Minggu, 14 April 2019

[Catatanku] Surat untuk Seseorang yang Pernah Singgah Lalu Pergi (PART 2)


Surat Kedua,

Halo, mungkin kamu tidak akan pernah menyangka jika surat selanjutnya kutujukan untuk dirimu. Aku sendiri tidak menyangka bahwa kehadiranmu disaat itu membuatku merasakan kenyamanan yang bahkan belum pernah aku rasakan sebelumnya dengan seseorang bahkan dari dia tujuh tahun yang lalu.

Iya, itu kamu.. Hadir di tempat kerjaku dulu dengan perangai yang supel dan friendly. Berbadan tinggi besar dan chubby yang menggemaskan. Aku menyambut awal perkenalan kita dengan baik. Mungkin kau awalnya terkejut saat aku bilang aku bukan tipe orang yang bisa gampang akrab dengan orang lain tapi denganmu aku mampu melakukannya. Aneh bukan?

Setelah pertemuan pertama kita sebagai rekan kerja terjadi, kau dan aku saling bertukar nomer untuk bisa lebih nyaman berkomunikasi lewat chat dan membahas pekerjaan. Awalnya hanya itu niatku dan juga berteman, tapi tanpa sadar semenjak komunikasi yang intens aku mulai bisa bercerita banyak hal denganmu. Dari obrolan yang hanya saling flirting dan ngegombal tidak jelas hingga ke pembicaraan yang lebih mendalam aku merasakan ada kecocokan disitu.

Boleh kukatakan, kamulah satu-satunya laki-laki yang mampu kuajak berbagi pandangan tentang berbagai macam topik dan hal-hal yang sedang terjadi. Aku dan kamu juga berbagi kesukaan masing-masing.

Si penyuka es krim bersuara indah dan pecinta Manchester United yang begitu mencintai keluarganya dengan sepenuh hatinya. Aku dan kamu berbagi rasa sakit yang sama, berbagi kehilangan yang sama. Saling memahami satu sama lain. Obrolan kita di cafe kala itu terasa begitu singkat saking banyaknya hal yang kita obrolkan. Terima kasih untuk traktiran es krimnya, aku sungguh menikmatinya.

Mungkin kamu lupa bahwa dulu pernah berjanji untuk pergi nonton bersama di Surabaya. Tapi tidak apa-apa jika kamu melupakannya karena aku tidak ingin berharap lebih kala itu. Kamu juga menyemangatiku saat aku gagal ujian cpns dan menghiburku. Aku masih ingat saat tengah malam kita saling berbagi ketakutan kita masing-masing, memaknai kehilangan dengan gamblangnya. Kamulah yang pertama mampu membuatku membuka sisiku itu. 

Hei, apa kamu masih suka memotret? Aku suka feed instagram-mu dulu dengan berbagai quote meski sekarang tak kutemukan lagi fotomu disana. Kau tunjukkan momen bahagiamu dibalik lensa kameramu. Teruslah berbagi kebahagiaan. 

Kupikir sejak kepindahanmu ke tempat kerja yang mana tempatnya jauh lebih dekat dengan keluargamu dan pertemuan terakhir kita di cafe saat itu adalah awal dari jarak antara kita berdua. Aku tidak ingin menyalahkan hal itu, karena hubungan kita sepertinya hanya sebatas "teman." Dan aku terlalu berekspektasi tinggi akan perasaan nyamanku terhadapmu. Seharusnya aku sadar bahwa kita tidak akan pernah bisa, karena aku sendiri tau bahwa tidak ada salah satu dari kita yang mampu berkorban.

Jarak itu semakin membentang seiring berjalannya waktu, setiap kali aku melihat story-mu di sosial media ada perasaan menggelitik yang mengganggu pikiranku.

Entah sudah berapa kali aku berusaha untuk menghubungimu duluan melalui chat, namun pesan chat itu tak pernah sampai dan terkirim padamu. Aku kecewa pada diriku sendiri. Aku merutuki kebodohanku karena aku mengulangi kesalahan yang sama.

Lebaran tahun lalu untuk pertama kalinya kau mengirimkan pesan setelah sekian lamanya. Perasaanku kala itu sungguh campur aduk, ada bahagia yang membuncah disana. Dan kau masih mengingat janji kita, kupikir akan ada harapan yang tersisa yang mampu kita capai bersama, namun segalanya tidak berjalan baik. Kau hanya membaca pesan balasanku dan itu terakhir kalinya kau mengirim pesan untukku.

