Jumat, 07 Agustus 2015

[LYRIC] ┗|∵|┓東京サマーセッション (Tokyo Summer Session) by HoneyWorks feat.GUMI×flower


東京サマーセッション
Tokyo Summer Session
Artist: HoneyWorks(ハニーワークス) feat.sana,CHICO
歌手:HoneyWork×GUMI×flower
作詞:Gom/shito
作曲:Gom/Oji


Kanji:

「やあこんにちは」
「こんにちは」
「ねえ調子どう?」
「普通かな」

「花火大会が来週あるんだってね」
「あーゆー人が多いの俺は苦手なんだよな」
「あーあ それじゃ誰か他をあたってみっか(怒)」
「やっぱ楽しそうだな結構行きたいかも(汗)」

「のど渇いたな」
「これ飲めば?」
「これっていわゆる間接キッス?」
「・・・意識した?」
「・・・意識した」
のどは渇いたまんま

待ってる左手にほんの少し触れてみる
繋ぎたい繋ぎたいだけどポケットに隠れた
ほんとは気づいてるほんの少しで届く距離
繋ぎたい繋ぎたい本音背中に隠すの

「何怒ってんの?気に障ることしましたっけ?」
「ヒント:なんか今日は違う気がしませんか?」
「わかった!気にしないでいいよ太ったこと」
「殴るよ?15cm切った髪に気づけ」

「お腹空いたな」
「これ食べて」
「これっていわゆる手作りクッキー?」
「・・・夏なのに?」
「夏なのに(ハート)」

のどが渇きますね
ほんとは気づいてるほんの少しで届く距離
繋ぎたい繋ぎたい掴む袖口引いてみる
綺麗だね
綺麗だよ
遠くから見てただけの花火が今目の前に
時を止め帰りたくないよね今日は

「・・・好きかもね」
「・・・好きかもね」

待ってる左手にほんの少し触れてみる
繋ぎたい繋ぎたい君を黙って奪うよ
ほんとは気づいてるほんの少しで届く距離
繋ぎたい繋ぎたいぎゅっと握り返すよ

Romaji:

“yaa konnichiwa”
“konnichiwa”
“nee choushi dou?”
“futsuu kana”

“hanabi taikai ga raishuu arun datte ne”
“aayuuu hito ga ooi no ore wa nigate nandayo na”
“aa~a sore ja dare ka hoka wo atatte mikka (okoru)”
“yappa tanoshisou da na kekkou ikitai kamo (ase)”

“nodo kawaita na”
“kore nomeba?”
“korette iwayuru kansetsu KISSU?”
“…ishiki shita?”
“…ishiki shita”
nodo wa kawaita manma

matteru hidarite ni honno sukoshi furete miru
tsunagitai tsunagitai dakedo POKETTO ni kakureta
honto wa kizuiteru honno sukoshi de todoku kyori
tsunagitai tsunagitai honne senaka ni kakusu no

“nani okotten no? ki ni sawaru koto shimashitakke?”
“HINTO: nanka kyou wa chigau ki ga shimasen ka?”
“wakatta! kinishindai de ii yo futotta koto”
“naguru yo? juugo SENCHI kitta kami ni kizuke”

“onakatsuita na”
“kore tabete”
“koretta iwayuru tsuzukuri KUKKII?”
“…natsu na no ni?”
“natsu na no ni (HAATO)”
nodo ga kawakimasu ne

honto wa kizuiteru honno sukoshi de todoku kyori
tsunagitai tsunagitai tsukamu sodeguchi hiitemiru
kirei da ne
kirei da yo
tooku kara miteta dake no hanabi ga ima me no mae ni
toki wo tome kaeritakunai yo ne kyou wa

“…suki ka mo ne”
“…suki ka mo ne”

matteru hidarite ni honno sukoshi furete miru
tsunagitai tsunagitai kimi wo damatte ubau yo
honto wa kizuiteru honno sukoshi de todoku kyori
tsunagitai tsunagitai gyutto nigiri kaesu yo

Translation:

“Hi there” 
“Hi there” 
“How are you doing?” 
“The usual, I guess” 

“There’s a fireworks festival next week” 
“I’m not good with crowded events like that”
“Well then, I guess I’ll find someone else to go with (angry)”
“Then again, it sounds fun so I still want to go (sweatdrop)”

“I’m thirsty”
“Want to drink this?”
“Would this be an indirect kiss?”
“…Does it concern you?”
“…It concerns me”
Throat remains unparched

I tried touching your left hand just for a bit
I want to hold hands, but they’re hiding in your pockets
In actuality, you realize we’re almost within reach
I want to hold hands, but you hide your real intention by turning away

“What are you upset about? Did I do something wrong?”
“Hint: Do you notice anything different about me today?”
“I see! I don’t mind that you gained weight”
“I’ll hit you for that! Notice I cut my hair 15 sentimeter”

“I’m getting hungry”
“Have some of this”
“Are these homemade cookies?”
“…Even though it’s summer?”
“Even though it’s summer (heart)”
Dries up your throat

In actuality, you realize we’re almost within reach
I want to hold hands, I try pulling on your sleeve
It’s pretty
You’re pretty

The fireworks in the distance are in front of my eyes
I wish time would stop and I never had to leave this day

“…I think I like you”
“…I think I like you”

I tried touching your left hand just for a bit
I want to hold hands, I’ll steal you away silently
In actuality, you realize we’re almost within reach
I want to hold hands, I’ll return the grip strongly


Bahasa Indonesia 

“Hai”
“Hai”
“Apa kabar?” 
“Seperti biasa.” 

“Ada festival kembang api minggu depan.”
“Aku tidak suka dengan acara yang ramai seperti itu.”
“Baiklah, aku akan cari orang lain pergi bersama (marah)”
“Lalu, kedengarannya menyenangkan jadi aku masih ingin pergi (keringat menetes)

“Aku haus”
“Mau minum ini?”
“Apakah ini ciuman tidak langsung?”
“Apakah ini mengkhwatirkanmu?”
“…. Ini mengkhawatirkanku.” 
Tenggorokan tetap kering.

Aku mencoba untuk menggenggam tangan kirimu hanya sedikit.
Aku ingin berpegangan tangan, tapi tangan itu tersembunyi dibalik sakumu.
Sebenarnya, kaupun sadar kita sudah hampir dalam jangkauan
Aku ingin berpegangan tangan, tapi kau menyembunyikan keinginanmu yang sebenarnya dengan berpaling.

“Apa yang kau kesalkan? Apakah aku melakukan sesuatu yang salah?”
“Petunjuk : Apa kau sadar  ada yang berbeda denganku hari ini?”
“Begitu! Aku tidak masalah kalau beratmu bertambah.”
“Aku akan memukulmu untuk itu! Sadarlah, aku memotong rambutku 15cm.”

“Aku lapar.”
“Cobalah ini.”
“Apakah ini kue buatan sendiri?”
“Meskipun ini musim panas (hati)”
Tenggorokanmu yang mengering

Sebenarnya, kau sadar kita hampir dalam jangkauan.
Aku ingin berpegangan tangan, aku mencoba untuk menarik lenganmu.
Cantik
Kau cantik

Kembang api yang ada di kejauhan berada di depan mataku.
Aku berharap waktu akan berhenti dan aku tidak akan pernah meninggalkan hari ini.

“…. Sepertinya aku menyukaimu.”
“…. Sepertinya aku menyukaimu.”

Aku mencoba menyentuh tangan kirimu sedikit.
Aku ingin berpegangan tangan, aku akan mencurimu diam – diam. 
Sebenarnya, kau sadar kita hampir dalam jangkauan
Aku ingin berpegangan tangan, aku akan kembali berpegangan dengan kuat. 


Source : 

Jumat, 31 Juli 2015

Confession Rehearsal Novel [Bahasa Indonesia 'Bab 4']

Ehem, tolong jangan tanya kenapa ini bisa update lebih cepat daripada biasanya ._. Yang penting bisa update. Dan nggak bosen - bosennya saya ngasih tau kalau terjemahan ini masih jauh dari kata sempurna. Sekali lagi mohon maaf kalau ada beberapa kalimat atau kata - kata yang sedikit rancu. Kedepannya saya janji akan berusaha lebih baik lagi untuk menyempurnakannya. Untuk chapter lima diusahakan bisa cepat seperti ini dan do'akan saya saja semoga malasnya hilang. Akhir kata terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk mengunjungi blog gajes saya dan membaca postingannya yang lebih gajes lagi. Untuk translasi bahasa inggrisnya bisa dilihat disini . Kritik dan saran untuk penyempurnaan terjemahan ini ditunggu. Selamat membaca kisah lika - liku cinta Natsuki dan Yuu :) 

Confession Rehearsal Novel Bahasa Indonesia
Bab 4



——



Hayasaka Akari
Tanggal Lahir: Desember 3
Zodiac: Sagittarius
Golongan Darah: O

Teman dekat Natsuki. Berada di klub kesenian. Memiliki kepribadian yang mudah bergaul, dan senyuman ramahnya membuatnya mendapatkan banyak penggemar, tetapi kenyataannya, dia pribadi yang cukup pemalu.  
——

Latihan 4

Akhir pekan pertama yang sangat sibuk.
Natsuki merasa aneh sendiri karena terlalu gugup sehingga menyebabkannya tidak bisa tidur di malam sebelumnya, tapi pada akhirnya dia bisa juga tertidur, jam alarmnya berbunyi. Dia tidak bisa ingat apa yang terjadi setelahnya, dan ketika dia membuka matanya untuk kedua kalinya, waktu menunjukkan satu jam sebelum waktu pertemuan.
“Sial… aku ingin bangun pagi untuk menghabiskan banyak waktu memilih pakaian apa yang ingin aku pakai, juga…”
Natsuki akhirnya mencoba satu pakaian setelahnya di depan cermin, tapi dia masih belum bisa memutuskan kombinasi pakaian yang pas untuk dipakai pergi.  
‘Aku akan pergi bertemu dengan Yoshida-sensei, jadi aku tidak boleh terlihat terlalu ceroboh…!’
Pesan yang dia terima dari Koyuki setelah pulang sekolah waktu itu adalah sebuah undangan untuk menghadiri acara tanda tangan dengan mangaka yang sangat Natsuki sukai. Ini bukan pergi ke taman bermain, atau ke akuarium atau apapun itu, tapi sesungguhnya, ke sebuah toko buku besar di kota.

