Selasa, 06 Desember 2011

, , ,

[INDOTRANS] The Boss Karam dan X-5 Ghun Debut Sebagai MC di Konser Jepang


Teman satu manajemen Open World Entertainment The Boss Karam dan juga X-5 Ghun membuat debut MC pertama mereka di acara "K-POP Festival Christmas Edition" (Festival K-POP Edisi Natal)  di Yokohama arena pada tanggal 3 Desembaer 2011. Konser selama 3 jam itu dimeriahkan oleh penampilan  Shin Hye Sung, MBLAQ, Infinite, Park Jung Min, X-5, The Boss, Boyfriend, Park Hyun Bin, dan Code-V.
SS501 Park Jung Min menjadi pembawa acara pada segmen pertama, sementara Karam dan Ghun yang mengambil alih membawakan acara pada segmen yang kedua. Karam dan Ghun menarik perhatian seluruh penonton dengan kemampuan bahasa jepang mereka yang sangat fasih, mereka datang berdua dari proses pembelajaran mereka, dalam kasus Karam, dia sudah fasih berbahasa jepang dikarenakan melakukan promosi panjang bersama The Boss selama berada di Jepang. The Boss menampilkan "Love Power", "Love Parade", dan "Lady". Sementara X-5 tampil dengan membawakan lagu debut mereka, "Don't Put on A Show" dan lagu baru mereka "Do You Want to See Me Go Crazy". Dua MC baru berkata, "Kami sangat gugup hingga gemetaran karena ini adalah yang pertama kali bagi kami. Untungnya kami tidak melakukan kesalahan tapi kita sadar masih ada aspek kekurangan didalam diri kita sehingga kita akan memperbaikinya di lain kesempatan. Ini adalah pengalaman yang menakjubkan, dan kami berharap untuk melakukan yang terbaik." The Boss akan merilis single keempat mereka pada bulan Desember di Jepang sedangkan X-5 dijadwalkan akan melakukan comeback mereka dengan merilis sebuah mini album pada tanggal 8 Desember.

IndoTrans : Farida Mutia (dengan beberapa perubahan)
Source : Soompi
Shared by : farida-mutia0628@blogspot
Continue reading [INDOTRANS] The Boss Karam dan X-5 Ghun Debut Sebagai MC di Konser Jepang

Senin, 05 Desember 2011

, , , , , , , ,

[NEWS & PICTURES] X-5 Comeback with 1st Mini Album "Dangerous"

Haii~
I'm back again :)
Maaf yah jarang ngasih news gara - gara FF gajeku..
Belum selesai sih.. tapi aku janji bakal segera nyelesain^^
Aku kembali dengan membawa news tentang Our Beloved Tall Princes Xenos-Five.
Langsung saja yah~

Setelah ditunggu - tunggu penggemar setianya, akhirnya X-5 akan melakukan comeback mereka pada tanggal 9 Desember 2011 dengan meluncurkan 1st Mini Album yang berjudul "DANGEROUS"
Inilah Tracklistnya -->

  1. Intro
  2. Dangerous
  3. 미치는 꼴 볼래 
  4. In Da House
Berikut official Jacket picturesnya^^



Uri Charisma Leader "GHUN"

Uri Moodmaker of X-5 "TAEFUNG"

Uri Dreamy Eyes "HAEWON"

Uri Rapper Prince "ZIN"

Uri Innocent Magnae "SULHU"

Bagaimana pendapat kalian guys?
I think this new concept is better than before..
I really love itu so much XD
Can't wait for their comeback^^
Please support them and also The boss..
Thank you^^ *bow

Source : 
XENOSFIVE and also Xfive0422








Continue reading [NEWS & PICTURES] X-5 Comeback with 1st Mini Album "Dangerous"