Saat aku iseng membuka story di media sosial, kulihat foto seorang perempuan cantik yang kau unggah di akunmu. Ditambah lagi kau menghapus semua foto-fotomu di akun media sosial dan hanya menyisakan postingan baru berupa sebuah foto unggahan perempuan yang sama di story sedang memamerkan perhiasan indah yang tersemat di jari kiri manisnya bersama dengan ibumu. Segalanya terasa buram bagiku setelah melihatnya, tanpa sadar aku membisukan akunmu supaya aku tidak bisa melihat segala aktivitasmu di media sosial meski kita saling mengikuti.

Aku ingin mengatakan terima kasih sudah pernah hadir sejenak dalam hidupku, terima kasih sudah membuatku bisa melangkah maju dari bayangan seseorang di masa lalu, terima kasih sudah bersedia memahami dan menghargai kehidupanku dan duniaku, aku masih menunggu resensimu dari anime movie yang pernah aku berikan padamu dulu.

Ahh.. Tapi yasudahlah, kudoakan kebahagiaanmu. Finally you've found your mrs. Right.

Melalui surat ini, aku ingin kamu tau bahwa kamu penah menjadi tempat yang teristimewa untukku. Terima kasih sekali lagi dan salam hangat untuk keluargamu yang tercinta disana, semoga sehat selalu.



Pamekasan, 14 Maret 2019
Farida Mutia .A


Continue reading [Catatanku] Surat untuk Seseorang yang Pernah Singgah Lalu Pergi (PART 2)

Kamis, 04 April 2019

, ,

[Resensi Buku] REPRESI - Fakhrisina Amalia


Judul Buku : Represi
Penulis : Fakhrisina Amalia
Editor : Tri Saputra Sakti
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama


Sinopsis 

Awalnya hidup Anna baik-baik saja.

Meski tidak terlalu dekat dengan ayahnya, Anna punya seorang Ibu dan paara sahabat yang setia sejak SMA, para sahabatnya yang mendampingin Anna, memahami gadis itu melebihi dirinya sendiri. 

Namun, keadaan berubah ketika Anna mulai menjauh dari para sahabatnya. Bukan hanya itu, hubungan dia dengan ibunya pun memburuk. Anna semakin hari menjadi sosok yang semakin asing. Tidak ada yang tau apa yang terjadi pada Anna, hingga pada suatu hari, dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya  yang ternyata penuh luka. 

Resensi

"Manusia itu seperti gunung es, yang bersembunyi selalu jauh lebih besar daripada yang kelihatan. Ketika mengalami peristiwa yang nggak menyenangkan dan menimbulkan emosi, kita selalu punya dua kecenderungan; untuk menekannya ke bagian tersembunnyi di dalam diri kita atau mengeluarkannya--ke luar diri kita." -hal. 199


Sebelum saya membahas buku ini izinkan saya sedikit memberikan ilmu mengenai judul dari buku karya kak Fakhrisina Amalia ini. 

Menurut Sigmund Freud, Represi adalah ketika kamu berusaha memendam dan melupakan suatu kejadian dengan menggunakan fungsi mekanisme pertahanan diri agar ketika manusia menghadapi situasi traumatis secara terus-menerus, dirinya dapat berlindung dari kecemasan dengan cara mempertahankan dirinya. Freud mengatakan bahwa represi adalah mekanisme pertahanan diri yang paling dasar.


Represi ditunjukkan dalam bentuk mengubur perasaan-perasaan cemas, mengancam, kehendak yang tidak sesuai harapan, serta keinginan yang mengganggu ke alam bawah sadar. Gejolak tersebut disingkirkan supaya tidak muncul ke alam sadar. Represi dapat muncul sepanjang hidup.
(Source : PijarPsikologi)

Nah, setelah kita mengetahui makna dari judul novel di atas kita bisa mengerti inti dari cerita buku ini. Saat aku mengetahui kak Fakhrisina Amalia membuat novel baru aku langsung tertarik untuk mencari tau dengan melihat beberapa resensi dari goodreads, lalu tanpa berpikir lagi aku memutuskan untuk membelinya. 

