Senin, 27 Juli 2015

Confession Rehearsal Novel [Bahasa Indonesia 'Bab 3']

Ehem, kembali lagi dengan saya yang sudah lama menghilang dan sekarang muncul lagi. Sudah lama lupa buat nerjemahin pada akhirnya tanpa sengaja buka file terjemahan dan akhirnya berniat kembali untuk nerjemahin. Mohon maaf yang sudah nunggu (nb. kalau ada yang nunggu). Dan jika ada beberapa kalimat yang sedikit rancu saya minta maaf, dan sebisa mungkin akan memperbaikinya jauh lebih baik. Untuk chapter selanjutnya doakan saja semoga saya tidak malas :p
Akhir kata terima kasih sudah bersedia meluangkan waktunya untuk membaca terjemahan Bahasa Indonesia Novel Cofession Rehearsal saya ini. Happy Reading ^^ 

Confession Rehearsal Novel Bahasa Indonesia
Bab 3





Ayase Koyuki
Tanggal Lahir: August 28
Zodiac: Virgo
Golongan Darah: A

Teman sekelas Natsuki. Berada di Klub Berkebun. Baru – baru ini dia mengubah penampilan dan kepribadiannya, membuatnya menjadi bahan pembicaraan di kalangan siswi perempuan. 
Hari yang sangat panas nan terik di awal minggu ini.