Minggu, 04 Desember 2011

,

[Fan Fiction] "PAPER BIRDS" Part 5

I'm back again, guys^^
Maaf kalo ada yang bosen sama aku ._.v
Gag ada maksud, cuma mau ngepost FF iseng - isengku kok^^V
Yang nyempetin baca makasih ajah :)
Ah, iyah.. please don't copy paste my FF
Walau jelek tapi ini kerja kerasku :D
Let's check this out -->




 Hyun Ra dan Jihwan  bersenda gurau sambil berjalan di lorong rumah sakit menuju ke kamar inap Hyun Ra. Terkadang ada tawa lepas diantara mereka berdua.  Jihwan sedang mendorong kursi roda Hyun Ra dan Hyun Ra sendiri hanya duduk diatas kursi rodanya, membiarkan Jihwan mendorongnya secara perlahan.
“Hari ini menyenangkan, aku tak pernah merasa senang seperti ini sebelumnya selama hidupku.” Ujar Hyun Ra dengan wajah ceria.
“Menyenangkan bukan? Kau mungkin pertama kalinya melakukan itu.”
“Iyah, ini pertama kalinya untukku. Membuat orang lain tertawa dan bahagia itu ternyata sangat menyenangkan lebih dari apapun. Melihat mereka seperti itu, aku merasa hatiku sangatlah senang.”
Jihwan hanya tersenyum mendengar perkataan Hyun Ra itu. Dia tidak menyangka Hyun Ra begitu antusias saat tadi dia menawarkan Hyun Ra untuk menghibur pasien anak – anak di ruang instalasi bersamanya. Tak disangka Hyun Ra pandai membacakan cerita melebihi dirinya, bahkan mimik mukanya saat bercerita terlihat begitu nyata sehingga semua pasien anak – anak yang sedang mendengarkannya terlihat begitu ceria dan gembira. Jihwan senang melihat hal itu. Hyun Ra kini mampu membuat orang lain bergembira ditengah keadaan kakinya yang memang masih terlihat sulit untuk berjalan itu.
“Besok kita kesana lagi khan, Jihwannie?” Tanya Hyun Ra begitu sampai di depan kamarnya. Wajahnya tak lepas dari senyum. Dia menoleh ke arah Jihwan yang sedang mendorong kursi rodanya di belakang dan hendak membuka pintu kamar inap Hyun Ra.
Jihwan menatap Hyun Ra lekat, kemudian dia mengangguk dengan seulas senyumnya. Tanpa kata tapi mampu membuat Hyun Ra tak berhenti tersenyum. Jihwan mendorong kursi roda Hyun Ra memasuki kamarnya.
Namun tiba – tiba mendadak dada Jihwan terasa sangatlah sesak. Dia berhenti mendorong kursi roda Hyun Ra dan memegang dadanya kuat untuk menahan rasa sakit.
‘Tidak… tak seharusnya saat bersamanya.. tak seharusnya terjadi di saat aku bersamanya.. dia belum saatnya mengetahui hal ini…’ Batin Jihwan dalam hati sambil memegang dadanya. Keringat dingin keluar dengan sendirinya, wajahnya mendadak menjadi pucat seketika, dan sebuah cairan kental berwarna merah mulai keluar dari hidung Jihwan. Jihwan ingin pergi meninggalkan Hyun Ra, namun kakinya terlalu kaku hingga dia tidak bisa menggerakkannya sedikitpun.