Membaca buku represi terutama bertemu dengan tokoh Anna sejujurnya serasa bercermin pada diri sendiri. Mungkin perasaan dan pemikiranku tidak sekompleks milik Anna, tapi aku bisa memahami bagaimana perasaan Anna di dalam cerita meski sudut pandang dalam novel ini menggunakan sudut pandang ketiga. Dia adalah sesosok perempuan yang seperti kehilangan gairah hidupnya setelah percobaan bunuh dirinya gagal dan berbagai kejadian menimpa dirinya. Hingga akhirnya dia dibawa ke seorang psikolog yanng ibunya rekomendasikan untuknya. dr. Nabila adalah tokoh yang sangat penting bagi perkembangan si tokoh utama dan terbukti dengan perannya sebagai seorang psikolog yang sabar dan tenang dalam menghadapi Anna untuk bisa terbuka sedikit demi sedikit dengan pendekatan secara psikologis. Dari sini aku jadi tau banyak tentang berbagai macam bimbingan/terapis konseling yang ada meski aku sendiri pernah di posisi Anna. 

"Bersahabat tidak berarti harus selalu bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Kadang-kadang bersahabat adalah tentang tetap saling menjaga dan mendukung ketika jauh. Bersahabat adalah tentang tetap bisa bertemu tanpa canggung dan seperti tidak pernah berjauhan. Bersahabat itu soal hati, bukan soal fisik." hal. 70

Sahabat-sahabat Anna yang bahkan dengan supportive-nya bersedia melakukan apapun demi kebahagiaan Anna. Ini adalah salah satu hal yang membuatku iri dengan persahabatan mereka. Mereka juga adalah tokoh - tokoh penting dalam perkembangan karakter Anna sendiri. Bagaimana mereka bisa saling memahami dan menerima bagaimanapun kondisi Anna tanpa bersikap berbeda.

Pergantian alur maju dan mundur yang ada di dalam novel terkesan nyaman untuk dibaca, apalagi penulis sepertinya sengaja memberikan keterangan tahun terjadinya suatu cerita sebelumnya. Jadi kita dibuat tidak bingung dan menebak-nebak ini alur maju atau merupakan alur mundur. 

Berbeda dengan Persona yang merupakan karya Penulis sebelumnya dimana terdapat plot kejutan menjelang akhir cerita, plot cerita dalam Represi tidak terkesan rumit karena konfliknya tentu saja berbeda meski sama-sama membahas tentang salah satu mental illness. 

Sejujurnya membaca buku ini membuatku teringat dengan diriku sendiri beberapa bulan yang lalu, aku pernah berada di posisi Anna, melihat dunia terasa gelap dan tak ada artinya. Represi adalah cerminan untuk orang-orang yang pernah merasa depresi sepertiku. Apalagi ada satu bagian dalam cerita yang benar-benar membuatku berdebar dan tiba-tiba merasakan sakit akan luka lama yang mendadak muncul. Dadaku ngilu sekali setelah menyelesaikann membaca cerita ini. 

"Menolak menerima bahwa kamu merasa seperti itu karena kamu tau seharusnya nggak begitu, juga merupakan bagian dari nggak menerima diri sendiri. Kadang-kadang yang terjadi memang nggak seperti seharusnya dan kita gak perlu menolak atau marah pada diri kita sendiri. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, Anna." hal. 200

Novel ini banyak mengajarkan tentang bagaimana menerima dan memaafkan diri sendiri terhadap diri kita di masa lalu. Bagaimana kita bisa melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda dan tidak selalu terfokus pada diri kita sendiri. Ada banyak makna kehidupan di setiap perkataan yang dilontarkan dr. Nabila. Aku sempat berkaca-kaca dan terharu saat momen Anna berkata jujur dan terbuka mengenai kisah yang selama ini dia tutupi kepada kedua orang tuanya juga pada teman-temannya karena itu merupakan sebuah keberanian yang tidak semua orang bisa melakukannya.