Latihan 3
Hari yang sangat panas nan terik di awal minggu ini.
Bahkan hanya berjalan di koridor saja, butir – butir keringat terbentuk di bagian leher belakang Natsuki.
‘Harusnya mereka tidak memasang AC di ruang fakultas saja, tapi di seluruh sekolah, juga…’
Membayangkan kenikmatan surgawi sudah cukup membawa Natsuki pergi dari kenyataan.
Walaupun dia tidak mempermasalahkan cuaca panas dan dingin saat dia masih kecil, dia ternyata tidak bisa menangani cuaca yang begitu ekstrem seperti sekarang.
“Ah, itu aliran Jet!”
Akari, yang berjalan didepannya berbalik dan menunjuk ke atas langit.
“Wow! Keren...”
Mendengar seruan Mio, Natsuki yang terakhir melihat ke atas, menyipitkan matanya menahan silau.
“Dengan langit yang sebiru ini, kau bisa melihatnya dengan jelas, ya?”
“Ha? Apa kau tidak berpikir bahwa garis yang ditinggalkannya mirip seperti pasta gigi putih raksasa?”
“…Ya.”
Berbeda dengan suara bersemangatnya Mio dan Akari, dia menjawabnya dengan nada suara yang datar.
‘Sial, aku melakukannya lagi.’
Merasakan tatapan mereka beralih dari langit kepadanya, Natsuki dengan cepat  berbicara dengan suara yang lebih ceria.
“Sudah hampir waktunya. Jika kita tidak bergegas, Haruki akan marah!”
Kata Natsuki, dan melangkah dengan kearah ruang kesenian.
Mendengar suara langkah kaki lain yang mengikuti dari belakangnya, dia menghela nafas.
Dia sudah bertingkah seperti itu sejak pagi.
Apa yang Yuu katakan tentang “Mendukungnya” tiba – tiba muncul di pikirannya, meredupkan emosinya.
‘Aku tau seharusnya hal ini tidak begitu menggangguku, tapi….’
Seperti manusia yang tidak bisa mengendalikan cuaca dengan kehendaknya sendiri, mengendalikan emosipun juga susah.
‘Pertemuannya akan segera dimulai, jadi aku harus fokus….’
Dia menepuk kedua pipinya bersamaan, dan memasang wajah seperti biasa, membuka pintu ruangan persiapan di ruang kesenian.
Penasehat mereka, Matsukawa-sensei, telah membiarkan mereka menggunakan ruangan itu secara eksklusif sehingga mereka tidak akan mengganggu klub lainnya.
‘Aku tidak menyangka beliau langsung menyetujuinya, jadi ini mengejutkan.’
Sebelum kemari, dia terlebih dahulu pergi ke ruang fakultas untuk melaporkan permintaan dari Klub Film.
Sudah menjadi tugasnya sebagai penasehat Klub Kesenian untuk menyarankan mereka harus fokus pada perlombaan yang akan segera tiba, Matsukawa-sensei juga telah menyatakan dukungannya untuk kerja sama mereka dengan Klub Film.
‘Apakah ini bertujuan untuk memamerkan kinerja yang kita lakukan….?’
Tentu saja, dia senang orang lain akan melihat karyanya, tapi tidak seperti Akari dan Miou, yang selalu memenangkan penghargaan, ini masih sebuah tantangan bagi Natsuki, yang kehilangan kepercayaan diri dari mereka berdua.
Tapi, terlepas dari itu semua, alasan dia memutuskan mendengarkan permintaan dari Klub Film adalah dikarenakan perkataan Yuu kemarin yang terngiang di kepalanya.
“Aku menyukai gambarmu.”
Yuu tidak bilang bahwa dia menyukai Natsuki, tapi yang dimaksud Yuu adalah dia menyukai gambar Natsuki.
Bahkan hingga sekarang pun, Natsuki benar – benar terlihat senang.
Itulah kenapa dia memutuskan untuk menghadiri pertemuan, meskipun dia sadar kemungkinan dia tidak akan dipilih.
Yuu dan yang lainnya sudah menunggu di luar gedung, dan memainkan kipas tangan yang digenggamnya
“Yo. Maaf mengganggu waktu kalian ketika sedang sibuk dengan persiapan lomba kalian.”
Bahkan saat mengatakannya, Haruki menyeringai dengan senyuman lebarnya.
Merasa sudah terbiasa dengan candaan Haruki, Natsuki tertawa dan membalasnya,
“Jika kalian sungguh – sungguh menyesal, setidaknya traktir kami minum.”
“Ah, itu benar. Maaf, kami harusnya memikirkan hal itu….!”
Untuk beberapa alasan, Souta, bukan Haruki, yang dengan cepat membalas.
Haruki melambaikan tangannya di udara, meraih punggung Souta.
“Mochita, kau laki – laki yang baik. Kau tidak harus melakukan apapun yang Natsuki katakan, kau tau.”
“Kau benar - benar orang yang baik, Mochita. Tapi tenang saja, biarkan Haruki yang mengurus hal semacam ini.”
Setelah Natsuki membalas, menolak  tawaran baik Mochita, mereka mendengar Yuu berdehem, dan kemudian berbicara dengan nada yang dingin.
“Haruki, dan Natsuki, juga, bisakah kalian berdua diam sejenak? Tak bisakah kalian lihat bahwa kau meninggalkan Hayasaka dan Aida?”
Berkat perkataan Yuu, Natsuki melihat kearah Miou dan Akari, yang datang sedikit terlambat, berdiri disana dan terlihat seperti orang tersesat.
Mereka tampak ragu kapan harus menyela dalam percakapan, tapi juga mereka kewalahan dengan kecepatan pergerakan percakapan mereka. Di samping itu, mudah bagi Natsuki, karena dia kenal Haruki sejak kecil.
“Ma-Maaf! Aku tidak bermaksud meninggalkan kalian.”
Natsuki membuka pintu ruang persiapan, dan mendorong Miou dan Akari untuk masuk kedalam.
Yuu mengikuti mereka setelahnya, tapi Haruki terlihat ingat sesuatu dan berhenti sejenak.
“Aku haus karena banyak bicara. Mochita, ayo.”
“O-Oke!”
Mengangguk dengan canggungnya, wajah Souta memerah, mungkin karena udara panas. Jika begitu, tidak ada salahnya untuk menyegarkan diri mereka, seperti yang dikatakan Haruki.
Yuu terlihat akan mengatakan sesuatu, tapi pada akhirnya, dia hanya melambaikan tangannya saat melihat Haruki dan Souta pergi.
“Sebagai permulaan, aku akan memberikan penjelasan dasar mengenai proyeknya.”
Menjadi satu – satunya cowok yang tersisa, Yuu mulai berbicara dengan memberikan senyuman ramah di wajahnya.
Melihat sikap ramah Yuu, Natsuki menyadari perasaan tegang meninggalkan bahu Miou dan Akari, dan dia bernafas lega karenanya.
‘Bagus, mereka kembali seperti biasanya lagi…’
Kepribadian natural Yuu memungkinkannya untuk melakukan hal semacam ini, tapi ini juga mempengaruhi pengakuan Natsuki pada mereka mengenai perasaannya sendiri yang tampak tenang saat Yuu berbicara.
‘Jika itu aku, dan seumpama Miou mengatakan padaku bahwa dia menyukai Haruki, aku akan bahagia juga.’
Ada saat dimana dia bisa menyebalkan, tapi dia tidak bisa menyangkal bahwa Yuu satu – satunya teman kecil yang dibanggakannya.
Jika, ada kesempatan, Miou dan Haruki berpacaran, dia mungkin mulai merasa lebih sadar diri dari dia yang sekarang.
Pada saat Yuu menyelesaikan penjelasan singkatnya, Haruki dan Souta kembali dengan membawa beberapa botol air.
Natsuki yang tadi mengatakannya sebagai candaan, tapi kelihatannya dia benar – benar mentraktir mereka semua. Mengambil botol air dengan rasa syukur,  Haruki, sutradara dari proyek ini, mulai menjelaskan semacam gambaran yang mereka cari.
“Tokoh utama perempuan yang tidak pernah jatuh cinta sebelumnya, mulai menunjukkan perubahan dalam dirinya setelah bertemu dengan sang tokoh utama. Kami ingin menarik penonton dengan menggunakan gambaran yang menunjukkan kelembutan, dan perubahan halus pada perasaan tokoh utama perempuannya terhadap tokoh utama.”
Haruki terlihat sudah memiliki bentuk pandangan dalam pikirannya, dan mengekspresikannya dengan penuh keyakinan.
Sedikit kebingungan, Natsuki berbalik untuk melakukan kontak mata dengan kedua teman dekatnya itu.
Mereka akan menciptakan efek yang Haruki maksud melalui lukisan mereka.
Sangat sulit membayangkan betapa menantangnya lukisan yang diinginkan Haruki.
Setidaknya bagi Natsuki, jarang sekali dia bisa menyampaikan emosi kepada penonton melalui lukisan. Dan bahkan jika dia bisa melakukannya, menggambar menggunakan penwork saja pastinya memerlukan banyak keterampilan.
Miou dan Akari menampakkan wajah yang susah dipahami, juga, terlihat sedang memikirkan sesuatu.
Haruki menatap mereka secara bergiliran, dan kemudian bertanya dengan tenang, seolah – olah mereka sedang mendiskusikan cuaca hari ini.
“Katakan, apa warna cinta itu?”
“Hah? Warna apa….?”
Pertanyaan tiba – tiba Haruki tidak masuk akal. Natsuki ingin mengklarifikasikan pertanyaan itu, tetapi ketika dihadapkan pada tatapan tajamnya, dia tidak bisa berkata apa – apa.
“…Pink, kan?”
Mengatakan kata pertama yang muncul dipikirannya, Haruki memberikan anggukan kuat.
Seolah – olah didorong dengan respon itu, tak lama, Miou juga menjawab,
“Cinta terkadang pahit, menyakitkan, jadi aku pikir biru dan hitam akan cocok juga.”
Haruki mengangguk penuh minat, dan terakhir, menatap pada Akari.
“Bagaimana menurutmu, Hayasaka?”
“Mungkin… warna emas.”
Dari sudut matanya, dia melihat Yuu dan Souta melebarkan matanya pada pemikiran unik Akari itu.
Miou juga kelihatan terkejut.
Haruki satu – satunya orang menampakkan ekspresi serius. Dia menyandarkan tangannya di atas meja dan mencondongkan tubuhnya kedepan dengan penuh ketertarikan.
“Apa yang membuatmu berpikir demikian?”
“Warna emas itu cantik, dan bercahaya, tapi berkarat jika kau meninggalkannya terlalu lama, kan? Dan ketika emas itu bersinar terlalu terang, bisa membutakan, jadi aku pikir itu mirip dengan cinta.”
Pernyataan itu masuk akal, tapi di saat yang sama tidak. Itu adalah pendapat jujur Natsuki.
Anggota lainnya juga merasakan hal yang sama, dan tidak tau harus menjawab apa.
Kecuali Haruki.
“Oh…? Aku tidak menyangka akan bertemu dengan seseorang yang berpikiran sama denganku.”
Setelah bergumam keheranan, Haruki tertawa malu – malu.
Dia terlihat puas, seperti dia baru saja menemukan rekan baru.
‘Sepertinya jawaban Akari yang memuaskan.’
Natsuki melirik kearah Yuu, yang terlihat melamun namun akhirnya sadar dan mulai memperhatikan kembali.
“Jadi itu ide yang umum… untuk saat ini, maukah kalian menunjukkan pada kami beberapa karya kalian?”
‘Hmm.. hanya “untuk saat ini,” ya?’
Meskipun dia akan menambahkan perkataannya itu, tapi sepertinya hal ini akan merusak mood jika dia mengatakannya. Sebaliknya, dia berpura – pura tidak mendengarnya, dan memberikan senyuman datar di bibirnya.
“Bawalah beberapa karya kalian yang berbeda, seperti lukisan minyak, dan sketsa.”
Walaupun itu hanya perkataan Yuu, mungkin kesan mereka akan berubah setelah mereka melihat karya mereka yang sesungguhnya. Juga, dia tau bahwa ini bukan urusannya, tapi Natsuki ingin Haruki menyadari pesona Miou, tidak peduli bagaimanapun caranya.
Melakukan kontak mata dengan Miou dan Akari, mereka berdua mengangguk, dan mereka bertiga berdiri.
Setelah mereka membawa karya mereka dari ruang kesenian, sesuatu seperti proses penyaringan dimulai.
“Sekarang memperkenalkan kontestan pertama kita, Enomoto Natsuki!”
Sebelum yang lain mengatakannya, Natsuki mengajukan dirinya terlebih dahulu.
‘Lagipula, jika menyangkut dengan yang namanya bakat, pastinya itu diantara Akari dan Miou.’
Dia menyerah jika harus memikirkannya, dan karena dia mulai merasa pesimis mengenai semua itu, dia ingin mengakhirinya dengan segera.
Setidaknya, itulah yang dipikirkannya, tapi secara mengejutkan, apa yang dia dengar adalah komentar positif.
“Ekspresi pada karakter yang kau gambar benar  - benar terasa hidup. Aku suka melihat hal yang semacam ini.”
Orang pertama yang berbicara adalah Haruki.
Souta dan Yuu mengangguk, dan melanjutkan, “Pewarnaannya bagus,” dan “Desain karakternya juga bagus,”
Terkejut, Natsuki lambat bereaksi.
Dia bisa merasakan suaranya bergetar, tapi dia berbicara seceria mungkin.
“W-Wow! Kalian semua terdengar seperti kritikus seni yang sesungguhnya saat berkomentar seperti itu!”
‘Aku ingin sekali bertanya kenapa! Tapi, aku takut untuk mengetahuinya...’
Tanpa mengatakan apapun, Haruki tiba – tiba mengeluarkan tangannya dari saku.
“Ini pujian yang jujur, kau tau. Lagipula, Tidak sering aku mendapat kesempatan mengatakan hal seperti ini.”
Haruki mengacak – acak rambut Natsuki sambil bercanda, dan segera, dia mulai merasa seperti seekor anak anjing atau anak kucing yang ditepuk kepalanya. Meski begitu, disuatu tempat jauh di dalam hatinya, dia merasa sedikit malu.
“Ehh? Kau harusnya lebih memujiku dengan benar!”
Kali ini, Natsuki bisa membalasnya disaat yang tepat, dan berhasil melakukan pose V (Victory).
Menatap ke sekelilingnya, dia melihat Souta memegang perutnya, menahan tawanya.
Dia mendengar Miou dan Akari juga ikutan tertawa, dan mendesah lega.
Sepertinya suasana tegang yang terjadi di ruangan tadi sudah mereda.
‘Huh? Oh ya, bagaimana dengan Yuu?’’
“Jadi itu pendapat Haruki, ya....”
Seolah memecah pemikirannya, kata – kata Yuu bergumam jelas di telinganya.
Natsuki tidak tau kepada siapa kata – kata itu ditujukan, meskipun, atau apa yang dibicarakannya ini ditujukan untuk kontestan pertama.
Namun, sepertinya terjadi kesalahpahaman.
“Um, Yuu....?”
Memanggil Yuu dengan ragu, bahu Yuu sedikit berguncang.
“....Baiklah, cukup dengan godaannya.”
“Huh?”
Natsuki membeku di tempat begitu mendengar perkataan Yuu. Dia sudah terbiasa dengan bercandaan Yuu, tapi dia tidak pernah menyangka Yuu akan mengatakan bahwa dia sedang menggoda Haruki.
‘Apakah dia pikir kami sedang mempermainkannya...?’
Karena Yuu lah satu – satunya yang bertanggung jawab disini, seharusnya dia merasakan ketegangan seperti yang Natsuki rasakan, dibutuhkan keseriusan dalam proses penyeleksian ini. Dalam hal ini, Natsuki dan Haruki yang bersalah karena telah mengganggu semuanya.
Haruki juga bergumam keras, “Sial,” dan alisnya terlihat menyambung bersama.
 “La-Lalu, selanjutnya Aida-san.”
Menyadari ketegangan yang terjadi, Souta mengubah topik pembicaraan. Dia melihat hasil kerja Miou, yang berada disebelah Natsuki, dan berkomentar, “Lukisannya sangat halus.”
Yuu dan Haruki ikut mengamini pernyataan Souta, dan sekali lagi, ketegangan memenuhi ruangan.
‘Ini mungkin yang terbaik, tetapi...’
Karena Natsuki tidak ingin melakukan kegaduhan lainnya, jadi dia tidak berencana untuk berdebat dengan Yuu.
Tetapi walaupun dia tidak bisa mengatakannya, dia tidak memungkiri bahwasanya ada sesuatu yang mengganggunya.
Seolah – olah mendapatkan firasat buruk, kejutan yang tidak terduga berlanjut.
Tidak seperti komentar positifnya terhadap lukisan Natsuki tadi, komentar Haruki terhadap lukisan Miou berbanding terbalik.
“Tidakkah kau pikir kalau ekspresinya terlihat kaku?”
Bahkan Souta dan Yuu terlihat begitu terkejut dengan pernyataan Haruki.
“Maksudku ini terlihat seperti digambar dengan sangat baik, tau?”
“Oh, ada pemandangannya, juga.”
Meskipun mereka berdua berusaha untuk menyebutkan pujiannya, Haruki satu – satunya orang yang berkomentar tajam.
“Tehnik dan yang lainnya bagus, tapi… lukisannya terlihat seperti hanya sebuah referensi saja.”
Setelah itu, Haruki lebih banyak diam ketika menilai lukisan Akari.
Tidak peduli lukisan mana yang dia lihat, dia hanya mengatakan, “Bagus,” dan kemudian berlanjut melihat lukisan lainnya.
Bersyukur bahwa suasana tegang tadi sudah berakhir, Natsuki juga ikut terdiam dan berbalik melihat lukisan mereka.
‘Mereka ingin menarik penonton melalui lukisan, huh… sepertinya Akari menunjukkan bahwa dia sepenuhnya yang mampu melakukannya…’
Pada akhirnya, seperti yang diduga, Haruki memilih Akari untuk melukisnya.
Akari sendiri terlihat kehilangan kegembiraannya, dan menjadi benar – benar malu. Dia bersembunyi dibelakang Natsuki, dan berbicara pada Haruki dari jarak jauh.
“Um, Serizawa-kun… Bisakah kau memberitahuku sedikit mengenai filmnya? Jika tidak, aku tidak akan bisa sepenuhnya memahami perasaan sang tokoh utama perempuan, dan mungkin susah menyampaikannya dengan benar dalam bentuk tulisan.
“Menyampaikan dengan benar, huh… Ya, dua hal ini seperti memiliki keterkaitan.”
Meskipun tidak menjelaskannya secara spesifik, inti dari apa yang Haruki maksud masih simpang siur.
‘Haruki mungkin melihat Akari sebagai teman.’
Dia tersenyum seperti yang biasa dilakukannya ketika mereka akan bermain di dalam benteng rahasia  yang mereka bangun ketika kecil.
Saat kau tumbuh dewasa, menemukan seseorang yang berbagi pandangan mengenai berbagai macam hal akan menjadi lebih sulit. Itulah kenapa Haruki benar – benar senang dipertemukan dengan Akari, yang berbagi pikiran sama dengannya ketika menyangkut hal – hal seperti kegiatan yang kreatif.
‘Lalu, bagaimana dengan Miou….?
Apa yang Haruki pikirkan tentang Miou, yang pulang bersama – sama dengannya hampir setiap hari karena mereka memiliki kesamaan?
Natsuki ingin sekali menanyakannya di saat yang tepat, namun saat dia memikirkan perasaan teman dekatnya, dia ragu- ragu. Selain itu, sebagai orang luar dia tidak seharusnya mencampurinya.
‘Aku penasaran bagaimana perasaan Miou sekarang….’
Melihat kearah, Miou yang berada di sampingnya, tersenyum dengan lembut seperti biasanya.
Namun, kedua tangan dan kakinya sedikit bergetar.
“….Miou…”
Meskipun dia tidak yakin apa yang harus dikatakannya pada Miou, dia akhirnya menyebut nama Miou keras.
Kaget, Miou menatap kea rah Natsuki, dan kemudian menyembunyikan tangannya di belakang punggung.
 “…Ayo bersih - bersih.”
Saat Miou mengatakannya sambil tersenyum, Natsuki hanya bisa diam.
Dia berpura – pura tidak melihat apapun, dan malah, sebuah teriakan keras terngiang di kepalanya.
‘Haruki, kau bodoh!’

