Senin, 06 April 2015

, , , ,

Confession Rehearsal Novel [Bahasa Indonesia 'Perkenalan dan Bab 1]

Intermezzo dulu boleh kali yah? Jujur aja niatan awal buat nerjemahin nih novel cuma karena iseng gak ada kerjaan. Lagian juga karena bahasanya gak terlalu ribet (nb. yah walaupun ada beberapa kata yang saya sendiri sulit terjemahin) dan juga karena saya suka potongan - potongan cerita berupa lagu yang dibuat oleh HoneyWorks jadilah terjemahan amatir saya ini. Haha. 
Untuk terjemahan bahasa inggris lengkapnya bisa dilihat di  Renna's Translation
Akhir kata, selamat membaca. Dan mohon maaf jika ada beberapa pilihan kata yang terkesan begitu kaku dan susah dicerna. Kedepannya akan saya perbaiki jauh lebih baik lagi. Untuk terjemahan bab 2 sedang proses menerjemahkan. Terima kasih and Happy Reading^^ 

Confession Rehearsal Novel Bahasa Indonesia 
Bab 1



Sinopsis
Sebuah adaptasi novel dari HoneyWorks (Confession Rehearsal) Kokuhoku Yokou Renshuu. Novel ini bercerita tentang Natsuki, seorang siswa kelas tiga di Sakuragaoka High School, yang memiliki cinta tak berbalas kepada teman masa kecilnya, Yuu, seorang siswa yang mengikuti Klub Film. Jika harus jujur mengenai perasaannya sendiri, dia lebih memilih untuk menjadikannya sebagai partner untuk latihan pengakuan cinta. Tidak bisa mengatakan perasaannya yang sebenarnya, beberapa hal menjadi rumit ketika Miou dan Akari, yang juga dari Klub Kesenian, terlibat!! Mampukah dia mengutarakan perasaannya yang sesungguhnya!!? 

Perkenalan 
“Sudah tujuh tahun berlalu, ya.....” 
Aku menarik keluar buku tahunan dari balik klosetku dan bergumam. Di atas sampulnya adalah nama dari almamaterku, dan nama tempat kerjaku sekarang,“Sakuragaoka High School” 
“Nostalgia sekali. Desainnya juga sama sekali tidak berubah.” 
Jika aku membandingkannya dengan buku tahunan terdahulu yang berada di ruang fakultas, aku hampir tidak bisa membedakan mana buku tahunan milikku. 
Perbedaannya adalah bukunya sedikit tipis dan warnanya coklat terang. 
“Tidak ada kesempatan untuk melihatnya lagi semenjak lulus, tetapi jari tanganku sedikit bergetar hanya membuka bagian sampulnya. 
“...... Wah, tidakkah aku sedikit terlalu gugup?” 
Aku tertawa pelan dan mataku menatap kebawahnya. Setelah mengambil nafas dalam – dalam, perlahan aku membuka halamannya. 
“Wow,semuanya terlihat begitu muda!”
Tentu saja, ini tidak seperti buku tahunan masa taman kanak – kanak ataupun masa sekolah dasar, dimana hampir beberapa orang yang tidak bisa dikenali. Tapi, masih ada wajah polos dari senyuman teman – temanku yang ada di dalam foto.
Rambut pendekku yang halus, tidak berubah, tapi dibandingkan dengan sekarang, aku yang dulu terlihat begitu pendiam.
Selama SMA, aku sering bersama dengan sekelompok orang yang terdiri dari  enam orang, tiga orang perempuan dan tiga orang laki – laki.
Sekarang, kami masih bertemu untuk membicarakan tentang kenangan kami dulu, atau bersenda gurau satu sama lain.
Kecuali satu orang.
“Aku penasaran bagaimana kabar mereka saat ini.....”
“Kami tidak bertemu sejak kelulusan, tetapi aku selalu mengingat mereka tersenyum cerah seperti matahari.
Ketika aku menutup mataku, kenangan masa SMA-ku kembali tergambar dengan jelas.
Kenangan – kenangan di hari yang menyenangkan, pahit manisnya dimana aku akan selalu mengingat semuanya.



Enomoto Natsuki
Tanggal Lahir : 27 Juni 
Zodiac : Cancer 
Golongan Darah : O 
Suka olahraga dan menggambar manga. Berada di Klub Kesenian. Baru – baru ini dia sadar kalau dia memiliki cinta tak berbalas untuk Yuu, tetapi tidak bisa jujur dengan perasaannya. 

Latihan 1 
Semuanya dimulai dengan sebuah surat. 
Tempatnya di dalam loker sepatu teman kecilnya, Setoguchi Yuu—sebuah surat cinta. Dia dipanggil ke belakang gedung olahraga saat jam makan siang,seorang adik kelas perempuan berambut pendek yang imut telah menyatakan pengakuan cinta kepadanya, dan kembali ke kelas setelahnya. 
“Aku baru saja menolaknya, dengan alasan kalau ujian masuk universitas akan segera tiba.” 
Natsuki menghela nafas lega ketika Yuu melaporkan dengan nada polosnya. Bagaimanapun, hatinya dengan cepat menggila lagi. Walaupun dia berpura – pura tidak terjadi apa – apa, muka teman masa kecilnya itu dan dia belum pernah melihat itu sebelumnya. 
‘Aku sangat yakin Yuu tidak tertarik dengan hal – hal semacam cinta atau apapun yang seperti itu.....’ 
Bahkan setelah sekolah berakhir, kata – kata Natsuki yang sudah ditahannya masih tertinggal di dalam hatinya.
Karena dia terlalu fokus dengan video games, manga, dan aktivitas klubnya sepanjang waktu, dia tidak pernah berbicara dengannya mengenai cinta dan hal – hal lainnya sebelumnya. Dia sadar bahwa satu – satunya alasan kenapa dia berasumsi begitu karena Yuu tidak tertarik.
Kali ini Yuu mungkin menolaknya, tapi siapa yang tahu apa yang akan terjadi kedepannya.
Itu adalah saat dimana Natsuki memutuskan untuk tidak melarikan diri lagi.
‘...... Aku pasti akan menembaknya hari ini!’
Mengambil nafas dalam – dalam, Natsuki menatap punggung Yuu.
Tiga puluh menit sebelum sekolah berakhir, dan mereka hanya berdua saja di loker sepatu.
Dia juga punya teman kecil lainnya, Serizawa Haruki, yang berada di Klub Film dengan Yuu, setuju untuk pulang sendiri hari ini. Ya, lebih tepatnya, dia sudah lelah berargumen dengannya dan membiarkan mereka berdua sendiri bersama-sama.
‘..... Aku merasa jantungku bisa melompat keluar dari dadaku.....’
Ketika dia mencengkram baju depannya, detakan jantungnya membuatnya merasa cukup kaget.
Dibawah celana yang dia pakai didalam roknya, lututnya saling mengetuk satu sama lain.
‘Apa yang aku lakukan? Mungkin aku harus menunggu sampai besok.’
Untuk sesaat, sisi lemahnya menyeruak.
Mengingat wajah malu teman kecilnya, entah bagaimana nanti dia sanggup berdiri.
Di dalam kepalanya, dia tahu bahwa jika berhubungan dengan percintaan, waktu sangatlah penting. Dia telah melihat di dalam shoujo manga bagaimana pasangan potensial akan kehilangan kesempatan karena mereka menunggu terlalu lama.
Semua yang dia butuhkan adalah keberanian.
Di sisi lain, penyesalannya akan berlangsung seumur hidup.
‘‘—Aku, Enomoto Natsuki, akan menjalankan rencananya!’
“Yuu! Punya waktu sebentar?”
Ketika cahaya matahari terbenam menembus melalui jendela, Natsuki memaksakan kata – kata itu untuk keluar.
“Kenapa kamu jadi formal begitu?”
Natsuki merapatkan postur tubuhnya sehingga suaranya tidak akan bergetar, mengepalkan tangannya dan berkata,
“Maafkan aku karena begitu tiba – tiba, tapi.....”
Dia tau bahwa mungkin Yuu merasa begitu gugup, juga, karena suasana diantara mereka berdua terasa berbeda dari biasanya.
Mengambil nafas dalam – dalam, Natsuki menatap lurus padanya dan mengatakan kata – kata yang telah ia tahan selama bertahun – tahun.
“Aku sudah lama menyukaimu bahkan hingga sekarang!”
Dia mengatakannya, dia akhirnya bisa mengatakannya.
Bahkan tanpa menatap cermin sekalipun, dia tau bahwa wajahnya memerah.
Tidak bisa menahannya, dia mengalihkan pandangannya, dan kali ini, dia bisa mendengar suara jantungnya yang berdetak di telinganya. Detakannya jauh lebih keras dari sebelumnya, membuatnya bertanya – tanya apa Yuu akan mendengarnya.
Ketika dia perlahan mengangkat wajahnya lagi, Yuu masih berdiri, seakan terkejut dengan apa yang dia dengar.
Dalam sekejap mata mereka bertemu.
Yuu masih belum menyadari kenyataannya, dan praktis kata selanjutnya yang dia katakan,
“...... Huh?”
Satu kata itu adalah bentuk pertanyaan, tapi itu sudah lebih dari cukup.
‘Yuu... malu...!?’
Mungkin aku yang terlalu banyak berpikir bahwa wajahnya terlihat jauh lebih merah dari pada saat adik kelas perempuan tadi menyatakan perasaan kepadanya.
Inilah reaksinya terhadap sesuatu yang tidak diduga itu, Natsuki juga kehilangan kata – kata.
‘Aku... Aku harus mengatakan sesuatu.....’
Dia melemparkan pandangannya ke samping dan mencoba untuk mencari kata yang tepat, tapi satu – satunya kata yang keluar dari mulutnya adalah suara yang tidak masuk akal.
“Ha... Ha...”
“Ha?”
Yuu, yang wajahnya masih memerah, memiringkan kepalanya bingung.
Walaupun tingginya mendekati 180 sentimeter, tingkah lakunya yang imut itu benar – benar cocok untuknya.
‘Aku ingin mengelus kepalanya....’
Bahkan Natsuki terkejut dengan pemikirannya yang mendadak mucul di kepalanya itu. Dia tau bahwa dia tidak bisa berpikiran jernih sekarang. Pada kondisi seperti ini, dia akan berakhir melontarkan sesuatu yang tidak perlu.
Sebelum itu terjadi, dengan cepat dia mengganti topik pembicaraan.
“Hanya bercanda! Tidak mungkin sungguhan! Apakah pernyataanku tadi bagus?”
‘Kali ini aku benar – benar telah melakukannya,’
Dia berpikir dengan cepat.
‘Tidak, tapi yang barusan, itu hanyalah strategi lainnya....’
Dengan pemikiran yang cepat itu, Natsuki menyadari sesuatu.
Benar, ini sama dengan cinta dan perang.
Jadi dia tidak lari dari musuh; dia hanya mengulur waktu untuk startegi yang selanjutnya.
Lebih spesifiknya lagi, kali ini latihan pengakuan cintanya merupakan sebuah serangan dadakan.
Yuu melebarkan matanya, dan seolah mencoba untuk memahami pernyataan Natsuki, dia mengedipkan matanya berkali – kali. 
Setelah beberapa saat, dia mengacak – ngacak rambutnya dan menatapnya balik dengan tatapan yang tajam.
“Natsuki... Kau benar – benar....”
Natsuki menghela nafas lega pada nada suara Yuu yang terdengar setengah terkejut dan setengah malu.
‘Bagus... Dia pikir yang tadi itu hanya bercanda.... kan?’
Dia berpura – pura tidak mendengar dentingan menyakitkan hatinya itu dan berlagak tersenyum.
“Barusan itu, hanyalah latihan pengakuan cinta.”
“Huh? Latihan?”
“Jadi? Apakah aku imut? Apakah jantungmu berdetak dengan cepat?”
Mengikuti arah arus, dia mengintip kedalam wajah Yuu, dan dia menatap balik dengan sebuah tatapan dingin dan tajam.
Pada saat begini, ini adalah waktu yang benar – benar sulit ketika yang lainnya tidak mengatakan apapun. Panik, senyuman Natsuki melemah.
“Ja-jangan menatapku seperti itu... Maafkan aku.....”
“Jadi apa kamu akan serius?”
“.....Eh?”
Kali ini, giliran Natsuki yang tidak bisa berkata – kata.
Jantungnya berdetak dengan keras. Detakannya hampir terasa menyakitkan.
‘Apakah yang tadi itu hanya bercanda? Atau....’
“Aku hanya bercanda. Bahkan sekarangpun demikian.”
Baru saja dia berpikir dia melihat Yuu tersenyum, tangan Yuu turun ke atas dahinya.
Dan yang tadi itu adalah bagian dari sketsa komedi, Natsuki mengeluarkan air mata.
“Gyah!? Hei, Yuu, santai saja padaku, ya!?”
Terang – terangan mengabaikan keluhannya, dia berkata, masih dengan ekspresi masam di wajahnya.
“Jadi, sesungguhnya kepada siapa pengakuan itu ditujukan?”
“Yang sesungguhnya? Maksudmu pengakuan yang tadi itu?”
“Yah. Faktanya bahwa kau latihan seperti tadi artinya ada orang lain, kan?”
Nafas Natsuki tertahan di dalam tenggorokannya, melihat betapa mudahnya Yuu mempercayai kebohongan yang dia katakan tadi.
Tapi dia tau itu adalah kesalahannya sendiri karena menyebutnya sebagai latihan.
Meskipun begitu, dan bahkan jika itu hanya bercanda, dia tidak ingin mengatakan bahwa dia menyukai orang lain. Tidak dari Yuu.
Natsuki menekan pemikiran rumitnya dan perasaannya yang sesungguhnya, dan mengepalkan tinjunya lagi.
Dan di saat yang bersamaan, dia menghadapi Yuu, yang sedang menunggu jawaban dengan senyuman lebarnya, dan sebuah pukulan memutar secara perlahan mengenai tulang rusuknya.
“Tidak mungkin aku bisa mengatakannya padamu!”
“Ow ow!!”
Natsuki membungkuk dan menatap mata teman masa kecilnya itu, yang sekarang kembali ke tatapan malasnya., dan seperti biasa, untuk melindungi janji mereka kedepannya.
“Heu, ayolah. Bantu aku latihan~”
“..... Sepertinya aku tidak punya pilihan. Tapi imbalannya, traktir aku ramen.”
“Eh~ Pelit!”
“Itu harga murah untuk meminta latihan denganku, kan?”
“Wow, kau serius mengatakannya?”
Mengobrol apapun yang mereka suka satu sama lain, dan akan selalu berakhir dengan sebuah senyuman. Ini bukan berarti bahwa mereka sudah memutuskan atau apapun itu, tapi ini seperti peraturan tidak terucap antara mereka berdua sekarang.
‘Tapi, hari ini... semacam...’
Seiring dengan perasaan sakit yang mulai memudar. Hatinya menangis seperti ditusuk dengan jarum.
‘Susah sekali jatuh cinta dengan seseorang. Dan ini bahkan jauh lebih susah untuk mengatakan perasaanmu yang sesungguhnya.’
Matahari terbenam di hari itu cukup merah untuk membuat matanya pedih.