Ada satu kekurangan yang menurutku sedikit bertanya-tanya, mungkin terdengar sepele namun sebelum memulai cerita tiap bab penulis selalu menuliskan setting tempat cerita yaitu Yogyakarta beserta tahun kejadiannya. Meski penulis sudah secara gamblang menuliskan setting ceritanya tapi aku merasa penulis tidak memberikan unsur detail setting yang dimaksud dalam cerita. Misalnya dimana mereka berkuliah atau detail tempat harusnya bisa menunjukkan kalau mereka ada di Yogyakarta. Selama awal cerita hingga akhir aku jujur saja tidak menemukan hal itu. Sebenarnya tidak terlalu mengganggu hanya saja lebih baik penulis bisa memberikan detail latar dan tempatnya walau cuma sedikit, apalagi untuk orang yang tidak tinggal di kota tempat setting diceritakan.

Akhir kata 4,5/5 bintang untuk Represi.

Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada penulis Represi karena sudah membuat cerita dengan tema depresi ini. Karena membacanya sudah membuatku merasa ikut larut dalam kondisi yang dialami dan sekaligus menjadi terapi untuk diriku sendiri. Terima kasih dan ditunggu karya selanjutnya.



Continue reading [Resensi Buku] REPRESI - Fakhrisina Amalia
,

[Catatanku] Surat untuk Seseorang yang Pernah Singgah Lalu Pergi (PART 1)




 Surat Pertama. 

Surat ini aku tujukan untuk dirimu, yang sudah mengajarkan aku bagaimana rasanya mencintai seseorang dan juga merasakan luka untuk pertama kalinya. Terima kasih sudah bersedia memberikan aku sebuah rasa yang begitu asing padaku. Aku yang sendiri, memilih untuk menyendiri hingga kau datang padaku melalui perantara temanku. 

Aku berusaha untuk menolak segala perhatian yang kau tujukan padaku, karena aku terlalu takut untuk jatuh hati dan terluka seperti yang pernah teman-temanku alami. Aku berusaha untuk membangun dinding itu untuk diriku sendiri namun kau masih berusaha mendekatiku, menawarkan berbagai perhatian yang tanpa sadar membuatku terbiasa dan mulai menikmatinya. 

Kau mengajakku ke tempat yang tak pernah aku tuju. Namun maaf, sikapku tampak dingin karena sesungguhnya aku tak tau bagaimana harus menyikapi. Kau menemaniku menanti hujan yang turun. Duduk bersama, sedangkan aku hanya menunduk dan berusaha bersikap dengan tenang saat bersamamu. 

Kau orang pertama yang memberikan sebuah sentuhan lembut di tanganku, menyatukan jemariku dengan dirimu bersama-sama. Bersandar satu sama lain hingga perjalanan terasa begitu singkat bagiku. Aku pernah menandai momen pertama antara kau dan aku di kalender hape. Kedengarannya menggelikan tapi aku menyukainya.

Sebungkus bengbeng selalu menjadi hadiah kecil untukku setelah kau mengantar dan menjemputku setiap saat. Terima kasih, aku tidak tau apa kau menyukainya atau tidak tapi kuharap kau suka.
Terima kasih sudah bersedia menjadi pendengar untuk hobiku yang absurd. Terima kasih sudah mengerti. Apa kau ingat kau pernah memintaku untuk menggambar tokoh kartun dengan kaos Manchester United? Maaf jika dulu membuatmu lama menunggu untukku menyelesaikannya. 

Hingga suatu ketika kehadiranmu perlahan tak dapat kuraih. Intensitas yang membuatku menjadi terbiasa denganmu mulai memudar. Kau memberikan jarak sampai aku kehilangan segala bentuk perhatianmu dan membuatku sadar bahwa aku jatuh cinta disaat luka itu baru saja kau torehkan.
Aku minta maaf karena kealpaanku dalam berucap dan mengungkapkan perasaan. Ada begitu banyak pertanyaan di kepalaku namun tak satupun yang mampu aku katakan. Berulang kali aku melepaskan momen yang bisa membuatku mengatakannya tapi lagi-lagi kebodohanku dan ketakutanku selalu menjadi penghalang untukku. 

Dan yang bisa aku lakukan untuk melepaskan sesak di dada karena perasaan ini hanyalah menangis. Entah berapa kali aku menangis karena merindukanmu tanpa sebab. Hingga puncaknya aku menangis pada suatu study tour di Jakarta kala itu. Yang bisa aku lalukan hanya memandang punggungmu, diam-diam memotret punggungmu dari belakang menyimpannya untuk membuatku merasa baik-baik saja dan cukup. 