Karena dia sangat menantikan ke tempat dimana mereka akan pergi, awalnya dia sedikit terkejut setelah membaca pesannya, tapi jujur, dia sangat bersemangat untuk bertemu dengan Mangaka yang sangat dia kagumi.
Natsuki cepat – cepat mereservasi sendiri untuk acara tanda tangan, dan menunggu hari ini tiba.
“Aku harus pergi dengan pakaian yang terbaik….!”
Dari gunungan pakaian yang menumpuk di kakinya, Natsuki memilih sebuah gaun dengan renda lucu yang mengitari daerah dada.
Dia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan pakaian itu dan langsung membelinya ketika pergi bersama Akari dan Miou.
“Aku tidak pernah benar – benar memakai pakaian seperti ini sebelumnya, tapi… aku bertanya – tanya jika ini yang terbaik.”
Memegang gaun di depan piyama yang dipakainya, dia melihat pantulan dirinya sendiri di cermin. Dia merasa gaun ini membuatnya terlihat lebih bersih dan layak dari biasanya.
“Ini seperti… barang di waktu yang terbatas, aku pikir?”
Tersenyum masam adalah cara mudah untuk situasi saat ini, Natsuki meraih bagian bawah kaus T-nya.
‘Jadi, undangan kencan, huh?’
Dia mendadak teringat dengan kata – kata Miou, dan tangannya membeku.
‘Tidak mungkin.’
Koyuki tidak pernah bilang kalau ini kencan, mereka hanya akan pergi ke acara tanda tangan mangaka. Walaupun mereka berbagi ketertarikan yang sama dalam manga, dia mungkin tidak akan memilih sesuatu yang seperti itu untuk sebuah kencan.
Lagipula, Koyuki tidak akan pernah menyatakan perasaan kepadanya, sepertinya Natsuki terlalu memikirkannya.
Beep beep! Beep beep!
Seolah ingin mengganggu pikirannya, handphone yang dia tinggalkan di atas tempat tidurnya mulai berbunyi.
“Oh, benar, aku memasang alarm.”
Dia bergegas memeriksa jam, dan melihat bahwa hanya tersisa tiga puluh menit.
Tidak ada waktu lagi. Menepuk kedua pipinya, Natsuki dengan anggunnya melepas kausnya.

♥ ♥ ♥ ♥ ♥

“Heeey, Natsuki! Aku kemari untuk mengembalikan game milikmu!”
Saat Natsuki keluar dari pintu depan, seseorang berdiri di depan gerbang memanggil namanya.
Saat – saat mata mereka bertemu, Yuu, yang memegang sebuah softwear panduan dan strategi game, datang dengan berlari.
“Maaf, aku akan pergi. Bisakah kau meninggalkannya di kotak sepatu?”
“Pergi dengan Aida dan Hayasaka?”
‘….H-Huh? Tapi, tidakkah aku terlihat aku sedang berpakaian benar – benar baik hari ini?’
Merasa sedikit tidak nyaman dengan tatapan Yuu, Natsuki menggelengkan kepalanya.
“Tidak, aku akan pergi dengan Koyuki-kun hari ini.”
Saat dia menjawab, rasanya seperti udara disekitar mereka membeku.
Sebuah lipatan terbentuk diantara alis Yuu, dan dia melihat Natsuki dengan tatapan tajam.
“A-Ada apa? Ada yang salah?”
“Apakah Haruki tidak apa – apa dengan ini?”
Suara Yuu keluar seperti sebuah sentakan bernada rendah, menenggelamkan perkataan Natsuki.
Dia tidak mengerti maksudnya, tapi yang jelas Yuu marah.
Lebih marah dari pada yang pernah dia lihat sebelumnya.
Menahan keinginan untuk melangkah mundur, Natsuki balas menatap balik Yuu.
Saat dia melihat tangannya sedikit bergetar, cara dia menggigit bibir bawahnya, dan bagaimana matanya bergerak – gerak seolah – olah balik memperjuangkan sesuatu, Natsuki menyadari bahwa dia telah salah menafsirkannya.
‘Yuu… sedang berusaha untuk tidak menangis?’
Dia sendiri mungkin tidak menyadarinya, tapi bersama dengan kemarahannya, ada emosi lainnya yang berkeliaran disana.
Saat dia menyadari hal itu, dia kehilangan keinginan untuk memberikan jawaban yang kuat.
“Sudah diputuskan bahwa Akari yang akan menggambar untuk filmnya. Jadi ini tidak seperti aku harus bertemu dengan Haruki sekarang atau apapun itu. Lagipula, Koyuki dan aku hanya pergi bersama. Ini tidak ada bedanya jika aku pergi bersama Mochita.”
“Kau tidak terpilih, jadi kau langsung menyerah?”
Saat dia langsung menanyakannya dengan pertanyaan yang tak terduga, Natsuki menahan nafas.
Ini tidak seperti aku menyerah atau apapun. Hanya saja hal ini sudah diputuskan bahwa Akari yang terpilih untuk melakukannya. Dia yakin Yuu mengetahuinya, jadi kenapa dia menanyakan sesuatu seperti ini sekarang?
“Aku tidak… benar – benar mengerti apa yang kau coba katakan….”
“Kau tidak menjawab pertanyaanku. Meskipun kau terlihat begitu bahagia Haruki memujimu… aku tidak pernah melihatmu seperti itu sebelumnya.”
Bahkan saat dia dengan jujurnya mengatakan dia tidak mengerti, Yuu malah terus memaksanya untuk menjawab.
Diliputi dengan kebingungan yang mendera, hanya ada satu hal yang di yakini.
‘Aku benar – benar tidak mengerti apa yang sedang dia bicarakan!’
Apa terjadi sesuatu sebelumnya yang tidak Natsuki sadari? Tidak, tidak ada pesan apapun yang dikirimkannya, dan dia yakin Yuu juga akan menjelaskan padanya sekarang, jika benar – benar terjadi sesuatu.
‘Lalu, apa? Ada apa? Apa yang sedang terjadi disini?!’
Saat Natsuki menahan nafas dengan kebingungan, Yuu mendesah.
Bertanya – tanya apa yang akan dia katakan selanjutnya, dia mengangkat kepalanya, dan melihat tangan yang besar memenuhi pandangannya.
Perasaan tegang mendadak merasukinya, tapi Yuu hanya menepuk kepalanya dengan telapak tangannya.
“Eh? Yuu….?”
Dengan mulut ternganga, dia melihat wajah teman kecilnya itu.
Dia yang sedang berdiri di hadapannya, terlihat hampir seperti seseorang yang berbeda dengan  seulas senyuman dewasa di wajahnya.
“Maaf, itu bukan urusanku, kan?”
Lihat, inilah kenapa aku tidak pernah bisa  mengetahui apa yang membuatmu marah, atau apa yang sedang mengganggumu.
Meskipun hal seperti ini akan terlihaat baik – baik saja selama dia membalasnya, entah kenapa, dia tidak memiliki kekuatan untuk melakukannya.
Yuu menepuk  kepala Natsuki lagi, seperti yang dia lakukan pada adik perempuannya, Hina.
“Bagaimanapun juga, akulah orang yang mengatakan aku akan mendukungmu tidak peduli siapa yang kau sukai,”
Kata – kata yang digumamkan Yuu begitu pelan, berdering jelas di telinga Natsuki.
Namun, dia masih tidak bisa menemukan kata – kata yang tepat untuk membalasnya, dan hanya bisa berdiri terpaku di tempat seolah – olah dia tidak berdaya melakukan apapun. 
“Bukannya kau harus segera pergi? Kau tidak ingin terlambat. Oh, benar, ini ditaruh di kotak sepatu, kan?”
Melambaikan tangannya, Yuu membuka pintu depan rumah Natsuki.
Meskipun ini adalah sesuatu hal yang selalu dia lihat, untuk beberapa alasan, ini membuat dadanya teramat sakit.
‘Apakah Yuu dan aku akan tetap selalu menjadi teman masa kecil…? Apakah kita akan tetap seperti ini selamanya?’
Sejak dia sudah mulai melakukan latihan pengakuan cinta, Natsuki yang setiap hari akan mengatakan pada Yuu “Aku menyukaimu” pada akhirnya akan mengatakan kata – kata yang biasa dia katakana, “Sampai jumpa besok”
Dan setiap kali dia mengatakannya, dia terus berpikir bagaimana dia harus mengatakan pada Yuu yang sebenarnya.
‘Apa yang sudah aku lakukan selama ini…’
Yang dia lakukan selam ini hanyalah melarikan diri darinya. Memanfaatkan hubungan mereka sebagai “Teman masa kecil” dan “Latihan Pengakuan Cinta” sebagai jaring pengamannya, dan membangun dinding sehingga dia tidak akan pernah terluka.
Meskipun dia mencoba untuk menahannya, pada akhirnya, air mata penyesalan keluar juga.
“Aku benar – benar tidak berguna…”
Suara Natsuki tenggelam oleh suara jangkrik yang berbunyi nyaring, tidak mencapai telinga siapapun dan tidak terdengar.