♥ ♥ ♥ ♥ ♥

Bunyi bel yang berpadu setelah pulang sekolah, Natsuki mengeluarkan helaan nafas panjang.
‘Sial... aku benar – benar ketiduran selama pelajaran matematika hari ini.’
Walaupun dia tidur awal kemarin, dia terbangun beberapa kali sepanjang malam.
Dan yang lebih buruk lagi, dia tidak nafsu makan di saat sarapan ataupun makan siang.
‘Bukankah ini seperti seorang perempuan yang sedang jatuh cinta? Yaa, benar sih, tapi....’
Latihan ataupun tidak, dia akhirnya melakukan pengakuan cinta kemarin.
Dan seseorang yang dia nyatakan cintanya adalah teman masa kecilnya, dialah penerima cinta tak berbalasnya selama ini. Sepanjang waktu dia pasti gugup, jauh lebih gugup dari yang dia bisa bayangkan.
‘Satu hal yang bagus adalah kita masih bisa berbicara seperti sebelumnya.’
Natsuki tinggal berdekatan dengan Yuu, dan tempat duduk mereka di ruang kelas juga berdekatan. Sebenarnya dia duduk  tepat didepannya.
Kapanpun dia menyerahkan kertas materi secara berbaris selama kelas berlangsung, mereka akan selalu berakhir saling menatap. Dan jika dia tertidur di kelas, Yuu cukup dekat untuk membangunkannya sebelum dia ketahuan oleh guru.
‘..... Kalau dipikir – pikir, aku rasa Yuu hari ini juga banyak tidur.’
Dia tidak mempercayai matanya ketika dia melihatnya dengan terkejut, bahkan Yuu punya rambut tidur berantakan, yang disebabkan oleh tiupan angin dari jendela. Jika dia bilang padanya, dia akan menyadarinya, jadi dia memutuskan untuk tidak mengatakan apapun.
“Yuu~ apa kau akan pergi ke ruang klub?”
Selama jam makan siang dan pulang sekolah, selalu ada orang – orang yang berkumpul di sekitar meja Yuu.
Saat ini, Mochizuki Souta, nama panggilan : Mochita, datang menghampirinya seperti seekor anak anjing.
Yuu, Haruki, Souta, dan Natsuki semuanya adalah teman masa kecil.
Secara khusus, mereka semua bergabung ke Klub Film bersama – sama, dan mengobrol satu sama lain dengan kedekataan yang sama seperti yang telah mereka lakukan ketika mereka masih kecil.
“Aku harus berhenti di ruang fakultas, jadi kau dan Haruki pergilah duluan.”
“Kau akan bertanya mengenai laporan untuk liburan musim panas, kan? Ini artinya, kita akan ikut juga,”
Haruki menyeringai pada kata – kata Yuu, tersenyum cerah seperti matahari.
“Ya. Kalau begitu, ayo kita pergi!”
Souta mengangguk dan memegang lengan Yuu.
Ditarik bersama dua orang lainnya, Yuu meninggalkan ruangan kelas.
Ketika Natsuki menatap pergi sosoknya, dia bergumam secara tak sadar, “Menyenangkan sekali....”
“Para laki - laki mungkin bisa akrab, tapi para perempuan juga tidak akan kalah dari mereka, kau tahu?”
Dia merasakan sebuah tepukan di atas bahunya, dan kemudian sebuah suara lembut nan ramah terdengar di telinganya.
“Nacchan, ayo kita pergi ke ruang klub juga!”
Setelah itu, dia berbisik dengan suara rendah, namun lembut dan ramah.
“Akari, Miou.....”
Ketika mereka berbalik, dia melihat dua temannya berdiri disana, tersenyum ceria. Si perempuan berambut hitam nan cantik, Hayasaka Akari, dan Aida Miou, dengan rambutnya yang lembut nan imut.
Mereka bertemu selama SMA, tetapi sejak mereka semua bergabung ke klub kesenian bersama – sama, dengan cepat mereka menjadi teman.
Mereka semua memiliki kesamaan, tetapi Natsuki merasa mereka adalah teman yang mampu saling mendukung satu sama lain.
‘Pasti mereka duluan yang berbicara padaku karena sejak tadi pagi aku melamun....’
Alih – alih mengucapkan terima kasih pada mereka secara lisan, dia memberikan senyuman yang lebar.
“Ya! Aku penasaran apakan Eri-chan-sensei sudah ada di ruang kesenian ya? Kita akan mendapat masalah kalau terlambat~” 
“Sensei benar – benar sangat antusias, mengatakan hal – hal seperti, “Tahun ini pasti, kita mendapatkan emas!”
“Wow! Miou-chan, kau terdengar seperti beliau~”
Dengan ketukan langkah kaki mereka pada ubin, mereka bertiga berjalan di lorong sekolah.
Alasan kesibukan mereka sekarang dikarenakan ada kontes kesenian setelah liburan musim panas.
Sejak sekolah didirikan, tidak ada tahun dimana Sakuragaouka High School tidak mendapatkan medali.
Meskipun, aktivitas klubnya sangatlah ketat bahkan seperti kaum Sparta saja.
Daripada memfokuskan pada tehnik bagaimana untuk menang, penasehat klub, Matsukawa-sensei, selalu memberikan saran dengan pendekatan yang menonjolkan ide – ide asli kami. Natsuki berusaha untuk mempertahankan lingkungan kreatif nan murni yang menyenangkan itu. Di klub, ketuanya, Akari, dan Wakilnya, Miou, menunjukkan banyaknya bakat yang mereka miliki.
Ketua dan Wakil Ketua yang sebelumnya telah memilih penerus, tetapi karena Akari dan Miou punya begitu banyak pengakuan untuk karya seni mereka, akhirnya mereka telah membuat keputusan untuk menunjuk Akari dan Miou sebagai penggantinya.
Di sisi lain, ada banyak anggota yang tidak memiliki ketertarikan dalam melukis, keramik, patung, ataupun hal – hal yang seperti itu. Dikarenakan tidak ada Klub Manga di sekolah, banyak siswa yang bergabung hanya karena mereka ingin menggambar ilustrasi atau komik.
Karena tipe orang yang seperti itu biasanya selalu bekerja di rumah, kebanyakan dari mereka adalah anggota hantu/bayangan.
Natsuki sering menghadiri pertemuan klub, tetapi karena posisinya, kemungkinan dia berada di daerah abu –abu.
Dia suka menggambar komik, tetapi dia juga suka melukis di atas kanvas yang besar.
Mereka berdua berbeda dalam caranya sendiri, dan jika seseorang bertanya padanya dia lebih suka yang mana, dia tidak akan bisa menjawabnya. Seperti mencoba untuk memilih mana yang lebih disuka antara pasta kacang merah dan krim kocok.
‘Aku suka keduanya, jadi aku ingin keduanya. Aku pikir itu tidak masalah, tapi...’
Sejujurnya, akhir – akhir ini dia mengkhawatirkan mengenai posisinya di klub.
Dia tidak seperti Akari dan Miou. Pada akhirnya, tidakkah dia hanya setengah matangnya saja jika dibandingkan dengan mereka berdua?