Sebuah lagu yang saat itu disenandungkan oleh seorang teman padaku tepat dihadapanku membuat pertahananku lumpuh. Aku tidak kuasa menahan sakit itu, sungguh memalukan karena aku menangis di depan banyak teman-temanku dan juga dia menyadarinya. Tapi aku tak mengatakan apapun dan memilih diam.

Momen-momen kecil di kala itu terasa begitu menyenangkan, membawaku pada harap yang tersisa walau sesungguhnya aku sadar aku sudah kehilanganmu disaat itu juga. 

Selama masa empat tahunku, aku berusaha untuk mengejar hanya bayangmu. Menatapamu dari jauh, bahkan aku hafal nomer plat sepedamu dan terkadang tanpa sadar aku mencarinya di parkiran kampus. Aku bahkan masih menatapmu diam-diam saat kau membawa perempuan lain di bangku belakang sepedamu berulang kali. 

Aku memupuk luka itu dan rasa itu padamu. Meski terkadang aku tak sering memikirkanmu dan harapku kian menipis seiring berjalannya waktu namun jauh di dalam hatiku aku masih mencarimu.
Kau mungkin ingat saat aku pernah mengirimkan surat elektronik melalui pesan di akun media sosialmu. Butuh keberanian luar biasa untukku bisa melakukannya, berusaha untuk meluapkan segala hal yang masih mengganjal di hati dan pikiranku. Dan betapa senangnya aku setelah kusadar kau membalasnya beberapa hari setelahnya. Air mataku mengalir dan jantungku berdebar sangat kencang saat aku aku membaca surat balasanmu. 

Kupikir balasan surat itu sudah cukup meredam perasaanku dan membuatku bisa melangkah maju, namun ternyata hatiku masih tertuju untukmu hingga tanpa kusadari 7 tahun sudah berlalu.

Saat kudengar kau akan memulai hidupmu yang baru dengan seorang wanita pilihanmu itulah saat terakhir aku menangis untukmu. Itulah saat terakhir aku memutuskan untuk mengakhiri perasaan yang selama ini mengganjal di hatiku. 

Doaku untukmu yang kini sudah menjadi seorang suami dan ayah dari keluarga kecilmu sekarang. Kumohon berbahagialah dimanapun kamu berada. 

Terima kasih untuk segala kenangan dan luka yang sudah pernah kau torehkan untukku. Aku belajar bahwa aku pantas bahagia layaknya dirimu saat ini. 

Halo Hatsukoi-san-- begitulah aku menyebutmu dalam hati selama tujuh tahun itu, Terima kasih sudah menjadi yang pertama singgah meski pada akhirnya kau memilih untuk tidak menetap. Aku disini masih mencari kebahagiaanku tanpa embel-embel ada dirimu lagi..
Dari seseorang yang pernah mencintaimu untuk 7 tahun lamanya.
 



Pamekasan, 13-03-2019.
Farida Mutia .A

Continue reading [Catatanku] Surat untuk Seseorang yang Pernah Singgah Lalu Pergi (PART 1)

Jumat, 01 Desember 2017

, ,

[ULASAN DAN PROFIL] HACHIMITSU TO CLOVER

[ULASAN DAN PROFIL] HACHIMITSU TO CLOVER




Pernahkah kau merasa putus asa dengan kehidupanmu? Pernahkah kau merasakan betapa menyakitkannya cinta yang bertepuk sebelah tangan? Pernahkah kau merasa cemas dan takut memikirkan masa depanmu? Pernahkah kau merasa berada di suatu titik dimana kau sudah berusaha sebaik mungkin tapi tidak mendapatkan hasil yang diharapkan? Pernahkah kau merasa iri dengan seorang yang berada jauh di atasmu dan memiliki segalanya?

Pernah ngerasain hal-hal yang aku sebutin diatas nggak? Rasanya anime ini sangat cocok untuk merefleksikan diri kita sendiri yang seolah masih tersesat dan bimbang dengan kehidupan. Tentang masa muda yang awalnya terasa manis dengan berkumpul bersama teman seperjuangan lalu dihadapkan dengan berbagai masalah masing-masing namun masih saling menguatkan dan memberikan semangat tanpa henti. Tentang romansa muda yang tak sepenuhnya indah. Tentang ambisi dan keputusasaan yang menghadapkan mereka pada  kehidupan yang sebenarnya.