“Jihwan….” Hyun Ra menoleh ke belakang karena Jihwan tiba – tiba menghentikan dorongannya.
Betapa terkejutnya dia saat melihat Jihwan sedang mengerang kesakitan sambil memegang dadanya kuat – kuat. Mata Hyun Ra membesar kala melihat apa yang terjadi pada Jihwan. Tangannya bergetar secara tiba – tiba.
“Jihwannie.. gwenchanayo?” Tanya Hyun Ra dengan suara bergetar.
Jihwan menatap Hyun Ra dengan sebelah matanya. Dia tersenyum dengan bibir yang bergetar. Mengisayaratkan bahwa dia tidak apa – apa dan tak perlu terlalu mengkhawatirkannya. Tapi sepertinya hal itu tak mampu membuat hati Hyun Ra tenang. Dia sungguh khawatir, sangat khawatir malah. Apalagi saat melihat cairan kental berwarna merah itu tak berhenti mengalir dari hidung Jihwan.
Hyun Ra ingin sekali menghampiri Jihwan, memeluknya kalau perlu. Tapi melihat kondisinya saat ini sepertinya tidak mungkin dia lakukan. Dia hanya menatap Jihwan perih tanpa bisa melakukan apapun. Tanpa sebab dia tau, cairan hangat itu meleleh dari matanya. Hyun Ra sungguh tidak bisa melihat keadaan Jihwan yang mengerang menahan sakit seperti itu. Hyun Ra tidak bisa.
‘Sebenarnya apa yang terjadi dengannya?’
“Hyu… Hyun… Ra.. ya..” Jihwan menatap Hyun Ra dengan tubuh bergetar. Kini dia bersandar pada dinding sambil terus memegang dadanya. Cairan kental berwarna merah itu tak berhenti keluar dari hidungnya. Kakinya lemas seolah tak mampu berdiri lagi. “A.. aku.. ti.. dak apa.. apa.. A.. Aku.. Aka..n.. ba..ik… ba..ik.. sa.. ja..” Katanya dengan terbata – bata.
“Jihwanniieeee..” Hyun Ra tak percaya dengan perkataan itu. Air matanya semakin deras membasahi pipinya. Dia benar – benar tak sanggup melihat Jihwan dalam keadaan itu.
“Kau… te.. te.. tenang.. sa.. ja..” Tubuh Jihwan bergetar hebat. Matanya kian kabur saat melihat Hyun Ra, dan pertahanannya kian ambruk hingga akhirnya Jay terjatuh tak sadarkan diri.
“Jihwan.. Jihwan…” Hyun Ra mendekati Jihwan dengan kursi rodanya yang dia dorong dengan tangan bergetar. Matanya tak lepas dari tubuh Jihwan yang sudah tergeletak di lantai tak sadarkan diri. Hyun Ra menjatuhkan dirinya dari kursi roda, dia menyeret kakinya yang masih kaku itu. Mendekatinya, meraih kepala Jihwan yang hidungnya sudah dipenuhi dengan darah. Meletakkan kepala Jihwan di pahanya. Hyun Ra menatap wajah itu.. dia menangis semakin deras..
“Jihwan.. Jihwan.. Jihwan.. JIHWAAAAAANNN~~~”

