan chubby yang menggemaskan. Aku menyambut awal perkenalan kita dengan baik. Mungkin kau awalnya terkejut saat aku bilang aku bukan tipe orang yang bisa gampang akrab dengan orang lain tapi denganmu aku mampu melakukannya. Aneh bukan?

Setelah pertemuan pertama kita sebagai rekan kerja terjadi, kau dan aku saling bertukar nomer untuk bisa lebih nyaman berkomunikasi lewat chat dan membahas pekerjaan. Awalnya hanya itu niatku dan juga berteman, tapi tanpa sadar semenjak komunikasi yang intens aku mulai bisa bercerita banyak hal denganmu. Dari obrolan yang hanya saling flirting dan ngegombal tidak jelas hingga ke pembicaraan yang lebih mendalam aku merasakan ada kecocokan disitu.

Boleh kukatakan, kamulah satu-satunya laki-laki yang mampu kuajak berbagi pandangan tentang berbagai macam topik dan hal-hal yang sedang terjadi. Aku dan kamu juga berbagi kesukaan masing-masing.

Si penyuka es krim bersuara indah dan pecinta Manchester United yang begitu mencintai keluarganya dengan sepenuh hatinya. Aku dan kamu berbagi rasa sakit yang sama, berbagi kehilangan yang sama. Saling memahami satu sama lain. Obrolan kita di cafe kala itu terasa begitu singkat saking banyaknya hal yang kita obrolkan. Terima kasih untuk traktiran es krimnya, aku sungguh menikmatinya.

Mungkin kamu lupa bahwa dulu pernah berjanji untuk pergi nonton bersama di Surabaya. Tapi tidak apa-apa jika kamu melupakannya karena aku tidak ingin berharap lebih kala itu. Kamu juga menyemangatiku saat aku gagal ujian cpns dan menghiburku. Aku masih ingat saat tengah malam kita saling berbagi ketakutan kita masing-masing, memaknai kehilangan dengan gamblangnya. Kamulah yang pertama mampu membuatku membuka sisiku itu. 

Hei, apa kamu masih suka memotret? Aku suka feed instagram-mu dulu dengan berbagai quote meski sekarang tak kutemukan lagi fotomu disana. Kau tunjukkan momen bahagiamu dibalik lensa kameramu. Teruslah berbagi kebahagiaan. 

Kupikir sejak kepindahanmu ke tempat kerja yang mana tempatnya jauh lebih dekat dengan keluargamu dan pertemuan terakhir kita di cafe saat itu adalah awal dari jarak antara kita berdua. Aku tidak ingin menyalahkan hal itu, karena hubungan kita sepertinya hanya sebatas "teman." Dan aku terlalu berekspektasi tinggi akan perasaan nyamanku terhadapmu. Seharusnya aku sadar bahwa kita tidak akan pernah bisa, karena aku sendiri tau bahwa tidak ada salah satu dari kita yang mampu berkorban.

Jarak itu semakin membentang seiring berjalannya waktu, setiap kali aku melihat story-mu di sosial media ada perasaan menggelitik yang mengganggu pikiranku.

Entah sudah berapa kali aku berusaha untuk menghubungimu duluan melalui chat, namun pesan chat itu tak pernah sampai dan terkirim padamu. Aku kecewa pada diriku sendiri. Aku merutuki kebodohanku karena aku mengulangi kesalahan yang sama.

Lebaran tahun lalu untuk pertama kalinya kau mengirimkan pesan setelah sekian lamanya. Perasaanku kala itu sungguh campur aduk, ada bahagia yang membuncah disana. Dan kau masih mengingat janji kita, kupikir akan ada harapan yang tersisa yang mampu kita capai bersama, namun segalanya tidak berjalan baik. Kau hanya membaca pesan balasanku dan itu terakhir kalinya kau mengirim pesan untukku.

Saat aku iseng membuka story di media sosial, kulihat foto seorang perempuan cantik yang kau unggah di akunmu. Ditambah lagi kau menghapus semua foto-fotomu di akun media sosial dan hanya menyisakan postingan baru berupa sebuah foto unggahan perempuan yang sama di story sedang memamerkan perhiasan indah yang tersemat di jari kiri manisnya bersama dengan ibumu. Segalanya terasa buram bagiku setelah melihatnya, tanpa sadar aku membisukan akunmu supaya aku tidak bisa melihat segala aktivitasmu di media sosial meski kita saling mengikuti.

Aku ingin mengatakan terima kasih sudah pernah hadir sejenak dalam hidupku, terima kasih sudah membuatku bisa melangkah maju dari bayangan seseorang di masa lalu, terima kasih sudah bersedia memahami dan menghargai kehidupanku dan duniaku, aku masih menunggu resensimu dari anime movie yang pernah aku berikan padamu dulu.

Ahh.. Tapi yasudahlah, kudoakan kebahagiaanmu. Finally you've found your mrs. Right.

Melalui surat ini, aku ingin kamu tau bahwa kamu penah menjadi tempat yang teristimewa untukku. Terima kasih sekali lagi dan salam hangat untuk keluargamu yang tercinta disana, semoga sehat selalu.



Pamekasan, 14 Maret 2019
Farida Mutia .A


Continue reading [Catatanku] Surat untuk Seseorang yang Pernah Singgah Lalu Pergi (PART 2)