Jumat, 31 Juli 2015

, , ,

Confession Rehearsal Novel [Bahasa Indonesia 'Bab 4']

Ehem, tolong jangan tanya kenapa ini bisa update lebih cepat daripada biasanya ._. Yang penting bisa update. Dan nggak bosen - bosennya saya ngasih tau kalau terjemahan ini masih jauh dari kata sempurna. Sekali lagi mohon maaf kalau ada beberapa kalimat atau kata - kata yang sedikit rancu. Kedepannya saya janji akan berusaha lebih baik lagi untuk menyempurnakannya. Untuk chapter lima diusahakan bisa cepat seperti ini dan do'akan saya saja semoga malasnya hilang. Akhir kata terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk mengunjungi blog gajes saya dan membaca postingannya yang lebih gajes lagi. Untuk translasi bahasa inggrisnya bisa dilihat disini . Kritik dan saran untuk penyempurnaan terjemahan ini ditunggu. Selamat membaca kisah lika - liku cinta Natsuki dan Yuu :) 

Confession Rehearsal Novel Bahasa Indonesia
Bab 4



——



Hayasaka Akari
Tanggal Lahir: Desember 3
Zodiac: Sagittarius
Golongan Darah: O

Teman dekat Natsuki. Berada di klub kesenian. Memiliki kepribadian yang mudah bergaul, dan senyuman ramahnya membuatnya mendapatkan banyak penggemar, tetapi kenyataannya, dia pribadi yang cukup pemalu.  
——

Latihan 4

Akhir pekan pertama yang sangat sibuk.
Natsuki merasa aneh sendiri karena terlalu gugup sehingga menyebabkannya tidak bisa tidur di malam sebelumnya, tapi pada akhirnya dia bisa juga tertidur, jam alarmnya berbunyi. Dia tidak bisa ingat apa yang terjadi setelahnya, dan ketika dia membuka matanya untuk kedua kalinya, waktu menunjukkan satu jam sebelum waktu pertemuan.
“Sial… aku ingin bangun pagi untuk menghabiskan banyak waktu memilih pakaian apa yang ingin aku pakai, juga…”
Natsuki akhirnya mencoba satu pakaian setelahnya di depan cermin, tapi dia masih belum bisa memutuskan kombinasi pakaian yang pas untuk dipakai pergi.  
‘Aku akan pergi bertemu dengan Yoshida-sensei, jadi aku tidak boleh terlihat terlalu ceroboh…!’
Pesan yang dia terima dari Koyuki setelah pulang sekolah waktu itu adalah sebuah undangan untuk menghadiri acara tanda tangan dengan mangaka yang sangat Natsuki sukai. Ini bukan pergi ke taman bermain, atau ke akuarium atau apapun itu, tapi sesungguhnya, ke sebuah toko buku besar di kota.

Karena dia sangat menantikan ke tempat dimana mereka akan pergi, awalnya dia sedikit terkejut setelah membaca pesannya, tapi jujur, dia sangat bersemangat untuk bertemu dengan Mangaka yang sangat dia kagumi.
Natsuki cepat – cepat mereservasi sendiri untuk acara tanda tangan, dan menunggu hari ini tiba.
“Aku harus pergi dengan pakaian yang terbaik….!”
Dari gunungan pakaian yang menumpuk di kakinya, Natsuki memilih sebuah gaun dengan renda lucu yang mengitari daerah dada.
Dia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan pakaian itu dan langsung membelinya ketika pergi bersama Akari dan Miou.
“Aku tidak pernah benar – benar memakai pakaian seperti ini sebelumnya, tapi… aku bertanya – tanya jika ini yang terbaik.”
Memegang gaun di depan piyama yang dipakainya, dia melihat pantulan dirinya sendiri di cermin. Dia merasa gaun ini membuatnya terlihat lebih bersih dan layak dari biasanya.
“Ini seperti… barang di waktu yang terbatas, aku pikir?”
Tersenyum masam adalah cara mudah untuk situasi saat ini, Natsuki meraih bagian bawah kaus T-nya.
‘Jadi, undangan kencan, huh?’
Dia mendadak teringat dengan kata – kata Miou, dan tangannya membeku.
‘Tidak mungkin.’
Koyuki tidak pernah bilang kalau ini kencan, mereka hanya akan pergi ke acara tanda tangan mangaka. Walaupun mereka berbagi ketertarikan yang sama dalam manga, dia mungkin tidak akan memilih sesuatu yang seperti itu untuk sebuah kencan.
Lagipula, Koyuki tidak akan pernah menyatakan perasaan kepadanya, sepertinya Natsuki terlalu memikirkannya.
Beep beep! Beep beep!
Seolah ingin mengganggu pikirannya, handphone yang dia tinggalkan di atas tempat tidurnya mulai berbunyi.
“Oh, benar, aku memasang alarm.”
Dia bergegas memeriksa jam, dan melihat bahwa hanya tersisa tiga puluh menit.
Tidak ada waktu lagi. Menepuk kedua pipinya, Natsuki dengan anggunnya melepas kausnya.