“As time passes, the day will come when everything will fade to memories. But those miraculous days, when you and I, along with everyone else, searched together for just that one thing, will continue revolving forever somewhere deep in my heart, as my bittersweet memory.”

Mari kita bertemu dengan mereka di sebuah apartemen bobrok yang dibangun 20 tahun lalu berisi 6 kamar. Tidak ada kamar mandi dan biaya sewanya sangat murah, namun jarak menuju kampus begitu dekat. Dihuni oleh 3 orang mahasiswa jurusan seni di Tokyo dengan kepribadian yang menarik. Takemoto Yuta si junior kesayangan yang selalu mengedapankan kepentingan teman-temannya ketimbang dirinya, Morita Shinobu si jenius dengan kepribadian absurd yang tak kunjung menyeloesaikan tugas akhirnya karena terlalu sibuk dengan pekerjaan misteriusnya, Mayama Takumi si mahasiswa tingkat akhir yang selalu menjadi sasaran keabsurdan Morita dan teman-temannya namun memiliki jiwa solidaritas tinggi.
Suatu hari seorang mahasiswi baru yang merupakan saudara sepupu dosen kesenian mereka—Hanamoto Shuuji diperkenalkan. Namanya adalah Hanamoto Hagumi. Tanpa disadari Yuta dan Shinobu jatuh cinta pandangan pertama pada Hagu-chan. Jika Yuta menyikapi perasaannya dengan tenang dan berusaha untuk menjadi seorang teman yang bisa diandalkan bagi Hagu, namun berbeda dengan Morita. Dia memanggil Hagu dengan sebutan Mousy karena tubuhnya yang mungil dan lucu. Morita cenderung menjadikan Hagu sebagai objek fotografi sehingga terkadang membuat Hagu takut dan berlari menghindari Morita. 
Lalu ada juga Ayumi Yamada, seorang mahasiswa jurusan seni keramik dengan memiliki julukan Iron Lady yang tergabung dengan kelompok mereka dan kemudian menjadi teman dekat Hagu. Yamada sangat mencintai Mayama namun Mayama hanya menganggapnya sebagai seorang teman yang sangat berharga, tidak lebih dari itu. Sedangkan Mayama jatuh cinta kepada seseorang yang lebih tua—Rika Harada, seorang janda yang juga merupakan teman dari dosen mereka. Dia menjalankan sebuah studio arsitektur yang dia dirikan bersama dengan almarhum suaminya.
Anime ini mengisahkan tentang perjalanan kehidupan kelima tokohnya dalam menghadapi cinta segitiga, cinta tak berbalas, kehidupan setelah lulus kuliah, mencari pekerjaan, dan mempelajari tentang diri mereka masing-masing.

“You choose to give up or make an effort. There are only two choices for human to choose from.  You have to honestly tell them your feeling. The rest is up to them. To make effort or to give up would make them be their choice. It was the same for you. It’s the same for everyone.”

Karakter
-        Yuta Takemoto (竹本 祐太)


Seorang mahasiswa kesenian jurusan arsitektur tahun kedua yang bertindak sebagai pembaca narasi di setiap episode. Dia tinggal di satu kompleks apartemen dengan Mayama juga Morita. Yuta digambarkan sebagai karakter yang sangat mellow. Dia jatuh cinta dengan Hagu, namun tidak pandai mengekspresikan perasaannya seperti yang Morita lakukan. dia memutuskan untuk bersikap sebagai seorang kakak dan juga teman yang bisa diandalkan oleh Hagu.

-        Hagumi Hanamoto (花本 はぐみ)


Biasa dipanggil Hagu-chan oleh teman-temannya. Dia seorang mahasiswa jurusan seni lukis tahun pertama di awal cerita. Tubuhnya mungil, kepribadiannya juga menggemaskan membuatnya tampak jauh lebih muda dari usia sebenarnya. Dia seorang seniman berbakat yang sering dipuji oleh professional. Dia sangat pemalu dan sering gugup saat berinteraksi dengan orang lain. Sikapnya yang seperti itu terkadang dianggap aneh oleh mahasiswa kesenian lainnya. Namun kemudian dia jadi lebih terbuka jika berinteraksi dengan kelompok teman-temannya. Karena sifatnya yang terlihat masih kekanakan dan polos dia bahkan tidak menyadari perasaan Morita juga Yuta.