♥ ♥ ♥ ♥ ♥

“Enomoto-san, apa kau baik – baik saja?”
“….Huh?”
Bahunya bergetar di tempat yang sudah dipesannya, dan Natsuki melihat yang lainnya dengan gerakan lambat.
Dia berkedip, dan Koyuki, yang sedang duduk disana terlihat khawatir, berubah fokus.
Sesaat kemudian, suara yang mengelilingi mereka terdengar kembali. Dia bis mendengar suara orang lain berbicara di sekitar mereka.
‘Ini dimana….? Acara tanda tangan… betul, acaranya sudah berakhir.’
Es di gelas yang dipegangnya membuat suara seperti bergeser, dan dia ingat bahwa dia memesan ices café au lait. Karena dia meninggalkannya sendiri untuk waktu yang lama, genangan air telah terbentuk diatas meja tepat dibawah gelas.
“Kau tidak bernafsu makan, huh. Apa ini dikarenakan panasnya musim panas?”
“Tidak, tidak seperti itu! Sepertinya aku hanya lelah dari kegembiraannku bertemu dengan Yoshida-sensei. Maaf karena sudah melamun,”
Karena kata – kata yang dikeluarkannya terlihat begitu alami, bahkan Natsuki yakin bahwa itulah alasannya.
Namun, Koyuki masih terlihat bingung, dan terus menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu. 
“…. Sesuatu terjadi antara kau dan Setoguchi-kun?”
Pertanyaan itu langsung membuat hatinya goyah.
Seperti genangan air, sensasinya menyebar ke seluruh tubuhnya, dan dia mengangguk lemah.
“Ini bukan masalah besar atau apapun itu, tapi…. Hanya saja, aku benar – benar tidak mengerti apa yang sedang Yuu pikirkan akhir – akhir ini.”
“Kau sudah membicarakan hal ini padanya?”
“Tentu saja tidak! Tidak mungkin aku bisa mengatakannya.”
“Tapi kenapa? Ini mengganggumu, kan?”
Natsuki kehilangan kata – kata pada jawaban cepat dan tajam Koyuki.
Apa yang dikatakannya masuk akal, tapi yang mengganggunya adalah fakta bahwa dia tidak tau bagaimana mengatakannya.
Dan yang lebih mengganggunya adalah Koyoku yang begitu mudahnya menyadari keadaannya. Tentu saja, dia cukup pintar untuk berada di tingkat atas pada Try Out Ujian Nasional, sehingga proses pemikirannya sesuai seperti yang diharapkan.
Sekali dia menyadarinya, dia hanya akan melakukannya dan mengatakannya langsung.
‘Seperti bertujuan untuk berada di depan terlebih dulu, daripada hanya mengulurnya, huh.’
“Koyuki-kun… kau banyak berubah. Tidak hanya dari penampilan, tapi kau jadi lebih agrsif, seperti caramu berbicara.”
“Apa kau… berpikir begitu? Jika aku memilikinya, itu karena kau yang memberikanku dorongan dari belakang,”
Seolah – olah dia sedang menceritakan rahasianya, Koyuki merendahkan suaranya.
“Huh? Tunggu, huuuh?! Aku? Tapi aku tidak melakukan apapun!”
“Ahaha! Sudah aku duga kau akan berkata begitu!” 
Koyuki terlihat tampat menemukan sesuatu yang lucu, kepalanya menunduk diatas meja dengan tawanya yang ngakak.
Saat dia mengangkat wajahnya lagi, dia menyeka air mata yang berkumpul di sudut matanya,  meninggalkan Natsuki yang kebingungan.
“Apakah aku mengatakan sesuatu hal yang lucu…?”
“Tidak, aku hanya berpikir betapa berlawanannya ini.”
Setelah meminum dari es teh miliknya, Koyuki melanjutkan perkataannya dengan tenang, seperti dia memberikan solusi untuk rumus matematika.
“Alasan aku berubah karena dirimu, Enomoto-san. Tapi bagimu, alasan tertentu yang menyebabkanku berubah adalah sesuatu yang begitu ‘natural’ sehingga kau tidak begitu memberikan perhatian khusus pada hal ini. Jadi itulah kenapa kau tidak ingat.”
“Apa itu… benar?”
Tidak bisa mengikuti penjelasan Koyuki, Natsuki tidak bisa dengan jujurnya  mengatakan bahwa dia mengerti
Namun, dengan cepat Koyuki mengklarifikasinya.
“Itulah caraku berpikir. Menerapkannya pada situasimu dengan Setoguchi-kun, karena kalian berdua adalah teman kecil, itu sangat ‘natural’ bagimu untuk memahami apa yang orang lain pikirkan. Di sisi lain, itu mungkin yang menyebabkan kalian berdua kehilangan kesempatan untuk berbicara satu sama lain mengenai perasaan kalian.”
Berbicara satu sama lain mengenai perasaan kami…
Saat Natsuki mengulangi kalimat itu, dia merasa kabut yang telah menghalanginya telah hilang.
‘….begitu. Jadi aku terlalu terbiasa dengan yang namanya “natural”
Dia merasa dia tidak memahami percakapan ini, tapi dia ragu – ragu untuk melangkah maju.
Hingga sekarang, dia tidak pernah merasa perlu untuk membicarakan perasaannya, jadi dia selalu mengartikan hal – hal yang semacam ini untuk membuatnya merasa nyaman, dan menjadikannya takut untuk menghadapi kenyataan lagi.
‘Selama ini, kita telah menunda untuk mengkonfirmasi perasaan kami satu sama lain.’
Saat Natsuki duduk diam, Koyuki merespon dengan merendahkan kepalanya.
“Maafkan aku. Sebagai orang luar, tidak seharusnya aku mengasumsikannya…”
“Ah, kau tidak perlu meminta maaf! Sejujurnya, aku berpikir bagaimana kemungkinannya, juga.”
Melambaikan kedua tangannya panik, Natsuki menyarankan mereka untuk melanjutkan makan siang mereka.
“Lebih penting lagi, ayo kita makan pasta selagi masih hangat!”
Koyuki melihat keatas lagi, dan terlihat dia masih ingin mengatakan sesuatu, tapi saat Natsuki menatapnya dengan penuh tanda tanya, dia hanya menggelengkan kepalanya. Ekspresi dari wajahnya terlihat sedikit sedih.
‘Apakah Koyuki merasa bosan padaku…?’
Setelah semuanya, alasan mereka melakukan pembicaraan tadi dikarena Natsuki yang melamun. 
Selain itu, dia merasa Koyuki-kun sudah membantunya menyelesaikan masalah yang telah mengganggunya, tapi karena ini masalah pribadi, dia benar – benar tidak bisa mengatakan padanya lebih rinci.
‘Sekali aku mengatakan pada Yuu bagaimana perasaanku yang sebenarnya, itulah saatnya aku akan mengatakan terima kasih pada Koyuki-kun dengan benar, juga.’
Jika Natsuki yang sudah memberikan Koyuki dorongan dari belakang, jadi kali ini, Koyuki lah yang memberikannya dorongan yang dia butuhkan.
Saat dia mengucapkan terima kasinya, dia akan membiarkannya tau bahwa betapa bersyukurnya dia.
Di saat itu, dia percaya bahwa tidak akan begitu lama sebelum hari yang dinantikannya tiba.