♥ ♥ ♥ ♥ ♥

“Heeey, Natsuki! Aku kemari untuk mengembalikan game milikmu!”
Saat Natsuki keluar dari pintu depan, seseorang berdiri di depan gerbang memanggil namanya.
Saat – saat mata mereka bertemu, Yuu, yang memegang sebuah softwear panduan dan strategi game, datang dengan berlari.
“Maaf, aku akan pergi. Bisakah kau meninggalkannya di kotak sepatu?”
“Pergi dengan Aida dan Hayasaka?”
‘….H-Huh? Tapi, tidakkah aku terlihat aku sedang berpakaian benar – benar baik hari ini?’
Merasa sedikit tidak nyaman dengan tatapan Yuu, Natsuki menggelengkan kepalanya.
“Tidak, aku akan pergi dengan Koyuki-kun hari ini.”
Saat dia menjawab, rasanya seperti udara disekitar mereka membeku.
Sebuah lipatan terbentuk diantara alis Yuu, dan dia melihat Natsuki dengan tatapan tajam.
“A-Ada apa? Ada yang salah?”
“Apakah Haruki tidak apa – apa dengan ini?”
Suara Yuu keluar seperti sebuah sentakan bernada rendah, menenggelamkan perkataan Natsuki.
Dia tidak mengerti maksudnya, tapi yang jelas Yuu marah.
Lebih marah dari pada yang pernah dia lihat sebelumnya.
Menahan keinginan untuk melangkah mundur, Natsuki balas menatap balik Yuu.
Saat dia melihat tangannya sedikit bergetar, cara dia menggigit bibir bawahnya, dan bagaimana matanya bergerak – gerak seolah – olah balik memperjuangkan sesuatu, Natsuki menyadari bahwa dia telah salah menafsirkannya.
‘Yuu… sedang berusaha untuk tidak menangis?’
Dia sendiri mungkin tidak menyadarinya, tapi bersama dengan kemarahannya, ada emosi lainnya yang berkeliaran disana.
Saat dia menyadari hal itu, dia kehilangan keinginan untuk memberikan jawaban yang kuat.
“Sudah diputuskan bahwa Akari yang akan menggambar untuk filmnya. Jadi ini tidak seperti aku harus bertemu dengan Haruki sekarang atau apapun itu. Lagipula, Koyuki dan aku hanya pergi bersama. Ini tidak ada bedanya jika aku pergi bersama Mochita.”
“Kau tidak terpilih, jadi kau langsung menyerah?”
Saat dia langsung menanyakannya dengan pertanyaan yang tak terduga, Natsuki menahan nafas.
Ini tidak seperti aku menyerah atau apapun. Hanya saja hal ini sudah diputuskan bahwa Akari yang terpilih untuk melakukannya. Dia yakin Yuu mengetahuinya, jadi kenapa dia menanyakan sesuatu seperti ini sekarang?
“Aku tidak… benar – benar mengerti apa yang kau coba katakan….”
“Kau tidak menjawab pertanyaanku. Meskipun kau terlihat begitu bahagia Haruki memujimu… aku tidak pernah melihatmu seperti itu sebelumnya.”
Bahkan saat dia dengan jujurnya mengatakan dia tidak mengerti, Yuu malah terus memaksanya untuk menjawab.
Diliputi dengan kebingungan yang mendera, hanya ada satu hal yang di yakini.
‘Aku benar – benar tidak mengerti apa yang sedang dia bicarakan!’