-         Shinobu Morita (森田 忍)


Seorang mahasiswa jurusan seni patung tahun keenam di kampusnya. Dia selalu saja tidak bisa menyelesaikan tugas akhirnya tepat waktu dikarenakan pekerjaannya yang menuntutnya sering absensi. Kepribadiannya sangat absurd namun misterius. Sama seperti Takemoto dia juga jatuh cinta pada Hagu dan mengekspresikan rasa sukanya dengan cara memintanya untuk memakai berbagai kostum untuk difoto dan dipajang di suatu homepage. Sangat menyukai pekerjaan dengan bayaran tinggi dan memiliki banyak uang meski suka memakan makanan orang atau memakai pakaian orang seenaknya. Dia termasuk orang yang sangat peka dan peduli terhadap teman-temannya meskipun ditunjukkan dengan tingkah pola absurd-nya. Namun ada saat dia juga bisa serius dalam menghadapi masalah.

-        Takumi Mayama (真山 巧)


Teman satu kompleks apartemen dengan Morita dan Takemoto. Diantara mereka berdua Mayama lah yang bersikap dewasa. Terkadang juga dia terlihat sangat kewalahan dengan sikap Morita yang cenderung seenaknya. Namun dia akan selalu menjadi seseorang yang siap membantu jika dibutuhkan. Dia tidak suka ditinggalkan, jadi sebisa mungkin akan selalu menyempatkan sebagian waktunya yang sibuk dengan pekerjaan untuk bisa berkumpul dengan teman-temannya. Menyukai rekan kerjanya yang sekaligus pemilik perusahaan tempat dia bekerja bernama Rika Harada meskipun cintanya masih bertepuk sebelah tangan.

-        Ayumi Yamada  (山田 あゆみ)


Mahasiswi kesenian jurusan seni keramik. Dia dijuluki sebagai Tetsujin/Iron lady karena berlari sejauh 6 km ke kampus untuk membantu anjingnya yang kegemukan. Yamada termasuk  wanita muda yang cantik, tak heran jika dia bisa menarik perhatian banyak teman laki-lakinya dan juga rekan kerjanya. Dia terkadang cenderung kasar hanya kepada orang-orang tertentu, meskipun begitu dia seorang teman yang sangat baik dan penuh perhatian. Termasuk kepada Hagu-chan, mereka terlihat sangat akrab satu sama lain. Yamada juga diketahui menyimpan perasaan yang mendalam kepada Mayama, tapi dia tidak bisa membalas perasaan tersebut dan malah menyuruh Yamada untuk mencari lak-laki lain yang jauh lebih baik darinya dan bisa membalas perasaannya.

-        Shuuji Hanamoto (花本修司)


Dosen kesenian di kampus mereka sekaligus saudara sepupu Hagu. Biasa dipanggil Shuu-chan oleh Hagu. Dialah yang membawa Hagu ke Tokyo karena merasa bakat Hagu akan lebih tersalurkan jika berada disana. Sangat menyayangi Hagu dan super over protective jika ada laki-laki yang dekat dengan Hagu seperti yang dilakukannya pada Takemoto dan Morita.  Tidak bisa berjauhan dengan Hagu dan itu akan membuatnya tidak bisa tidur dan sakit saking kepikirannya. Dia bahkan bersedia mengorbankan hidupnya demi kebahagiaan Hagu seorang. Kantornya selalu menjadi basecamp tempat mereka berkumpul.

 “I realized why I was lost. It wasn’t because I didn’t have a map. It’s because I didn’t have destination.”

Mungkin aku agak telat banget yah nonton anime sekeren ini, padahal anime-nya lawas banget. Tahun 2005 dan aku baru nonton tahun 2017. Sudah 12 tahun yang lalu dan aku dari dulu kemana sampe gak sadar kalau ada anime yang inspiring banget macam ini? Tapi tidak apa-apa... Lebih baik telat ketimbang tidak sama sekali. Hahaha..