♥ ♥ ♥ ♥ ♥

‘Apa yang aku lakukan, kita sudah di taman….’
Natsuki mendesah pelan di sebelah Koyuki, yang matanya bersinar sangat terang.
Dia senang saat Koyuki mengatakan dia akan mengantarnya, tapi dia tidak menyangka dia bermaksud mengantarnya sampai ke pintu rumahnya.
Dia sudah cukup terkejut saat Koyuki menemaninya sampai di pemberhentian kereta terdekat, tapi saat Kyouki mulai berjalan ke depan, dengan santainya dia mengatakan, “Ayo,” Natsuki yang sudah membatu di tempat tidak bisa melakukan apapun selain mengikuti Koyuki.
‘Bahkan saat aku mengatakan aku akan baik – baik saja karena masih terang, dia sama sekali tidak mendengarkanku.’
Koyuki ternyata keras kepala.
Setelah cukup lama khawatir, Natsuki berani menghentikan langkahnya.
“Koyuki-kun, sungguh, kau tidak perlu mengantarkanku sampai sini… kau tidak ingat saat di stasiun tadi, kan?”
“…. Baiklah. Aku tidak ingin mengganggumu, lagipula.”
Natsuki tersenyum masam pada perkataan jujur Koyuki.
‘Dia sudah begini sepanjang hari…’
Koyuki selalu sopan saat berbicara, tapi hari ini, dia bertingkah seperti pelayan atau ksatria. Dia memperlakukan Natsuki seperti wanita kelas atas atau seorang permaisuri, dia tidak bisa melakukan apapun tapi merasa malu mengenainya.
‘Maksudku, Koyuki-kun benar – benar menjaga semuanya.’
Seolah – olah itu sudah kewajiban, dia akan membukakan setiap pintu untuknya, diikuti dengan menarikkan kursi untuknya, dan bahkan berjalan di sisi trotoar menghadap mobil.
‘Aku merasa tidak enak juga saat dia mengatakan akan membayarkan makan siang, karena dialah yang mengajaknya keluar hari ini,’
Koyuki benar – benar orang yang baik.   
Bahkan jika dia mencoba untuk membalas budi dengan melakukan sesuatupun, dia mungkin tidak akan menerimanya.
Itulah kenapa, untuk saat ini, Natsuki hanya menghadapinya dengan memberikan  senyuman untuk menunjukkan semua rasa terima kasihnya.
“Terima kasih untuk hari ini! Sangat menyenangkan.”
“Tidak perlu berterima kasih. Ini rasanya… seperti mimpi.”
“Ehh? Kau terlalu berlebihan Koyuki-kun.”
Memerikan tawa malu – malu, Natsuki yang menganggapnya sebagai candaan memukul lengan atas Koyuki, seperti yang dia lakukan pada Yuu atau Haruki. 
Walaupun lengannya terlihat kurus dan lembut, dia merasakan ada otot yang tersembuyi disana saat Natsuki memukulnya.
‘Ya, duh, Koyuki-kun juga cowok, kan….’
“Enomoto-san!”
Koyuki tiba – tiba memanggil namanya, dan memegang pergelangan tangannya.
Melihat ekpresi serius di wajahnya, Natsuki menahan nafas.
‘Apakah dia tipe orang yang tidak suka disentuh?’
Dia biasanya melakukannya sedikit lebih kasar pada Yuu dan yang lainnya, jadi itu mengganggu pikirannya. Kemungkinan Koyuki merasa tidak nyaman dengan kontak fisik.
Saat dia berpikir untuk meminta maaf, dia mendengar suara sepeda melaju tepat di belakangnya.
Dia langsung tersentak, dan Koyuki dengan cepat melepaskan tangan Natsuki.
“Ma-maaf! Apa aku menyakitimu?”
“Tidak, aku baik – baik saja. Sebenarnya, aku minta maaf karena memukulmu.”
Saat dia meminta maaf pada Koyuki, Natsuki melihat sepeda dari sudut matanya.
Itu jelas – jelas sepeda perempuan, dengan tas supermarket di keranjang depan. Orang yang mengendarai sepeda juga seorang wanita, dan bukan seseorang yang dia kenal.
“Enomoto-san? Ada apa?”
“Ah, aku baru saja ingat kalau ini adalah jalan yang biasa dia lalui….”
Natsuki tampak terlihat sedang menangkap kebiasaan yang dilakukan Yuu, dan mengatakannya tanpa sadar.
Tapi untuk beberapa alasan, Koyuki memahami apa yang dia maksud, dan membalasnya dengan mengatakan, “Oh, maksudmu Setoguchi-kun.”
Bagaimana dia bisa mengetahuinya?
Sebelum dia bisa mengatakannya, Koyuki memegang lengannya lagi. 
Dia menarik Natsuki ke arahnya, dan kepalanya membentur tepat di tulang selangkanya.
‘Ou, itu pasti sakit….!’
Itulah yang Natsuki pikirkan, tapi Koyuki terlihat tidak terpengaruh. Sebaliknya dia melingkarkan lengan lainnya ke punggung Natsuki, memeluknya tubuhnya.
“Kau tau wajah seperti apa yang baru saja kau buat barusan?”
Dia mendengar suara Koyuki di telinganya, dan mencoba menggeser tubuhnya untuk bisa melihat ke arahnya.
Namun, lengan Koyuki ternyata jauh lebih kuat dari dugaannya, dan yang bisa dia lakukan hanyalah menggerakkan lehernya.
‘Koyuki-kun, apa yang terjadi denganmu? ‘
Diantara kebingungan dan kegelisahan, Natsuki tidak bisa menangkap maksud dari pertanyaan Koyuki.
Seolah tidak sabar dengan sikap diam Natsuki, Koyuki melanjutkan.
“Jika itu aku, aku tidak akan pernah memberikanmu wajah sedih seperti ini. Aku akan berusaha keras untukmu, dan melakukan yang terbaik.
Suara detak jantung Koyuki terdengar jelas di telinga Natsuki.
Detak jantung Natsuki sendiri juga mulai berdetak cepat, benar – benar gelisah seolah – olah dia baru saja selesai melakukan lari cepat. 
Benar – benar menyakitkan.
“Jadi, dibandingkan dengan Setoguchi-kun—“
“Dibandingkan dengan aku, apa?”
Natsuki mendengar sebuah suara dari belakangnya, memotong perkataan Koyuki.
Tidak salah lagi suara itu begitu familiar ditelinganya.
“…Yuu…”
Menarik diri dari Koyuki, yang telah melonggarkan cengkramannya, dia berbalik dengan langkah lambat.
Dengan matahari terbenam yang tepat berada di belakangnya, wajah Yuu memberikan bayangan dan susah terlihat.
Tapi anehnya, terlihat jelas kalau dia marah. Suasana menegang, bahkan terasa menyakitkan jika harus berdiri disana.
“Katakan, Ayase,”
Yuu bertingkah seolah – olah Natsuki tidak ada disana, dan hanya menatap kearah Koyuki. 
Koyuki bahkan tidak goyah, dan hanya mengangguk dengan senyuman di wajahnya.
Merasakan ketegangan yang semakin meningkat, Natsuki mengepalkan ujung bajunya gugup.
“Pernahkan kau mendengar istilah, ‘TPO’? TPO artinya memperhatikan bagaimana cara bertindak yang tepat di waktu, tempat, dan peristiwa tertentu. Ini adalah tempat umum, dimana warga biasa sepertiku bisa berjalan berlalu – lalang. Jika kau begitu santainya mengatakan hal – hal seperti itu di tempat umum, kau akan menyebabkan masalah bagi Natsuki.”
“’Hal – hal seperti itu’?”
Apakah dia benar – benar tidak mengerti, atau dia hanya ingin mengujinya, Koyuki dengan cepat menanyakan pada Yuu apa yang dia maksud.
Yuu berdecak, sesuatu hal yang jarang dia lakukan, dan melangkah mendekati Koyuki.
Maksudku,  jika kau punya waktu untuk bertingkah seperti pacarnya, setidaknya berpikirlah sedikit mengenai perasaannya.”
“…. Tidakkah seharusnya kau mengikuti saranmu sendiri dulu?”
“Tidak perlu.”
Saat Yuu menjawab dengan cepat, senyuman menghilang dari wajah Koyuki.
Matanya melebar seolah terkejut, dan lalu menyipit karena silau.
Tidak bisa menghadapi mereka berdua, Natsuki hanya bisa melihat dalam diam.
“Bolehkah aku tanya maksudnya apa?”
“Ini karena Natsuki dan aku adalah teman kecil… bahkan para tetangga bisa mengkonfirmasi hal ini.”
“Ahh, teman masa kecil. Begitu.”
Koyuki tampak mengejek, dan Yuu terlihat jadi lebih kesal.
Bahkan bagi Natsuki, terlihat seperti Koyuki mencoba untuk memprovokasi Yuu.
‘Kenapa dia bertingkah seperti ini? Apa ini…. Benar – benar Koyuki-kun….?’
Dia tau bahwa dia harus menghentikan mereka berdua, tetapi kakinya tidak bisa digerakkan.
Bahkan saat dia mencoba untuk berteriak, yang mana setidaknya hanya itu yang bisa dia lakukan, tapi suaranya tidak mau keluar.
Semakin tidak sabar dengan tingkah mereka berdua dia harus melakukan sesuatu, semakin dia merasakannya tenggorokannya terasa tercekat.
‘Kumohon, jangan bertengkar….’
Natsuki menatap mereka berdua, berharap dapat menyampaikan pesan itu. Yuu yang pertama menyadarinnya.
Saat mata mereka bertemu, dia terlihat terkejut, dan sedikit demi sedikit, keriput diantara alisnya semakin menjadi.
‘Ta-tapi kenapa? Apakah ini bisa menjadi boomerang?’
Jangan – jangan dia berpikir bahwa Natsuki mencoba untuk membela Koyuki?
Meskipun kepanikan sedang menimpa Natsuki, Yuu mengambil langkah lain di hadapannya.
“Dalam hal apapun, aku tidak akan memaafkan siapapun yang membuat Natsuki menangis.”
Sudah jelas bahwa Yuu yang suaranya terdengar acuh itu tidak dia ditujukan pada ejekan Koyuki.
Menghembuskan nafas yang sedari tadi dia tahan, Natsuki merasa sesuatu yang dingin dan basah menetes turun ke sekitar tulang selangkanya.
‘Tadi itu apa….? Hujan?’
Dia melihat ke atas langit, tapi sebelum dia bisa melihatnya, pandangannya kabur.
Saat dia dengan lemahnya mengangkat tangannya untuk menggosok matanya, dia merasakan ujung jarinya yang basah.
“….H-Huh?”
“Jadi seperti itu, ayo pergi.”
Tanpa menunggu jawaban atau bahkan terganggu untuk menanyakan pendapatnya, Yuu melingkarkan lengannya ke bahu Natsuki dan mulai berjalan.
Dia berusaha mengatakan pada Yuu untuk menunggu, tapi yang bisa dia lakukan adalah sesenggukan menahan tangis.
‘Bodoh, ini bukan waktunya untuk menangis….’
Aku harus meminta maaf pada Koyuki-kun.
Aku harus menyelesaikan kesalahpahaman Yuu.
Meskipun pikirannya sedang kacau, air mata terus saja turun, mencegahnya untuk berbicara.
“Tidak adil bagiku melakukan ini jika kamu tidak berkeinginan untuk bersaing!”
Dia mendengar terika Koyuki, tapi tidak membuat mereka berdua berhenti.
Yang lebih penting lagi, Natsuki tidak yakin kata – kata yang Koyuki ucapkan itu ditujukan kepada siapa.
Saat dia melihat teman masa kecilnya berjalan disampingnya, dia melihat wajah ketidapuasan pada diri Yuu.
‘Jadi… itu tadi ditujukan pada Yuu?’ 
Namun, Yuu tidak memberikan reaksi apapun, dan mulutnya tetap bungkam.
Setelah itu, Koyuki tidak mengatakan apapun lagi, dan Natsuki mendengar suara langkah kaki milik Koyuki saat dia berlari.
‘Kenapa…? Kenapa berakhir seperti ini?’
Menahan isak tangisnya, Natsuki terus menanyakan pertanyaan yang tak terjawab itu di kepalanya.