Apa terjadi sesuatu sebelumnya yang tidak Natsuki sadari? Tidak, tidak ada pesan apapun yang dikirimkannya, dan dia yakin Yuu juga akan menjelaskan padanya sekarang, jika benar – benar terjadi sesuatu.
‘Lalu, apa? Ada apa? Apa yang sedang terjadi disini?!’
Saat Natsuki menahan nafas dengan kebingungan, Yuu mendesah.
Bertanya – tanya apa yang akan dia katakan selanjutnya, dia mengangkat kepalanya, dan melihat tangan yang besar memenuhi pandangannya.
Perasaan tegang mendadak merasukinya, tapi Yuu hanya menepuk kepalanya dengan telapak tangannya.
“Eh? Yuu….?”
Dengan mulut ternganga, dia melihat wajah teman kecilnya itu.
Dia yang sedang berdiri di hadapannya, terlihat hampir seperti seseorang yang berbeda dengan  seulas senyuman dewasa di wajahnya.
“Maaf, itu bukan urusanku, kan?”
Lihat, inilah kenapa aku tidak pernah bisa  mengetahui apa yang membuatmu marah, atau apa yang sedang mengganggumu.
Meskipun hal seperti ini akan terlihaat baik – baik saja selama dia membalasnya, entah kenapa, dia tidak memiliki kekuatan untuk melakukannya.
Yuu menepuk  kepala Natsuki lagi, seperti yang dia lakukan pada adik perempuannya, Hina.
“Bagaimanapun juga, akulah orang yang mengatakan aku akan mendukungmu tidak peduli siapa yang kau sukai,”
Kata – kata yang digumamkan Yuu begitu pelan, berdering jelas di telinga Natsuki.
Namun, dia masih tidak bisa menemukan kata – kata yang tepat untuk membalasnya, dan hanya bisa berdiri terpaku di tempat seolah – olah dia tidak berdaya melakukan apapun. 
“Bukannya kau harus segera pergi? Kau tidak ingin terlambat. Oh, benar, ini ditaruh di kotak sepatu, kan?”
Melambaikan tangannya, Yuu membuka pintu depan rumah Natsuki.
Meskipun ini adalah sesuatu hal yang selalu dia lihat, untuk beberapa alasan, ini membuat dadanya teramat sakit.
‘Apakah Yuu dan aku akan tetap selalu menjadi teman masa kecil…? Apakah kita akan tetap seperti ini selamanya?’
Sejak dia sudah mulai melakukan latihan pengakuan cinta, Natsuki yang setiap hari akan mengatakan pada Yuu “Aku menyukaimu” pada akhirnya akan mengatakan kata – kata yang biasa dia katakana, “Sampai jumpa besok”
Dan setiap kali dia mengatakannya, dia terus berpikir bagaimana dia harus mengatakan pada Yuu yang sebenarnya.
‘Apa yang sudah aku lakukan selama ini…’
Yang dia lakukan selam ini hanyalah melarikan diri darinya. Memanfaatkan hubungan mereka sebagai “Teman masa kecil” dan “Latihan Pengakuan Cinta” sebagai jaring pengamannya, dan membangun dinding sehingga dia tidak akan pernah terluka.
Meskipun dia mencoba untuk menahannya, pada akhirnya, air mata penyesalan keluar juga.
“Aku benar – benar tidak berguna…”
Suara Natsuki tenggelam oleh suara jangkrik yang berbunyi nyaring, tidak mencapai telinga siapapun dan tidak terdengar.