♥ ♥ ♥ ♥ ♥

Pada akhirnya, rapat berakhir sekitar satu jam.
Bagi Natsuki ini terasa dua kali lebih lama, jadi dia kaget begitu melihat waktu pada jam tangannya.
‘Miou dan Akari terlihat melamun sejak rapat berakhir…’
Mereka kembali ke ruang kesenian, dan mulai mengerjakan lukisan mereka lagi, tapi mereka masih terlihat bingung.
Ketika mereka masing – masing memiliki alasan tersendiri, ini sudah jelas bahwa penyebabnya adalah rapat tadi. Pada akhirnya teman kecilnyalah yang menyebabkan masalah, dan Natsuki sedih karena tidak bisa melakukan apapun mengenainya.
‘Mereka bilang kita akan bertemu lagi nanti, tapi mereka hanya ingin bertemu dengan Akari dari sekarang, kan?’
Khawatir, Natsuki memutuskan  mengirim pesan pada Yuu untuk memastikan.
Natsuki tidak keberatan membantu, tapi tidak seperti dia membantu hal – hal kecil yang dia lakukan sebelumnya, pekerjaan ini tidak bisa dia lakukan. Juga, apakah itu Miou, atau Akari, dia merasa seperti, tidak peduli seperti apapun, pasti akan berakhir canggung.