♥ ♥ ♥ ♥ ♥

Hanya ada beberapa siswa kelas satu dan kelas dua di dalam ruang kesenian.
Di sudut papan hitam, ada sebuah pesan yang tulisan susah dibaca tertulis, 
“Hari ini aku sedang melakukan perjalanan bisnis. Sampai jumpa besok.” Dan bahu Miou merosot saat melihatnya.
“Sayang sekali, hari ini sensei sedang tidak ada disini.... aku ingin meminta pendapatnya mengenai beberapa warna.”
“Miou-chan, kelihatannya kau akhirnya sudah membuat kemajuan yang bagus,”
Akari menatap pada kanvas yang masih diletakkan pada sandarannya dan berkomentar dengan penuh kekaguman.
“Karena kali ini aku melukisnya menggunakan kanvas yang lebih besar, aku masih perlu menambahkan lebih dari ini. Bagaimana denganmu, Akari-chan...?”
Miou menghentikan sejenak dalam mengatur letak lukisannya dan melihat apa yang sedang Akari lakukan.
Seperti kemarin, dia hanya memiliki sebuah buku sketsa, pensil, dan penghapus yang tertata di depannya.
Bahu Akari merosot dan terpaksa tertawa.
“Ya, aku masih belum menemukan ide baru...”
“Kau cepat dalam sekali bekerja kau sudah menyelesaikan sketsanya, jadi tidak masalah.”
‘Aku harap aku punya bakat seperti mereka berdua.’
Natsuki duduk di sebuah bangku dengan menangkupkan tangannya, dan hanya melamun mendengarkan percakapan temannya itu.
Walaupun dia memamerkan sesuatu juga, kanvas dan bahkan buku sketsanya masih benar – benar kosong.
Natsuki satu – satunya orang yang tidak bisa memunculkan sesuatu.
“Ngomong – ngomong, Nacchan, apakah kau berhasil mengutarakannya pada Setoguchi-kun kemarin?”
Bahu Natsuki berguncang sedikit pada pertanyaan tiba – tiba Akari.
“Ah, sebenarnya, aku ingin bertanya mengenai itu juga. Tapi aku pikir akan lebih bagus jika kita membicarakannya di dalam kelas saja,”
Kuas Miou berhenti bergerak, dan dia malu – malu ikut bergabung pada percakapan mereka juga.
“Sangat menyenangkan jika berada di kelas yang sama dengan laki – laki yang kau sukai, tapi disaat yang sama juga begitu susah~”
Dia tiba – tiba merasa malu membicarakan mengenai orang yang disukainya secara terbuka.
Natsuki merasa wajahnya tambah merah, tetapi ketika dia ingat apa yang telah terjadi kemarin, dia mendadak tenang.
“Arghh~~....... Biarkan aku menceritakannya pada kalian semua mengenai hal itu~”
“Ada apa? Ceritakan.”
Akari mengubah suaranya mengikuti nada suara Natsuki yang terkesan berlebihan. Miou tidak bisa menahan tawanya juga, dan suasana hatinya jadi lebih cerah dan tenang.
Natsuki menceritakan apa yang telah terjadi dengan nada bercanda, mengusir situasi yang serius.
Dia menceritakan pada mereka tentang bagaimana dia melakukan pengakuan cinta, tapi kemudian dia bilang itu bohong dan mengatakan kalau itu semua hanyalah sebuah latihan saja, dan tentang bagaimana Yuu mempercayainya dan akan membantunya latihan.
Setelah mendengarkan ceritanya, mulut Akari dan Miou ternganga.
“........ Latihan pengakuan cinta, huh? Kau jelas – jelas sudah melakukan sesuatu yang berani lagi,”
Miou menatap dari balik poninya yang pendek dengan mata berputar dan mengedipkannya karena keheranan.
Natsuki tertawa lemah dan melanjutkan,
“Dan lalu, setelah itu, kami makan ramen di depan stasiun saat perjalanan pulang! Ramennya benar – benar enak.....”
Setelah mendengar kalimat itu, 
“Ramen depan stasiun,” Akari tiba – tiba bereaksi.
Bersandar pada bangku, dia bertanya dengan matanya yang bersinar, 
“Tempat Ramen yang kau maksud yang baru buka itu? Ramen disana memang yang terbaik! Pilihan bagus!”
“Itu aku yang traktir, walaupun.... Tunggu, ini sama sekali tidak baguuuusss!!”
Ketika Natsuki mengoreksi dirinya dan dia memegangi kepalanya dengan tangannya, Akari mengangguk dalam dengan wajah serius.
“Kau benar. Kamu akan sedikit kehabisan uang saku jika mentraktirnya setiap waktu.”
“Akari-chan, aku berpikir masalah sebenarnya bukan itu....”
Natsuki menenangkan diri pada ketenangan Miou dan tingkahnya yang menenangkan.
Dia mulai menjelaskan apa yang dia inginkan.
“Aku bilang itu adalah latihan pengakuan cinta karena aku ingin dia mulai melihatkan sebagai seorang perempuan.... Tapi dikarenakan kami hanya makan ramen disana, tidak ada yang berubah! Dia hanya akan bilang kalau aku ini Natsuki lagi (Teman masa kecilnya)!”
Tidak bisa menahannya lebih lama lagi, dia berakhir dengan nada berteriak.
Akari tersenyum cerah pada Natsuki, yang sudah berdiri dari kursinya, menangis karena menahan rasa sakitnya.
“Tenanglah. Kau imut kalau kau diam begitu, Nacchan.”
“Tapi kemudian dia jadi penurut, jadi itu tidak bagus sama sekali!”
“Untuk sekarang, kita tenang dulu, oke? Ayolah, tutup kakimu.”
Dengan jemarinya yang pucat dan ramping, Miou dengan lembut mendorong kaki Natsuki, yang mana posisi kakinya terlihat seperti kaki kepiting. Sekilas, dia bisa melihat Miou yang merawat jari kukunya.
‘Tangannya benar – benar seperti perempuan....’
Tidak hanya penampilannya, tapi kepribadiannya juga, Miou yang paling feminim. Dia juga yang menyarankan Natsuki memakai celana di bawah roknya, karena dia sering bergerak sembarangan.
“Dan bagaimana denganmu dan Haruki, Miou?”
Natsuki benar – benar penasaran dengan kedekatan teman dekatnya itu dengan teman kecilnya yang terlihat cukup akrab juga.
Mereka berada di kelas yang berbeda – beda, dan mereka juga tidak memiliki jam pelajaran yang sama. Jika mereka pernah saling memperhatikan satu sama lain, itupun pasti ketika Haruki datang saat istirahat untuk keluar bersama Yuu dan Souta.

‘Tapi meski begitu, mereka pulang bersama - sama hampir setiap hari.’
Natsuki juga sudah bertanya mengenai hal itu pada Haruki sebelumnya.
Walaupun Haruki selalu tampak ramah, dia suka menghindari tatapannya ketika Natsuki bertanya, dan memberikan jawaban yang tidak jelas.
“Hanya berhasil dengan cara itu, kan?” Katanya.
‘Cara dia menjawab benar – benar terlihat dia sedang menyembunyikan sesuatu....’
Di tempat pertama, Haruki sangat perhatian dan bersikap layaknya seorang kakak, tetapi ketika membicarakan tentang perempuan, dia akan menarik garis mengenai pembicaraan itu. Dia lebih banyak bergaul dengan laki – laki, dan satu – satunya pengecualian adalah teman masa kecilnya, Natsuki.
Dia mengatakan bahwa dia dan Miou memiliki kesamaan dalam topik pembicaraan, tapi itu tidak bisa menjadi satu – satunya alasan.
Miou, juga, tidak bisa terlihat tenang sekali jika hubungannya dengan Natsuki dibahas.
“Huh!?” 
"A—Aku... Semuanya akan kembali normal!”
“Apa maksudnya itu?”
Ketika Natsuki dengan cepat meminta jawaban lebih, wajah Miou berubah jadi merah cerah.
“Jahat jahat! Jadi, bagaimana denganmu, Akari-chan?’
Suara Miou bergetar ketika topik pembicaraan berganti pada Akari.
“Huh?”
Akari tersipu dan matanya membesar, tapi dengan cepat dia berganti dengan nada suara yang ceria dan berkata.
“Oi, jangan mengkhawatirkanku sekarang. Yang lebih penting lagi, kita harus memikirkan tentang strategi pengakuan cinta Nacchan!”
Seolah mengatakannya terlalu awal, Akari dengan cepat mengambil pensilnya dan mencoret – coret sesuatu di atas halaman kosongnya di buku sketsanya.
Mendengar kata – kata “Pengakuan Cinta Bagian 2,” Natsuki merasa gatal di bagian belakang hidungnya.
“Akari-chan, terima kasiiiiiihhh. Aku tidak akan menyerah.....”
“Yuki-chan, kami akan membantu juga, oke?”
“Haruskah kita mencabut rumput liar itu?”
Menginterupsi deklarasi Natsuki yang terselesaikan, mereka tiba – tiba mendengar suara yang melengking dari jendela.
“Mereka yang menjerit sangat keras. Apa ada seorang selebriti atau lainnya? Apakah mereka sedang syuting disini?”
Melihat keluar ragu – ragu, mereka melihat kerumunan orang – orang di depan taman bunga.
Di tengah lingkaran para perempuan adalah—
“Bukankah itu Ayase-kun? Dia benar – benar populer..”
“Dia benar – benar terlihat berbeda setelah memotong rambutnya.”
Akari dan Miou mengaku jika mereka berdua terkejut dengan perubahan dari teman sekelas mereka, Ayase Koyuki.
Sudah menjadi kebiasaan bagi seseorang akan menarik banyak perhatian setelah berani mengubah penampilan mereka, tetapi karena dia punya kepribadian yang pemalu, dia terlihat begitu susah beradaptasi. Meskipun berada di kelas yang sama, mereka jarang mendengarnya berbicara, jadi begitulah yang diharapkan darinya.
‘Ketika aku pertama kali bertemu dengan Akari, juga, sebenarnya cukup aneh, tapi dia sangatlah baik dan tidak pernah berhenti tersenyum...'
Begitu juga dengan Miou, dia tidak terlalu banyak berbicara dengan siswa laki – laki, selain Haruki. Ketika dia bersama Natsuki, terkadang dia bisa berbicara dengan Yuu dan Souta, juga, tapi dia bukanlah tipe orang yang akan memulai pembicaraan dengan sendirinya.
‘Walaupun Koyuki-kun orang yang sangat baik.... Sungguh sangat disayangkan!”
Bagi Natsuki, yang dipinjamkan dan meminjam manga darinya, situasi saat ini benar – benar membuatnya frustasi.
Itulah kenapa dia akan selalu memanas ketika berbicara mengenainya.
“’Setelah memotong rambut panjangnya dan mengganti kacamatanya dengan lensa kontak, dia benar – benar terlihat keren!’ Kau bahkan tidak akan melihat hal yang semacam itu di dalam shoujo manga lagi. Koyuki-kun pastinya hebat!”
“Nacchan, jadi bagian itulah yang membuatmu terkesan?”
Ketika Miou tersenyum masam, Akari menambahkan,
“Kalau dipikir – pikir kalian saling bertukar manga, kan? Sejak kalian duduk berdekatan satu sama lain di dalam kelas, apakah dia berbicara padamu?”
Karena sikapnya yang pendiam, Akari banyak menghabiskan waktunya melihat orang – orang yang berada di sekelilingnya.
Ketika dia terkesan dengan teman sekelasnya yang mendadak menjadi pusat perhatian, Natsuki juga mulai berbicara tentang masalah yang dia hadapi karenanya.
“Koyuki-kun benar – benar baik, dan dia orang yang sangat baik. Jadi meskipun dia mendapat tekanan saat bergabung dalam klub, dia benar – benar khawatir tentang bagaimana dia menolak ajakan – ajakan itu tanpa menyakiti perasaan seseorang.”
“..... Kelihatannya rumit.”
Miou menunda jawabannya sendiri sembari mempertimbangkan beberapa pilihan.
Tidak juga mendapatkan ide, Natsuki mengerutkan alisnya dan mengangguk setuju.
“Ngomong – ngomong, kenapa Ayase-kun memutuskan untuk memotong rambutnya secara tiba – tiba? Apakah dia ingin mengubah kepribadiannya sebelum akhir liburan SMA berakhir?”
Seperti biasa, Natsuki tertawa jika melihat betapa polos dan jujurnya perkataan Akari.
Miou satu – satunya orang yang terganggu mengenai hal itu, dia bergumam pelan,
“..... Aku penasaran jika itu merupakan satu – satunya alasan dia melakukannya.”