@@@@@

Hyun Ra menatap nanar sosok yang berada dihadapannya itu. Sosok yang tak pernah lepas dari senyumnya itu kini harus terbaring lemah di atas kasur dengan begitu banyak selang yang melekat ditubuhnya. Hyun Ra ingin menangis, tapi sepertinya dia terlalu lelah untuk menangis dan kini kepalanya pening gara – gara itu. Semalam dia bahkan tak berhenti menangis. Mendengar sebuah kenyataan yang begitu menyakitkan mengenai Jihwan yang selama ini selalu membuat Hyun Ra penasaran.
Alasan kenapa dia berada di rumah sakit ini dalam waktu yang lama, alasan kenapa dia selalu menutupi kepalanya dengan kupluk merah itu, alasan kenapa dia menghilang selama 3 hari itu, alasan kenapa dokter Lee mengatakan sesuatu yang aneh pada Jihwan saat selesai mengantarnya terapi, dan juga alasan kenapa Jihwan pingsan dan mengeluarkan banyak darah beberapa waktu yang lalu itu.. semuanya sudah terjawab sekarang.
Hyun Ra masih mengingatnya semalam, saat kepala rumah sakit atau mungkin bisa Hyun Ra sebut sebagai Aboeji dari Jeon Jihwan itu membuka semua kenyataan itu kepadanya. Masih Hyun Ra ingat semua perkataannya..
 “Leukimia? Tidak mungkin.” Hyun Ra mendekap mulutnya begitu mendengar kenyataan itu. Kenyataan menyakitkan mengenai Jihwan terungkap sudah. “Anda bercanda khan?” Tanya Hyun Ra dengan suara bergetar, air matanya entah kenapa sudah mengalir dan membasahi pipinya untuk kesekian kalinya.
“Saat pertama kali aku mengetahuinya seperti itulah reaksi ku, sama sepertimu.. tidak bisa mempercayai kenyataan itu.”
“Ta.. tapi.. anda seorang dokter khan? Ahjusshi seorang dokter bukan? Bagaimana bisa dia mengalami penyakit seperti itu sedangkan Ahjusshi sendiri itu adalah seorang dokter yang tentu saja mampu menjaga kesehatannya dengan baik? Eottokeh?”
“Dia.. sepertinya penyakit itu menurun dari ibunya..”
“Apa? Ibunya?”
Dokter setengah baya itu hanya bertopang dagu, wajahnya terlihat begitu lesu dan lelah. Kacamatanya yang kendur dia betulkan dan menatap Hyun Ra nanar.
“10 tahun yang lalu… Ibunya meninggal karena penyakit itu. Aku tak tau, penyakit itu bahkan bukanlah penyakit yang menular kepada keturunannya. Tapi mungkin Tuhan berkehendak lain dengan memberikan itu padanya.” Ucap sang Dokter dengan mata menerawang.
“Tapi.. bagaimana bisa? Dia sama sekali tak menunjukkan indikasi memiliki penyakit itu. Dia bahkan  bisa menari dengan begitu enerjik saat bersama anak – anak di ruang instalasi.” Kata Hyun Ra masih belum mempercayai kenyataan yang ada.
“Heuh…” Dokter Jeon Inhwa menyandarkan tubuhnya  ke kursi, dia mendesah pelan dan memijit keningnya yang sedikit berdenyut. Dia sepertinya benar – benar kelelahan. “Jihwan itu.. sangat pandai menyembunyikan penyakitnya. Jangankan padamu, aku bahkan tak tau mengetahui kondisi dia sebenarnya sebelum aku melihatnya pingsan saat festival sekolah beberapa bulan yang lalu. Saat itu.. aku merasa telah menjadi Ayah yang gagal karena tak mampu merawatnya dan menjaganya demi almarhumah istriku. Aku benar – benar gagal.”
Hyun Ra menatap nanar sosok separuh baya itu dihadapannya. Dia terlihat begitu rapuh saat ini. Hyun Ra mungkin memang memiliki rasa kehilangan akan sesuatu hal di dalam hidupnya, tapi dia tidak pernah mengalami kehilangan seorang sosok yang begitu disayanginya di dalam hidupnya seperti dokter Jeon Inhwa rasakan.
Tiba – tiba pikirannya melayang akan kejadian beberapa minggu yang lalu.. saat Hyun Ra memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan meloncat dari lantai 6, namun hal itu gagal dilakukannya karena Jihwan membawanya kembali dan memberikan Hyun Ra makna kehidupan yang sesunggunya. Dan saat ini Hyun Ra merasakan bahwa Jihwan telah merubah hidupnya. Dan Hyun Ra mulai mensyukuri kehidupannya saat ini.
“Saat aku menangis dihadapannya karena aku merasa telah gagal dalam merawatnya, dia justru merangkulku dan tersenyum padaku. Bahkan perkataannya waktu itu telah membuatku tersadar bahwa aku begitu menyayanginya dan membutuhkannya lebih dari apapun.”
Dokter Inhwa menerawang jauh, mengingat dengan jelas kejadian itu di dalam pikirannya.