Matahari terbenam di hari itu benar – benar buruk di matanya.   


Sumber
Terjemahan Bahasa Inggris Bab 4 oleh Renna's Translation


Senin, 27 Juli 2015

Confession Rehearsal Novel [Bahasa Indonesia 'Bab 3']

Ehem, kembali lagi dengan saya yang sudah lama menghilang dan sekarang muncul lagi. Sudah lama lupa buat nerjemahin pada akhirnya tanpa sengaja buka file terjemahan dan akhirnya berniat kembali untuk nerjemahin. Mohon maaf yang sudah nunggu (nb. kalau ada yang nunggu). Dan jika ada beberapa kalimat yang sedikit rancu saya minta maaf, dan sebisa mungkin akan memperbaikinya jauh lebih baik. Untuk chapter selanjutnya doakan saja semoga saya tidak malas :p
Akhir kata terima kasih sudah bersedia meluangkan waktunya untuk membaca terjemahan Bahasa Indonesia Novel Cofession Rehearsal saya ini. Happy Reading ^^ 

Confession Rehearsal Novel Bahasa Indonesia
Bab 3







Ayase Koyuki
Tanggal Lahir: August 28
Zodiac: Virgo
Golongan Darah: A

Teman sekelas Natsuki. Berada di Klub Berkebun. Baru – baru ini dia mengubah penampilan dan kepribadiannya, membuatnya menjadi bahan pembicaraan di kalangan siswi perempuan. 
Hari yang sangat panas nan terik di awal minggu ini.