♥ ♥ ♥ ♥ ♥

Yuu memalingkan wajahnya dari papan putih yang menutupi pertanyaan dan tugas, dan mulai menatap ke arah langit – langit.
Topik yang dikerjakannya adalah proyek kelulusan mereka, dan juga film baru mereka.
Kenapa sang tokoh utama perempuan memutuskan untuk melakukan pengakuan cinta kepada sang tokoh protagonis?
Di tempat pertama, kenapa dia jatuh cinta padanya?
Walaupun kalimat yang dilingkari merah itu mengenai salah satu adegan yang ada di dalam film, adegan seperti itu seolah menusuknya tanpa ampun kedalam hatinya.
Sejak kemarin, dia tidak bisa memahami pengakuan cinta Natsuki yang terus saja terngiang di kepalanya.
‘Latihan Pengakuan Cinta... diantara yang lainnya, kenapa aku yang menjadi partner latihannya?’
Fakta bahwa ada latihan semacam itu menandakan bahwa akan ada pengakuan cinta yang sesungguhnya.
Dan ini artinya Yuu, yang malah terpilih sebagai partner latihannya, bukanlah kandidat yang kuat bagi Natsuki.
Mengambil pose berpikir, dia menatap pada wajah siswa lainnya yang duduk di bangkunya.
‘Walaupun, satu-satunya siswa laki – laki lainnya yang pernah aku liat sering bersama Natsumi pastilah mereka....’
Serizawa Haruki, Mochizuki Souta, dan satu – satunya perempuan di kelompok mereka, Enomoto Natsuki. Mereka sudah kenal satu sama lain sejak mereka belum memperhatikan lawan jenis, dan bahkan hingga sekarang, mereka terus mengakui bahwa mereka adalah teman masa kecil.
Mereka tidak mengeluh mengenai masalah itu, dan bahkan setelah memasuki SMA, mereka tidak mencoba menjaga jarak di dalam hubungan mereka atau apapun itu. Jadi ketika tiba – tiba ada yang bertingkah menjaga jarak sekarang pastinya akan membuat segalanya menjadi tidak nyaman.
Dan disamping itu, keakraban mereka satu sama lain bagaikan pisau bermata dua.
Sampai saat ini, Yuu selalu menggodanya (setengahnya dimaksudkan sebagai bercandaan dan setengahnya lagi karena perasaan malu) mengenai jenis kelaminnya yang menjadi “Natsuki.”
Tetapi sekarang semuanya kembali padanya. Karena mereka berdua begitu banyak saling mendukung satu sama lain, tidakkah Natsuki harusnya juga mulai melihat jenis kelaminnya sebagai “Yuu”?
Setidaknya, fakta bahwa dia memilihnya sebagai partner latihannya menandakan bahwa dia melihatnya sebagai laki – laki, tetapi juga berarti bahwa dia tidak mempertimbangkannya sama sekali untuk sebuah ketertarikan cinta.
‘Siapa yang tahu bahwa kelulusan masa kecilmu akan membawa semua ini.....’
Ketika secara tak sadar dia mendesah, Souta, yang bagus dalam mendengarkan, merespon,
“Yuu, kau benar – benar memperhatikannya dengan serius, ya? Kau tidak seharusnya banyak berpikir keras mengenai itu, kau tahu.”
Dia merasa tulang punggungnya mendadak dingin, seolah – olah Souta telah mengetahui bahwa dia sedang memikirkan Natsuki.
Ketika dia melihat papan putih didepannya, dia mengingat bahwa mereka sedang mendiskusikan mengenai film. Berdo’a semoga kegelisahan ini pergi, Yuu perlahan membuka mulutnya,
“..... Ya, aku pikir sang tokoh utama membutuhkan pola pikir yang benar, kan? Jadi akan bagus jika hal itu berhasil.”
“Itu benar, tapi, Yuu, kau kan dasarnya lebih pada orang – orang yang beragam, bukan?”
Benar apa yang Souta katakan.
Yuu suka film Hollywood dan film komedi, tetapi ketika menyangkut film romantis, itu diluar jangkauannya.
Di sisi lain, Souta menonton film dengan berbagai macam genre, tetapi dia juga tidak melihat banyak film romantis. Dia tipe orang yang mengoleksi naskah skenario dan DVD dari film kesukaannya.
Haruki justru berbeda dengan mereka berdua. Dia suka menonton film yang menegangkan yang ditayangkan di bioskop lepas.  Dari mereka bertiga, dia yang satu – satunya paling banyak pergi ke pertunjukan teater.
Ketika mereka bertiga menghadap guru pembimbing mereka untuk yang pertama kalinya, mereka mengatakan bahwa mereka akan membuat sebuah film, hal pertama yang dia nyatakan adalah keraguannya, apakah mereka bisa melakukannya. Dia menertawakan nada serius mereka. Tetapi mereka paham maksudnya.
Sejujurnya, mereka susah dalam menentukan sebuah tema.
Pada akhirnya, Haruki menjadi suara otoritas dan memutuskan bahwa mereka akan membuat sebuah cerita romantis.
“Aku tidak pernah membuat film seperti itu sebelumnya, kenapa kita tidak mencobanya?”
Bahkan Yuu, yang awalnya menolak ide Souta, mengetahui bahwa hal ini sangat susah untuk disetujui setelah Haruki mencoba memberikan pengertian padanya.
Sebagai permulaan, motivasi mereka untuk membuat Klub Film awalnya karena mereka telah membuktikan bakatnya.
Semuanya dimulai pada dua tahun yang lalu, di musim gugur pada tahun pertama mereka di SMA.
Film pendek yang Haruki unggah di internet secara diam – diam dengan cepat menyebar diantara para siswa selama liburan musim panas. Dan setelah beberapa kritikus melihatnya dan diterbitkan di blog dan artikel majalah, film itu mendapatkan perhatian dari banyak orang.
‘Sebelumnya dia pernah mengatakan bahwa membuat film adalah salah satu hobinya.’
Jika hanya mungkin untuk menyembunyikan rasa malu mereka, tetapi setelah melihat filmnya, Yuu dan Souta yang putus asa mengajak Haruki untuk membuat film berikutnya. Mereka jatuh cinta dengan film Haruki.
Klub yang mereka buat dengan hasrat tinggi itu, juga, dipromosikan sebagai klub resmi setelah adik kelas mulai bergabung di tahun berikutya. Dengan lingkungan di sekeliling Haruki yang meningkat dengan cepat, dia mulai membuat film dengan antusias yang berlebih.
‘Dia populer di kalangan siswi perempuan, jadi mungkin bahkan Natsuki juga....’
Dia menatap Haruki, yang duduk di depannya.
Haruki terlihat berbeda dari sifat tenangnya yang biasa, sepeti singa, dan duduk diam dengan tangannya menyilang, memberikan kesan udara yang gugup dan tenang.
Sambil mencuri dengar percakapan Yuu dan Souta, dia tidak bergerak sama sekali seincipun.
‘Dia pasti sangat fokus... Aku penasaran apa yang sedang dia pikirkan.’
Seakan tersadar jika dirinya sedang diperhatikan oleh Yuu, Haruki berbalik kearahnya.
‘Tidak, dia tidak melihat kearahku tapi....’
Haruki melihat lurus ke arah papan putih dan terlihat bergumam sendiri.
Sesaat kemudian, dia melompat dari tempat duduknya, dan kursinya terjatuh dengan kerasnya.
“Aku mengerti! Apa yang kita butuhkan adalah sebuah gambar!”
Yuu dan Souta keduanya memiringkan kepala pada perkataan heboh Haruki.
“Tunggu, dimana kita akan menggunakan itu?”
“Gambar seperti apa yang kau maksud?”
Haruki punya kebiasaan menyerukan ide – idenya tanpa penjelasan lebih lanjut, sering meninggalkan yang lainnya dengan kebingungan. Bahkan bagi mereka berdua, yang sekarang sudah mulai terbiasa dengannya, sangat sulit untuk mencari tahu apa yang sedang dia pikirkan.
Daripada menjawab pertanyaan mereka, Haruki hanya mendecakkan lidah dengan kesal,
“Kenapa aku tidak memikirkan ini? Dengan semua sumber daya yang kita miliki, tidak mungkin ada jawaban lainnya.”
Dia terlihat kesal sendiri, dan menampar dahinya sambil mendesah.
Walaupun dia berbicara secara dramatis, Yuu dan Souta sudah tau bahwa dia bisa begitu alamiah jika ide – ide datang tanpa membutuhkan perhitungan apapun. Dengan cara ini, dia bisa memfokuskan waktunya dan berusaha untuk membuat film.
‘Laki – laki ini benar – benar sesuatu sekali....’
Setelah terlalu kewalahan untuk bergerak di awal, Yuu kemudian mengambil memo pad  untuk menuliskan ide mereka sebelum mereka melupakannya.
“Kita akan memiliki seorang tokoh utama perempuan yang bisa melukis, kan? Jadi kita akan membutuhkan seseorang dari Klub Kesenian sekarang, dibandingkan dengan Klub Drama.”
“Yah, seseorang yang bisa jujur didalam kanvasnya.”
Ketika dia mendengarkan Haruki yang berbicara seolah – olah dia mengetahui karakter fiksi ini di kehidupan nyata, tangannya dengan pulpen berhenti bergerak. Kelihatannya sang tokoh utama sudah mulai muncul di kepalanya.
“Kemudian, kita akan memasukkan kanvas di gambar pertama. Kemungkinan untuk awalnya benar – benar putih, tetapi ketika dia menghabiskan banyak waktu dengan sang protagonis, kanvasnya jadi lebih terlihat.
“Ya, ya! Daripada menggunakan sekumpulan garis jelek, yang meninggalkan banyak kerugian jika kita memfokuskannya pada visual. Aku pikir penonton akan dapat menghubungkannya dengan mudah, juga.”
‘Bahkan Mochita benar – benar terlihat lebih hidup ketika kami membicarakan tentang hal semacam ini....’
Yuu terkesan ketika dia dengan cepat merangkum apa yang mereka berdua katakan.
Sebelumnya, dia menjadi tidak sabaran karena merasa seperti mereka memamerkan bakat mereka.
Tetapi setelah menyadari bahwa dia tidak memiliki keinginan ataupun bakat seperti mereka, perasaan suram itu perlahan – lahan memudar. Mereka tidak benar – benar menghilang, dia menguasai bagaimana caranya berlindung pada mereka.
Sama seperti ketika mereka bermain di tempat persembuyian rahasia mereka, mereka tidak bersaing mengenai hal – hal kecil sekalipun.
Cukup mengakui bahwa dia cemburu.
Jika tidak, dia mulai memikirkannya sebagai perasaan iri yang sesungguhnya, dan kemudian semuanya akan berakhir.
“—Ide – idenya kelihatannya bagus, jadi selanjutnya bagaimana kita akan mulai syuting.”
Ketika dia sadar, Haruki dan Souta sudah kehabisan amunisi untuk ide – ide mereka,
‘Kita akan menambahkannya di dalam bagian yang dihilangkan ketika kita meletakkan semuanya di atas kertas nanti.’
Ketika dia memikirkan tentang tugas mereka selanjutnya, kebanyakan dari mereka mengkhawatirkan bagaimana mereka akan mulai memproduksinya.
Diatara adik kelas, tidak ada laki – laki yang ahli dalam membuat alat peraga atau hal semacamnya. Tetapi dua lainnya bahkan mungkin tidak bisa disebutkan karena mereka tidak berpikir gayanya cocok dengan mereka,
‘Kami mungkin  menginginkan seseorang yang lebih terlihat... ‘Terlihat, akulah perempuan yang sedang jatuh cinta’!’
Pada saat itu, wajah Natsuki tiba – tiba muncul di dalam pikirannya.