‘Entah kenapa, keadaan menjadi semakin menggila saja…’
“Tidak heran jangkrik berhenti berbunyi. Sudah mulai hujan ternyata,”
Miou bergumam pelan, hamper tidak terdengar.
Dia mungkin baru saja berbicara sendiri, tidak ditujukan ke orang lain.
Akari pasti berpikir demikian, karena dia tidak membalas perkataan Miou selama beberapa saat.
“Awannya juga mulai menutupi, sepertinya akan hujan deras selama beberapa saat…”
Setelah Natsuki mengirimkan pesan, dia melihat kearah jendela saat Akari membahas cuaca saat ini.
“Kau benar. Awan mendung terlihat pekat… apa yang harus kita lakukan? Kita pulang saja kah hari ini?”
Natsuki berbalik menatap mereka, keduanya kompak mengiyakan. Masih ada beberapa waktu lagi sebelum jam sekolah berakhir, tapi karena tidak dari mereka yang bisa fokus, tidak ada alasan bagi mereka untuk berlama – lama disini.
“Baiklah, ayo kita pergi! Ah, Miou, kau hari ini pulang bersama kita, kan? Kita harus lebih sering pulang bertiga.”
Dengan nada suara ceria yang sengaja dilakukannya, Natsuki tersenyum kepada mereka berdua.
Akari mengangguk seperti biasa, dan setelah beberapa waktu, Miou juga ikuut tersenyum.
Saat mereka berjalan melewati gerbang sekolah, seperti yang Akari prediksikan, Hujan mulai turun dengan derasnya.
Mengabaikan suara hujan turun di atas payung mereka, Natsuki mendesah panjang.
“Ahh, aku benar – benar kacau hari ini~”
“Ini dikarenakan stress secara mental. Dengan perlombaan yang semakin dekat, dan lukisanmu dikritik secara langsung tepat di hadapanmu.”
Mendengar peryataan Miou, dia merasa aliran darahnya sedikit naik.
Meskipun dia mencoba untuk tidak membawa – bawa nama Haruki, hal ini sepertinya benar – benar mengganggunya.
Saat Natsuki mencoba berpikir bagaimana harus menjawabnya, Akari mendahuluinya.
“Serizawa-kun pasti mengatakannya karena dia menyukaimu, Miou-chan.”
Tidak menyadari reaksi Miou yang sudah berhenti melangkah, Akari melanjutkan perkataannya, dengan nada suara santai.
“Aku tidak berpikir ada banyak orang yang bisa berkata begitu jujur…”
“Tapi, aku merasa dia menjadi sedikit… tidak senstif mengenai… ka-kau tau kan…?”
Kata Natsuki spontan, tapi menyadari perkataannya yang sedikit tidak peka itu, dia dengan cepat menghentikannya. Jika dia mencoba untuk menutupinya, mungkin akan lebih baik melakukannya dengan tawa saja.
‘Apa tidak apa – apa….?’
Miou melanjutkan langkahnya lagi, tapi dia menyembunyikan wajahnya di bawah payung miliknya.
Akari terus berjalan sambil melanjutkan perkataannya.
“Bukankah itu dikarenakan Miou-chan akan bisa mengatasinya?”
“Ah….!”
Perkataan Akari yang masuk akal menyadarkannya, dan dia menaikkan payungnya.
‘Ya, itu benar! Haruki selalu memberikan kritik pada sesuatu hal yang dia sukai!’
Disaat mereka berempat menonton film di DVD bersama – sama sebagai teman kecil, Haruki selalu mengatakan banyak hal mengenai film – film yang dibawanya. Natsuki sadar hal itu sulit untuk dipahami, tapi dia mungin tidak bisa tinggal diam karena sadar bahwa dia begitu menyukainya.
Mengambil kata – kata dari Yuu dan Souta, dia hanya seorang Tsundere.
“Haruki terkadang bisa bertingkah menjadi seseorang yang bertolak belakang dari dirinya, atau bisa disebut sebagai Tsundere, kau tau?”
Dia menaikkan sedikit suaranya sehingga Miou, yang berjalan sedikit lebih lambat dari mereka berdua, bisa mendengar, juga.
Tapi saat dia sama sekali tidak merespon, Natsuki jadi sedikit khawatir dan melihat kearah Miou.
“….Akari-chan, kau memang pandai mengamati orang, huh?”
Saat Natsuki menatap senyuman lemah Miou, dia melihat sesuatu seperti kilatan petir yang muncul sejenak di langit.
‘Mungkinkah Miou cemburu pada Akari…?’
Miou sendiri mungkin tidak meyadarinya, tapi bisakah dia benar – benar merasakan yang namanya cemburu?
Jika menilai dari percakapan dia ruang persiapan tadi, Haruki dan Akari terlihat memiliki cara berpikir yang sama. Dan bahkan saat ini pun, Akari sudah membuktikan bahwa dia memahami Haruki melebihi Natsuki yang notabene sebagai teman masa kecilnya.
‘Apakah ini bisa dihitung sebagai cinta segitiga?’
Saat dia mencoba menenangkan detak jantungnya yang cepat, Natsuki meliht kearah Akari.
Akari menyadari dua lainnya tertinggal di belakang, dia menghentikan langkahnya sehingga mereka bisa menyusulnya.
“….Aku penasaran bagaimana rasanya jatuh cinta. Pasti menyenangkan…”
Kata – kata Akari, yang saling tumpang tindih dengan suara rintik hujan, menggema di telinga Natsuki.
Berbanding dengan kata – katanya, ekspresi Akari menunjukkan hal yang berbeda.
‘H-Huh? Barusan… Tunggu, itu artinya….’
Berpikir cepat mengenai perkataan sebelumnya, memang benar jika Akari tidak pernah benar – benar membicarakan pengalaman cintanya sendiri. Faktanya, dia selalu menghindari topik pembicaraan itu.
 Jika tebakan Natsuki benar, berarti ini sama sekali tidak bisa disebut sebagai Cinta Segitiga.
‘Tapi, apakah ini artinya Akari mungkin ada masalah dalam hal melukis untuk film ini…?’
“Enomoto-san!”
Sebuah suara tiba - tiba terdengar layaknya gemuruh petir yang memotong udara.
Dia hafal dengan suara yang memanggilnya, tapi dia tidak ingat pernah mendengarnya dengan nada suara yang sedikit keras itu. Tanpa sadar, Natsuki sudah berbalik kearah sumber suara, dia sudah menyiapkan dirinya pada seseorang yang memanggil namanya.
Namun, seseorang yang muncul berlari kearah mereka adalah seseorang yang sudah  Natsuki duga.
“Syukurlah aku bisa menyusulmu…”
“Koyuki-kun! Ada apa?”
“Saat aku pergi ke ruang kesenian, aku dengar kau sudah pulang… Um, aku kemarin dapat ini.”
Mengacak – acak tasnya, Koyuki mengeuarkan sebuah kantong kertas kecil.
Natsuki menerimanya saat Koyuki menyerahkan kantong kertas itu padanya, dan kemudian dia balik melihat Koyuki dengan ekspresi bingung.
“Boleh aku buka?”
“Tentu saja. Aku ingin kau memilikinya.”
Walaupun dia merasa sedikit aneh, Natsuki akhirnya membukanya dan melihat yang ada didalamnya.
“Ini adalah buklet edisi terbatas! Koyuki-kun, kau menang?!”
Didalamnya adalah buklet edisi terbatas yang dibuat untuk memperingati publikasi tankobon dari manga yang mereka berdua sangat sukai. Layaknya permata langka, edisi ini hanya diberikan kepada segelintir orang yang beruntung.
“Aku tidak menyangka bisa menang saat aku mengirimkan aplikasinya, tapi sepertinya aku hanya beruntung.”
Natsuki melompat kegirangan, dan Koyuki hanya mengangguk malu-malu.
“Wow, ini hebat! Aku tidak menyangka aku bisa melihat dia secara langsung!”
Melihat pada sampulnya dengan penuh minat, Natsuki mendesah dengan penuh kegembiraan.
“Nacchan, kau terlihat sangat senang.”
“Yoshida-sensei, kan? Aku ingat kau pernah bilang bahwa kau adalah penggemarnya.”
Akari dan Miou, yang saling bertukar pandang dari samping, mengintip pada buklet yang ada di tangan Natsuki dan mereka berdua tersenyum penuh arti.
“Yep! Yoshida-sensei lah yang terbaik jika menyangkut gag manga!”
“Aku ingat kau mengatakannya, jadi aku pikir kau ingin memilikinya…”
Menyadari perkataan Koyuki barusan, Natsuki menghembuskan nafas kecil.
“Tapi, Koyuki-kun, kau penggemarnya juga, kan? Jadi harusnya kau yang memilikinya.”
Akan terlihat buruk jika Natsuki mengembalikannya, jadi dia mengulurkan kantong kertas itu pada Koyuki.
Namun, Koyuki hanya menggelengkan kepalanya, dan menolak untuk mengambilnya.
‘Apa yang harus aku lakukan? Bukunya akan basah kalau begini terus…’
Karena Koyuki menolaknya, Natsuki mengambilnya kembali, tapi dia merasa tidak enak menerimanya dengan gratis.
Saat Natsuki menatap Koyuki, dia segera memutuskan kontak mata dan memalingkan wajahnya.
“Sebagai gantinya… Ya, mungkin terdengar egois mengatakannya, tapi…”
Berbicara dengan nada suara pelan dan menatap kebawah, ini sama seperti saat dia  akan memotong rambutnya.
Karena Koyuki tampak sulit mengatakannya, Natsuki berinisiatif menanyakannya dengan nada suara lembut.
“Hmm? Apa? Jika ada sesuatu yang bisa aku lakukan, aku sama sekali tidak keberatan.”
Koyuki mengambil nafas dalam – dalam, dan seolah sudah memantapkan hatinya, dia mengangkat wajahnya lagi.
Wajahnya tidak tersembunyi lagi, tidak ada poni panjang ataupun kacamata yang melekat disana.
Dibalik tatapannya yang bergairah dan serius, Natsuki merasa jantungnya berdetak keras.
“Saat liburan musim panas, apa kau mau pergi ke suatu tempat? Ha-hanya berdua saja, jika memungkinkan…”
Saat dia mengatakan itu, dia merasa detakan jantungnya berdetak lebih cepat, dan wajahnya menghangat.
‘Te-tenang, Natsuki! Ini hanya Koyuki-kun, kan? Ini seperti pergi bersama sebagai teman.’
Natsuki meletakkan tangannya di dadanya untuk menenangkan detakan jantungnya, dan memberikan anggukan kecil.
“Aku tak sabar menantikannya…!”
Wajah Koyuki terlihat senang mendengar jawaban Natsuki.
“Ya, baiklah! Aku akan menghubungimu detailnya nanti.”
Berpikir bahwa masih terlalu awal untuk membicarakannya sekarang, Koyuki dengan cepat berlari.
Mendengar suara jejak langkahnya dibalik jalanan yang basah karena hujan, Natsuki menatap ke atas langit – langit payungnya sambil melamun.
‘Yang barusan itu apa?’
“Jadi, undangan kencan, huh?”
Seperti mendapatkan jawaban dari pemikirannya, Miou menggumamkannya di waktu yang tepat.
Natsuki mngeluarkan derit suara keterkejutan, dan mulai merasa lebih sadar diri.
“Aku tidak yakin ini bisa disebut kencan atau apapun itu….”
Saat Natsuki bergumam menunjukkan protes, Miou mencolek pipinya.
“Aku tidak percaya, apalagi melihat pipimu yang memerah seperti itu, kau tau?”
“Seperti yang aku katakan, tidak seperti itu!”
“Dalam hal ini, aku akan mendukungmu, juga. Dengan begitu, kau tidak akan gugup, kan?”
Saat Akari dengan polosnya menyilangkan lengannya dengan Natsuki, Miou hanya bisa mendesah berat.
“Benar jika Nacchan tidak akan merasa gugup, tapi tidakkah kau merasa bersalah pada Ayase-kun?”
“Huh? Bagaimana bisa?”
Natsuki hanya setengah memperhatikan percakapan yang bertentangan diantara keduanya, dan mulai berfikir serius pada dirinya.
Hingga sekarang, dia dan Koyuki akrab sebagai teman yang berbagi ketertarikan yang sama dalam manga. Dia yakin Koyuki pun juga beranggapan demikian, dan awalnya, dia tidak membawa – bawa kata “kencan” barang sekalipun.
‘Aku terlalu memikirkannya…! Ya, tidak apa – apa jika seperti ini, kan?’
Tapi bagaimana jika dia salah?
Pertanyaan itu lama – lama terngiang di pikirannya, tapi dia berusaha untuk tidak menampiknya.
Dia tidak bisa membiarkan kesalahpahaman satu sisi ini menghancurkan persahabatan mereka.
‘tidak apa – apa, tidak apa - apa…’
Menyakinkan dirinya sendiri, dia mengatakannya dengan nada suara ceria kepada kedua temannya itu,
“Setelah liburan musim panas, ayo kita pergi bertiga bersama – sama! Janji?”