♥ ♥ ♥ ♥ ♥

“Enomoto-san, apa kau baik – baik saja?”
“….Huh?”
Bahunya bergetar di tempat yang sudah dipesannya, dan Natsuki melihat yang lainnya dengan gerakan lambat.
Dia berkedip, dan Koyuki, yang sedang duduk disana terlihat khawatir, berubah fokus.
Sesaat kemudian, suara yang mengelilingi mereka terdengar kembali. Dia bis mendengar suara orang lain berbicara di sekitar mereka.
‘Ini dimana….? Acara tanda tangan… betul, acaranya sudah berakhir.’
Es di gelas yang dipegangnya membuat suara seperti bergeser, dan dia ingat bahwa dia memesan ices café au lait. Karena dia meninggalkannya sendiri untuk waktu yang lama, genangan air telah terbentuk diatas meja tepat dibawah gelas.
“Kau tidak bernafsu makan, huh. Apa ini dikarenakan panasnya musim panas?”
“Tidak, tidak seperti itu! Sepertinya aku hanya lelah dari kegembiraannku bertemu dengan Yoshida-sensei. Maaf karena sudah melamun,”
Karena kata – kata yang dikeluarkannya terlihat begitu alami, bahkan Natsuki yakin bahwa itulah alasannya.
Namun, Koyuki masih terlihat bingung, dan terus menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu. 
“…. Sesuatu terjadi antara kau dan Setoguchi-kun?”
Pertanyaan itu langsung membuat hatinya goyah.
Seperti genangan air, sensasinya menyebar ke seluruh tubuhnya, dan dia mengangguk lemah.
“Ini bukan masalah besar atau apapun itu, tapi…. Hanya saja, aku benar – benar tidak mengerti apa yang sedang Yuu pikirkan akhir – akhir ini.”
“Kau sudah membicarakan hal ini padanya?”
“Tentu saja tidak! Tidak mungkin aku bisa mengatakannya.”
“Tapi kenapa? Ini mengganggumu, kan?”
Natsuki kehilangan kata – kata pada jawaban cepat dan tajam Koyuki.
Apa yang dikatakannya masuk akal, tapi yang mengganggunya adalah fakta bahwa dia tidak tau bagaimana mengatakannya.
Dan yang lebih mengganggunya adalah Koyoku yang begitu mudahnya menyadari keadaannya. Tentu saja, dia cukup pintar untuk berada di tingkat atas pada Try Out Ujian Nasional, sehingga proses pemikirannya sesuai seperti yang diharapkan.
Sekali dia menyadarinya, dia hanya akan melakukannya dan mengatakannya langsung.
‘Seperti bertujuan untuk berada di depan terlebih dulu, daripada hanya mengulurnya, huh.’
“Koyuki-kun… kau banyak berubah. Tidak hanya dari penampilan, tapi kau jadi lebih agrsif, seperti caramu berbicara.”
“Apa kau… berpikir begitu? Jika aku memilikinya, itu karena kau yang memberikanku dorongan dari belakang,”
Seolah – olah dia sedang menceritakan rahasianya, Koyuki merendahkan suaranya.
“Huh? Tunggu, huuuh?! Aku? Tapi aku tidak melakukan apapun!”
“Ahaha! Sudah aku duga kau akan berkata begitu!” 
Koyuki terlihat tampat menemukan sesuatu yang lucu, kepalanya menunduk diatas meja dengan tawanya yang ngakak.
Saat dia mengangkat wajahnya lagi, dia menyeka air mata yang berkumpul di sudut matanya,  meninggalkan Natsuki yang kebingungan.
“Apakah aku mengatakan sesuatu hal yang lucu…?”
“Tidak, aku hanya berpikir betapa berlawanannya ini.”