Walaupun hanyalah latihan, Natsuki yang melakukan pernyataan cinta kemarin ada, tanpa ragu – ragu, “Seorang perempuan yang sedang jatuh cinta.”
Dia hampir terlihat seperti orang yang benar - benar berbeda.
"..... Kita bisa bertanya pada Natsuki, atau orang lain yang ada di Klub Kesenian, kan?"
Dua orang lainnya melihat keheranan pada ucapan Yuu.
Dan kemudian, mereka berteriak di waktu yang bersamaan, "Itu dia!"
"Seperti yang aku duga darimu, Yuu. Ide dari seseorang yang memiliki hubungan benar - benar sesuatu sekali."
"Kau juga punya hubungan dengannya, kan? Cuma Natsuki ini."
"Uh, bukan itu yang aku maksud... Ngomong-ngomong, apa kau dengar apa yang aku katakan? Maksudku adalah bukan orang luar yang seperti itu dan banyak orang sudah memiliki hal – hal seperti itu untuk memulainya.
Dia mengerti apa yang Haruki ingin katakan, tapi sedikit memalukan untuk menerima kata – kata itu.
Dia ragu – ragu harus bersikap seperti apa, Souta berbicara dengan tawa giranngnya,
“Jadi, ini seperti dia akan selalu punya seseorang untuk bergantung?”
“Bukankah itu terlihat seperti dia selalu menyerahkannya pada orang lain?”
“Tapi bergantung pada seseorang juga berarti bahwa orang lain bisa bergantung padamu, juga. Lagipula, orang – orang yang mencoba melakukan segalanya seorang diri sulit  didekati, kan?” 
Kali ini, Yuu tidak menyangkalnya, kata – kata itu terus saja terngiang di kepalanya.
“Haruki dan Souta, keduanya mengangguk setuju, “Ya, itu adalah kelebihan Yuu.”
‘To-tolong beri aku waktu...’
Kita sudah berganti topik, atau dia akan kesal karena pembahasan barusan.
Tanpa terencana, Yuu cepat – cepat membuka mulutnya, dan di saat itu, ada sebuah ketukan di pintu.
‘Tepat waktu....!’
Dia mulai menjawabnya, tapi terhenti sejenak ketika dia menebak siapa orang yang mengetuk.
Souta melihat jam, dan kelihatannya bisa menebak siapa pengunjung itu.
“Kelihatannya seseorang datang untuk menjemputmu,”
Ketika Souta tersenyum mengerti padanya, wajah Haruki berubah tidak menyenangkan.
‘Mochita juga cukup tegang, hari ini...’
Menganggap perilaku Yuu yang mengangkat bahunya sebagai sinyal, Haruki menyentil Souta di dahi.
“Aduh!”
“Aku akan menanyakannya saat perjalanan pulang nanti.”
Setelah benar – benar mengabaikan Souta, Haruki menyampirkan tasnya pada bahu dan berjalan ke arah pintu.
Ker-chak, thunk
Pintu yang tidak benar – benar pas itu terbuka dengan gaduh.
Ketika mereka melihat kesana, Aida Miou menunggu di depan pintu layaknya Hachiko, si anjing setia.
“.... Hati – hati,”
Yuu menyahut setelah Haruki berpamitan, yang entah kenapa tampak senang, dan dia melambaikan tangannya dari balik bahunya.
Ketika pintu menutup lagi dengan suara gaduh yang masih berlanjut, tubuh Souta merosot di atas meja, lelah.
“Aku yakin dia tidak akan pernah membiarkan Aida membuka pintu itu sendiri,”
Souta bergumam takjub, dan menyadari hal yang sama, Yuu mengangguk.
“Ini tidak seperti perempuan tidak akan bisa membukanya, tapi pintunya cukup berat.”
“Haruki benar – benar lelaki sejati ketika dihadapkan pada hal yang seperti itu.”
“...... Apakah mereka berdua berpacaran?”
“Aku tidak tau...”
Masih nyaman di atas meja, Souta bergumam dengan jawaban remeh.
‘Aneh, biasanya Mochitalah yang pertama mengerti dengan hal yang seperti ini.’
Sebelum dia bisa bertanya ada apa, Souta berbicara,
“Yuu~ apakah kau pernah mendengar mengenai ‘sebuah cinta yang bertahan sangat lama?’”
“Uh, cinta?”
Yuu mendadak hanya bisa berkedip kebingungan pada pertanyaan tak terduga seperti itu.
Seolah tidak menduga jawaban seperti itu, Souta membenarkan jawabannya,
“Maksud mereka ‘cinta tak berbalas’....”
Cinta yang tak berbalas.
Ketika dia mengulang kata - kata itu dalam diam, hatinya sakit seolah - olah ada sesuatu yang menggenggamnya.
Dan dengan perasaan sakit itu, dia jadi menyadari perasaannya pada Natsuki.
‘….. Jika ini tak berbalas, masuk akal jika berlangsung lama sekali.’
Bahkan jika dia melakukan pengakuan cinta, itu tidak menjamin bahwa mereka akan bersama - sama.
Dan bahkan jika perasaan mereka saling berbalas, siapa yang tahu jika itu bisa berlangsung selamanya.
‘Aku pikir aku membaca beberapa buku dimana pasangannya selalu berakhir paling lama tiga bulan, dan untuk pasangan yang telah menikah, tiga bulan.'
Dikatakan bahwa senyawa kimia di dalam otakmu mempengaruhi lamanya keromantisan itu. Tentu saja, kelihatannya berbeda dari kasus ke kasus lainnya, tapi dia menemukan keanehan yang meyakinkannya dalam berbagai cara.
Dalam kasus cinta yang tak berbalas, itu adalah sesuatu yang harus kau persiapkan untuk dirimu sendiri.
Kau bisa tetap menyukai orang tersebut, atau kau bisa mengakhirinya seiring dengan berjalannya waktu.
'Sedikit menyedihkan, ini satu - satunya cara untuk mengatasinya....'
Souta mungkin merasakan perasaan yang sama.
Yuu tidak bertanya padanya kapan perasaan itu dimulai, tapi dia juga memiliki perasaan tak berbalas itu untuk seseorang.
Cinta tak berbalas Souta adalah Hayasaka Akari, yang juga merupakan teman dekat dari Natsuki dan Miou.
Jadi meskipun mereka punya begitu banyak kesempatan untuk saling berbicara, untuk beberapa alasan, Souta akan selalu tenang di depannya.
Ketika ditanya, dia akan berkata seperti, "Akarin... Dia terlalu imut... Gugup sekali... Aku tidak bisa melakukannya...."
Haruki dan Yuu hanya bisa tertawa kalau melihat Souta yang kelihatan sekali menyukainya, tapi karena Hayasaka tidak menyadarinya, dia kelihatannya tidak terlalu memperhatikannya juga.
'Aku pikir orang seperti Hayasaka terkadang bisa bersikap aneh juga...'
Beberapa penghargaan membanggakannya tercatat sebagai ketua klub kesenian mungkin mempengaruhinya, tapi kesan orang awam untuknya seperti,
“Aku benar – benar tidak memahaminya, dia menakjubkan.” Mungkin itu dikarenakan bakatnya yang luar biasa, atau bagaimana dia sering melakukan hal – hal yang menantang, tetapi sesuatu tentangnya banyak kemiripan dengan Haruki, juga.
Dikalangan siswa laki – laki, dia dibilang “Perempuan yang sangat imut saat diam,” tapi dia mendengar ada beberapa siswa lelaki yang diam – diam memperhatikannya.
Dari apa yang dia dengar dari Natsuki, walaupun, sikapnya lebih seperti, “Persahabatan dibandingkan cinta!Seni!”
“...... Apa sesuatu terjadi antara kau dan Hayasaka?”
Dia bermaksud menanyakan apa yang terjadi, tapi kata – kata itu kelihatannya membuat Souta tenggelam lebih rendah.
Ada suara yang pelan ketika pipinya jatuh kebawah menyentuh meja, lalu suaranya yang terdengar hampa itu berbicara, 
“Ya... akan bagus jika terjadi sesuatu.....”
“Ya.  Oke, aku paham maksudmu, jadi jangan bilang lagi...”
Menepuk punggung Souta, dia berdiri dari tempat duduknya dan bersiap untuk pulang.
Ketika dia menghadap pintu yang terbuka, terdengar suara yang tampak bersemangat.
“Ya ampun, apa Ayase akan baik – baik saja....?”
“Huh? Ada apa dengan Yukki?”
Souta menarik dirinya dan bergabung bersama Yuu yang menatap ke luar jendela.
Yuu membuat jarak untuknya, dan menunjuk ke luar, “Disana.”
Butuh waktu untuk memfokuskan pandangan, tetapi begitu Souta melihatnya, ia langsung terkejut.
“Sial, dia dikelilingi oleh siswi perempuan... mereka bukan dari klub atau apapun itu, kan?”
“Hm? Bukankah dia di Klub Pulang Sekolah?”
“Tidak, dia akhirnya bergabung di Klub Berkebun beberapa waktu lalu.”
“Aku pikir akan mudah baginya bahkan jika dia bisa mendapatkan nilai tinggi di Try Out  Ujian Nasional.”
Setelah mengatakan seperti itu, dia sadar bahwa perkataan yang diucapkannya tidak sopan.
Nada bicaranya terdengar tidak suka, dan pilihan kata – katanya juga terdengar tidak bagus.
Dia mencuri pandang pada Souta untuk melihat jika dia sadar akan perkataannya, dan untungnya, mata mereka tidak bertemu.
“Tidak biasanya, kau mengatakan sesuatu yang seperti itu. Apa kau khawatir karena dia dan Natsuki begitu akrab?”
“Bukan begitu!”
Reflek mengelak, Yuu dengan kuat menahan kepalanya dengan tangannya.
Souta tidak tahan untuk tertawa pada temannya yang bertingkah sangat jelas itu.
Dia tidak berbicara dengan Ayase Koyuki sebanyak itu, tapi dia tahu bahwa dia dan Natsuki berbagi selera manga yang sama.
Karena adiknya, Hina, dan pengaruh Natsuki, Yuu juga membaca banyak manga, tapi ketika dihadapkan pada majalah yang menonjolkan, cetakan dengan percakapan yang mendalam, dia benar – benar angkat tangan. Koyuki terlihat sering ditinggalkan, dan kapanpun Natsuki berbicara dengannya, sebisa mungkin dia selalu memberikan banyak ruang.
‘Ini tidak seperti dia laki – laki jahat atau apapun itu, tapi ada sesuatu yang menggangguku...’
Berdiri disamping Yuu, yang mengawasinya dengan cermat, Souta memicingkan matanya karena cahaya matahari yang menyilaukan diluar.
“Apapun alasannya, hebat dia bisa benar – benar mengubah dirinya seperti itu,”
Ketika dia mengatakannya, Souta menggunakan pinggiran jendela untuk menyandarkan dagunya pada tangannya.
Walaupun pandangan matanya fokus pada Koyuki, dia mungkin sedang memikirkan hal yang lainnya.
“Secara pribadi aku berpikir bahwa kau akan baik – baik saja dengan kamu yang sekarang, Mochita,”
Yuu berkata, dan seolah melarikan diri, kembali ke meja untuk mengambil tasnya.
Souta terlihat kaget, dan dengan cepat meneriakinya,
“Tunggu Yuu, katakan itu sekali lagi!”
“Katakan apa? Yakin kau tidak salah dengar? Hei, hati – hati dengan jendela dan tirainya, bukan?
“Yuu, kau tidak perlu malu!”
“.... Apa kau lupa kalau aku ini ketua klub, dan karena itulah aku memiliki kunci ruangan ini?”
“Waah, baiklah, aku datang! Jadi kumohon jangan kunci aku di dalam siniiii!”
Yuu tertawa dalam hati, sadar bahwa dia bertindak sangat bodoh.
Tapi benar juga, yang seperti ini juga tidak buruk.
Ini jauh lebih susah dari yang dia bayangkan untuk tetap menghadapi betapa tidak berdayanya dia jika sudah berhubungan dengan bakat ataupun cinta.
‘Tapi ini bukan berarti aku menyerah, jadi ini juga tidak ada gunanya...'