 ‘Aboeji, aku seperti ini bukan karena kesalahanmu dalam merawatku. Kau sudah merawatku dengan sebaik – baiknya hingga aku tumbuh seperti ini. Semua yang terjadi padaku itu semua karena tuhan memiliki rencana yang lebih indah untukku. Aku akan menerimanya dengan ikhlas. Aboeji adalah ayah terbaik yang pernah kumiliki, dan akulah orang beruntung yang telah memilikimu di dunia ini. Aku menyayangimu, aboeji.’

 “Kata – kata yang bahkan membuatku bahagia karena telah memilikinya.” Jelas dokter Inhwa dengan mata yang berkaca – kaca. Sepertinya dia akan menangis, tapi egonya mengahalanginya untuk melakukan hal seperti itu dihadapan orang lain.
Hyun Ra meraih tangan Jihwan, dan memasukkan jemarinya ke sela - sela jemari milik Jihwan. Dia mengenggam tangan Jihwan erat seraya menatap wajahnya dengan tatapan sendu. Sejak kemarin hingga kini Jihwan masih belum  sadarkan diri. Hyun Ra juga mendengar dari dokter dan juga perawat yang memeriksa keadaan Jeon Jihwan tadi pagi mengenai usia umurnya  yang sepertinya sudah tak akan lama lagi. Jihwan dalam keadaan kritis saat ini. Kankernya sudah menyebar ke seluruh organ tubuhnya. Hyun Ra merapatkan genggaman tangannya kepada Jihwan. Diletakkannya tangannya di depan mukanya seperti seseorang yang sedang berdoa. Hyun Ra memejamkan matanya.
 Entah kenapa air mata itu keluar untuk kesekian kalinya, padahal Hyun Ra sudah lelah untuk menangis. Tapi ternyata air matanya masih ada untuk menangisi Jihwan. Tiba - tiba jemari - jemari Jihwan yang Hyun Ra genggam itu bergerak secara perlahan. Hyun Ra membuka matanya, dilihatnya jemari itu mulai bergerak konstan dan dilihatnya juga bola mata Jay berputar - putar meski matanya dalam keadaan terpejam.
 "Jihwann... Jihwann..." Ucapnya lirih penuh harap sambil terus memegangi tangan Jihwan.
 Jihwan masih belum membuka matanya, tapi bola matanya masih terlihat bergerak - gerak. Perlahan kelopak mata Jay terbuka sedikit demi sedikit. Dilihatnya sekitar yang masih tampak begitu kabur baginya. Dia mulai menyadari kondisinya saat melihat begitu banyak selang yang menancap di tubuhnya dengan alat pernafasan yang sudah menutupi hidung dan bibirnya. Jihwan menoleh ke arah Hyun Ra yang masih saja menggenggam tangannya. Dilihatnya wajah cantik itu terlihat begitu kacau dan berantakan, tapi di matanya seperti apapun Hyun Ra dia terlihat sangat cantik.
 "Jihwan.. akhirnya kau sadar.." Ucap Hyun Ra lirih, air matanya keluar lagi saat melihat Jihwan membuka matanya.
 "Hyu... Hyun... Ra..." Katanya dengan suara yang terbata - bata dan sedikit tersengal - sengal. Jihwan tersenyum samar dibalik alat pernafasan yang menutupinya, tapi Hyun Ra mampu melihat senyuman itu. Senyuman yang berbeda dari biasanya, senyuman yang terlihat begitu getir bagi Hyun Ra.
 "Kau harus sembuh.. Harus.. Aku akan bersamamu.. Saat kau merasakan sakit itu, aku akan merangkulmu. Biarkan aku berbagi sedikit penderitaanmu seperti yang kau lakukan padaku dulu. Berjanjilah padaku kau akan melakukannya." Katanya sembari mengulurkan kelingkingnya pada Jihwan.
 Dengan tangan yang bergetar Jihwan mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Hyun Ra, dia tersenyum lagi kemudian mengangguk perlahan. 
 "Uljima... Uljima.. A.. aku.. tak ingin melihatmu menangis lagi seperti ini...." Pinta Jihwan memohon dengan suara yang masih bergetar..
 Sedang Hyun Ra hanya mengangguk dan berusaha untuk tersenyum.
 'Tuhan... aku memang tak mengerti tentang garis kehidupan yang engkau berikan kepadanya... Sampai kapan dia akan bernafas sebelum kau mengambil nikmat itu darinya... aku memang tak tau.. Tapi, jika masih ada kesempatan untuk bernafas lebih lama untuknya.. aku mohon padaMu Tuhan.. berikan kesempatan itu kepadanya.'