Liburan musim panas terakhir masa SMA-nya, sudah di depan mata. 

Sumber :
Terjemahan Bahasa Inggris oleh Renna's Translation
Gambar oleh Papercolenna

Kamis, 09 April 2015

Confession Rehearsal Novel [Bahasa Indonesia 'Bab 2']

Yahoo~ kembali lagi dengan saya setelah beberapa hari menghilang. Kali ini saya kembali dengan membawa updetan terjemahan novel Confession Rehearsal Chapter 2 atau Bab 2. Hehe. Butuh perjuangan juga nerjemahin sambil ngedit beberapa kesalahan karena kemampuan menerjemahkan saya yang masih 'amatir' banget. Mohon maaf jika terdapat beberapa kalimat yang terkesan rancu dan susah dimengerti. Kedepannya pasti akan diperbaiki agar jauh lebih baik. Chapter 3 atau Bab 3 sedang proses penerjemahan^^
Untuk yang belum membaca Chapter 1 atau Bab 1-nya bisa dibaca disini :) Akhir kata terima kasih sudah bersedia meluangkan waktunya untuk membaca terjemahan Bahasa Indonesia Novel Cofession Rehearsal saya ini. Happy Reading ^^ 

Confession Rehearsal Novel Bahasa Indonesia
Bab 2


---


Setoguchi Yuu 
Tanggal Lahir : 
Zodiac : Cancer
Golongan Darah : AB

Teman masa kecil Natsuki. Berada di Klub Penelitian Film. Orang yang baik dan populer di kelas. Punya seorang adik perempuan.