Sumber :
Terjemahan Bahasa Inggris Perkenalan dan Bab 1 Renna's Translation
Gambar Sailorenna
Continue reading Confession Rehearsal Novel [Bahasa Indonesia 'Perkenalan dan Bab 1]

Jumat, 13 Maret 2015

,

Aku merindukanmu, Otou-san

Pada hari Jum'at tanggal 17 Januari 2014 adalah hari yang tak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Hari dimana sosok lelaki yang paling aku sayangi di dunia ini telah meninggalkanku secara mendadak. Aku tak akan pernah melupakannya kala bendera hijau bertuliskan arab "innalillahiwainnailaihirajiun" berkibar di pagar rumahku, aku tidak akan pernah melupakan kala dirimu telah terbujur kaku dalam keranda di teras rumah. Hatiku benar-benar hancur, aku tidak bisa menerima keputusan tuhanku (ALLAH S.W.T) mengambil penyangga hidupku itu. 

Aku masih ingat kejadian itu, saat itu aku sedang menjalankan KKN (Kuliah Kerja Nyata) di daerah Sampang desa Sokobanah Daya. Kala itu, saat aku menyelesaikan waktu subuhku entah kenapa perasaanku seolah - olah begitu merindukan keluargaku yang berada di Pamekasan. Akupun membuat semacam postingan di Line dengan tulisan, "Otou-san, Okaa-san, Imouto-chan aitakatta." dan sepertinya itu sebuah firasat bahwa hari itu adalah hari yang tak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Pagi hari, tepatnya pukul 08.30 wib aku mendapatkan sebuah telepon dari saudara sepupuku. Mengatakan bahwa aku harus segera pulang ke Pamekasan dan akan dijemput. Aku tak tau alasan sebenarnya yang terjadi, dia hanya mengatakan bahwa Bapakku sakit dan ada di rumah sakit. Beliau ingin bertemu denganku. Perasaanku benar-benar tidak enak, pikiranku kacau tak karuan, aku menangis. Temanku yang selaku ketua kelompok mengizinkan aku untuk pulang setelah dia mendapatkan telepon dari sepupuku. Sepertinya mereka tau apa yang terjadi namun sengaja untuk tidak memberitahukannya dikarenakan memikirkan keadaanku yang sangat kacau. Akupun pulang bersama salah seorang saudaraku dan teman kerja Bapakku. Di perjalanan pikiranku sama sekali tidak tenang, aku memikirkan keadaan Bapakku. Membayangkan saat aku sampai di rumah sakit aku akan menangis di pelukannya dan memarahinya karena tidak menjaga kesehatannya. Aku pasti akan memarahinya. Begitulah pikiranku.

Namun keanehan mulai muncul saat mobil yang kukendarai tidak melaju ke arah jalan rumah sakit tapi melaju ke arah jalan rumahku. Pikiran jelek mulai menghantuiku, dan kala melihat kerumunan orang yang berada di rumahku aku tidak bisa menahan semuanya. 'Ini tidak mungkin. Ini tidak mungkin.' gumamku dalam keadaan setengah tak percaya. Pertahanankupun runtuh seketika. Aku meraung-raung layaknya orang gila melihat sebuah keranda berada di teras rumahku. Berharap apa yang terjadi pada hari itu hanyalah sebuah mimpi belaka. Beliau tidak bisa meninggalkan aku yang selangkah lagi mampu membuatnya bangga dengan menepati salah satu janjiku. Aku masih mengingat jelas seminggu yang lalu sebelum kejadian beliau dan keluargaku datang ke tempat KKN untuk menjengukku, membawakan semua yang aku pinta dan beliau berjanji untuk mengunjungiku kembali di minggu berikutnya. Namun janji itu tak pernah bisa beliau tepati, beliau pergi meninggalkanku kala aku masih haus akan kasih sayangnya. Pesan terakhir yang dikirimkan semalam sebelum kepergiannya masih terasa hangat diingatakanku, mengatakan 'apakah aku betah disana?' dan aku menjawabnya dengan pesan yang singkat pula. Aku juga ingat kala terakhir aku marah sama beliau, ngambek sama beliau karena keegoisanku dan sampai sekarang aku begitu menyesalinya karena aku tak sempat meminta maaf kepada beliau.

"Maafkan anakmu yang kurang ajar ini, Bapak. Maaf kalau selalu ngambek. Maaf kalau anakmu ini selalu bersikap egois dan tak pernah bisa memahami bahwa beban yang engkau pikul jauh lebih besar ketimbang diriku. Maaf kalau selama ini selalu membuatmu khawatir karena ketidakmandirianku. Maafkan aku, Bapak kalau aku masih belum mampu memenuhi pintamu."

Andai waktu bisa kuputar kembali, andai aku tau bahwa pertemuanku dengan beliau adalah yang terakhir, akan kukatakan permohonan maafku. Namun kata maaf itu hanya bisa kuucapkan dalam do'aku. Aku merindukanmu, Pakk... Pahlawanku yang selalu setia menjadi teman kencanku di malam minggu, yang selalu setia menemaniku kemanapun, yang selalu berusaha memenuhi semua keinginanku yang egois, yang selalu memberikan lawakan garing dan terkadang membuatku malu sendiri. Aku merindukanmu...

Kini lebih dari setahun semenjak kepergian beliau, semua ingatanku tentang beliau masih terasa hangat. Aku tak akan pernah lupa semuanya. Aku tak akan pernah lupa pintanya kepadaku. Selamat jalan lelaki favoritku di dunia... Tenanglah engkau disana... Tenanglah engkau disisiNya... Janganlah engkau khawatirkan kami... Kami akan baik-baik saja walau kenyataannya kehidupan kami terasa berat begitu engkau tiada... Tidak apa-apa, karena aku tau ini adalah salah satu bentuk kasih sayangNya kepada kami :') Allah, tolong jaga beliau disana yah... Tolong sampaikan sejuta rinduku untuknya... :')

"In memoriam"
 Mujiono bin Kastubo ,ST., MT
Madiun, 10 Oktober 1960 - 17 Januari 2014
Celebrated my sister's 16th birthday with Otou-san to Okaa-san :')
October 1st 2012
Ahh, ini kue ultah pertamaku di umur 21 tahun.
Seumur hidup ini kue pertama yang beliau kasih untukku.
August 19th 2013

Mom's birthday on April 06th 2012

Continue reading Aku merindukanmu, Otou-san
, ,

[Manga and Anime Profile] Ao Haru Ride





Ao Haru Ride atau dalam bahasa inggrisnya disebut Blue Spring Ride adalah sebuah manga shoujo yang ditulis dan diilustrasikan oleh Sakisaka Io. Serialnya sendiri dimulai pada isu bulan Februari 2011 di Shueisha Bessatsu Margaret. Lalu pada Juli 2014 diadapatasi menjadi anime series yang diproduksi oleh Production I.G dan disutradarai oleh Ai Yoshimura. Sebuah Live Action juga dirilis pada tahun yang sama namun bulan yang berbeda, yaitu pada bulan Desember. 

-Sinopsis Cerita-
Bagi Yoshioka Futaba kehidupan semasa SMP-nya tidak begitu menyenangkan. Karena sifatnya yang feminim dan pemalu ternyata banyak sekali siswa cowok menyukainya, dan hal itulah yang membuat siswi-siswi cewek mengucilkannya karena iri padanya. Padahal sebenarnya Futaba antipati terhadap cowok karena sifat mereka yang cenderung berisik dan suka ribut. Satu-satunya cowok yang mampu menarik perhatiannya hanyalah Tanaka Kou. Cowok yang baginya terlihat begitu berbeda dengan yang lainnya. Namun sayangnya saat liburan musim panas di tahun pertama SMP-nya dia harus pindah sekolah dan sejak saat itu Futaba masih terus menyimpan perasaan sukanya tanpa pernah bisa dia ungkapkan. 
Menginjak bangku SMA dia berusaha untuk mengubah kepribadiannya, bersikap tomboi dan tidak memiliki sifat feminim sama sekali sehingga terkadang membuat siswa-siswa cowok yang awalnya mengaguminya akan berbalik menjadi ilfeel padanya. Dengan cara seperti inilah dia tidak akan lagi dikucilkan oleh siswi cewek karena perasaan iri seperti yang terjadi di masa SMP-nya. Saat dia mulai menikmati kehidupan SMA-nya dengan damai, dia bertemu kembali dengan Kou. Namun dia bukanlah Tanaka-kun yang dia kenal saat SMP dulu. Sosok Tanaka-kun yang ramah dan selalu tersenyum dulu kini sudah berganti dengan Mabuchi Kou yang dingin. 

-Pengenalan Tokoh-

Yoshioka Futaba 



Saat SMP dia menganggap semua cowok itu menyebalkan dan mengganggu, makanya tidak heran jika dia selalu berusaha untuk menjaga jarak dari mereka dan tidak terlibat dengan mereka semua. Namun diantara mereka yang menyebalkan hanya ada satu cowok yang menurutnya berbeda, dia bernama Tanaka Kou dan Futaba bertekad untuk tahu lebih banyak tentangnya. Mereka pernah berteduh di kuil berdua, tertangkap berdua saat bermain petak umpet, dan sebagainya. Pada suatu ketika Kou mengajak Futaba pergi ke festival bersama, namun sayangnya janji tinggallah janji karena ternyata saat liburan musim panas Kou pindah sekolah. 
Tiga tahun sejak kepindahan Kou, Futaba kini menjadi siswa SMA, dan disitulah dia bertekad untuk mengubah image-nya di SMP. Dia tidak menjadi feminim dan terkesan cewek yang serampangan dengan tujuan supaya siswa cowok tidak ada yang mendekatinya sehingga tidak membuat siswa cewek iri padanya seperti kejadian di SMP dulu. Pertemuannya kembali dengan cinta pertamanya yaitu. Tanaka Kou yang sekarang berganti nama menjadi Mabuchi Kou membuatnya senang. Namun tanpa dia sangka, Kou yang sekarang bukanlah Kou yang dulu. Walau setelah pertemuannya kembali membuat Futaba kesal dengan berbagai sikap Kou yang menyebalkan dan menganggap kalau dia tidak suka lagi dengannya, namun ternyata perhatian-perhatian kecil yang Kou berikan padanya tidak mampu membuatnya berbohong bahwa dia masih menyukai Kou. 