Latihan 3
Hari yang sangat panas nan terik di awal minggu ini.
Bahkan hanya berjalan di koridor saja, butir – butir keringat terbentuk di bagian leher belakang Natsuki.
‘Harusnya mereka tidak memasang AC di ruang fakultas saja, tapi di seluruh sekolah, juga…’
Membayangkan kenikmatan surgawi sudah cukup membawa Natsuki pergi dari kenyataan.
Walaupun dia tidak mempermasalahkan cuaca panas dan dingin saat dia masih kecil, dia ternyata tidak bisa menangani cuaca yang begitu ekstrem seperti sekarang.
“Ah, itu aliran Jet!”
Akari, yang berjalan didepannya berbalik dan menunjuk ke atas langit.
“Wow! Keren...”
Mendengar seruan Mio, Natsuki yang terakhir melihat ke atas, menyipitkan matanya menahan silau.
“Dengan langit yang sebiru ini, kau bisa melihatnya dengan jelas, ya?”
“Ha? Apa kau tidak berpikir bahwa garis yang ditinggalkannya mirip seperti pasta gigi putih raksasa?”
“…Ya.”
Berbeda dengan suara bersemangatnya Mio dan Akari, dia menjawabnya dengan nada suara yang datar.
‘Sial, aku melakukannya lagi.’
Merasakan tatapan mereka beralih dari langit kepadanya, Natsuki dengan cepat  berbicara dengan suara yang lebih ceria.
“Sudah hampir waktunya. Jika kita tidak bergegas, Haruki akan marah!”
Kata Natsuki, dan melangkah dengan kearah ruang kesenian.
Mendengar suara langkah kaki lain yang mengikuti dari belakangnya, dia menghela nafas.
Dia sudah bertingkah seperti itu sejak pagi.
Apa yang Yuu katakan tentang “Mendukungnya” tiba – tiba muncul di pikirannya, meredupkan emosinya.
‘Aku tau seharusnya hal ini tidak begitu menggangguku, tapi….’
Seperti manusia yang tidak bisa mengendalikan cuaca dengan kehendaknya sendiri, mengendalikan emosipun juga susah.
‘Pertemuannya akan segera dimulai, jadi aku harus fokus….’
Dia menepuk kedua pipinya bersamaan, dan memasang wajah seperti biasa, membuka pintu ruangan persiapan di ruang kesenian.
Penasehat mereka, Matsukawa-sensei, telah membiarkan mereka menggunakan ruangan itu secara eksklusif sehingga mereka tidak akan mengganggu klub lainnya.
‘Aku tidak menyangka beliau langsung menyetujuinya, jadi ini mengejutkan.’
Sebelum kemari, dia terlebih dahulu pergi ke ruang fakultas untuk melaporkan permintaan dari Klub Film.
Sudah menjadi tugasnya sebagai penasehat Klub Kesenian untuk menyarankan mereka harus fokus pada perlombaan yang akan segera tiba, Matsukawa-sensei juga telah menyatakan dukungannya untuk kerja sama mereka dengan Klub Film.
‘Apakah ini bertujuan untuk memamerkan kinerja yang kita lakukan….?’
Tentu saja, dia senang orang lain akan melihat karyanya, tapi tidak seperti Akari dan Miou, yang selalu memenangkan penghargaan, ini masih sebuah tantangan bagi Natsuki, yang kehilangan kepercayaan diri dari mereka berdua.
Tapi, terlepas dari itu semua, alasan dia memutuskan mendengarkan permintaan dari Klub Film adalah dikarenakan perkataan Yuu kemarin yang terngiang di kepalanya.
“Aku menyukai gambarmu.”
Yuu tidak bilang bahwa dia menyukai Natsuki, tapi yang dimaksud Yuu adalah dia menyukai gambar Natsuki.
Bahkan hingga sekarang pun, Natsuki benar – benar terlihat senang.
Itulah kenapa dia memutuskan untuk menghadiri pertemuan, meskipun dia sadar kemungkinan dia tidak akan dipilih.
Yuu dan yang lainnya sudah menunggu di luar gedung, dan memainkan kipas tangan yang digenggamnya
“Yo. Maaf mengganggu waktu kalian ketika sedang sibuk dengan persiapan lomba kalian.”
Bahkan saat mengatakannya, Haruki menyeringai dengan senyuman lebarnya.
Merasa sudah terbiasa dengan candaan Haruki, Natsuki tertawa dan membalasnya,
“Jika kalian sungguh – sungguh menyesal, setidaknya traktir kami minum.”
“Ah, itu benar. Maaf, kami harusnya memikirkan hal itu….!”
Untuk beberapa alasan, Souta, bukan Haruki, yang dengan cepat membalas.
Haruki melambaikan tangannya di udara, meraih punggung Souta.
“Mochita, kau laki – laki yang baik. Kau tidak harus melakukan apapun yang Natsuki katakan, kau tau.”
“Kau benar - benar orang yang baik, Mochita. Tapi tenang saja, biarkan Haruki yang mengurus hal semacam ini.”
Setelah Natsuki membalas, menolak  tawaran baik Mochita, mereka mendengar Yuu berdehem, dan kemudian berbicara dengan nada yang dingin.
“Haruki, dan Natsuki, juga, bisakah kalian berdua diam sejenak? Tak bisakah kalian lihat bahwa kau meninggalkan Hayasaka dan Aida?”
Berkat perkataan Yuu, Natsuki melihat kearah Miou dan Akari, yang datang sedikit terlambat, berdiri disana dan terlihat seperti orang tersesat.
Mereka tampak ragu kapan harus menyela dalam percakapan, tapi juga mereka kewalahan dengan kecepatan pergerakan percakapan mereka. Di samping itu, mudah bagi Natsuki, karena dia kenal Haruki sejak kecil.
“Ma-Maaf! Aku tidak bermaksud meninggalkan kalian.”
Natsuki membuka pintu ruang persiapan, dan mendorong Miou dan Akari untuk masuk kedalam.
Yuu mengikuti mereka setelahnya, tapi Haruki terlihat ingat sesuatu dan berhenti sejenak.
“Aku haus karena banyak bicara. Mochita, ayo.”
“O-Oke!”
Mengangguk dengan canggungnya, wajah Souta memerah, mungkin karena udara panas. Jika begitu, tidak ada salahnya untuk menyegarkan diri mereka, seperti yang dikatakan Haruki.
Yuu terlihat akan mengatakan sesuatu, tapi pada akhirnya, dia hanya melambaikan tangannya saat melihat Haruki dan Souta pergi.
“Sebagai permulaan, aku akan memberikan penjelasan dasar mengenai proyeknya.”
Menjadi satu – satunya cowok yang tersisa, Yuu mulai berbicara dengan memberikan senyuman ramah di wajahnya.
Melihat sikap ramah Yuu, Natsuki menyadari perasaan tegang meninggalkan bahu Miou dan Akari, dan dia bernafas lega karenanya.
‘Bagus, mereka kembali seperti biasanya lagi…’
Kepribadian natural Yuu memungkinkannya untuk melakukan hal semacam ini, tapi ini juga mempengaruhi pengakuan Natsuki pada mereka mengenai perasaannya sendiri yang tampak tenang saat Yuu berbicara.
‘Jika itu aku, dan seumpama Miou mengatakan padaku bahwa dia menyukai Haruki, aku akan bahagia juga.’
Ada saat dimana dia bisa menyebalkan, tapi dia tidak bisa menyangkal bahwa Yuu satu – satunya teman kecil yang dibanggakannya.
Jika, ada kesempatan, Miou dan Haruki berpacaran, dia mungkin mulai merasa lebih sadar diri dari dia yang sekarang.
Pada saat Yuu menyelesaikan penjelasan singkatnya, Haruki dan Souta kembali dengan membawa beberapa botol air.
Natsuki yang tadi mengatakannya sebagai candaan, tapi kelihatannya dia benar – benar mentraktir mereka semua. Mengambil botol air dengan rasa syukur,  Haruki, sutradara dari proyek ini, mulai menjelaskan semacam gambaran yang mereka cari.
“Tokoh utama perempuan yang tidak pernah jatuh cinta sebelumnya, mulai menunjukkan perubahan dalam dirinya setelah bertemu dengan sang tokoh utama. Kami ingin menarik penonton dengan menggunakan gambaran yang menunjukkan kelembutan, dan perubahan halus pada perasaan tokoh utama perempuannya terhadap tokoh utama.”
Haruki terlihat sudah memiliki bentuk pandangan dalam pikirannya, dan mengekspresikannya dengan penuh keyakinan.
Sedikit kebingungan, Natsuki berbalik untuk melakukan kontak mata dengan kedua teman dekatnya itu.
Mereka akan menciptakan efek yang Haruki maksud melalui lukisan mereka.
Sangat sulit membayangkan betapa menantangnya lukisan yang diinginkan Haruki.
Setidaknya bagi Natsuki, jarang sekali dia bisa menyampaikan emosi kepada penonton melalui lukisan. Dan bahkan jika dia bisa melakukannya, menggambar menggunakan penwork saja pastinya memerlukan banyak keterampilan.
Miou dan Akari menampakkan wajah yang susah dipahami, juga, terlihat sedang memikirkan sesuatu.
Haruki menatap mereka secara bergiliran, dan kemudian bertanya dengan tenang, seolah – olah mereka sedang mendiskusikan cuaca hari ini.
“Katakan, apa warna cinta itu?”
“Hah? Warna apa….?”
Pertanyaan tiba – tiba Haruki tidak masuk akal. Natsuki ingin mengklarifikasikan pertanyaan itu, tetapi ketika dihadapkan pada tatapan tajamnya, dia tidak bisa berkata apa – apa.
“…Pink, kan?”
Mengatakan kata pertama yang muncul dipikirannya, Haruki memberikan anggukan kuat.
Seolah – olah didorong dengan respon itu, tak lama, Miou juga menjawab,
“Cinta terkadang pahit, menyakitkan, jadi aku pikir biru dan hitam akan cocok juga.”
Haruki mengangguk penuh minat, dan terakhir, menatap pada Akari.
“Bagaimana menurutmu, Hayasaka?”
“Mungkin… warna emas.”
Dari sudut matanya, dia melihat Yuu dan Souta melebarkan matanya pada pemikiran unik Akari itu.
Miou juga kelihatan terkejut.
Haruki satu – satunya orang menampakkan ekspresi serius. Dia menyandarkan tangannya di atas meja dan mencondongkan tubuhnya kedepan dengan penuh ketertarikan.
“Apa yang membuatmu berpikir demikian?”
“Warna emas itu cantik, dan bercahaya, tapi berkarat jika kau meninggalkannya terlalu lama, kan? Dan ketika emas itu bersinar terlalu terang, bisa membutakan, jadi aku pikir itu mirip dengan cinta.”
Pernyataan itu masuk akal, tapi di saat yang sama tidak. Itu adalah pendapat jujur Natsuki.
Anggota lainnya juga merasakan hal yang sama, dan tidak tau harus menjawab apa.
Kecuali Haruki.
“Oh…? Aku tidak menyangka akan bertemu dengan seseorang yang berpikiran sama denganku.”
Setelah bergumam keheranan, Haruki tertawa malu – malu.
Dia terlihat puas, seperti dia baru saja menemukan rekan baru.
‘Sepertinya jawaban Akari yang memuaskan.’
Natsuki melirik kearah Yuu, yang terlihat melamun namun akhirnya sadar dan mulai memperhatikan kembali.
“Jadi itu ide yang umum… untuk saat ini, maukah kalian menunjukkan pada kami beberapa karya kalian?”
‘Hmm.. hanya “untuk saat ini,” ya?’
Meskipun dia akan menambahkan perkataannya itu, tapi sepertinya hal ini akan merusak mood jika dia mengatakannya. Sebaliknya, dia berpura – pura tidak mendengarnya, dan memberikan senyuman datar di bibirnya.
“Bawalah beberapa karya kalian yang berbeda, seperti lukisan minyak, dan sketsa.”
Walaupun itu hanya perkataan Yuu, mungkin kesan mereka akan berubah setelah mereka melihat karya mereka yang sesungguhnya. Juga, dia tau bahwa ini bukan urusannya, tapi Natsuki ingin Haruki menyadari pesona Miou, tidak peduli bagaimanapun caranya.
Melakukan kontak mata dengan Miou dan Akari, mereka berdua mengangguk, dan mereka bertiga berdiri.
Setelah mereka membawa karya mereka dari ruang kesenian, sesuatu seperti proses penyaringan dimulai.
“Sekarang memperkenalkan kontestan pertama kita, Enomoto Natsuki!”
Sebelum yang lain mengatakannya, Natsuki mengajukan dirinya terlebih dahulu.
‘Lagipula, jika menyangkut dengan yang namanya bakat, pastinya itu diantara Akari dan Miou.’
Dia menyerah jika harus memikirkannya, dan karena dia mulai merasa pesimis mengenai semua itu, dia ingin mengakhirinya dengan segera.
Setidaknya, itulah yang dipikirkannya, tapi secara mengejutkan, apa yang dia dengar adalah komentar positif.
“Ekspresi pada karakter yang kau gambar benar  - benar terasa hidup. Aku suka melihat hal yang semacam ini.”
Orang pertama yang berbicara adalah Haruki.
Souta dan Yuu mengangguk, dan melanjutkan, “Pewarnaannya bagus,” dan “Desain karakternya juga bagus,”
Terkejut, Natsuki lambat bereaksi.
Dia bisa merasakan suaranya bergetar, tapi dia berbicara seceria mungkin.
“W-Wow! Kalian semua terdengar seperti kritikus seni yang sesungguhnya saat berkomentar seperti itu!”
‘Aku ingin sekali bertanya kenapa! Tapi, aku takut untuk mengetahuinya...’
Tanpa mengatakan apapun, Haruki tiba – tiba mengeluarkan tangannya dari saku.
“Ini pujian yang jujur, kau tau. Lagipula, Tidak sering aku mendapat kesempatan mengatakan hal seperti ini.”
Haruki mengacak – acak rambut Natsuki sambil bercanda, dan segera, dia mulai merasa seperti seekor anak anjing atau anak kucing yang ditepuk kepalanya. Meski begitu, disuatu tempat jauh di dalam hatinya, dia merasa sedikit malu.
“Ehh? Kau harusnya lebih memujiku dengan benar!”
Kali ini, Natsuki bisa membalasnya disaat yang tepat, dan berhasil melakukan pose V (Victory).
Menatap ke sekelilingnya, dia melihat Souta memegang perutnya, menahan tawanya.
Dia mendengar Miou dan Akari juga ikutan tertawa, dan mendesah lega.
Sepertinya suasana tegang yang terjadi di ruangan tadi sudah mereda.
‘Huh? Oh ya, bagaimana dengan Yuu?’’
“Jadi itu pendapat Haruki, ya....”
Seolah memecah pemikirannya, kata – kata Yuu bergumam jelas di telinganya.
Natsuki tidak tau kepada siapa kata – kata itu ditujukan, meskipun, atau apa yang dibicarakannya ini ditujukan untuk kontestan pertama.
Namun, sepertinya terjadi kesalahpahaman.
“Um, Yuu....?”
Memanggil Yuu dengan ragu, bahu Yuu sedikit berguncang.
“....Baiklah, cukup dengan godaannya.”
“Huh?”
Natsuki membeku di tempat begitu mendengar perkataan Yuu. Dia sudah terbiasa dengan bercandaan Yuu, tapi dia tidak pernah menyangka Yuu akan mengatakan bahwa dia sedang menggoda Haruki.
‘Apakah dia pikir kami sedang mempermainkannya...?’
Karena Yuu lah satu – satunya yang bertanggung jawab disini, seharusnya dia merasakan ketegangan seperti yang Natsuki rasakan, dibutuhkan keseriusan dalam proses penyeleksian ini. Dalam hal ini, Natsuki dan Haruki yang bersalah karena telah mengganggu semuanya.
Haruki juga bergumam keras, “Sial,” dan alisnya terlihat menyambung bersama.
 “La-Lalu, selanjutnya Aida-san.”
Menyadari ketegangan yang terjadi, Souta mengubah topik pembicaraan. Dia melihat hasil kerja Miou, yang berada disebelah Natsuki, dan berkomentar, “Lukisannya sangat halus.”
Yuu dan Haruki ikut mengamini pernyataan Souta, dan sekali lagi, ketegangan memenuhi ruangan.
‘Ini mungkin yang terbaik, tetapi...’
Karena Natsuki tidak ingin melakukan kegaduhan lainnya, jadi dia tidak berencana untuk berdebat dengan Yuu.
Tetapi walaupun dia tidak bisa mengatakannya, dia tidak memungkiri bahwasanya ada sesuatu yang mengganggunya.
Seolah – olah mendapatkan firasat buruk, kejutan yang tidak terduga berlanjut.
Tidak seperti komentar positifnya terhadap lukisan Natsuki tadi, komentar Haruki terhadap lukisan Miou berbanding terbalik.
“Tidakkah kau pikir kalau ekspresinya terlihat kaku?”
Bahkan Souta dan Yuu terlihat begitu terkejut dengan pernyataan Haruki.
“Maksudku ini terlihat seperti digambar dengan sangat baik, tau?”
“Oh, ada pemandangannya, juga.”
Meskipun mereka berdua berusaha untuk menyebutkan pujiannya, Haruki satu – satunya orang yang berkomentar tajam.
“Tehnik dan yang lainnya bagus, tapi… lukisannya terlihat seperti hanya sebuah referensi saja.”
Setelah itu, Haruki lebih banyak diam ketika menilai lukisan Akari.
Tidak peduli lukisan mana yang dia lihat, dia hanya mengatakan, “Bagus,” dan kemudian berlanjut melihat lukisan lainnya.
Bersyukur bahwa suasana tegang tadi sudah berakhir, Natsuki juga ikut terdiam dan berbalik melihat lukisan mereka.
‘Mereka ingin menarik penonton melalui lukisan, huh… sepertinya Akari menunjukkan bahwa dia sepenuhnya yang mampu melakukannya…’
Pada akhirnya, seperti yang diduga, Haruki memilih Akari untuk melukisnya.
Akari sendiri terlihat kehilangan kegembiraannya, dan menjadi benar – benar malu. Dia bersembunyi dibelakang Natsuki, dan berbicara pada Haruki dari jarak jauh.
“Um, Serizawa-kun… Bisakah kau memberitahuku sedikit mengenai filmnya? Jika tidak, aku tidak akan bisa sepenuhnya memahami perasaan sang tokoh utama perempuan, dan mungkin susah menyampaikannya dengan benar dalam bentuk tulisan.
“Menyampaikan dengan benar, huh… Ya, dua hal ini seperti memiliki keterkaitan.”
Meskipun tidak menjelaskannya secara spesifik, inti dari apa yang Haruki maksud masih simpang siur.
‘Haruki mungkin melihat Akari sebagai teman.’
Dia tersenyum seperti yang biasa dilakukannya ketika mereka akan bermain di dalam benteng rahasia  yang mereka bangun ketika kecil.
Saat kau tumbuh dewasa, menemukan seseorang yang berbagi pandangan mengenai berbagai macam hal akan menjadi lebih sulit. Itulah kenapa Haruki benar – benar senang dipertemukan dengan Akari, yang berbagi pikiran sama dengannya ketika menyangkut hal – hal seperti kegiatan yang kreatif.
‘Lalu, bagaimana dengan Miou….?
Apa yang Haruki pikirkan tentang Miou, yang pulang bersama – sama dengannya hampir setiap hari karena mereka memiliki kesamaan?
Natsuki ingin sekali menanyakannya di saat yang tepat, namun saat dia memikirkan perasaan teman dekatnya, dia ragu- ragu. Selain itu, sebagai orang luar dia tidak seharusnya mencampurinya.
‘Aku penasaran bagaimana perasaan Miou sekarang….’
Melihat kearah, Miou yang berada di sampingnya, tersenyum dengan lembut seperti biasanya.
Namun, kedua tangan dan kakinya sedikit bergetar.
“….Miou…”
Meskipun dia tidak yakin apa yang harus dikatakannya pada Miou, dia akhirnya menyebut nama Miou keras.
Kaget, Miou menatap kea rah Natsuki, dan kemudian menyembunyikan tangannya di belakang punggung.
 “…Ayo bersih - bersih.”
Saat Miou mengatakannya sambil tersenyum, Natsuki hanya bisa diam.
Dia berpura – pura tidak melihat apapun, dan malah, sebuah teriakan keras terngiang di kepalanya.
‘Haruki, kau bodoh!’