Latihan 2
Hari kedua setelah latihan pengakuan cinta, Natsuki mulai menatap kalender di kamarnya. 
Apa yang kulakukan? Tidak peduli berapa banyakpun aku memeriksanya, ini hari Sabtu....
Dia tau kalau dia cuma bercanda. Tentu saja dia benar – benar tau ini hari apa. Sebaliknya, dia tidak akan menggambar manga hingga malam.
Tapi ketika menghadapi hal seperti ini lagi, dia tidak bisa untuk tidak khawatir.
Latihan ataupun tidak, ini adalah akhir pekan pertama setelah dia melakukan pengakuan cinta.
Membuka tirai jendela kamarnya, dia bisa melihat kamar Yuu di lantai kedua rumah sebelah.
Karena mereka tinggal bersebelahan satu sama lain, dan ibu mereka juga teman baik, mereka sering berkunjung ke rumah lainnya sejak mereka masih kecil.
Hal ini terus berlanjut bahkan setelah mereka masuk SMA, dan sudah menjadi kebiasaan untuk keluar bersama – sama selama akhir pekan di salah satu rumah mereka. Natsuki selalu pergi dengan dalih meminta Yuu untuk membantunya belajar.
Ini tidak seperti aku mengatakan sesuatu seperti, “Aku datang karena aku ingin melihatmu.’”
Natsuki mendesah, dan mengambil lembar kerja matematikanya yang terletak di tepi mejanya.
“Yaaahh, sepertinya aku akan pergi.”