Mabuchi/Tanaka Kou



Saat SMP dia adalah cowok pemalu, dia suka tertawa dan tersenyum bersama teman - temannya dan sikapnya yang ramah tidak seperti siswa cowok lainnya yang berisik dan menyebalkan membuat Futaba menaruh perhatian besar padanya. Dia suka diam-diam memperhatikan Futaba dan saat pandangan mereka bertemu akan selalu memalingkan mukanya untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah. Pernah mengajak Futaba pergi ke festival musim panas bersama, namun Kou tidak bisa menepati janjinya karena kepindahannya yang mendadak.
Bertemu kembali dengan Futaba setelah 3 tahun berpisah, saat kelas 1 SMA dia berada di kelas unggulan dimana letak gedungnya berbeda dengan kelas reguler makanya tidak heran jika Futaba tidak menyadari jika Kou satu sekolah dengannya. Sifatnya benar-benar berubah dari Kou saat SMP. Kou yang sekarang terlihat begitu dingin dan matanya juga menyiratkan kesepian. Sebenarnya dia menyimpan rasa kehilangan yang teramat sangat saat ibunya meninggal, dan itu berdampak pada kondisi psikis Kou yang saat itu menyimpan penyesalan yang mendalam karena tidak bisa banyak menghabiskan waktu bersama ibunya. Meski begitu, tidak dipungkiri bahwa Kou masih menyimpan perasaan yang sama seperti Futaba walau dia jarang sekali menunjukkannya. 

Makita Yuuri




Dia begitu disanjung oleh siswa cowok karena sikapnya yang feminim dan wajahnya yang imut, tidak heran jika banyak siswi cewek yang menaruh rasa iri terhadapnya karenanya dan membuatnya diajuhi. Dia dianggap sebagai seorang yang pandai mencari-cari perhatian siswa cowok, padahal kenyataannya dia tidak seperti itu. Yuuri sangat pandai menyimpan perasaannya, dia sengaja melakukan kebohongan - kebohongan kecil (Ps. seperti akan makan siang bersama teman-temannya di atap dan sebagainya) kala banyak siswa cowok yang mendekatinya. Kenyataannya Yuuri tidak memiliki teman dan walau bagaimanapun keadaannya dia tetap tersenyum seolah tidak terjadi apa - apa. Saat Futaba menyangkal pendapat teman - temannya mengenai Yuuri, Yuuri sangat senang dengan pembelaan Futaba walau dengan konsekuensi bahwa Futaba harus kehilangan dua temannya itu. Dari situlah mereka berdua mulai akrab.
Saat kelas dua ternyata mereka satu kelas dan Yuuri juga menjadi salah satu petugas kelas seperti Futaba. Semenjak pelatihan untuk para petugas kelas diketahui bahwa Yuuri menyukai Kou dan itu sempat membuat perasaan Futaba bingung yang saat itu juga masih menyukai Kou. Takut kejadian semasa SMP terulang, dimana dia pernah dijauhi sahabatnya karena disangka menyukai gebetannya Futaba akhirnya berterus terang mengenai perasaannya kepada Yuuri dan keduanya berjanji untuk bertanding secara sportif demi mendapatkan cintanya Kou tanpa mengganggu persahabatan mereka. Pada akhirnya Yuuri harus kecewa karena cintanya ditolak oleh Kou.

Murao Shuuko



Kesan pertama tentang dirinya 'dingin'. Dia seolah tidak peduli dengan keadaan sekitarnya, tidak peduli jika dia tidak memiliki teman dan memang sengaja menjaga jarak dengan yang lain, dan dia tidak peduli dengan Kominato yang berusaha keras membuatnya menyukai kehidupan SMA-nya. Hingga pada saat memasuki tahun kedua di SMA dia mencalonkan diri sebagai salah satu petugas kelas yang memaksa dirinya, Kominato, Yuuri, Kou, dan juga Futaba harus mengikuti pelatihan kepemimpinan selama tiga hari dua malam. Diketahui juga alasan awal saat Murao mencalonkan diri karena Tanaka-sensei menjadi salah satu guru pembimbing dalam pelatihan. 
Setelah mengikuti pelatihan kepemimpinan bersama yang lain, Murao secara tidak langsung menjadi akrab dengan mereka. Terutama dengan Futaba dan juga Yuuri yang memaksanya ikut bersama mereka berdua untuk menjadi pendengar curhatan mereka mengenai Kou. Pada awalnya Murao terganggu dengan kehadiran mereka berdua, namun seiring berjalannya waktu akhirnya dia mulai membuka dirinya dan menjadi akrab. Murao pun bahkan mengaku kepada mereka berdua jika dia menyukai Tanaka-sensei. 

Kominato Aya



Ceria dan sangat spontan. Kominato terlihat tidak memiliki masalah dengan kehidupan sosialnya. Dia sangat terbuka, peduli, namun terkadang bodoh. Menyukai Murao sejak kelas satu dan sangat peduli dengannya yang cenderung cuek. Tidak begitu menyukai Tanaka-sensei yang dianggapnya sebagai rival. Menjadi dekat dengan Kou semenjak mereka sama - sama menjadi petugas kelas, walau pada awalnya Kominato tidak menyukainya karena Kou adalah adik dari Tanaka-sensei. 
Sikap peduli Kominato terhadap Kou lambat laun membuatnya sadar bahwa dia tidak sendiri, dia bisa berbagi beban kepada orang lain. Bahkan Kominato adalah orang yang pertama kali mengetahui bahwa selama ini Kou masih sangat menyukai Futaba dan berjanji untuk tidak mengatakannya kepada siapapun. 

Yoichi Tanaka



Kakak laki - laki Kou sekaligus seorang guru bahasa inggis di SMA tempat Kou bersekolah. Dia lebih tua delapan tahun dari Kou. Sikapnya yang ramah dan penyayang membuat Futaba tertarik padanya karena mengingatkannya pada Kou. Sempat salah paham akan kedekatan hubungannya dengan Kou yang tidak lain karena tidak tau bahwa mereka berdua adalah kakak beradik. Tanaka-sensei mengetahui bahwa Murao menyukainya namun dia selalu mengatakan padanya bahwa hubungan mereka tidak lebih dari sekedar hubungan murid dan guru saja.
Meski begitu, dia tidak segan - segan membantu Murao jika dibutuhkan dan bahagia saat bantuannya berguna. Dia menikmati sikap rivalitas Kominato terhadapnya karena Murao sangat menyukainya. Dia selalu memberikan saran kepada Futaba saat dia menghadapi masalah dengan Kou. Sebagai saudara tertua, Tanaka-sensei merasa bertanggung jawab atas perubahan sikap Kou yang dingin semenjak peninggalan ibunya dan dia juga merasa bahwa dia gagal menjadi seorang Kakak bagi Kou.

Kikuchi Touma



Sejak pertemuan yang 'memalukan' dengan Futaba di perpustakaan, dia memiliki kesan buruk terhadapnya. Namun kesan itu berubah sejak dia mengetahui bahwa betapa menyesalnya Futaba atas insiden tersebut. Kesungguhannya untuk memperbaiki kesalahpahaman tersebut, membuat Kou cemburu karena melihat perlakuan Kikuchi yang berlebihan terhadap Futaba. Teman - temannya memanggilnya "Goodie-Goodie" dan "Hasebe" karena sikapnya yang kaku dan jujur.
Touma memakai piercing di telinga kirinya. Touma menyukai Futaba karena sifatnya yang natural dan tidak dibuat - buat. Tak heran jika dia terkadang suka blushing saat melihat Futaba. Dia menyadari jika Futaba menyukai Kou namun meski begitu dia berusaha untuk mendukung Futaba dan melindunginya. Touma akhirnya menyatakan perasaannya dan meminta Futaba untuk berpacaran dengannya. 

Narumi Yui



Teman SMP Kou saat Kou bersekolah di Nagasaki. Kou dan Narumi menjadi akrab saat pertemuan mereka di rumah sakit, dimana saat itu ayah Narumi dan Ibunya dirawat di rumah sakit yang sama. Kematian ayahnya membuat Narumi terpukul. Karena Kou sama - sama pernah mengalami hal yang sama dengan Narumi maka dia memutuskan untuk berada di sisinya dengan konsekuensi dia tidak bisa menerima perasaan Futaba. 
Saat festival kebudayaan sekolah Kou, Narumi datang mengunjunginya dan itu membuat Futaba cemburu. Diketahui juga bahwa Narumi pernah mencium Kou dan saat Futaba menanyakan hal itu kepada Kou dia sama sekali tidak menyangkalnya. Narumi mengatakan bahwa dia lebih memahami Kou ketimbang dirinya, dan dia tidak mengerti mengapa Kou tidak bisa membalas perasaannya. Kou mengaku bahwa dia masih menyukai Futaba dan dia tidak bisa bersama Narumi. Narumi berusaha untuk memahami keputusan Kou walau sebenarnya dia sama sekali tidak menginginkannya.

-Kesan mengenai Ao Haru Ride
Jujur aja awal tau Ao Haru Ride gara - gara nonton anime-nya, begitu selesai nonton sampe episode 3 aku penasaran sama jalan ceritanya dan tidak bisa menunggu episode berikutnya. Akhirnya aku memutuskan untuk membaca manga-nya. Kesan baca manga-nya aku gak bisa berhenti baca karena ceritanya yang menarik dan aku suka gemes sama sikap Kou ke Futaba. Rasanya Futaba suka diPHP-in sama Kou >.< 
Aku akui ini cerita tipikal shoujo banget, tapi gak tau kenapa aku suka. Tiap - tiap karakternya sangat menarik dan bisa dibilang Ao Haru Ride bagus karena penggambaran karakternya yang kuat. Saat baca chapter menuju ending plotnya terkesan datar dan kesan menarik dari awal chapter menjadi berkurang. Jujur sedikit kecewa bagaimana cara Sakisaka Io-sensei membuat ending-nya, tapi mau bagaimanapun juga aku harus terima, seenggaknya Kou dan Futaba tetap bersama. Berharap banget Io-sensei nanti bakalan bikin extra chapter buat Ao Haru Ride :D hehe. 
Akhir kata, terima kasih sudah berkunjung ke blog ini dan membaca postingan mengenai salah satu manga favorite-ku ini :) Maaf jika ada beberapa kesalahan dalam penjelasan diatas dan maaf juga karena ada beberapa karakter yang tidak ditampilkan. 

Sumber : 
Wikipedia, Tumblr
Gambar : Sakisaka Io's artwork dan tumblr

Continue reading [Manga and Anime Profile] Ao Haru Ride

Minggu, 01 Maret 2015

,

[Catatanku] Pengalaman (singkat) Kerja Pertamaku

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ehem, sepertinya sudah lama yah ini blog ditinggalkan oleh pemiliknya? wkwk. Maaf sudah membuatmu terbengakalai blog-ku tercintah~ /elus-elus/ Oke kali ini aku mau cerita tentang pengalaman singkat kerja pertamaku. Tulisan ini hanyalah curhatan penulisnya, tolong abaikan atau lewati jika anda merasa tulisan ini tidak penting bagi anda :) Terima kasih. 

Sekitar awal  bulan Februari kemarin tepatnya tanggal 07 Februari 2015 aku mendapatkan panggilan telepon dari nomor yang tidak aku kenal. Begitu aku angkat ternyata itu berasal dari sebuah kantor penerbitan buku anak-anak dimana dulu aku pernah menyerahkan CV-ku saat jobfair Sidoarjo bulan November tahun kemaren. Saking lupanya karena sebenarnya aku sudah nggak berharap banyak lagi dari jobfair itu aku sampai lupa perusahaan mana saja yang aku masukkan CV-nya. Begitu mendapatkan panggilan interview di hari senin tepatnya tanggal 09 Februari 2015 dari *aku sensor nama perusahaan* aku bimbang, karena pada saat itu aku sedang berada di rumah Pamekasan karena ada acara tahlilan 100 hari alm. ayahku. Rencananya selepas acara itu aku ingin stay di Pamekasan sedikit lebih lama lagi. namun niat itu urung aku lakukan mengingat ini adalah kesempatanku dan aku tak boleh menyia-nyiakan sedikitpun kesempatan yang ada. 