Setelah meminum dari es teh miliknya, Koyuki melanjutkan perkataannya dengan tenang, seperti dia memberikan solusi untuk rumus matematika.
“Alasan aku berubah karena dirimu, Enomoto-san. Tapi bagimu, alasan tertentu yang menyebabkanku berubah adalah sesuatu yang begitu ‘natural’ sehingga kau tidak begitu memberikan perhatian khusus pada hal ini. Jadi itulah kenapa kau tidak ingat.”
“Apa itu… benar?”
Tidak bisa mengikuti penjelasan Koyuki, Natsuki tidak bisa dengan jujurnya  mengatakan bahwa dia mengerti
Namun, dengan cepat Koyuki mengklarifikasinya.
“Itulah caraku berpikir. Menerapkannya pada situasimu dengan Setoguchi-kun, karena kalian berdua adalah teman kecil, itu sangat ‘natural’ bagimu untuk memahami apa yang orang lain pikirkan. Di sisi lain, itu mungkin yang menyebabkan kalian berdua kehilangan kesempatan untuk berbicara satu sama lain mengenai perasaan kalian.”
Berbicara satu sama lain mengenai perasaan kami…
Saat Natsuki mengulangi kalimat itu, dia merasa kabut yang telah menghalanginya telah hilang.
‘….begitu. Jadi aku terlalu terbiasa dengan yang namanya “natural”
Dia merasa dia tidak memahami percakapan ini, tapi dia ragu – ragu untuk melangkah maju.
Hingga sekarang, dia tidak pernah merasa perlu untuk membicarakan perasaannya, jadi dia selalu mengartikan hal – hal yang semacam ini untuk membuatnya merasa nyaman, dan menjadikannya takut untuk menghadapi kenyataan lagi.
‘Selama ini, kita telah menunda untuk mengkonfirmasi perasaan kami satu sama lain.’
Saat Natsuki duduk diam, Koyuki merespon dengan merendahkan kepalanya.
“Maafkan aku. Sebagai orang luar, tidak seharusnya aku mengasumsikannya…”
“Ah, kau tidak perlu meminta maaf! Sejujurnya, aku berpikir bagaimana kemungkinannya, juga.”
Melambaikan kedua tangannya panik, Natsuki menyarankan mereka untuk melanjutkan makan siang mereka.
“Lebih penting lagi, ayo kita makan pasta selagi masih hangat!”
Koyuki melihat keatas lagi, dan terlihat dia masih ingin mengatakan sesuatu, tapi saat Natsuki menatapnya dengan penuh tanda tanya, dia hanya menggelengkan kepalanya. Ekspresi dari wajahnya terlihat sedikit sedih.
‘Apakah Koyuki merasa bosan padaku…?’
Setelah semuanya, alasan mereka melakukan pembicaraan tadi dikarena Natsuki yang melamun. 
Selain itu, dia merasa Koyuki-kun sudah membantunya menyelesaikan masalah yang telah mengganggunya, tapi karena ini masalah pribadi, dia benar – benar tidak bisa mengatakan padanya lebih rinci.
‘Sekali aku mengatakan pada Yuu bagaimana perasaanku yang sebenarnya, itulah saatnya aku akan mengatakan terima kasih pada Koyuki-kun dengan benar, juga.’
Jika Natsuki yang sudah memberikan Koyuki dorongan dari belakang, jadi kali ini, Koyuki lah yang memberikannya dorongan yang dia butuhkan.
Saat dia mengucapkan terima kasinya, dia akan membiarkannya tau bahwa betapa bersyukurnya dia.
Di saat itu, dia percaya bahwa tidak akan begitu lama sebelum hari yang dinantikannya tiba.