♥ ♥ ♥ ♥ ♥

Walaupun dia datang dengan penuh semangat, sayangnya, Yuu tidak ada di rumah.
Dengan perasaan yang bercampur lega dan kecewa, Natsuki terpaksa tertawa.
“Begitu… Kalau begitu aku akan pulang.”
“Ehh--? Aku pikir dia akan segera kembali, jadi ayo kita main sembari menunggunya,”
Perempuan yang berkata sambil menggembungkan mulutnya itu adalah adik perempuan Yuu, Hina.
Dia satu tingkat dengan adik laki – laki Natsuki, kelas satu SMA, tapi dia terlalu manis sebagai seorang perempuan. Dia merajuk seperti seorang kucing yang ingin segera bermain dan tingkahnya itu membangkitkan suasana hati Natsuki yang buruk.
“Tentu. Ingin meningkatkan level? Atau mode pertempuran?
“Dua – duanya.”
Saat Hina tersenyum dengan polosnya, dia merasa sedikit gugup.
Setiap kali dia tersenyum gembira dengan matanya yang terkulai, wajah Yuu akan muncul dipikirannya.
Karena mereka bersaudara, wajar saja kalau mereka terlihat mirip, tapi…..
Tidak hanya karakter fisik mereka saja, mereka punya kesamaan lainnya, juga.
“Nacchan, terjadi sesuatu antara kau dan kakakku?”
Hina ada di tengah kamar Yuu ketika tiba – tiba dia berbalik pada Natsuki.
Natsuki, yang mengikutinya dari belakang, kaget dengan pertanyaan yang tiba – tiba itu. 
Setidaknya aku menganggap yang dia katakan itu sebagai pernyataan, dan bukan pertanyaan, kan!?’
Cara Hina menatap lurus kearahnya dengan mata yang serius membuatnya tidak nyaman.
“Apa reaksi itu artinya aku benar?”
“Uh, um, ya…..”
Saat Natsuki bingung, raut wajah Hina terlihat dewasa.
“Hmm---? Ya, jika kau tidak ingin mengatakannya padaku, tidak masalah, juga,”
Dia menghentikan pembicaraan itu tanpa basa – basi dan melihat punggung kecilnya menuju Natsuki.
Perkataannya benar, Hina tidak menanyakannya lagi. 
Ketika Natsuki menatapnya diam – diam yang sedang mengatur sistem permainan, dia mendadak gelisah.
Hina-chan mengatakan itu karena khawatir, kan…..?’ 
Ada kemungkinan bahwa dia mendengar sesuatu dari Yuu, juga. Tidak, dari apa yang dia tau dari kepribadian teman kecilnya itu, dia mungkin tidak akan mengatakan apapun tentang latihan pengakuan cinta itu. Tetapi bahkan jika Hina mengatakan bahwa telah terjadi sesuatu antara mereka berdua, yang dia maksud kemungkinan perubahan sikap Yuu yang berbeda dari biasanya. “…..Um… hei, Hina-chan….?”
“Jika itu kamu, aku tidak masalah.”
“Eh?”
Karena pembicaraan tadi dianggap selesai, dia tidak bisa menangkap maksud dari perkataan Hina. 
Hina berbalik dengan menggenggam controller di tangannya sebelum membuka suara.
“Jika itu kau, aku tidak masalah menyerahkan kakakku, Nacchan.”
Mata Hina bersinar dengan kilauan serius yang tak seperti biasanya.
Hina sama sekali tidak terlihat sedang bercanda.
Tubuh Natsuki menegak, dan bertanya ragu – ragu.
“Apa maksudmu dengan ‘menyerahkan’….?”
“Dia mudah murung, dan terkadang dia cukup tegas, tapi dia baik, dan tidak jelek, juga. Mungkin aku mengatakan ini karena aku adalah adiknya, tapi aku akan bilang kalau dia cukup ideal!”
“Eh…..”
Setelah menyadari maksud dari perkataan Hina, wajah Natsuki memucat.
Tunggu, jika dia mengatakan semua ini sekarang, lalu ini artinya dia tau tentang perasaanku pada Yuu!?’’
Dia sadar karena dia tidak pernah menceritakan hal ini pada Hina sebelumnya.
Benar jika mereka sangatlah akrab layaknya saudara sendiri, tapi itulah yang membuatnya susah mengatakan seperti, “Hina-chan, kau tau, aku menyukai kakakmu.”
Natsuki yang sedang duduk disana, membatu, Hina bahkan mengatakan sesuatu yang lebih mengejutkan.
“Atau apakah Koyuki-senpai lebih mendekati tipemu?”
“’Ti-tipe’….?”
Menyadari kemana arah pembicaraan ini, yang dia maksud mungkin tipe seseorang yang dia sukai.
Menghadapi pertanyaan yang terduga ini, Natsuki hanya bisa membuka dan menutup mulutnya seperti seekor ikan emas.
“Bahkan semua murid kelas satu membicarakan betapa kerennya dia. Pada situasi ini, seseorang mungkin akan segera menyerang, tidakkah kau berpikir begitu?”
“Me-menyerang!? 
“Maksudku, seseorang mungkin akan melakukan pengakuan cinta.”
Hina tersenyum pahit dan mengangkat bahunya. 
Sekali lagi, Natsuki dibuat terkesan dengan kedewasan sikap Hina itu.
“…….Meskipun Koyuki-senpai selalu keren, dan baik, juga.”
Hina tiba – tiba bergumam.
Gumaman pelan itu membuat Natsuki berpikir mungkin dia salah salah dengar.
Ketika dia berada di persimpangan antara memutuskan apakah meminta atau tidak memintanya untuk mengulang apa yang dia katakan, Hina berbicara terlebih dahulu,
“Hei, Nacchan.”
“Aku yakin kau pasti bertanya – tanya bagaimana aku tau kau menyukai kakakku, kan?”
“Ehh!? Hina-chan, kau bisa membaca pikiran?”
Natsuki kaget, dan Hina menahan tawa. Dia menjatuhkan controller yang dia pegang, dan kemudian terjatuh di atas lantai, juga.
“N-Nacchan, kau lucu!”
“Hina-chaaaan, berhenti tertawa dan jawab akuuuu!”
Natsuki protes, hampir menangis, memperlihatkan rasa bersalahnya, Hina menggoyang – goyangkan kakinya.
Sembari menghapus air mata di sudut matanya, dia mulai menjelaskan semuanya.
“Karena kau begitu jujur, terlihat jelas hanya dari melihatmu.”
“Be-benarkah? Lalu…. Apa itu artinya Yuu…..”
“Aku tidak berpikir begitu. Lagipula Kakakku cukup bodoh ketika berurusan dengan apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya.”
Sebaliknya, Hina blak – blakan ketika dia membuat pemikiran setajam ini.
Sekarang dia menyebutkannya, hal – hal yang dikatakan Hina mulai dicocokkan di dalam pikiran Natsuki.
Yuu punya kebiasaan memprioritaskan kepentingan orang lain dibandingkan dengan dirinya sendiri, itu wajar baginya.
Mungkin itu disebabkan karena dia tidak bisa melepaskan peran seorang “Kakak”. Bahkan ketika dia tidak di rumah sekalipun. Sepintas, Haruki, tipe menggertak, bertingkah jauh melebihi seorang kakak, tapi Yuu lah yang memastikan segalanya terselesaikan kapanpun itu terjadi di kegiatan klub dan lainnya.
Meskipun suasananya sedang intens, seperti yang Hina sebutkan, dia bisa menjadi tidak sensitif mengenai bagaimana pemikiran orang lain tentang dirinya.
Apa ini karena aku juga saudara tertua sehingga aku tidak bisa meninggalkannya sendiri?’
Tenggelam dalam pemikirannya, dia lalu menyadari bahwa dia sedang diperhatikan.
Melirik, dia menahan nafas dan bertemu dengan mata Hina, yang melihat lurus ke arahnya. Meskipun semua sudah dikatakan, dia mungkin ingin mengetahui reaksi Natsuki.
“……Hina-chan, kau sudah dewasa yah.”
“Iya kan~? Lagipula, sekarang aku sudah SMA!”
Cara dia membusungkan dadanya dengan bangga sangat imut, tidak ada pertanyaan mengenai itu, dan tak bisa menahannya, Natsuki memeluknya dengan erat.
“Wow! Hina-chan, kau sangat imuuut!”
“Nacchan, geli~!”
Ketika suara gembira menggema di seluruh ruangan, pintu tiba – tiba terbuka tanpa diketuk.
Hanya ada satu orang yang bisa melakukan hal seperti itu.
“Apa yang sedang kalian berdua lakukan dia kamar orang lain….”
Disana, sang pemilik ruangan berdiri, Yuu, dengan pandangan heran di wajahnya.
“Onii-chan! Selamat datang!”
Mengikuti Hina, Natsuki juga melambai padanya,
“Selamat datang~ Kau terlambat! Dari mana saja?”
“Apa ada masalah?”
Cara bermanuvernya begitu terampil dengan melewati keduanya yang duduk di atas lantai, dia menuju meja yang ada di belakang ruangan.
Ditangannya, dia memegang tas belanjaan dari toko buku besar di jalan menuju stasiun. Itu sedikit terlalu tebal untuk sebuah majalah, jadi kemungkinan dia membeli buku referensi lainnya.
Sekarang aku sadar, ibunya bilang bahwa dia akan mengambil kelas musim panas.’
Natsuki mendengarnya ketika ibunya dan ibu Yuu mengobrol di ruang tamu mereka, hari setelah adiknya, yang masih kelas satu, membual tentang perkemahan musim panasnya. Walaupun Yuu jarang menunjukkan sisi rajin di hadapannya, dia kelihatannya serius belajar untuk ujian masuk universitas.
“Apa tidak apa-apa bagimu untuk membuang – buang waktu disini di akhir pekan?”
Ketika dia meletakkan tas kertas dan dompetnya di meja, Yuu mengatakannya dengan nada bercanda.
Natsuki memiringkan kepalanya bingung saat ditanya tiba – tiba begitu.
“Tapi kau pengecualian. Dan ngomonng – ngomong, bukankah aku selalu kemari saat akhir pekan?”
“…..Terserahlah,”
Seolah malu dengan pertanyaannya sendiri, Yuu membalas dengan gumaman.
Dari samping, wajahnya tampak sedikit memerah, tapi mungkin itu dikarenakan dia kembali dari luar yang udaranya cukup dingin. Natsuki memutuskan menatap kearah luar dan meresponnya dengan sedikit tertawa.
“Jadi, apa yang membuatmu datang kemari hari ini?”
Yuu berbalik lagi, dan bertanya sambil berdiri dengan sikap yang mengesankan.
“Aku pikir kamu mungkin bisa membantuku mengerjakan tugasku,”
Ketika Natsuki tertawa kikuk, Yuu dan Hina terdengar kaget bersamaan.
“Jadi, tidak untuk bermain…”
“Bukan untuk bermain?”
“Kalian mengatakannya secara bersamaan! Tidak, tentu saja tidak!!”
Kata – kata protes itu keluar dari tenggorokannya, tapi dia khawatir jawabannya itu sesuatu yang biasa saja, seperti ”Ya,” Jadi dia memutuskan untuk menahannya.
Tapi ketika dia benar – benar memikirkannya, dia merasa bahwa setengah jam dia berada di kamar Yuu, dia selalu menggenggam controller game , daripada menggenggam semacam alat tulis dan lainnya.
Ini artinya, aku harus membuktikan padanya…!’
Natsuki mengambil buku tugas matematika yang benar – benar dilupakannya itu, dan menyerahkan padanya sebagai bahan bukti.
“Lihat! Hanya satu soal yang selesai, kan?”
“Ya, jangan membual. Aku ini apa, semacam tempat untuk pelarian?”
Tersenyum masam, Yuu meraih meja lipat. Terlepas dari apa yang dia katakan, tampaknya dia bersedia untuk membantunya lagi hari ini.
Natsuki mengambil perlengkapan sekolahnya, dan Hina juga berdiri untuk membuat ruang.
“Ya, aku akan meninggalkan kalian berdua sendiri sekarang,”
Hina tersenyum nakal, dan Natsuki merasakan udara dingin dari dalam.  
Wah, Jika mengatakan kata – kata seperti itu, Yuu pasti akan menyadari sesuatu…
Dia melirik Yuu takut – takut, tapi tidak seperti yang disangkakan, dia hanya tersenyum lebar.
“Apa kau tidak ingin mengerjakan tugas bersama kami, juga?”
“….Onii-chan, di saat seperti ini, kau akan berjuang untuk hidupmu.”
“Hah? Bukankah seharusnya itu terdengar seperti sebuah ramalan?”
Tidak bisa untuk tidak setuju dengan apa yang Hina maksud, Natsuki hanya bisa tertawa.
                                 