Hal yang menarik dari anime ini adalah ceritanya yang bittersweet dan realistis. Bahkan jujur saja ceritanya benar-benar relate banget dengan kehidupan yang terjadi di dunia nyata. Jadi jangan heran jika kalian merasa seperti “Oh.. cerita ini seperti yang aku alami.” Setiap episodenya menyelipkan pesan moral entah dari sang narrator—Takemoto Yuta sendiri ataupun tokoh lainnya. Tiap adegan tidak ada yang sia-sia. Penempatan komedi, drama, romansa segi banyak antara tiap tokohnya hingga bagaimana setiap karakter menyelesaikan permasalahannya masing-masing sangat terasa dan menambah daya tarik dalam cerita. Semuanya dijelaskan dengan porsi yang pas. Bahkan untuk karakter pendukung sekalipun mendapatkan porsi yang baik.

Perkembangan tiap karakternya juga sangat baik. Terutama Hagu-chan yang awalnya bisa kita liat dia sangat pemalu dan tidak banyak bicara namun seiring berjalannya cerita dia menunjukkan sikapnya yang jauh lebih dewasa. Sejujurnya aku takjub dan salut dengan perjuangannya untuk menghadapi masalahnya. Takemoto yang pada awalnya terlihat seperti tidak punya tujuan hidup karena berbagai kegagalan dalam wawancara kerja mulai bangkit, hingga akhirnya menemukan apa yang harus dilakukannya. Mayama yang selama ini hanya berdiam diri dan menahan perasaannya akhirnya bisa lebih mengutarakannya dan melindungi orang yang dicintainya. Morita yang selalu kita liat tingkah absurd-nya dan suka mengambil jatah makanan meski punya uang banyak ternyata memiliki suatu tujuan dengan uang yang dimilikinya. Yamada yang sering menyiksa dirinya karena begitu mencintai Mayama namun perasaannya tak berbalas akhirnya lambat laun mencoba untuk melepaskan dan membuka hatinya kepada orang lain.

Animasinya mengingatkanku pada anime Kimi to Boku dengan perpaduan warna-warna yang tidak mencolok. Perpindahan tiap adegan terasa halus dan khas. Ahh.. selain Opening dan Ending Song-nya yang easy listening dan nampol banget di telinga jangan lupa dengan insert song-nya yang tak kalah kerennya. Apalagi penempatannya di setiap adegan-adegan krusial sehingga menambah kesan yang mendalam pada adegan tersebut. Menurutku feel-nya berasa nonton Kimi to Boku tapi dengan cerita yang lebih kompleks, apalagi sama-sama menggunakan banyak insert song di dalam anime-nya. Dan sepertinya anime-nya mengadaptasi keseluruhan cerita yang ada di manga sehingga kita tidak perlu mengkhawatirkan adegan manga tidak ada di anime.

Betewe, selain diadaptasi ke dalam anime sebanyak 24 episode untuk season 1 dan 12 episode untuk season 2 karya mangaka Chica Umino-sensei ini juga diadaptasi ke dalam bentuk Live Action Movie, Live Action Drama Series, dan bahkan juga ada versi drama Taiwan-nya. Dan aku belum nonton sama sekali Live Action Movie hingga dramanya. Entah kenapa aku ngerasa feel-nya akan jauh berbeda ketimbang dengan yang ada di anime ataupun di manga. 

“I’ve been wondering whether there’s any meaning to a failed love. Is something that will disappear the same with something that has never existed? But there was a meaning right here. I’m so glad that I fell in love with you.”

Akhir kata, jika ingin menonton tontonan yang bisa membawamu pada berbagai macam perasaan dalam satu tontonan Hachimitsu to Clover atau Honey and Clover jawabannya. Terutama ini anime amat sangat cocok ditonton oleh Mahasiswa yang merasa bingung apa yang akan kamu lakukan setelah lulus nanti. Dan setelah selesai menamatkan series-nya ada perasaan seperti, “Ahh…kehidupan memang tidak selamanya indah, ada saat dimana kau harus merasakan yang namanya pahit dalam menjalaninya tapi itu tidak harus menjadikan dirimu menyerah. Jalani kehidupanmu yang saat ini penuh syukur karena suatu saat kau akan merasakan betapa indahnya hidup ini di waktu yang tepat.”


Terima kasih telah bersedia meluangkan waktu membaca postingan ini. Sampai jumpa di postingan berikutnya  yang entah kapan bisa terealisasi. Hahay. 


Sources : 
Continue reading [ULASAN DAN PROFIL] HACHIMITSU TO CLOVER