♥ ♥ ♥ ♥ ♥

‘Apa yang aku lakukan, kita sudah di taman….’
Natsuki mendesah pelan di sebelah Koyuki, yang matanya bersinar sangat terang.
Dia senang saat Koyuki mengatakan dia akan mengantarnya, tapi dia tidak menyangka dia bermaksud mengantarnya sampai ke pintu rumahnya.
Dia sudah cukup terkejut saat Koyuki menemaninya sampai di pemberhentian kereta terdekat, tapi saat Kyouki mulai berjalan ke depan, dengan santainya dia mengatakan, “Ayo,” Natsuki yang sudah membatu di tempat tidak bisa melakukan apapun selain mengikuti Koyuki.
‘Bahkan saat aku mengatakan aku akan baik – baik saja karena masih terang, dia sama sekali tidak mendengarkanku.’
Koyuki ternyata keras kepala.
Setelah cukup lama khawatir, Natsuki berani menghentikan langkahnya.
“Koyuki-kun, sungguh, kau tidak perlu mengantarkanku sampai sini… kau tidak ingat saat di stasiun tadi, kan?”
“…. Baiklah. Aku tidak ingin mengganggumu, lagipula.”
Natsuki tersenyum masam pada perkataan jujur Koyuki.
‘Dia sudah begini sepanjang hari…’
Koyuki selalu sopan saat berbicara, tapi hari ini, dia bertingkah seperti pelayan atau ksatria. Dia memperlakukan Natsuki seperti wanita kelas atas atau seorang permaisuri, dia tidak bisa melakukan apapun tapi merasa malu mengenainya.
‘Maksudku, Koyuki-kun benar – benar menjaga semuanya.’
Seolah – olah itu sudah kewajiban, dia akan membukakan setiap pintu untuknya, diikuti dengan menarikkan kursi untuknya, dan bahkan berjalan di sisi trotoar menghadap mobil.
‘Aku merasa tidak enak juga saat dia mengatakan akan membayarkan makan siang, karena dialah yang mengajaknya keluar hari ini,’
Koyuki benar – benar orang yang baik.   
Bahkan jika dia mencoba untuk membalas budi dengan melakukan sesuatupun, dia mungkin tidak akan menerimanya.
Itulah kenapa, untuk saat ini, Natsuki hanya menghadapinya dengan memberikan  senyuman untuk menunjukkan semua rasa terima kasihnya.
“Terima kasih untuk hari ini! Sangat menyenangkan.”
“Tidak perlu berterima kasih. Ini rasanya… seperti mimpi.”
“Ehh? Kau terlalu berlebihan Koyuki-kun.”
Memerikan tawa malu – malu, Natsuki yang menganggapnya sebagai candaan memukul lengan atas Koyuki, seperti yang dia lakukan pada Yuu atau Haruki. 
Walaupun lengannya terlihat kurus dan lembut, dia merasakan ada otot yang tersembuyi disana saat Natsuki memukulnya.
‘Ya, duh, Koyuki-kun juga cowok, kan….’
“Enomoto-san!”
Koyuki tiba – tiba memanggil namanya, dan memegang pergelangan tangannya.
Melihat ekpresi serius di wajahnya, Natsuki menahan nafas.
‘Apakah dia tipe orang yang tidak suka disentuh?’
Dia biasanya melakukannya sedikit lebih kasar pada Yuu dan yang lainnya, jadi itu mengganggu pikirannya. Kemungkinan Koyuki merasa tidak nyaman dengan kontak fisik.
Saat dia berpikir untuk meminta maaf, dia mendengar suara sepeda melaju tepat di belakangnya.
Dia langsung tersentak, dan Koyuki dengan cepat melepaskan tangan Natsuki.
“Ma-maaf! Apa aku menyakitimu?”
“Tidak, aku baik – baik saja. Sebenarnya, aku minta maaf karena memukulmu.”
Saat dia meminta maaf pada Koyuki, Natsuki melihat sepeda dari sudut matanya.
Itu jelas – jelas sepeda perempuan, dengan tas supermarket di keranjang depan. Orang yang mengendarai sepeda juga seorang wanita, dan bukan seseorang yang dia kenal.
“Enomoto-san? Ada apa?”