--To be continued--
Continue reading [Fan Fiction] "PAPER BIRDS" Part 5

Sabtu, 03 Desember 2011

,

[Fan Fiction] "PAPER BIRDS" Part 4

Back again^^
Maaf kalo ada yang bosen sama aku ._.v
Gag ada maksud, cuma mau ngepost FF iseng - isengku kok^^V
Yang nyempetin baca makasih ajah :)
Ah, iyah.. please don't copy paste my FF
Walau jelek tapi ini kerja kerasku :D
Let's check this out -->





Hyun Ra menatap pintu kamar inapnya cemas. Matanya bahkan tak lepas dari pintunya itu sedari tadi. Hyun Chul yang melihat tingkah adiknya itu malah gemas sendiri.
“Ya !! apa yang kau lihat dari pintu kamarmu? Apa ada seseuatu yang menarik?” Tanya Hyun Chul sambil ikutan menatap sang pintu dengan tatapan tanpa minat.
“Dia.. kemana?” Hyun Ra bergumam tak jelas, dia bahkan tak memperdulikan Oppanya yang sedari tadi menatap Hyun Ra dengan tatapan sangsi.
“Dia? Dia siapa?” Tanya Hyun Chul bingung sambil menatap adiknya itu dengan pikiran yang dipenuhi dengan tanda Tanya.
“Jihwan.. dia kemana? Biasanya jam segini dia selalu kemari dan memberikanku burung kertas.” Kata Hyun Ra tanpa sedikitpun melepaskan pandangannya kea rah pintu kamar inapnya.
“Hah? Jihwan?  Ahh.. namja yang sering bersamamu itu khan? Yang wajahnya imut itu?”
“Heumm..” Hyun Ra bergumam sambil menunduk mengiyakan pertanyaan Oppanya.
“Kenapa? Kau merindukannya?” Tanya Hyun Chul lagi dengan senyuman jahilnya dan bermaksud untuk menggoda adik satu – satunya itu.
“Eh, aniya~ aku hanya heran saja.. biasanya dia kemari tiap pagi. Tapi sekarang dia gak ada..” Mata Hyun Ra menerawang tak jelas, ingatannya terus menerus tertuju pada Jihwan.
“Ahh.. sudahlah. Mungkin dia sedang ada keperluan, toh sekarang ada Oppamu ini yang sedang menemanimu. Kau tak suka?”
“Aku suka kok Oppa.. tapi…” Hyun Ra tak mampu melanjutkan kata – katanya, tapi tanpa ada Jihwan bersamanya saat ini dia merasa begitu berbeda.
Tiba – tiba seseorang membuka pintu. Hyun Ra secara reflex langsung memfokuskan pandangannya ke arah pintu, berharap sosok Jihwan muncul dari balik pintu. Namun ternyata itu bukan sosok Jihwan, melainkan sosok seorang wanita cantik dengan wajah penuh senyum sambil membawa sebuah catatan medis  ditangannya.