♥ ♥ ♥ ♥ ♥

Pada akhirnya, rapat berakhir sekitar satu jam.
Bagi Natsuki ini terasa dua kali lebih lama, jadi dia kaget begitu melihat waktu pada jam tangannya.
‘Miou dan Akari terlihat melamun sejak rapat berakhir…’
Mereka kembali ke ruang kesenian, dan mulai mengerjakan lukisan mereka lagi, tapi mereka masih terlihat bingung.
Ketika mereka masing – masing memiliki alasan tersendiri, ini sudah jelas bahwa penyebabnya adalah rapat tadi. Pada akhirnya teman kecilnyalah yang menyebabkan masalah, dan Natsuki sedih karena tidak bisa melakukan apapun mengenainya.
‘Mereka bilang kita akan bertemu lagi nanti, tapi mereka hanya ingin bertemu dengan Akari dari sekarang, kan?’
Khawatir, Natsuki memutuskan  mengirim pesan pada Yuu untuk memastikan.
Natsuki tidak keberatan membantu, tapi tidak seperti dia membantu hal – hal kecil yang dia lakukan sebelumnya, pekerjaan ini tidak bisa dia lakukan. Juga, apakah itu Miou, atau Akari, dia merasa seperti, tidak peduli seperti apapun, pasti akan berakhir canggung.