“Ah, aku baru saja ingat kalau ini adalah jalan yang biasa dia lalui….”
Natsuki tampak terlihat sedang menangkap kebiasaan yang dilakukan Yuu, dan mengatakannya tanpa sadar.
Tapi untuk beberapa alasan, Koyuki memahami apa yang dia maksud, dan membalasnya dengan mengatakan, “Oh, maksudmu Setoguchi-kun.”
Bagaimana dia bisa mengetahuinya?
Sebelum dia bisa mengatakannya, Koyuki memegang lengannya lagi. 
Dia menarik Natsuki ke arahnya, dan kepalanya membentur tepat di tulang selangkanya.
‘Ou, itu pasti sakit….!’
Itulah yang Natsuki pikirkan, tapi Koyuki terlihat tidak terpengaruh. Sebaliknya dia melingkarkan lengan lainnya ke punggung Natsuki, memeluknya tubuhnya.
“Kau tau wajah seperti apa yang baru saja kau buat barusan?”
Dia mendengar suara Koyuki di telinganya, dan mencoba menggeser tubuhnya untuk bisa melihat ke arahnya.
Namun, lengan Koyuki ternyata jauh lebih kuat dari dugaannya, dan yang bisa dia lakukan hanyalah menggerakkan lehernya.
‘Koyuki-kun, apa yang terjadi denganmu? ‘
Diantara kebingungan dan kegelisahan, Natsuki tidak bisa menangkap maksud dari pertanyaan Koyuki.
Seolah tidak sabar dengan sikap diam Natsuki, Koyuki melanjutkan.
“Jika itu aku, aku tidak akan pernah memberikanmu wajah sedih seperti ini. Aku akan berusaha keras untukmu, dan melakukan yang terbaik.
Suara detak jantung Koyuki terdengar jelas di telinga Natsuki.
Detak jantung Natsuki sendiri juga mulai berdetak cepat, benar – benar gelisah seolah – olah dia baru saja selesai melakukan lari cepat. 
Benar – benar menyakitkan.
“Jadi, dibandingkan dengan Setoguchi-kun—“
“Dibandingkan dengan aku, apa?”
Natsuki mendengar sebuah suara dari belakangnya, memotong perkataan Koyuki.
Tidak salah lagi suara itu begitu familiar ditelinganya.
“…Yuu…”
Menarik diri dari Koyuki, yang telah melonggarkan cengkramannya, dia berbalik dengan langkah lambat.
Dengan matahari terbenam yang tepat berada di belakangnya, wajah Yuu memberikan bayangan dan susah terlihat.
Tapi anehnya, terlihat jelas kalau dia marah. Suasana menegang, bahkan terasa menyakitkan jika harus berdiri disana.
“Katakan, Ayase,”
Yuu bertingkah seolah – olah Natsuki tidak ada disana, dan hanya menatap kearah Koyuki. 
Koyuki bahkan tidak goyah, dan hanya mengangguk dengan senyuman di wajahnya.
Merasakan ketegangan yang semakin meningkat, Natsuki mengepalkan ujung bajunya gugup.
“Pernahkan kau mendengar istilah, ‘TPO’? TPO artinya memperhatikan bagaimana cara bertindak yang tepat di waktu, tempat, dan peristiwa tertentu. Ini adalah tempat umum, dimana warga biasa sepertiku bisa berjalan berlalu – lalang. Jika kau begitu santainya mengatakan hal – hal seperti itu di tempat umum, kau akan menyebabkan masalah bagi Natsuki.”
“’Hal – hal seperti itu’?”
Apakah dia benar – benar tidak mengerti, atau dia hanya ingin mengujinya, Koyuki dengan cepat menanyakan pada Yuu apa yang dia maksud.
Yuu berdecak, sesuatu hal yang jarang dia lakukan, dan melangkah mendekati Koyuki.
Maksudku,  jika kau punya waktu untuk bertingkah seperti pacarnya, setidaknya berpikirlah sedikit mengenai perasaannya.”
“…. Tidakkah seharusnya kau mengikuti saranmu sendiri dulu?”
“Tidak perlu.”
Saat Yuu menjawab dengan cepat, senyuman menghilang dari wajah Koyuki.
Matanya melebar seolah terkejut, dan lalu menyipit karena silau.
Tidak bisa menghadapi mereka berdua, Natsuki hanya bisa melihat dalam diam.