“Pagi.” Ucap suster itu kepada Hyun Ra dan Hyun Chul.
“Pagi suster.” Ucap Hyun Chul sambil berbalas senyum.
Hyun Ra yang melihat kedatangan suster ke kamarnya tampak kecewa, padahal dia berharap Jihwan yang datang. Tapi ternyata sosok itu bukanlah yang dia inginkan.
“Bagaimana keadaanmu sekarang?” Tanya suster sambil mengecheck kondisi kaki Hyun Ra.
“Baik Sus. Jauh lebih baik.” Jawab Hyun Ra tanpa minat.
“Baguslah kalau begitu. Rajin – rajinlah terapi supaya kau bisa berjalan lagi.” Kata suster itu sambil mencatat sesuatu pada catatan medisnya.  Lalu setelah selesai menge-check keadaan Hyun Ra, dia bermaksud meninggalkan kamar. Namun langkahnya terhenti dan berbalik.
“Ada apa suster? Ada yang ketinggalan?” Tanya Hyun Chul saat melihat suster itu tiba – tiba berbalik dengan ekspresi muka sedikit terkejut.
“Ah, tidak. Ada sesuatu yang lupa kuberikan untuk Pasien.” Kata suster itu sambil mengambil sesuatu dari balik tangannya yang memegang catatan medis. “Ini untukmu Park Hyun Ra.”
“Eh?” Hyun Ra kaget saat suster itu memberikan sesuatu untuknya. Sesuatu yang seharusnya Jihwan yang memberikannya setiap pagi. “Iniii…”
“Aku tidak tau maksudnya apa, tapi pasien Jihwan memintaku untuk memberikan ini padamu. Dia bilang maaf karena tidak bisa memberikannya langsung padamu.”
“Terus Jihwan sekarang ada dimana?” Tanya Hyun Ra dengan rasa keingintahuannya yang besar.
“Kalau itu maaf saya tidak bisa memberitahukannya.” Kata suster itu sambil membungkukkan badannya. “Saya permisi pergi.” Katanya lalu beranjak pergi dan menghilang di balik pintu. Hyun Ra hanya menatap kepergian suster itu dengan tampang kecewa. Kecewa karena sepertinya ada sesuatu hal yang seolah ditutupi oleh sang suster.. atau bahkan ditutupi oleh seluruh direksi rumah sakit mengenai sosok  Jihwan.
“Burung kertas?” Hyun Chul mengambil burung kertas itu dari Hyun Ra dan mengamatinya dengan seksama. “tidak ada sesuatu yang istimewa.” Lanjutnya lalu memberikannya kembali pada Hyun Ra yang sejak peninggalan suster tadi dia hanya diam saja.
“Ini istimewa untukku.” Kata Hyun Ra sambil menatap burung kertas itu dengan wajah tersenyum. Dia kemudian meletakkan burung kertas itu di meja dekat tempat tidurnya. “Penyemangatku setiap hari.”