♥ ♥ ♥ ♥ ♥

Setelah satu jam berlalu, hanya tersisa satu soal yang belum terselesaikan.
Natsuki berpikir ini akan menghabiskan waktu semalaman, tapi seperti biasa, Yuu adalah guru yang baik.
Bahkan Natsuki, yang benar – benar lemah di pelajaran matematika, bisa menyelesaikannya, benar – benar ajaib.
Dia pasti banyak belajar dari biasanya… ini artinya Yuu mungkin akan pergi kuliah, huh…
Natsuki juga belajar lebih keras saat liburan sekolah, tapi memiliki peringkat yang tinggi dari SMA itu sangat penting. Karena dia punya adik laki – laki yang dijadikan sebagai panutan, dia bertujuan unutk menjadi murid kehormatan dari hasil rekomendasi ujian masuk.
Yuu juga mengatakan bahwa dia bertujuan untuk masuk ke universitas umum/negeri karena beberapa alasan.
Apakah itu sekolah swasta ataupun umum/negeri, dia bilang dia ingin meninggalkan pilihan terbuka bagi Hina.
Meskipun kita tidak pernah membicarakannya, atau bahkan berpikir tentang hal semacam ini sebelumnya…
Namun, topik mengenai jalan karir mereka pasti akan tiba juga.
Adik kelas yang telah menyatakan pengakuan cinta pada Yuu, juga, pasti tertekan oleh fakta bahwa mereka tidak akan bisa bertemu satu lain lagi saat kelulusan di musim semi nanti. Mereka hanya bisa melihat satu sama lain secara pribadi setiap hari saat mereka masih SMA.
“….. Ngomong – ngomong, kau sudah dengar mengenai hal itu hari Senin?”
Yuu pasti sadar bahwa Natsuki kehilangan konsentrasi, dan memecah kesunyian dengan menanyakan hal ini.
Natsuki menarik buku tugasnya menandakan bahwa dia benar – benar berhenti menulis, dan meletakkan pensil mekaniknya.
“Maksudmu mengenai keinginan kami untuk menemui kalian di Klub Film? Aku dapat pesan dari Miou, tentang bagaimana kau sedang mencari seseorang untuk menggambar film baru atau sesuatu.”
Saat dia mulai berbicara lagi, Natsuki merasa suasana hatinya sedang menurun.
Natsuki juga menyukai film Haruki, dan sudah membantunya dengan banyak membuat properti beberapa kali di masa lalu.
Namun, kali ini  sepertinya mereka sedang mencari seseorang dengan skala yang lebih besar.
“…. Aku bertanya – tanya apakah aku harus pergi ke pertemuan….”
“Hm? Apakah kau sedang tidak enak badan?”
“Tidak, itu tidak kenapa… kalian mencari gambar yang akan menjadi kunci untuk film kalian, kan? Dalam hal ini, aku merasa orang seperi Akari dan Miou akan lebih mampu menggambarkannya,”
Natsuki memaksakan kata – kata itu demi menjaga kualitas kerja film itu sendiri, tapi kelihatannya Yuu tidak puas, dan hanya memiringkan kepalanya.
“Benar bahwa Hayasaka dan Aida menggambar dengan sangat baik, tapi kami bukanlah profesional, jadi kita tidak tau banyak mengenai tehnik atau nilai – nilai artistik. Kami hanya menginginkan sebuah gambar yang cocok dengan penggambaran dari sang tokoh utama perempuan, itu saja.”
Meskipun dia berkata dengan nada yang pelan, kata – kata Yuu membebaninya.
Lebih jauh, Natsuki sama sekali tidak membantahnya dan hanya bergumam pelan, “Begitu…” jawabannya.
“Dan ngomong – ngomong, aku suka gambarmu.” 
“……Eh?”
“Ketika kau menggambar orang, mereka terlihat benar – benar ekspresif, dan ketika kamu menggambar latar belakangnya, mereka terlihat berkilau, kau tau? Aku pikir itu bagus. Hanya dengan melihatnya saja membuatku bersemangat.”
“P-Pujianmu tidak beralasan.”
“Ayolah, jangan merendah. Tidak cuma sekarang aku memujimu, lagipula kita sudah lama saling kenal satu sama lain. 
Melihat begitu mudahnya Yuu tertawa, Natsuki sedikit menurunkan bibir bawahnya dan menunduk.
Jika dia tidak melakukan itu, dia mungkin akan mulai menangis. 
Dia mengatakan itu dengan begitu mudahnya, walaupun dia bisa menjadi tidak peka, tapi tetap saja bersikap baik disekitar orang….
Kata – kata Yuu yang selalu memberikannya kepercayaan diri.
Bahkan ketika Natsuki tidak bisa melihat hal yang baik dari dirinya, tapi Yuu pasti akan melihatnya.
Dan dia akan mengatakannya dengan jujur, dan memujinya.
“Kau menggambar komik, kan? Jangan hanya diperlihatkan ke Hina. Sekali – kali tunjukkanlah padaku juga.
Sebelum dia bisa mengucapkan terima kasihnya atas pujian Yuu yang sebelumnya, Yuu mengatakan sesuatu yang mengejutkan.
Menggangguk dengan polosnya, Natsuki kehilangan waktu untuk berpikir.
Aku senang dia memuji gambarku, tapi memperlihatkan komikku padanya semacam…
Jika dia ingin jadi professional, akan menjadi ide bagus untuk mulai menunjukkan komiknya pada orang – orang disekitarnya.
Berkat bantuan beberapa teman yang dikenalnya di internet, Natsuki sudah berani menunjukkan komiknya pada Hina, Miou, dan Akari, juga beberapa orang lainnya. Meskipun ada saat saran yang diberikan cukup kasar, mereka tidak bermaksud untuk membuatnya patah semangat, tapi mengatakan kepadanya betapa dia bisa meningkatkan karyanya lagi.
Meskipun, jika dia menunjukkannya pada Yuu, ceritanya pasti akan benar – benar berbeda. Bagian dari alasan tersebut karena komik yang dia gambar adalah shoujo, tapi sang tokoh utamanya mirip dengan “seseorang”. Dan bahkan jika dia tidak menyadari itu, Natsuki masih tidak akan bisa menunjukkannya. 
“…..Aku akan menunjukkannya beberapa nanti,”
Natsuki entah kenapa mampu membalasnya. Yuu tersenyum dan balik menjawab.
“Aku ingin segera melihat dan membacanya.”
Seperti yang diduga, laki – laki yang bisa membaca suasana benar – benar sesuatu sekali.
Dia begitu perhatian jika menyangkut hal – hal yang seperti ini, meskipun….
Ketika dia melihat senyuman Yuu yang seperti seorang kakak itu, Natsuki merasa sedikit ingin mengujinya ke arah yang lebih menjurus.
Dia mengambil nafas kecil untuk menyamarkan perasaannya, dan bertanya dengan santainya. 
“Hei. Jika… Jika aku punya pacar, apa yang akan kamu lakukan?”
“Well, ini tiba – tiba. Apa ini ada hubungannya dengan komikmu?”
“Siapa yang tahu?”
Natsuki terpaksa tertawa, dan Yuu menghela nafas seakan tidak bisa berbuat apa – apa.
“Yaa…. Sebagai teman latihanmu, aku harus mendukungmu, kan?”
“……nn”
Dia tau kalau ini adalah kesalahannya. Karena dia membuatnya terdengar seperti dia menyukai orang lain.
Disamping itu, Natsuki sangat terkejut hingga dia sulit bernafas.
Yuu kelihatannya tidak terlalu memperhatikan sikap diamnya Natsuki, dan mulai membaca buku referensi yang dibelinya tadi.
“Jika itu kamu, aku tidak masalah menyerahkan kakakku, Nacchan.”
Kata – kata Hina terngiang di kepalanya, dan Natsuki membalasnya dalam hati.
Mustahil baginya.
Tapi meski demikian, tidak bisa menyerah begitu saja, Natsuki mengatakannya pada Yuu, yang tidak melihat ke arahnya lagi. 
“Terima Kasih. Sangat melegakan saat aku tau kau akan ada untukku.”
Seakan terkejut dengan jawabannya yang lama dijawab, Yuu berhenti sejenak membuka halaman bukunya.
 “…..Berjuanglah.”
Walaupun dia tidak mengalihkan matanya pada buku referensinya, wajah Yuu terlihat ramah.
“Ya!” 
Kali ini Natsuki menjawabnya dengan ceria, dan berpura – pura tidak mendengar jeritan hatinya yang menangis kesakitan. 


Sumber 
Terjemahan Bahasa Inggris Bab 2 oleh Renna's Translation
Gambar oleh Sailorenna