“Bolehkah aku tanya maksudnya apa?”
“Ini karena Natsuki dan aku adalah teman kecil… bahkan para tetangga bisa mengkonfirmasi hal ini.”
“Ahh, teman masa kecil. Begitu.”
Koyuki tampak mengejek, dan Yuu terlihat jadi lebih kesal.
Bahkan bagi Natsuki, terlihat seperti Koyuki mencoba untuk memprovokasi Yuu.
‘Kenapa dia bertingkah seperti ini? Apa ini…. Benar – benar Koyuki-kun….?’
Dia tau bahwa dia harus menghentikan mereka berdua, tetapi kakinya tidak bisa digerakkan.
Bahkan saat dia mencoba untuk berteriak, yang mana setidaknya hanya itu yang bisa dia lakukan, tapi suaranya tidak mau keluar.
Semakin tidak sabar dengan tingkah mereka berdua dia harus melakukan sesuatu, semakin dia merasakannya tenggorokannya terasa tercekat.
‘Kumohon, jangan bertengkar….’
Natsuki menatap mereka berdua, berharap dapat menyampaikan pesan itu. Yuu yang pertama menyadarinnya.
Saat mata mereka bertemu, dia terlihat terkejut, dan sedikit demi sedikit, keriput diantara alisnya semakin menjadi.
‘Ta-tapi kenapa? Apakah ini bisa menjadi boomerang?’
Jangan – jangan dia berpikir bahwa Natsuki mencoba untuk membela Koyuki?
Meskipun kepanikan sedang menimpa Natsuki, Yuu mengambil langkah lain di hadapannya.
“Dalam hal apapun, aku tidak akan memaafkan siapapun yang membuat Natsuki menangis.”
Sudah jelas bahwa Yuu yang suaranya terdengar acuh itu tidak dia ditujukan pada ejekan Koyuki.
Menghembuskan nafas yang sedari tadi dia tahan, Natsuki merasa sesuatu yang dingin dan basah menetes turun ke sekitar tulang selangkanya.
‘Tadi itu apa….? Hujan?’
Dia melihat ke atas langit, tapi sebelum dia bisa melihatnya, pandangannya kabur.
Saat dia dengan lemahnya mengangkat tangannya untuk menggosok matanya, dia merasakan ujung jarinya yang basah.
“….H-Huh?”
“Jadi seperti itu, ayo pergi.”
Tanpa menunggu jawaban atau bahkan terganggu untuk menanyakan pendapatnya, Yuu melingkarkan lengannya ke bahu Natsuki dan mulai berjalan.
Dia berusaha mengatakan pada Yuu untuk menunggu, tapi yang bisa dia lakukan adalah sesenggukan menahan tangis.
‘Bodoh, ini bukan waktunya untuk menangis….’
Aku harus meminta maaf pada Koyuki-kun.
Aku harus menyelesaikan kesalahpahaman Yuu.
Meskipun pikirannya sedang kacau, air mata terus saja turun, mencegahnya untuk berbicara.
“Tidak adil bagiku melakukan ini jika kamu tidak berkeinginan untuk bersaing!”
Dia mendengar terika Koyuki, tapi tidak membuat mereka berdua berhenti.
Yang lebih penting lagi, Natsuki tidak yakin kata – kata yang Koyuki ucapkan itu ditujukan kepada siapa.
Saat dia melihat teman masa kecilnya berjalan disampingnya, dia melihat wajah ketidapuasan pada diri Yuu.
‘Jadi… itu tadi ditujukan pada Yuu?’ 
Namun, Yuu tidak memberikan reaksi apapun, dan mulutnya tetap bungkam.
Setelah itu, Koyuki tidak mengatakan apapun lagi, dan Natsuki mendengar suara langkah kaki milik Koyuki saat dia berlari.
‘Kenapa…? Kenapa berakhir seperti ini?’
Menahan isak tangisnya, Natsuki terus menanyakan pertanyaan yang tak terjawab itu di kepalanya.

Matahari terbenam di hari itu benar – benar buruk di matanya.   


Sumber
Terjemahan Bahasa Inggris Bab 4 oleh Renna's Translation


Location: Pamekasan, Kecamatan Pamekasan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, Indonesia

0 comments:

Posting Komentar