Jadilah hari minggunya aku kembali bersama tante ke Surabaya demi memenuhi panggilan interview tersebut /huhuhu :(/ Rasanya berat sekali meninggalkan rumah, padahal masih sebentar banget aku di rumah tapi demi keluarga di rumah aku melakukannya. 

Singkat cerita, tepatnya tanggal 09 Februari 2015 ditemani Devy dan Firman yang mana keduanya adalah adik sepupuku pergi menemaniku pergi ke tempat panggilan interview yang menurut info dari penelpon sih beralamat di *sensor* no. 7 daerah Ngagel. Karena tempatnya cukup jauh dari perak kami bertiga naik mobil tante kesana. Dengan mengandalkan alamat yang diberikan dan juga google maps kamipun pergi sesuai dengan peta yang ditujukan google maps. 

Jujur aja, hampir sejam kami keliling-keliling mencari lokasi perusahaan namun tidak berhasil. Bahkan google maps pun sampai salah memberikan kami informasi. Kami juga sampai bertanya kesana-kemari untuk mencari lokasinya namun belum ketemu juga. Saat itu pikiran jelek sudah muncul dipikiranku, 'sudah nyerah aja wes kalau gak ketemu.' namun berkat informasi dari salah satu penjaga di kompleks perumahan kami akhirnya menemukan lokasinya. Ternyata aku salah menuliskan alamat perusahaannya :p hahaha. 

Kesan pertamaku begitu melihat lokasi perusahaan yang sebentar lagi aku masuki adalah.... kayak bukan perusahaan saja, soalnya kantornya aja kayak rumah biasa. Aku yang awalnya ragu akhirnya masuk juga, sedangkan Devy sama Firman menunggu didalam mobil. Saat masuk aku disambut dengan dua orang costumer service. Aku mengatakan maksud dan tujuanku, dan mereka menyuruhku untuk duduk dan menunggu sementara mereka akan memanggilkan orang yang akan mewawancaraiku, Sembari menunggu, salah satu CS disana menyodorkan buku tamu untukku dan saat aku menuliskan namaku di buku tamu itu sudah kudapati kira-kira sekitar sepuluh nama yang tertulis diatasku dengan tujuan yang sama, 'wouw, mereka datang pagi sekali.' ucapku takjub. Itu berarti aku sendiri yang datang terlambat. hehe. Setelah beberapa menit menunggu, salah satu CS menyuruhku untuk masuk ke sebuah ruangan. Di ruangan tersebut ada dua kursi yang saling berhadapan dan dibatasi oleh meja yang diatasnya ada beberapa buku pelajaran anak-anak. Aku menunggu disana sambil celingukan merhatiin ruangannya.

Tak berapa lama sosok wanita yang akan mewawancaraiku datang, dia tersenyum padaku dan akupun tentu membalas senyumannya.  Beliaupun memulai wawancara dengan melihat CV-ku yang dia pegang. Menanyakan apakah aku sudah pernah bekerja sebelumnya? Dimana aku kuliah? Dimana aku tinggal dan sebagainya. Lalu dia mulai membahas mengenai perusahaan, dan berhubung aku S1 aku ditempatkan di salah satu divisi yaitu bagian pa**knya. Aku mulai mendengarkan dengan seksama penjelasannya sehingga aku tak ingin sedikitpun terlewat. Beliau juga menjelaskan bahwa ada masa percobaan selama dua bulan dengan gaji pokok sebesar Rp 500.000,- sebulan dan transport Rp 15.000,- sehari. Setelah wawancara selesai, beliau memintaku untuk datang lagi besok.

Begitu selesai wawancara aku langsung mendiskusikannya dengan kedua sepupuku, meminta pendapat. Aku mulai ragu untuk melanjutkan begitu mengetahui bahwa gajinya hanya lima ratus ribu rupiah, bukannya aku pemilih tapi rasanya itu terlalu sedikit jika dibandingkan dengan pegawai kasir yang bekerja di mini market. Lalu Firman mengusulkan untuk mendiskusikannya dengan Tante Kut, aku menelponnya dan meminta saran kepada beliau dan mendapati jawaban bahwa aku disuruh coba dulu sebagai pengalaman kerja untuk yang pertama kalinya walaupun aku akui bahwasanya jarak lokasi kantor dari perak lumayan jauh. Akhirnya keputusan sudah aku buat, aku memutuskan untuk datang lagi keesokan harinya untuk mengikuti training. 

Cerita langsung dilompat pada saat aku sudah resmi menjalani masa percobaanku, tepatnya tanggal 12 Februari 2015. Siang harinya setelah jam istirahat usai aku ditempatkan di kelas untuk mengikuti pengarahan dari tutorku. Di dalam ruangan ada dua pegawai wanita, wanita yang berambut panjang dengan pipi agak chubby dan wajahnya mengingatkanku pada tetanggaku itu bernama Mbak I*a, dia adalah atasan dibagian aku bekerja sekaligus tutorku. Lalu satunya lagi ada Mbak I*a yang memiliki tahi lalat di dahinya dan memiliki tubuh yang lumayan besar. Aku berkenalan dengan mereka berdua dengan sopan. Mbak I*a selaku tutorku menjelaskan padaku mengenai beberapa tentang produk yang nantinya akan aku jual. Ouh iya, mungkin aku lupa menjelaskan apa jenis pekerjaan pertamaku.

Disini aku bekerja sebagai 'Telemarketing' yang tugasnya tak ada bedanya dengan sales namun yang membedakannya cara kita menjualnya. Disini Telemarketing menawarkan barang melalui telepon. Jadi tugasku sebagai pegawai yang masih dalam masa percobaan hanya memvalidasi nama-nama perusahaan beserta nomer teleponnya di yellow pages, kemudian aku disuruh untuk menelpon perusahaan-perusahaan yang sudah aku validasi dan disuruh untuk meminta nama dari bagian p*j*k beserta nomer fax perusahaan untuk dikirimkan brosur dari produk perusahaan kami. Namun jika kita sudah bisa langsung disambungkan dengan bagian pajaknya, kita disuruh untuk presentasi produk.

Selama menjalani pekerjaan ini jujur saja mentalku naik turun, sempat down juga karena pernah dibentak sama orang melalui telepon dan itu sudah sukses bikin aku keder -__- Kalau boleh jujur aku ini tipe orang yang nggak terlalu baik dalam komunikasi, maka gak perlu heran kalau waktu presentasi produk di telepon aku suka gelagapan sendiri, padahal aku tau apa yang harus aku jawab. Namun karena otakku sudah nge-blank apa yang harusnya aku jawab pada akhirnya tidak terjawab. Dan dengan sangat mudahnya para calon konsumen langsung menolak apa yang aku tawarkan.

Pekerjaan seperti ini melelahkan, aku bahkan harus menelpon lebih dari tiga puluh nomer telepon setiap harinya. Aku berusaha buat bisa lebih baik lagi, namun apa daya penolakan terus terjadi. Walaupun ada beberapa yang bilang masih dipertimbangkan sih, tapi itu hasilnya pasti fifty fifty :| Seminggu sudah aku menjalani pekerjaan ini dan aku merasa mulai jenuh, niatku yang awalnya membara terhadap pekerjaan ini entah kenapa sedikit demi sedikit mulai redup. Apalagi saat tutorku tidak ada di tempat karena harus mengurus seminar pajak di hotel aku mulai malas-malasan menelpon. Aku kehilangan semangatku. Terkadang aku suka curi-curi waktu untuk tidak menelpon dan sebagainya.

Jujur saja, aku merasa bersalah. Tapi mau bagaimana lagi? Aku harus bertahan. Aku pernah mengutarakan niatku kepada tante untuk sambil mencari-cari pekerjaan lain, namun tante menceramahiku karena aku belum apa-apa sudah menyerah. Aku tidak ada niat untuk menyerah, hanya saja aku sudah melakukannya dengan setengah hati dan tentu saja semuanya terasa tidak nyaman. Aku mulai bingung apa yang harus aku lakukan, apa aku tetap menjalani pekerjaan ini atau aku keluar sambil mencari pekerjaan lainnya.

Disaat itulah aku mulai menyerahkan semuanya pada ALLAH SWT. Selama beberapa hari aku mencoba untuk shalat istikharah, berserah padaNYA memohon petunjuk yang terbaik untukku. Namun selama lebih dari tiga hari aku masih belum bisa mengatasi perasaan bingungku. Aku terus melakukan shalat istikharahku sampai aku menemukan jawabannya. Dan pada akhirnya setelah hampir seminggu aku melakukannya, ALLAH memberikan jawabanNYA untukku melalui teman kerjaku yang namanya mas D*dik. Sungguh saat itu aku mengerti bahwa inilah yang harus aku lakukan. Aku tak ragu lagi, dan begitu aku ceritakan masalah yang sebenarnya terjadi kepada tante entah bagaimana tanteku menyetuji keputusanku. Padahal minggu kemarin beliau orang yang sangat getol ingin aku tetap disana untuk menjalani pekerjaan ini.

Keputusan yang aku ambil sungguh berat, di satu sisi aku sudah merasa tidak nyaman dengan pekerjaan yang aku lakukan sekarang dan di satu sisi lagi aku harus kehilangan teman - teman kerja yang begitu baik kepadaku. Sungguh berat, namun aku gak boleh mundur lagi. Lagipula keputusan ini sudah aku pertimbangkan dengan baik. Sebelum pergi aku juga sempat meminta kontak mereka, setidaknya walau aku sudah tidak bekerja disana lagi silaturrahmiku dengan mereka masih tetap ada dan gak boleh sampai putus. Untuk sebelas hari yang terasa lama aku jalanin namun begitu singkat saat perpisahan itu tiba aku ucapkan terima kasih. Maaf jika selama sebelas hari kerja aku selalu merepotkan, selalu bikin susah kalian karena aku yang suka lemot, maaf untuk semuanya. Terima kasih sudah menjadi bagian dari perjalanan hidupku.

And of course, I'm gonna miss you~~~ 

Telepon yang selama sebelas hari ini jadi sahabatku,
tiap hari aku pencet-pencet kamu sampek capek xD

Yellow pages dan beberapa daftar hasil validasi yang selama sebelas hari ini selalu aku pantengin
sampe pusing karena banyak coretannya

Meja kerja yang penuh dengan kertas-kertas data konsumen
(NB : Ini bukan meja kerjaku btw :p)
Oke, aku kira cukup sekian cerita pengalaman (singkat) kerja pertamaku, semoga kedepannya bekal yang aku dapatkan selama sebelas hari bekerja disana tidak sia-sia dan aku bisa menjadi lebih baik lagi. Amiin. Terima kasih buat blogspot yang sudah ngasih aku izin buat nulis keluh kesahku disini.
Akhir kata, 

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh :) 

(NB : Untuk nama perusahaan, beserta lokasi, dan nama orang-orang yang berada dalam perusahaan tempat pertama kali aku bekerja sengaja aku samarkan untuk menjaga privasi)


Continue reading [Catatanku] Pengalaman (singkat) Kerja Pertamaku