‘Entah kenapa, keadaan menjadi semakin menggila saja…’
“Tidak heran jangkrik berhenti berbunyi. Sudah mulai hujan ternyata,”
Miou bergumam pelan, hamper tidak terdengar.
Dia mungkin baru saja berbicara sendiri, tidak ditujukan ke orang lain.
Akari pasti berpikir demikian, karena dia tidak membalas perkataan Miou selama beberapa saat.
“Awannya juga mulai menutupi, sepertinya akan hujan deras selama beberapa saat…”
Setelah Natsuki mengirimkan pesan, dia melihat kearah jendela saat Akari membahas cuaca saat ini.
“Kau benar. Awan mendung terlihat pekat… apa yang harus kita lakukan? Kita pulang saja kah hari ini?”
Natsuki berbalik menatap mereka, keduanya kompak mengiyakan. Masih ada beberapa waktu lagi sebelum jam sekolah berakhir, tapi karena tidak dari mereka yang bisa fokus, tidak ada alasan bagi mereka untuk berlama – lama disini.
“Baiklah, ayo kita pergi! Ah, Miou, kau hari ini pulang bersama kita, kan? Kita harus lebih sering pulang bertiga.”
Dengan nada suara ceria yang sengaja dilakukannya, Natsuki tersenyum kepada mereka berdua.
Akari mengangguk seperti biasa, dan setelah beberapa waktu, Miou juga ikuut tersenyum.
Saat mereka berjalan melewati gerbang sekolah, seperti yang Akari prediksikan, Hujan mulai turun dengan derasnya.
Mengabaikan suara hujan turun di atas payung mereka, Natsuki mendesah panjang.
“Ahh, aku benar – benar kacau hari ini~”
“Ini dikarenakan stress secara mental. Dengan perlombaan yang semakin dekat, dan lukisanmu dikritik secara langsung tepat di hadapanmu.”
Mendengar peryataan Miou, dia merasa aliran darahnya sedikit naik.
Meskipun dia mencoba untuk tidak membawa – bawa nama Haruki, hal ini sepertinya benar – benar mengganggunya.
Saat Natsuki mencoba berpikir bagaimana harus menjawabnya, Akari mendahuluinya.
“Serizawa-kun pasti mengatakannya karena dia menyukaimu, Miou-chan.”
Tidak menyadari reaksi Miou yang sudah berhenti melangkah, Akari melanjutkan perkataannya, dengan nada suara santai.
“Aku tidak berpikir ada banyak orang yang bisa berkata begitu jujur…”
“Tapi, aku merasa dia menjadi sedikit… tidak senstif mengenai… ka-kau tau kan…?”
Kata Natsuki spontan, tapi menyadari perkataannya yang sedikit tidak peka itu, dia dengan cepat menghentikannya. Jika dia mencoba untuk menutupinya, mungkin akan lebih baik melakukannya dengan tawa saja.
‘Apa tidak apa – apa….?’
Miou melanjutkan langkahnya lagi, tapi dia menyembunyikan wajahnya di bawah payung miliknya.
Akari terus berjalan sambil melanjutkan perkataannya.
“Bukankah itu dikarenakan Miou-chan akan bisa mengatasinya?”
“Ah….!”
Perkataan Akari yang masuk akal menyadarkannya, dan dia menaikkan payungnya.
‘Ya, itu benar! Haruki selalu memberikan kritik pada sesuatu hal yang dia sukai!’
Disaat mereka berempat menonton film di DVD bersama – sama sebagai teman kecil, Haruki selalu mengatakan banyak hal mengenai film – film yang dibawanya. Natsuki sadar hal itu sulit untuk dipahami, tapi dia mungin tidak bisa tinggal diam karena sadar bahwa dia begitu menyukainya.
Mengambil kata – kata dari Yuu dan Souta, dia hanya seorang Tsundere.
“Haruki terkadang bisa bertingkah menjadi seseorang yang bertolak belakang dari dirinya, atau bisa disebut sebagai Tsundere, kau tau?”
Dia menaikkan sedikit suaranya sehingga Miou, yang berjalan sedikit lebih lambat dari mereka berdua, bisa mendengar, juga.
Tapi saat dia sama sekali tidak merespon, Natsuki jadi sedikit khawatir dan melihat kearah Miou.
“….Akari-chan, kau memang pandai mengamati orang, huh?”
Saat Natsuki menatap senyuman lemah Miou, dia melihat sesuatu seperti kilatan petir yang muncul sejenak di langit.
‘Mungkinkah Miou cemburu pada Akari…?’
Miou sendiri mungkin tidak meyadarinya, tapi bisakah dia benar – benar merasakan yang namanya cemburu?
Jika menilai dari percakapan dia ruang persiapan tadi, Haruki dan Akari terlihat memiliki cara berpikir yang sama. Dan bahkan saat ini pun, Akari sudah membuktikan bahwa dia memahami Haruki melebihi Natsuki yang notabene sebagai teman masa kecilnya.
‘Apakah ini bisa dihitung sebagai cinta segitiga?’
Saat dia mencoba menenangkan detak jantungnya yang cepat, Natsuki meliht kearah Akari.
Akari menyadari dua lainnya tertinggal di belakang, dia menghentikan langkahnya sehingga mereka bisa menyusulnya.
“….Aku penasaran bagaimana rasanya jatuh cinta. Pasti menyenangkan…”
Kata – kata Akari, yang saling tumpang tindih dengan suara rintik hujan, menggema di telinga Natsuki.
Berbanding dengan kata – katanya, ekspresi Akari menunjukkan hal yang berbeda.
‘H-Huh? Barusan… Tunggu, itu artinya….’
Berpikir cepat mengenai perkataan sebelumnya, memang benar jika Akari tidak pernah benar – benar membicarakan pengalaman cintanya sendiri. Faktanya, dia selalu menghindari topik pembicaraan itu.
 Jika tebakan Natsuki benar, berarti ini sama sekali tidak bisa disebut sebagai Cinta Segitiga.
‘Tapi, apakah ini artinya Akari mungkin ada masalah dalam hal melukis untuk film ini…?’
“Enomoto-san!”
Sebuah suara tiba - tiba terdengar layaknya gemuruh petir yang memotong udara.
Dia hafal dengan suara yang memanggilnya, tapi dia tidak ingat pernah mendengarnya dengan nada suara yang sedikit keras itu. Tanpa sadar, Natsuki sudah berbalik kearah sumber suara, dia sudah menyiapkan dirinya pada seseorang yang memanggil namanya.
Namun, seseorang yang muncul berlari kearah mereka adalah seseorang yang sudah  Natsuki duga.
“Syukurlah aku bisa menyusulmu…”
“Koyuki-kun! Ada apa?”
“Saat aku pergi ke ruang kesenian, aku dengar kau sudah pulang… Um, aku kemarin dapat ini.”
Mengacak – acak tasnya, Koyuki mengeuarkan sebuah kantong kertas kecil.
Natsuki menerimanya saat Koyuki menyerahkan kantong kertas itu padanya, dan kemudian dia balik melihat Koyuki dengan ekspresi bingung.
“Boleh aku buka?”
“Tentu saja. Aku ingin kau memilikinya.”
Walaupun dia merasa sedikit aneh, Natsuki akhirnya membukanya dan melihat yang ada didalamnya.
“Ini adalah buklet edisi terbatas! Koyuki-kun, kau menang?!”
Didalamnya adalah buklet edisi terbatas yang dibuat untuk memperingati publikasi tankobon dari manga yang mereka berdua sangat sukai. Layaknya permata langka, edisi ini hanya diberikan kepada segelintir orang yang beruntung.
“Aku tidak menyangka bisa menang saat aku mengirimkan aplikasinya, tapi sepertinya aku hanya beruntung.”
Natsuki melompat kegirangan, dan Koyuki hanya mengangguk malu-malu.
“Wow, ini hebat! Aku tidak menyangka aku bisa melihat dia secara langsung!”
Melihat pada sampulnya dengan penuh minat, Natsuki mendesah dengan penuh kegembiraan.
“Nacchan, kau terlihat sangat senang.”
“Yoshida-sensei, kan? Aku ingat kau pernah bilang bahwa kau adalah penggemarnya.”
Akari dan Miou, yang saling bertukar pandang dari samping, mengintip pada buklet yang ada di tangan Natsuki dan mereka berdua tersenyum penuh arti.
“Yep! Yoshida-sensei lah yang terbaik jika menyangkut gag manga!”
“Aku ingat kau mengatakannya, jadi aku pikir kau ingin memilikinya…”
Menyadari perkataan Koyuki barusan, Natsuki menghembuskan nafas kecil.
“Tapi, Koyuki-kun, kau penggemarnya juga, kan? Jadi harusnya kau yang memilikinya.”
Akan terlihat buruk jika Natsuki mengembalikannya, jadi dia mengulurkan kantong kertas itu pada Koyuki.
Namun, Koyuki hanya menggelengkan kepalanya, dan menolak untuk mengambilnya.
‘Apa yang harus aku lakukan? Bukunya akan basah kalau begini terus…’
Karena Koyuki menolaknya, Natsuki mengambilnya kembali, tapi dia merasa tidak enak menerimanya dengan gratis.
Saat Natsuki menatap Koyuki, dia segera memutuskan kontak mata dan memalingkan wajahnya.
“Sebagai gantinya… Ya, mungkin terdengar egois mengatakannya, tapi…”
Berbicara dengan nada suara pelan dan menatap kebawah, ini sama seperti saat dia  akan memotong rambutnya.
Karena Koyuki tampak sulit mengatakannya, Natsuki berinisiatif menanyakannya dengan nada suara lembut.
“Hmm? Apa? Jika ada sesuatu yang bisa aku lakukan, aku sama sekali tidak keberatan.”
Koyuki mengambil nafas dalam – dalam, dan seolah sudah memantapkan hatinya, dia mengangkat wajahnya lagi.
Wajahnya tidak tersembunyi lagi, tidak ada poni panjang ataupun kacamata yang melekat disana.
Dibalik tatapannya yang bergairah dan serius, Natsuki merasa jantungnya berdetak keras.
“Saat liburan musim panas, apa kau mau pergi ke suatu tempat? Ha-hanya berdua saja, jika memungkinkan…”
Saat dia mengatakan itu, dia merasa detakan jantungnya berdetak lebih cepat, dan wajahnya menghangat.
‘Te-tenang, Natsuki! Ini hanya Koyuki-kun, kan? Ini seperti pergi bersama sebagai teman.’
Natsuki meletakkan tangannya di dadanya untuk menenangkan detakan jantungnya, dan memberikan anggukan kecil.
“Aku tak sabar menantikannya…!”
Wajah Koyuki terlihat senang mendengar jawaban Natsuki.
“Ya, baiklah! Aku akan menghubungimu detailnya nanti.”
Berpikir bahwa masih terlalu awal untuk membicarakannya sekarang, Koyuki dengan cepat berlari.
Mendengar suara jejak langkahnya dibalik jalanan yang basah karena hujan, Natsuki menatap ke atas langit – langit payungnya sambil melamun.
‘Yang barusan itu apa?’
“Jadi, undangan kencan, huh?”
Seperti mendapatkan jawaban dari pemikirannya, Miou menggumamkannya di waktu yang tepat.
Natsuki mngeluarkan derit suara keterkejutan, dan mulai merasa lebih sadar diri.
“Aku tidak yakin ini bisa disebut kencan atau apapun itu….”
Saat Natsuki bergumam menunjukkan protes, Miou mencolek pipinya.
“Aku tidak percaya, apalagi melihat pipimu yang memerah seperti itu, kau tau?”
“Seperti yang aku katakan, tidak seperti itu!”
“Dalam hal ini, aku akan mendukungmu, juga. Dengan begitu, kau tidak akan gugup, kan?”
Saat Akari dengan polosnya menyilangkan lengannya dengan Natsuki, Miou hanya bisa mendesah berat.
“Benar jika Nacchan tidak akan merasa gugup, tapi tidakkah kau merasa bersalah pada Ayase-kun?”
“Huh? Bagaimana bisa?”
Natsuki hanya setengah memperhatikan percakapan yang bertentangan diantara keduanya, dan mulai berfikir serius pada dirinya.
Hingga sekarang, dia dan Koyuki akrab sebagai teman yang berbagi ketertarikan yang sama dalam manga. Dia yakin Koyuki pun juga beranggapan demikian, dan awalnya, dia tidak membawa – bawa kata “kencan” barang sekalipun.
‘Aku terlalu memikirkannya…! Ya, tidak apa – apa jika seperti ini, kan?’
Tapi bagaimana jika dia salah?
Pertanyaan itu lama – lama terngiang di pikirannya, tapi dia berusaha untuk tidak menampiknya.
Dia tidak bisa membiarkan kesalahpahaman satu sisi ini menghancurkan persahabatan mereka.
‘tidak apa – apa, tidak apa - apa…’
Menyakinkan dirinya sendiri, dia mengatakannya dengan nada suara ceria kepada kedua temannya itu,
“Setelah liburan musim panas, ayo kita pergi bertiga bersama – sama! Janji?”

Liburan musim panas terakhir masa SMA-nya, sudah di depan mata. 

Sumber :
Terjemahan Bahasa Inggris oleh Renna's Translation
Gambar oleh Papercolenna