@@@@@

Hyun Ra membolak – balikkan majalah olahraga di tangannya berulang – ulang. Karena sudah merasa telah membaca semua isinya, Hyun Ra lalu melempar majalah itu ngasal. Dia bosan kalo lama – lama berada disini tanpa melakukan kegiatan apapun. Kerjanya hanya tiduran dan kegiatannya juga mengikuti terapi setiap hari. Lagipula tadi Oppanya yang juga mengantarnya sewaktu mengikuti terapi sudah pergi karena ada kuliah dan terpaksa sekarang dia harus sendiri.
“Jihwan.. dia dimana…?” Gumam Hyun Ra lagi. Matanya menerawang lagi memikirkan hal itu.
Sudah 3 hari ini Hyun Ra tak melihat Jihwan. Burung kertas yang selalu Jihwan berikan untuknya sekarang malah selalu dititipkan kepada suster yang seperti biasa mengecheck keadaan Hyun Ra. Jihwan menghilang tanpa sebab Hyun Ra ketahui. Sudah berulang kali Hyun Ra bertanya kepada suster yang sekarang memberikan burung kertas itu pada Hyun Ra, tapi hasilnya suster itu tetap tak memberitahukan keberadaan Jihwan. Hyun Ra bahkan sampai memaksa tapi tetap saja sang suster tidak mau membuka mulutnya. Hyun Ra juga mencoba mengecheck kamar inap Jihwan, tapi hasilnya sosok yang dicarinya itu tak ada dimanapun. Hyun Ra sampai putus asa.. bahkan sekarang dia pasrah saja.
Hyun Ra bosan, tidak ada yang dia lakukan saat ini. Hyun Ra kemudian bangkit dari tempat tidurnya. Kalau diam terus seperti ini bisa – bisa dia menjadi gila. Lagipula memikirkan kemana Jihwan berada sudah membuatnya gila. Maka dari itu dia memutuskan untuk keluar dari kamar dan bermaksud untuk berjalan – jalan sejenak. Hyun Ra mengambil skruk yang berada di dekat tempat tidurnya. Sudah lama dia tidak memakainya. Karena memang Hyun Ra selalu memakai kursi roda dan yang mendorongnya adalah Jihwan.. ahh.. dimana anak itu..?
Hyun Ra berjalan tertatih menuju pintu kamarnya. Saat dia akan membuka pintu, tiba – tiba kenop pintunya berputar dan seseorang lalu muncul dari balik pintu secara perlahan. Sosok itu muncul dari balik pintu dan kini dia berada di hadapan Hyun Ra. Sosok berkupluk merak yang Hyun Ra rindukan selama 3 hari ini. Sosok yang tanpa Hyun Ra sadari memiliki perubahan fisik. Muka yang pucat dan tubuh yang sedikit kurus dengan mata picingnya yang sayu berdiri tepat dihadapannya.
“Annyeong.” Ucapnya dengan wajah yang berhias senyuman.
Hyun Ra tak memperdulikan sapaannya. Dia masih menatap sosok dihadapannya itu tak percaya. Kemudian tubuh Hyun Ra bergetar. Hyun Ra menggigit bibir bawahnya kuat - kuat, bermaksud untuk menahan air matanya untuk keluar. Tapi terlambat, air mata itu tiba – tiba keluar dan jatuh perlahan tanpa sebab dia tau.
“Mianhae.. maaf kalau aku menghilang selama 3 hari ini, aku tidak bermaksud menghilang tanpa sebab.. tapi…”
“Jangan pergi…”
“Eh?” Jihwan menatap Hyun Ra bingung. Dia melihat Hyun Ra yang menangis dengan wajah menunduk.
“Jangan pernah kamu pergi tanpa sedikitpun berpamitan kepadaku. Kau mengerti JEON JIHWAN?” Kata Hyun Ra dengan suara bergetar, dia menatap Jihwan lekat. Air mata sudah menggenanginya.
“Hyun Ra….” Jihwan menatap Hyun Ra lama. Sudah kesekian kalinya dia melihat Hyun Ra menangis di hadapannya. Namun dia tak pernah melihat Hyun Ra menangis karena dirinya. Jihwan merasa dia benar – benar orang yang bodoh karena telah melakukan itu pada Hyun Ra. Lalu secara tiba – tiba dia merengkuh Hyun Ra kedalam pelukannya. Memeluk Hyun Ra lembut meskipun Hyun Ra sedikit memberontak dan menolaknya. “Maafkan aku.. aku tak akan melakukan hal itu lagi. Maaf kan aku….”
“Kau jahat.. kau jahat.. kenapa kau tega lakukan itu padaku. Aku sudah kehilangan basket dan juga Hyun Jin, aku tak ingin kehilanganmu.. aku tak mau kehilangan lagi…” Hyun Ra memukul Jihwan pelan, sedangkan Jihwan malah semakin merapatkan pelukannya. Kemudian dia membenamkan wajahnya ke dada Jihwan. Dia menangis untuk kesekian kalinya di pelukan Namja itu. Kali ini dia tidak menangis karena basket ataupun Hyun Jin. Tapi dia menangis karena Jihwan. Seorang namja yang sudah membuatnya sadar bahwa kehadirannya di dalam hidupnya kini begitu berarti.

--To be continued--
Continue reading [Fan Fiction] "PAPER BIRDS" Part 4